Andai Cinta Bisa Memilih

Andai Cinta Bisa Memilih
Minta izin


__ADS_3

Yunia menikmati "profesi' barunya di restoran itu. Walaupun job description nya sebagai kasir, tapi tetap saja, dalam prakteknya, kadang dia juga berperan sebagai waitress atau kadang jadi greater, hanya sekedar untuk membantu teman sekerjanya.


Di hari lain, jika pas sedang berada di lantai dua, dia juga membantu pekerjaan store keeper untuk memberikan barang-barang yang diperlukan oleh divisi lain. Intinya, pekerjaan Yunia itu setengah serabutan. Apa yang sedang dikerjakan teman di sekitarnya, pasti dia bantu. Hanya untuk bagian produksi dia tidak bisa, karena memang dia tidak mempunyai kualifikasi untuk itu...


Karena pembawaannya yang ringan tangan, banyak teman-teman yang suka padanya. Buat Yunia sendiri, tidak ada maksud untuk mencari perhatian dari mereka. Dia hanya senang melakukannya dan ingin tahu, bagaimana rasanya melakukan tugas seperti mereka. Efeknya, jika sudah pulang ke rumah, Yunia baru merasakan, badannya lelah sekali.


Seperti sore itu... Wisnu sudah menjemput Yunia pulang. Diperjalanan, karena menikmati lantunan lagu yang mengalun di mobil mereka, sambil menikmati semilir angin yang bertiup dari kaca jendela yang sedikit terbuka... (Wisnu tidak mengizinkan Yunia untuk membuka lebar kaca itu) Yunia jatuh tertidur. Wisnu yang semula hendak mengajak bicara Yunia menutup mulutnya lagi, saat menyadari Yunia sudah tertidur dengan kepala bersandar pada pintu mobil.


"Duh, nih anak... gampang banget tidurnya..." Gumam Wisnu sambil tersenyum. Iya, Wisnu ingat, dalam posisi bagaimanapun, Yunia selalu bisa tidur dengan pulas. Kadang dia iri dengan Yunia, yang bisa mudah jatuh tertidur. Dia sendiri agak susah untuk tidur. Walaupun tidak sampai mengalami insomnia, tapi Wisnu harus benar-benar merasa nyaman untuk bisa tidur pulas.


Sampai mobil memasuki garasi rumah mereka, Yunia tidak juga terbangun.


"Yun... Yun..." Panggil Wisnu sambil menepuk-nepuk pipi Yunia pelan. Yunia tidak juga bereaksi...


"Yun...!" Panggil Wisnu lagi sedikit keras. Masih juga belum bereaksi. Mendadak timbul ide di kepala Wisnu. Dia meraih kepala Yunia kedalam dekapannya. Dikecupnya kening Yunia, belum ada hasil. Dikecup kedua mata Yunia... Yunia melenguh setengah sadar. Wisnu tersenyum, lalu dia ******* bibir Yunia. Sampai di sini, mata Yunia seketika terbuka. Dia menatap bingung wajah Wisnu yang begitu dekat dengan wajahnya.


"Mas.... emmmphhh..." Belum sempat berkata apapun, Wisnu sudah kembali menyerangnya. Begitu lembut namun begitu menuntut. Yunia, walaupun masih loading dan belum pandai bercumbu, tapi intuisi memimpinnya. Akhirnya keduanya terlibat perang lidah yang sangat menghanyutkan. Hingga tiba-tiba seseorang muncul dari pintu penghubung garasi dan ruang keluarga, menarik perhatian Yunia yang memang menghadap ke depan. Dia segera menepuk-nepuk pundak Wisnu setengah panik, menyuruhnya menghentikan aksinya karena takut keburu ketahuan...


"Loh, Papa sudah pulang rupanya... " Ujar Bu Win dengan menirukan suara anak kecil, sambil menggendong Sabina.


Wisnu segera melepaskan dekapannya dan berpaling ke arah ibunya sebentar. Cuma sebentar. Dia segera kembali menghadap Yunia yang sudah mau beranjak keluar. Wisnu segera meraih tangan Yunia menahannya agar jangan keluar dulu.


"Nanti di lanjutkan di dalam ya... " Pintanya dengan suara pelan disertai senyuman penuh makna. Seketika rona wajah Yunia memerah memahami maksud permintaan Wisnu. Kalau barusan, Yunia melayani cumbuan Wisnu karena hanya mengikuti intuisi saja, enggak pakai berpikir, makanya enggak sempat untuk merasa malu. Lah, sekarang... pakai prolog dulu, jadinya dia merasa malu... Yunia tidak menjawab karena merasa sangat malu, hingga dia ngelengos menyembunyikan senyumnya dan segera keluar dari mobil...


🌼 🌼 🌼


Selesai mandi, Yunia keluar dari kamar mandi dengan berbalut handuk.


"Mas, udah tuh... kalau mau mandi..." Ujar Yunia sambil berjalan ke lemari pakaian untuk mengambil pakaian ganti. Wisnu yang sedang duduk bersandar di atas pembaringan sambil bermain dengan ponselnya mengangkat wajah. Ditatapnya tubuh Yunia yang berdiri membelakanginya. Perlahan dia bangkit dan mendekati istrinya. Sampai di belakang Yunia, tiba-tiba dia berlutut. Yunia yang mengetahui perbuatan Wisnu segera berbalik menghadap Wisnu.

