
Hari Jumat.
Jam setengah tiga, Yunia diminta Ester untuk mengambilkan blanko bon baru, karena kebetulan bon yang tersedia di tempat kasir sudah hampir habis. Yunia pergi ke area office untuk menjumpai store keeper, untuk meminta bon kosong itu.
"Aduh, Yun... sorry. Ini kunci gudang, kamu ambil sendiri ya... aku sibuk banget nih..." Kata Emma sambil setengah melempar segepok anak kunci pada Yunia. Yunia yang sudah pernah membantu pekerjaan Emma tahu anak kunci mana yang harus di pakainya. Sepintas dilihatnya Emma yang kelihatannya memang sedang serius membaca dan membuat coretan untuk barang-barang permintaan anak-anak kitchen sambil kepala dan pundaknya menjepit gagang interkom.
".... Iya... tapi tadi si Ian kan udah ngasih fresh milk nya yang untuk soup Zuppa..." Terdengar suara Emma setengah kesal berbicara dengan entah siapa. Yunia tidak ingin banyak mengganggu, karena itu dia segera pergi ke gudang untuk mengambil bon. Selesai mengambil beberapa bundel bon, dia segera menutup pintu gudang untuk kembali menguncinya. Tapi terdengar suara Emma menahannya untuk tidak mengunci pintu itu dulu.
"Tunggu Yun, jangan dikunci dulu..." Kata Emma sambil berjalan bergegas menghampirinya. Kelihatan sekali raut wajahnya yang sedang kesal.
"Ada apa, teh?" Tanya Yunia basa-basi. Dia ingin tahu masalah apa yang membuat Emma kelihatan begitu kesal, tapi dia juga takut nanti Emma malah tambah kesal dengan pertanyaan nya.
"Itu... dasar anak-anak kitchen dan pastry suka seenaknya sendiri... Dia tadi sudah minta fresh milk untuk bikin soup Zuppa, sekarang dia minta lagi. aku tanya dong, memang ada orderan soup Zuppa banyak, kok bisa minta dobel, eh jawabannya, karena fresh milk yang tadi dipakai sama anak pastry... Lah kalo kayak gitu bisa over budget dong anak kitchen. Aku lagi yang nanti di marahin sama teh Ani..." Keluh Emma dengan kesalnya.
Yunia menyimak cerita itu penuh perhatian.
"Ya, sekarang bikin saja permintaan barang atas nama anak pastry..." Usulnya.
"Ya, memang harusnya gitu.... tapi anak pastry itu jadi kebiasaan... dia selalu menyambar persediaan barang yang ada di kitchen, enggak suka minta sendiri. Kalau barangnya sih enggak masalah... pelaporannya itu yang bikin ruwet. Aku beberapa kali kena tegur karena salah satu divisi over budget, sedang divisi lain malah terlalu rendah. Susah mendeteksinya kalau datanya sudah terlanjur jadi satu dan tertumpuk-tumpuk..."
Yunia mengangguk-angguk paham dengan masalah yang dihadapi Emma, tapi dia kan enggak punya kualifikasi untuk menasehati nya.
"Kamu udah mau turun?" Tanya Emma saat melihat Yunia seperti ragu untuk melangkah pergi.
"Iya, teh... ada yang perlu aku bantuin?" Tanya Yunia sambil menatap Emma.
__ADS_1
"Itu aja, tolong bilangin ke kapten, napkin yang dia minta udah ada, kalau mau udah boleh diambil..." Ujar Emma yang ternyata hanya mau titip pesan.
"Oke... aku turun dulu ya..." Sahut Yunia. Setelah itu dia melangkah meninggalkan area gudang untuk kembali ke tempat kasir.
Semula, Yunia mau lewat area kitchen, tapi dilihat dari tangga yang menghubungkan area office dan kitchen, nampak sekali orang-orang di area itu sedang sibuk, mungkin untuk menyiapkan menu untuk para undangan acara meet and great itu.
Sambil kerja, mulut orang-orang itu juga sibuk bicara. Ada yang membicarakan tentang acara yang akan di gelar, tentang artisnya, tentang bahan-bahan yang mereka pakai, juga tentang fresh milk yang "diculik" crew pastry. Sesekali salah satu dari mereka memaki yang disahuti oleh crew lain.
Tidak mau kecipratan omelan yang beberapa kali terdengar dari mulut-mulut crew kitchen itu, akhirnya Yunia memutuskan untuk kembali ke tempat kasir lewat tangga tamu, dengan cara melintasi area restoran di lantai dua itu.
Seperti yang direncanakan team marketing, mulai jam dua siang tamu restoran sudah dibatasi, Apalagi khusus untuk area lantai dua, sudah tertutup untuk tamu umum, karena sang bintang tamu sudah membooking area itu khusus untuk crew film yang terlibat acara tersebut.
