Andai Cinta Bisa Memilih

Andai Cinta Bisa Memilih
Berita gembira


__ADS_3

Usai sholat subuh, Yunia yang disuruh rebahan lagi oleh Wisnu kembali tertidur. Dia baru terbangun lagi setelah jarum jam hampir menyentuh angka tujuh. Sesaat setelah membuka mata, Yunia segera memasang pendengarannya untuk menyerap informasi, apa yang terjadi di luar kamarnya. Samar-samar dia mendengar suara bik Sumi sedang mengobrol tentang dirinya. Yunia segera bangkit dari tidurnya dan berjalan ke luar kamar.


"Bik..."Panggil Yunia saat melihat bik Sumi sedang berbicara dengan Bu Yam tetangga depan rumah. Bik Sumi menoleh, begitu juga Bu Yam


"Udah bangun kamu, Yun... kata Wisnu tadi pagi kamu muntah-muntah..." Kata bik Sumi.


"Iya, bi... masuk angin barangkali... kemarin telat makan, terus tadi malam pergi ke rumah Tante Mia pakai motor...." Ujar Yunia beranalisa. "Bu Yam." Sapa Yunia saat melihat orang yang duduk di depan bik Sumi.


"Gemana sekarang, masih mual?" Tanya Bu Yam


"Masih sedikit, tapi enggak seperti tadi..." Jawab Yunia.


"Kalau kamu mau ke bidan sebaiknya segera pergi, sebentar lagi Bu Nur harus berangkat ke posyandu. Hari Jumat ini ada kegiatan posyandu di balai desa...." Bik Sumi memberitahu.


"Bibi kok tahu?" Tanya Yunia.


"Ya tahu lah. Kemarin sore bibi ketemu dengan ibu kader yang pesan kacang hijau untuk anak-anak yang ke posyandu." Bik Sumi memberitahu.


"Mas Wisnu sekarang di mana?" Tanya Yunia sambil duduk di samping Bu Yam


"Tadi ada di depan dengan pamanmu..." bik Sumi memberitahu. Yunia yang baru saja duduk bangkit lagi dari kursinya dan beranjak mencari suaminya.


Dari teras depan, Yunia melihat Wisnu sedang berjongkok di dekat pagar membantu paman membabati rumput liar di sekitarnya. Melihat Yunia mendekat, Wisnu menghentikan kegiatannya.


"Mas Wisnu...!" Panggil Yunia.


"Hei... sudah bangun. Kita pergi ke bidan sekarang?" Tanya Wisnu sambil bangkit dari jongkoknya.


"Yunia sudah lebih baik, mas. Apa masih perlu pergi ke bidan?" Jawab Yunia.


"Ya masihlah. Mas ingin memastikan kondisi kesehatanmu..." Jawab Wisnu sambil tersenyum misterius, membuat Yunia heran.


"Kata bibi, sebentar lagi Bu Nur akan ke posyandu, jadi kalo mau ke sana disuruhnya cepat..." Kata Yunia memberitahu. Sesaat Wisnu berpikir. Pekerjaannya membersihkan rumput belum selesai.


"Paman..." Panggilnya. Tapi tanpa Wisnu bicara pun rupanya paman sudah mengerti.

__ADS_1


"Ya, segeralah pergi, biar nanti ini paman yang menyelesaikan..." Ucap paman. Wisnu tersenyum lega. "Pakai motor itu saja biar cepat." Sambung paman memberitahu sambil menunjuk sepeda motor yang terparkir tak jauh dari mereka. Setahu Yunia itu sepeda motor yang biasa dipakai Anto untuk pergi sekolah.


"Terima kasih, paman. Ayo Yun..." Ajaknya pada Yunia. Yunia menurut, akhirnya mereka berdua segera bersiap dan pergi menemui bidan desa.


Tak berapa lama, mereka sampai di kediaman bidan desa.


"Assalamualaikum..." Sapa Yunia dan Wisnu hampir bersamaan.


"Waalaikum salam..." Terdengar sahutan dari dalam. Selang beberapa detik, muncul Bu Nur. Nampak bidan desa itu sudah siap dengan seragam kesehatan nya.


"Emmmm ini, Yunia kan?" Sapa Bu Nur. Yunia tersenyum.


"Inggih, Bu .." Sahutnya. Ya, di desa ini, hampir seluruh warga desa saling mengenal, padahal jarak rumah mereka berjauhan. Seperti Bu Nur ini, beliau mengenal Yunia walaupun rumah mereka berjarak 5 RT dari rumahnya. Apalagi karena dulu menurut cerita bapak, Bu Nur yang membantu saat persalinan ibunya.


"Ada apa?" Tanya Bu Nur langsung tapi dengan nada ringan membuat Yunia tidak mereka tegang.


"Anu, Bu. Sepertinya Yunia masuk angin, tadi pagi Yunia muntah-muntah sampai lemes..." Cerita Yunia.


"Oh... Ayo ke tempat periksa..." Ajak Bu Nur. Saat mereka berjalan ke bilik pemeriksaan, Wisnu mengikuti. Sesaat Bu Nur menoleh kearahnya.


"Eng... saya Wisnu, Bu. Putranya pak Winoto..." Jawab Wisnu agak menggantung. Dia masih ragu, Bu Nur ini kenal dengan ayahnya enggak, ya? Sesaat terlihat Bu Nur berfikir, menggali kotak memori di benaknya.


"Oh... Wisnu yang temannya Radit bukan?" Tanya Bu Nur menyebutkan nama keponakannya yang merupakan teman sekolah Wisnu semasa SD. Wisnu mengangguk.


