
"Maaf ..." Bisik nya lirih di telinga Yunia. "Maaf karena mas sudah marah-marah sama Yunia..." Katanya lagi dan memeluk Yunia semakin dalam ke dadanya, lalu ia meletakkan dagunya di atas kepala Yunia.
Yunia ingin menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi dan apa yang dia rasakan. Tapi tidak ada kata yang bisa keluar dari mulutnya, karena dalam dekapan Wisnu, tangis Yunia malah semakin kencang.
Rasanya, sudah lama Yunia tidak menangis sampai sesenggukan begitu. Terakhir dia menangis itu adalah saat bapak meninggal. Wajar kan kita menangis karena ditinggal oleh orang yang kita sayangi? Yang kerasa aneh itu ya sekarang ini. Menangis sesenggukan hanya karena dicemburui. Mana orang yang dicemburui itu orang yang "enggak" banget.
Masa iya cemburu sama crew kitchen yang nota bene enggak selevel sama sang suami. Yang enggak masuk akalnya lagi... cemburu sama selebriti. Aduh... pengen guling-guling rasanya Yunia saking keselnya. Masa iya mas Wisnu enggak bisa membedakan, bagaimana suka sama seorang selebriti dengan sukanya sama suami?
"Udah... udah... mas minta maaf ya... " Ujar Wisnu lagi masih sambil terus membelai kepala Yunia yang masih terbenam di dadanya.
"Mas... Mas jangan marah lagi... Yunia... Yunia sedih kalau mas marah... " Ucap Yunia tersendat-sendat oleh tangisnya.
"Iya, mas enggak marah lagi... " Sahut Wisnu.
Dia melepaskan pelukannya, sedikit menjauh untuk bisa menatap wajah istrinya. Mata Yunia sembab oleh air mata. Dengan lembut, Wisnu mengusap sisa-sisa air mata itu dengan jarinya.
"Yun... " Panggil Wisnu pelan, membuat Yunia mengangkat wajahnya menatap Wisnu.
__ADS_1
"Rasanya aku sudah jatuh cinta sama kamu..." Ucap Wisnu terdengar tiba-tiba untuk Yunia.
"Heh?! " Yunia agak ragu dengan apa yang didengarnya.
"Aku mulai takut kehilangan kamu, sayang..." Kata Wisnu lagi tidak menghiraukan tatapan heran dari Yunia.
"Aku juga mulai enggak suka kalau ada yang memberi perhatian lebih padamu. Aku takut nanti kamu akan tergoda dan mulai mengabaikan aku..." Lanjut Wisnu.
Yunia hanya bisa terperangah mendengar curhatan Wisnu. Hal ini benar-benar diluar dugaannya.
"Tapi Yunia kan enggak begitu mas... Lagipula, Yunia sudah janji kan, akan selalu mendampingi mas Wisnu... Mas Wisnu percaya sama Yunia kan? "
Tidak menjawab lagi, Yunia semakin mempererat pelukannya. wajahnya semakin dalam dia benamkan di dada suaminya.
Dihirup nya aroma tubuh sang suami yang mendadak tercium begitu memabukkan untuknya, menumbuhkan rasa geletar aneh... Ada sesuatu yang berdenyut, menuntut perlakuan lebih dari sang suami.
"Aduh... kenapa hati ini jadi kebat-kebit enggak karuan gini sih... " Kata hati Yunia. Baru saja marahan, masa sekarang dia mau minta Wisnu untuk....
__ADS_1
Yunia merasa malu sendiri. Karenanya tanpa sadar, dia malah ndusel lebih rapat ke ketiak Wisnu. Maksudnya ingin menyembunyikan wajahnya yang tiba-tiba terasa panas, gara-gara imajinasi yang sudah travelling diluar kontrol. Tapi bersamaan dengan itu, tanpa sadar juga tangannya mencengkram dada Wisnu, membuat Wisnu meringis, menikmati sensasi yang membahagiakan dari cengkraman itu.
"Yun... " Panggil Wisnu lirih dengan suara yang sudah berat.
"Hmm... " Gumam Yunia. Dia menyadari nada suara yang tidak biasa dari suaminya, tapi dia tidak berani mengangkat wajahnya. Sampai Wisnu sendiri yang mengangkat wajahnya.
Mereka saling tatap, mencoba saling membaca pikiran masing-masing. Wajah Wisnu mendekat, Yunia terpejam. Wisnu mengecup kedua mata Yunia lembut. Yunia masih terpejam. Wisnu tersenyum, seakan mendapat lampu hijau, Wisnu mulai mengecup hidung, pipi dan terakhir bibir Yunia. Yunia membuka matanya.
"Boleh...?" Tanya Wisnu saat mengecup telinga Yunia. Yunia mengangguk pelan sambil memalingkan wajahnya malu. Wisnu kembali tersenyum. Sungguh, ekspresi wajah Yunia saat seperti ini benar-benar sudah membuatnya merasa menjadi laki-laki paling perkasa dan paling beruntung sedunia.
"I love you."
Amarah hilang sudah bersama buaian. Wisnu merengkuh Yunia dalam dekapannya, tetesan air mata kini sudah berganti dengan peluh di sekujur tubuh.
...* * *...
...Selesai...
__ADS_1
...* * *...