Tindakan itu mereka lakukan, untuk kompensasi setelah acara jumpa fans yang mereka lakukan di sebuah mall pagi sebelumnya. Jadi setelah acara penuh hiruk pikuk itu, para crew mengharapkan dapat sedikit bersantai di restoran itu dengan sedikit privasi.
Acara meet and great itu juga terbatas untuk para fans setia yang rela merogoh kocek, dengan membeli undangan khusus acara itu. Dalam kesempatan itu Bastian, bintang utama film "Kau seputih melati" akan mempromosikan film terbarunya itu. Didampingi oleh Miranda, artis pendatang baru, lawan main Bastian di film tersebut, beserta beberapa artis pendukung lainnya.
Perlahan Yunia melangkah melintasi area makan para tamu. Di lantai dua ini, selain disediakan meja makan untuk para tamu juga ada area yang memakai sofa agar para tamu bisa bersantai dengan leluasa. Letaknya menghadap area beranda yang merupakan ruang makan outdoor.
Di beranda itu, Yunia melihat beberapa orang tamu sedang duduk menikmati hidangannya. sementara di area sofa, Yunia melihat sepasang tamu sedang berbincang. Yunia bilang sepasang, karena walaupun enggak lihat siapa yang ada di sana, tapi dari suaranya terdengar itu suara laki-laki dan perempuan. Yang perempuan duduk menyamping dari posisi Yunia berjalan, sedang yang laki-laki sepertinya setengah rebahan di sofa itu.
"Eh, kamu...!" Panggil si perempuan, saat Yunia baru melangkah menuruni anak tangga pertama. Langkah Yunia terhenti dan refleks menoleh ke arah pasangan itu.
"Saya mbak!" Tanya Yunia sambil menunjuk hidungnya sendiri memastikan.
"Ya iyalah kamu, emang ada orang lain lagi di sini?" Tanya balik perempuan itu dengan nada sedikit ketus. "Kamu karyawan di sini kan?" sambung perempuan itu bertanya.
__ADS_1
"Eh, iya mbak. Ada yang bisa saya bantu...?" Ujar Yunia sambil melangkah mendekati mereka.
"Saya tadi sudah pesan sup Zuppa. Kok lama sekali sih." Komplain perempuan itu dengan nada penuh kejengkelan.
"Oh, maaf mbak. Saya akan segera mengecek pesanan Mbak.... mohon tunggu sebentar. Masih ada yang lain yang bisa saya bantu?" Tanya Yunia lagi.
"Udah, selesaikan saja dulu yang itu. Baru minta kerjaan lain... Ini restoran kok enggak profesional banget..." Sahut perempuan itu dengan raut wajah yang sangat tidak enak untuk dipandang. Sebenarnya perempuan itu cantik, tapi ekspresi wajahnya bikin Yunia mules rasanya. Yunia sudah mau pamit pergi, saat dilihatnya, lelaki yang bersama perempuan itu bangkit dari rebahannya.
"Sabar sebentar lah, Nda... Pesanan kamu belum juga lima belas menit... soup itu kan musti di masak dulu... " Kata si lelaki berusaha menenangkan si perempuan. Saat sudah duduk itulah, Yunia baru bisa mengenali, siapa lelaki itu.
"Bastian?" Ujar Yunia pelan karena setengah kaget. Ya, lelaki itu adalah Bastian yang rupanya datang lebih awal ke restoran untuk beristirahat lebih dulu.
"Hai, kamu kenal aku..." Sapa Bastian ramah pada Yunia.
"Eh, tentu saja saya tahu kakak, eh mas eh ...?" Sejenak Yunia bingung menyebut panggilan untuk Bastian... Bastian tertawa melihat kebingungan Yunia.
"Kamu sudah lama kerja di sini...?" Tanya Bastian lagi.
"Belum lama, kak... sebenarnya saya cuma PKL di sini..." Jawab Yunia jujur.
"Eh, ini kok malah ngobrol... pesanan saya gemana...?!" Potong si perempuan menyela dengan jengkel, karena kelihatannya Yunia malah kesenangan melayani Bastian ngobrol dan bukannya segera mengurus pesanannya yang dia rasa terlalu lama.
"Oh, iya... maaf mbak, maaf. Mohon tunggu sebentar, saya akan segera mengantarkan pesanan Mbak... permisi..." Ujar Yunia. Setelah melihat Bastian mengangguk, Yunia segera pergi meninggalkan pasangan itu.
"Duh, mbak... Mbak... cantik-cantik kok judes bener...." Gumam Yunia....
__ADS_1
πΈπΈπΈπππ