"Berarti kamu yang jadi suaminya Yunia?" Tanya Bu Nur lagi memastikan. Sekali lagi Wisnu mengangguk sambil tersenyum agak jengah. Wisnu ingat niatnya membawa Yunia periksa bukan hanya karena muntah-muntah saja, tapi juga memastikan kecurigaannya kalau Yunia sedang hamil. Sementara Yunia sendiri yang mendengar percakapan antara bidan desa dan suaminya itu seketika ikutan merasa jengah.


"Jadi kabar perihal pernikahanku itu sudah menyebar sekarang..." Pikirnya.


"Emm... itu, Bu. saya mau minta tolong ibu periksa, mungkinkah Yunia sudah isi..." Pinta Wisnu dengan nada ragu karena malu.


"Isi apa?" Celetuk Yunia tak mengerti. Lain dengan Bu Nur, beliau hanya perlu waktu setengah detik untuk mencerna maksud Wisnu. Setelah paham beliau mengangguk sambil tersenyum.


"Apa ada kemungkinan ke sana?" Tanya Bu Nur sedikit menggoda. Wisnu cuma mesem sambil mengusap tengkuknya rikuh. Bu Nur tertawa kecil. "Enggak apa-apa, Wisnu. Toh kalian sudah sah ... ya untuk Yunia memang agak terlalu muda untuk punya anak, tapi bukan tidak boleh. Asal dirawat dengan baik dan rajin konsultasi semua akan baik-baik saja..." Ucap Bu Nur menenangkan. Lain dengan Yunia, mendengar ucapan Bu Nur dia langsung melongo, pikirannya langsung kemana-mana.


"Aku hamil? Mungkinkah? Aduh, gemana ini? Gemana dengan sekolahku..." Berbagai pikiran langsung saja memenuhi benaknya.

__ADS_1


"Ayo Yun. coba rebahan di dipan itu. Biar ibu periksa...." Perintah Bu Nur. "Kapan hari terakhir Yunia dapat haid...?" Bu Nur bertanya sambil memasang tensimeter. Yunia berusaha mengingat-ingat.


"Lupa, Bu... Rasanya... sebelum selamatan empat puluh hari bapak... sekitar... dua bulan yang lalu... " Jawab Yunia ragu. Bu Nur tersenyum lalu berusaha memperinci jawaban Yunia untuk menemukan tanggal yang mendekati perhitungannya, dengan memberi beberapa pertanyaan lain yang dijawab oleh Yunia dengan pikiran masih bertraveling.


Dan setelah selesai pemeriksaan beberapa menit kemudian.....


"Ya, hasilnya positif. Berdasarkan tanggal terakhir Yunia haid dan besarnya janin, diperkirakan usia kehamilan Yunia sudah menginjak 6 Minggu..." Bu Nur memberikan hasil pemeriksaannya.


Wisnu tersenyum...


Yunia terlongoh...


"Selamat ya, Yunia... Wisnu... ini beberapa vitamin yang harus diminum... Untuk sementara, jangan makan makanan yang kurang matang... hindari jamu-jamuan dulu ya .. buah-buahan semua boleh dimakan tapi untuk durian dan nanas sebaiknya jangan dulu ya..." Bu Nur memberi beberapa nasehat pada mereka. Yunia dan Wisnu memperhatikan dengan seksama. Wisnu sendiri, walaupun sudah punya Sabina, tapi dia tidak pernah mendampingi Adriana periksa ke dokter, jadi tidak tahu apa-apa soal perawatan kehamilan.


"...Nah, ini vitaminnya... ada yang mau ditanyakan?" Tanya Bu Nur setelah berbicara panjang lebar. Sesaat Wisnu dan Yunia bertukar pandang.


"Enggak ada rasanya, Bu..." Jawab Wisnu ragu sambil berpikir. Rasanya dia memang tidak mempunyai pertanyaan. Bu Nur kembali tersenyum melihat keraguan di mata Wisnu.


"Baiklah kalau memang sudah tidak ada pertanyaan. Oh, iya... selama awal kehamilan ini, kalian boleh melakukan hubungan badan, tapi jangan terlalu sering dan harus hati-hati ya, karena janin masih dalam kondisi rentan..." Nasehat Bu Nur lagi yang langsung membuat wajah keduanya memanas.


"Baik, Bu .. terima kasih... kalau begitu kami permisi dulu..." Ucap Wisnu berpamitan. Bu Nur mengangguk.


"Assalamualaikum..." Salam Yunia dan Wisnu hampir bersamaan.


"Waalaikum salam..." Jawab Bu Nur.


Yunia dan Wisnu berjalan keluar ruang pemeriksaan. Dalam hati Yunia masih belum percaya kalau dalam perutnya kini sudah ada calon anak mereka.


"Mas.... beneran aku hamil?" Tanyanya pelan sambil menatap Wisnu yang sedang menghidupkan mesin motornya. Wisnu tersenyum lebar.


"Ya, sayang... sebentar lagi Sabina bakal punya adik..." Katanya, lalu dengan sebelah tangannya dia meraih pinggang Yunia untuk mendekat dan mengecup kening Yunia dengan cepat.


"Mas sayang kamu..."Bisik nya penuh perasaan. Yunia sampai merinding mendengarnya. "Udah, ayo naik. Mas sudah tidak sabar ingin memberi tahukan berita gembira ini pada bibi dan ibu..." Ujar Wisnu.


...🌸 🌼 🌸...

__ADS_1


__ADS_2