Andai Cinta Bisa Memilih

Andai Cinta Bisa Memilih
Hari yang melelahkan.


__ADS_3

Akhirnya... acara tahlilan selesai terlaksana. Yunia, duduk di atas karpet yang digelar di ruang tamu dengan kaki terjulur. Setelah semuanya selesai, baru terasa, kakinya lelah sekali karena hampir sepanjang hari ini dia sering mondar-mandir mencari dan mengambilkan sesuatu yang diminta oleh para ibu yang membantu acara tahlilan itu. Yunia duduk sambil memukul-mukul pahanya pelan.


"Capek?" Tanya Wisnu yang baru masuk setelah duduk-duduk di teras rumah bersama paman dan bapak-bapak tetangga dekat rumah. Yunia cuma mengangguk tidak menjawab apa-apa. sementara tangannya masih terus memukul-mukul pahanya.


"Sini..." Kata Wisnu sambil duduk di depan Yunia dengan posisi menyamping. Diraihnya kaki Yunia, dan ditaruh di atas pahanya sendiri. Wisnu mulai memijat kaki Yunia pelan.


"Enak...?" Tanya Wisnu lagi.


"He em." Gumam Yunia. Merasa lebih baik, Yunia lalu memposisikan dirinya senyaman mungkin. Kini dia bersandar di dinding dengan mata terpejam. menikmati pijatan Wisnu di kakinya.


"Pak... kursinya mau dimasukkan sekarang?" Tanya pak Yono beberapa saat kemudian.


"Oh, iya... sebentar.... Yun, ayo pindah... Yun..." Panggil Wisnu. Tapi Yunia sudah tidak bereaksi.


"Waduh... tidur..." Ujar Wisnu saat setelah beberapa kali memanggil Yunia, tapi yang dipanggil tidak menyahut.


"Kecapean pasti itu, pak..." Komentar pak Yono.


"Iya, pak...." Sahut Wisnu. "Tolong masukkan kursinya, pak. Saya pindahkan istri saya dulu..." Lanjut Wisnu kemudian sambil mengangkat tubuh Yunia dalam dekapannya.


"Baik, pak..." Jawab pak Yono.


Akhirnya, karena kasihan, Wisnu membopong tubuh Yunia untuk dipindahkan ke kamar. Lalu, pak Yono bersama paman mulai mengembalikan kursi tamu yang tadi di singkirkan ke teras rumah, karena ruang tamu digunakan untuk acara tahlilan.


Usai memindahkan Yunia, Wisnu segera kembali ke ruang depan untuk membantu paman dan pak Yono merapikan kursi-kursi. Setelah itu para lelaki itu berbincang-bincang sebentar, hingga paman berpamitan untuk pulang.


"Enggak tidur di sini, paman?" Tanya Wisnu sekaligus berbasa-basi menawarkan.


"Enggak, ah. Nanti, kalau kalian sudah kembali paman tidur di sini. Mumpung sekarang kalian ada di sini, paman tidur di rumah.. " Jawab paman sambil tersenyum penuh arti. Wisnu jadi ikutan meringis melihat senyum paman itu. Akhirnya, setelah paman menjauh, Wisnu menyuruh pak Yono untuk beristirahat setelah sebelumnya menyuruhnya untuk memastikan, kalau semua pintu sudah terkunci dengan benar.

__ADS_1


"Saya, masuk duluan, pak..." Katanya pada pak Yono. Pak Yono mengangguk mempersilahkan majikannya itu untuk beristirahat lebih dulu. Wisnu melangkah ke arah kamar. Saat melintas di depan kamar ibu, dilihatnya, ibunya juga sudah terbaring di kasurnya. Tidak tahu pasti, apakah ibu sudah tidur atau belum, tapi Wisnu tidak berniat mengusiknya. Sungguh hari ini adalah hari yang melelahkan untuk semua orang....


Di kamar, Wisnu memandangi Yunia yang tertidur lelap dengan penuh kasih. Ya, terlepas dari status Yunia terhadap dirinya sekarang, rasa sayang itu memang sudah ada sejak dulu. Hanya saja sekarang, selain rasa sayang dia juga harus belajar mencintainya.


Perlahan, Wisnu mensejajarkan tubuhnya di samping Yunia. Di kecup nya kening Yunia lembut sebelum memejamkan mata, menyusul tidur dengan memeluk tubuh istrinya.


🌼 🌼. 🌼


Yunia membuka matanya saat terasa ada hembusan angin lembut menerpa wajahnya. Begitu mata terbuka, yang dilihatnya pertama kali adalah wajah Wisnu yang berada begitu dekat di depan wajahnya. Sayup-sayup sudah terdengar suara pengajian dari masjid di kejauhan. Sudah mau masuk waktu shubuh.


