Andai Cinta Bisa Memilih

Andai Cinta Bisa Memilih
Masih soal salad buah


__ADS_3

Wisnu melangkah memasuki rumah melalui pintu garasi. Begitu masuk, terdengar suara orang sedang bercakap-cakap di ruang tamu. Karena penasaran, Wisnu meletakkan kantong plastik yang ditentengnya di meja ruang keluarga dan melongok ke ruang tamu "Ada siapa sih?" Pikirnya.


"Mas... Udah pulang?" Sapa sebuah suara saat melihat Wisnu diambang pintu.


"Eh, kamu Rat.... Kirain siapa..." Sahut Wisnu setelah melihat ternyata yang ada di sana Ratna sedang duduk memangku Sabina dan Yunia berjongkok di hadapannya sedang memasangkan celemek makan pada anaknya. Mendengar suara suaminya Yunia segera menoleh...


"Mas, ... assalamualaikum..." Salam Yunia. Dia langsung bangkit dan menyalami suaminya begitu selesai mengikat tali celemek di belakang leher Sabina. Seperti biasa, Yunia mencium punggung tangan Wisnu.


"Waalaikum salam..." Sahut Wisnu sambil mengecup kening Yunia.


"Pa...pa...pa..." Panggil Sabina langsung minta digendong Wisnu.


"Halo sayang, mau makan ya..." Ujar Wisnu sambil mendekat.


Mam...mam..." Sahut Sabina. Anak itu memang sedang belajar bicara, walau kadang yang keluar terdengar sama untuk setiap maksud ucapannya.


"Kamu mau ke resto enggak hari ini?" Tanya Wisnu pada Ratna sambil mengambil Sabina dari pangkuannya, lalu duduk di kursi di seberangnya.


"Iya, mas habis dari sini aku mau ke resto, tadi menyampaikan pesan dari ibu dulu..." Jawab Ratna.


"Mas, pesanan ku mana...?" Tanya Yunia menyela. Wisnu yang akan bertanya pada Ratna menoleh kearah Yunia.


"Oh, iya... Itu, mas taruh di meja depan TV..." Sahut Wisnu.


"Asik...!" Sambut Yunia senang, tanpa tunggu lama lagi dia langsung melesat mencari barang yang dari tadi ditunggunya.


"Gemana? Jadi kapan acara lamarannya?" Tanya Wisnu kembali menghadap Ratna. Belum sempat Ratna menjawab terdengar seruan kesal dari ruang sebelah...


"MAS BAYU.....!"


Wisnu dan Ratna saling bertukar pandang.


Di ruang sebelah ...


Bayu yang sedang mencomot sepotong buah dari kresek yang tadi dibawa Wisnu sampai terkejut mendengarnya.


"Aduh Yun... Kenapa sih bikin kaget aja..." Ujarnya setengah sewot sambil menjilat jarinya yang terkena mayones.


"Aaaa itu punya Yunia..." Ujar Yunia setengah merengek kesal, langsung merebut keresek itu dari hadapan Bayu dan mengeluarkan isinya.

__ADS_1


"Oh... Ya, ambillah... aku cuma mau cicip doang..." Ujar Bayu tanpa rasa bersalah. Lain dengan Yunia... Setelah diperhatikan, salad buah yang dikemas dalam kotak mika itu sudah tidak ada anggurnya, seperti yang dia pesan.


"A aaa.. ! Mas Bayu jahat... Itu punya Yunia..."


Wisnu yang mendengar ribut-ribut itu segera mendekat.


"Ada apa sih?" Tanyanya sambil menatap adik dan istrinya bergantian.


"Mas.... Mas Bayu makan salad buah punya Yunia..." Adu Yunia sedih campur kesal.


"Kamu gemana sih, Bay... " Tegur Wisnu sambil menatap Bayu.


"Ya, maaf... tapi kan buah lainnya masih ada, aku cuma makan anggur nya aja..."


"Iya tapi itu punya Yunia..." Sentak Yunia jengkel.


"Cuma makan anggur nya doang... Pelit banget" Bayu membela diri.


Tapi Yunia yang sudah terlanjur kesal ditambah dibilang pelit lagi, mana mau ngerti... Udah nunggu lama (hampir satu jam sejak dia nelpon tadi) ternyata dia enggak jadi makan salad buah anggur hijau... akhirnya dia pergi ke kamarnya dengan menghentak-hentakkan kakinya dengan kesal. 😭


Wisnu menyerahkan Sabina pada Alit yang sudah siap dengan semangkuk bubur ditangannya. Alit yang sempat "terpana" melihat tingkah nyonya muda-nya itu segera menggendong Sabina.


Bayu menatap Wisnu yang berjalan bergegas menyusul Yunia dengan pandangan tak percaya. Hanya gara-gara anggur "se-uprit" Kini dia kena teguran keras dari kakaknya?! 🤦


"Ya ampun... segitu marahnya... cuma ngambil anggur nya doang..." ucap Bayu saat mendapat tatapan menuduh dari Ratna. Ratna sampai geleng-geleng kepala melihat kelakuan calon suami dengan kakak iparnya itu...