Perlahan dia menggeser wajahnya mundur. Saat itu baru dia rasakan ada sesuatu yang berat di atas pinggangnya. Secara naluriah spontan dia menoleh. Rupanya dia sudah dipeluk Wisnu semalaman. Yang semula dia hendak segera bangun, akhirnya dia malah menatap wajah di hadapannya itu.


Tampan.


Cuma satu kata itu yang melintas untuk menggambarkan raut wajah Wisnu. Sebelum ini, belum pernah Yunia menatap wajah Wisnu sedekat ini. Selain enggak kepikiran untuk memperhatikannya, juga karena akan sangat memalukan jika ketahuan memperhatikan wajah lelaki yang pernah menjadi kakak angkatnya itu. Sekarang, mumpung yang punya wajah tidur, Yunia puas-puasin memandangnya.


Sebagian keningnya tertutup rambut yang menjuntai nakal. Ingin Yunia menyibak rambut itu, tapi Yunia takut kalau nanti malah membangunkan Wisnu. Lalu dilihatnya pelupuk mata Wisnu bergerak-gerak samar. Yunia langsung bertanya-tanya ... apa yang sedang diimpikan Wisnu saat ini?


Hari ini rencananya, Yunia mau membantu bibinya untuk membereskan segala macam perabot rumah yang selesai digunakan untuk masak-masak kemarin. Ada banyak piring, sendok, gelas dan panci-panci yang harus dipastikan kebersihannya, sebelum masuk kembali ke dalam tempat penyimpanan. Belum lagi perkakas pinjaman lain yang harus segera dikembalikan.


Yunia sudah selesai sholat dan sudah mulai membereskan perkakas di dapur, saat ibu melintas menuju kamar mandi.


"Sudah bangun, kamu Yun." Tegur ibu


"Iya, Bu... semalam Yunia tidur cepat, jadi bisa bangun pagi..." Sahut Yunia.


"Sudah sholat?" Tanya ibu.


"Sudah, Bu..." Sahut Yunia lagi. Bibir ibu lalu melengkung membentuk huruf O tanpa suara.

__ADS_1


"Ya sudah... ibu mau siap-siap shubuh-an dulu." Kata ibu sambil melanjutkan langkahnya masuk ke kamar mandi. Tak lama kemudian terdengar suara jebar-jebur air dari arah sana. Yunia mulai menghidupkan kompor untuk menjerang air.


"Mas-mu sudah bangun, Yun?" Tanya ibu tiba-tiba, saat Yunia meracik teh dan kopi dalam gelas. Saat ditoleh, dilihatnya ibu tengah mengusap wajahnya dengan handuk.


"Belum, Bu..." Sahut Yunia.


"Segera bangunkan... nanti dia terlambat sholat shubuh..." Perintah ibu. Yunia mengangguk. Setelah ibu berlalu, Yunia menyelesaikan pekerjaannya membuat minuman untuk ibu, Wisnu dan pak Yono. Setelah itu, baru dia pergi ke kamar untuk membangunkan Wisnu.


Singkat cerita....


Semua perkakas yang sudah selesai digunakan bekas selamatan itu, sudah kembali ke tempat penyimpanan. Barang-barang pinjaman juga sudah dikembalikan. Intinya, keadaan kembali seperti saat sebelum acara tahlilan dimulai.


"Ah, beres...!" Ujar Yunia sambil membanting tubuh di kursi panjang ruang tamu. Dia baru saja mengembalikan cetakan apem dari rumah Bu Suri, tetangganya yang tinggal selang 5 rumah dari rumahnya.


"Capek?" Tanya ibu... yang sudah duduk di sana lebih dulu, sambil menonton TV.


"Lumayan..." Jawab Yunia.


"Bu... Mumpung aku di sini, nanti sore aku mau ke rumah temanku..." Ujar Wisnu yang tiba-tiba muncul dari arah dalam.


"Teman yang mana, mas?" Tanya Yunia.


"Temanku sekolah pas SMP, dia tinggal di Kali Dowo..." Jawab Wisnu.


"Yunia ikut enggak?" Ibu kini yang bertanya. Spontan mereka berdua saling pandang. Yunia sana sekali enggak kepikiran untuk ikut, dan sepertinya Wisnu juga enggak kepikiran untuk mengajaknya bertemu dengan temannya semasa SMP itu.


"Kamu mau ikut Yun?" Tanya Wisnu.


"Enggak, Yunia mau menyiapkan perlengkapan untuk PKL nanti..." Jawab Yunia.

__ADS_1


"Ya, udah... Nanti kalau ada perlu apa-apa, ngomong aja..." Kata Wisnu memberi tahu. Yunia mengangguk. Saat ini, dia berpikir, tidur adalah satu-satunya kegiatan yang paling menarik untuk dilakukan... 😂


🌼 🌼 🌼


__ADS_2