Di kamar...


Wisnu mendekati Yunia yang sedang duduk di sofa sambil memindah-mindah Chanel TV sembarangan. Wajahnya ditekuk dengan bibir yang mengerucut, menggambarkan suasana hati yang buruk. Ditekannya remote TV itu dengan tenaga ekstra saking kesalnya. Wisnu menghela nafas panjang. Lalu duduk di samping Yunia. Diraihnya bahu Yunia hingga tubuh Yunia condong kearahnya.


"Jangan marah-marah terus dong, sayang... nanti cepat tua loh..." Ujar Wisnu berusaha bercanda.


"Habis, mas Bayu bikin kesel terus...." Sungut Yunia mengadu.


"Iya, tapi enggak perlu sampai marah-marah dong... " Bujuk Wisnu.


"Mas... Yunia sudah dari tadi ngebayangin makan buah anggur itu... rasanya udah ada di lidah sini mas... eh, tau-tau dengan seenaknya mas Bayu nyapluk anggur itu... Yunia kesel banget..." Akhirnya Yunia mengomel panjang lebar. Wisnu membiarkan Yunia mengomel, agar kekesalannya tersalurkan.


"Iya... tadi mas udah marahin Bayu dan menyuruhnya mencari anggur hijau lain buat gantinya...." Hibur Wisnu. Yunia terdiam. Dia masih kesal, tapi enggak tahu mau ngomong apa lagi, Akhirnya dia merebahkan kepalanya di pangkuan Wisnu.

__ADS_1


"Mas, kapan bisa pulang?" Tanyanya. Wisnu berfikir sejenak sebelum menjawab.


"Bagaimana kalau hari Kamis? Mas masih ada yang harus dikerjakan ini... itu juga enggak bisa lama-lama di sana..." ucap Wisnu akhirnya.


"Berapa lama?" Tanya Yunia.


"Ya, kalau bisa hari Senin sudah kembali ke sini... enggak apa-apa, kan?"


"Hari Senin sore berangkat kembali ke sini ...? Acaranya kan hari Minggu... Hari Senin itu pasti sibuk berbenah bekas tahlilan..."


"Ya, enggak apa-apa kan? Kalau mau seperti itu, besok mas pesankan tiket pesawatnya..."


"Naik pesawat mas?"


"Iya. Emang kamu mau nya naik apa?" Tanya Wisnu sambil memandang heran Yunia.


"Ya... enggak apa-apa sih, naik pesawat. Yunia belum pernah naik pesawat..." Sahut Yunia jujur, membuat Wisnu gemes padanya. Refleks disentil nya hidung Yunia pelan. Yunia terkekeh. Wisnu langsung merengkuh nya merapat ke tubuhnya.


"Itu salad buahnya enggak jadi dimakan?" Tanya Wisnu sambil menunjuk salad buah yang tergeletak di atas meja.


"Mau lah..." Ujar Yunia sambil bangkit dan melepaskan diri dari rengkuhan Wisnu. Diambilnya salad buah itu dan mulai menikmatinya. "Coba kalau ada anggurnya, pasti enak sekali..." Gumam Yunia pelan seperti pada diri sendiri, tapi Wisnu ternyata masih bisa mendengarnya.


Wisnu memperhatikan Yunia makan dengan seksama. "Kenapa Yunia semakin kelihatan ayu, ya?" Pikirnya. Wisnu mendekat kembali.


"Kenapa? Mas Wisnu mau juga?" Tanya Yunia. Tidak menghiraukan pertanyaan Yunia, tangan bergerak membelai tubuh Yunia.


"Yun... mas kangen..." bisik nya serak.


"Tiap hari ketemu kok masih kangen aja..." Sahut Yunia tidak mengerti.


"Yun ..." Panggil Wisnu lagi seperti merajuk. Sesaat kening Yunia berkerut, akhirnya dia tersenyum.


"Tapi nanti sore mas Wisnu ajak Yun beli anggur hijau ya ..." Pinta Yunia memberi syarat.


"Jangankan cuma anggur hijau... seluruh isi mall pun mas beliin buat kamu..." Sahut Wisnu cepat, sementara tangannya sudah mulai bergerilya dibalik pakaian Yunia.


"Gombal..." Kata Yunia dengan tawanya. Sepertinya tragedi salad buah anggur itu sudah hilang dari pikirannya. Kini dia mulai merespon sentuhan Wisnu. Sementara Wisnu sendiri disela gelombang kerinduannya, masih sempat memperhatikan bentuk tubuh Yunia. Dia merasakan ada yang berubah dengan yang disentuhnya.


"Jangan-jangan benar... Sabina mau punya adik..." Pikirnya.

__ADS_1


🍃🍃🍃


__ADS_2