__ADS_1


"Ada apa, mas?" Tanyanya bingung. Yang pasti Wisnu berlutut bukan untuk melamarnya. Walaupun pernah juga dia membayangkan, akan mengalami proses lamaran seperti itu...


"Yun... !" Panggilnya "Ini, kenapa...?" Tanya Wisnu sambil menyentuh paha kanan Yunia, dengan nada khawatir. Yunia refleks menarik mundur kakinya. Pertama karena jengah, yang kedua karena sakit. Ya, di pahanya itu sekarang ada tanda memar yang sudah agak biru kehitaman.


"Eh, itu... tadi Yun enggak sengaja terbentur bangku tempat para karyawan makan..." Jawab Yunia sambil mengelus-elus pahanya. Beneran, enggak ada maksud apa-apa dari tindakannya itu, cuma reaksi spontan, saat bagian tubuh merasa sakit, maka tangan akan mengelusnya untuk sekedar mengurangi rasa sakit. (Padahal sih, aslinya rasa sakit itu tidak berkurang sama sekali...)😅 Yunia tidak sadar gerakan itu menimbulkan pikiran lain di benak Wisnu.


"Kok bisa sampai seperti ini...?" Tanya Wisnu. Tanpa di duga tangan Wisnu segera menggantikan tangan Yunia mengelus memar itu. Yunia merasakan sensasi lain dari sentuhan itu. Apalagi, saat tiba-tiba Wisnu mencium tanda memar itu. Otaknya seketika nge-blank.


"Masih sakit...?" Tanya Wisnu. Yunia tidak menjawab, dia terpaku menatap Wisnu, dan begitu ciuman Wisnu merambah area tubuhnya yang lain, intuisi segera mengambil alih fungsi otak.


"Mas..." Ucap Yunia setengah bergumam setengah mendesah, bingung dengan apa yang dia rasakan. Tercabik antara rasa jengah, dan keinginan untuk menikmati sensasi sentuhan yang dilakukan Wisnu di tubuhnya.


Dan akhirnya, kendali tubuh sepenuhnya jatuh ke mode otomatis.... menerima pimpinan dari Wisnu yang sudah membuang handuk dari tubuhnya. Yunia bahkan tidak sadar saat tubuhnya dibopong dan direbahkan di atas kasur. Yang dia tahu, beberapa menit kemudian, dia terbaring kelelahan di samping tubuh Wisnu yang juga bermandi peluh.


Yunia ingin langsung tidur saja rasanya, tapi suara ketukan di pintu menarik perhatiannya.


"Mas...!" Panggil Yunia memberi tahu. Wisnu langsung meletakkan telunjuk di depan bibir, memberi isyarat agar Yunia diam. Dia beranjak dari kasur dan menyelimuti Yunia hingga ke leher. Setelah itu dia memungut celana panjangnya yang tadi dia pakai, sebelum teronggok di lantai di kaki ranjang. Segera dia pakai kembali celana itu, lalu berjalan ke pintu.


"Ada apa?" Tanya Wisnu sambil berdiri di celah pintu, saat dilihatnya bik Iyam sedang berdiri di depan pintu.


"Itu, Den... ditunggu untuk makan malam..." Ujar bik Iyam sambil menunjuk ke arah ruang makan dengan ibu jarinya.


"Oh, itu... Bilangin, Kami makan malam di kamar saja. Nanti tolong bibi antar makanannya ke sini. Itu, ... Yunia ketiduran..." Ujar Wisnu beralasan.


"Oh, baik Den... " Sahut bik Iyam paham. "Kalau begitu, saya permisi Den..." Ujar bik Iyam. Wisnu mengangguk. Kemudian dia kembali masuk ke kamar dan langsung menutup pintu kamarnya lagi.


"Bagaimana, mas?" Tanya Yunia sambil bangkit dari posisi tidurnya.


"Sebentar..." Kata Wisnu menyuruh Yunia tetap di tempatnya. Dia masuk ke kamar mandi dan mulai mengatur suhu air yang mengalir ke bathtub, setelah itu dia kembali mendekati Yunia.

__ADS_1


"Yuk..." Sahut Wisnu, lalu tanpa ba bi bu lagi, Wisnu langsung membopong tubuh polos Yunia dan membawanya ke kamar mandi.


"Mas..." Ujar Yunia setengah merengek sambil menyembunyikan wajahnya di dada Wisnu. Dia merasa malu, karena baru kali ini rasanya "se-terbuka" itu di depan Wisnu, dalam kondisi kesadaran penuh tentunya, (biasanya enggak sadar ya, Yun?) 😅. Wisnu tersenyum jail. Ia lalu membaringkan tubuh Yunia di bathtub. Setelah itu dia ikutan nyemplung ke dalamnya.


"Ayo, gosokkan punggungku..." Katanya sambil menyerahkan sponge mandi ke tangan Yunia. Mereka berdua bergantian saling menggosok tubuh.


"Mas... Hari Jumat ini ada acara meet and great ya, promo film barunya Bastian...." Ucap Yunia sambil mempermainkan busa sabun di sekitar tubuhnya. Saat itu giliran Wisnu yang menggosok.


"He em... kenapa?" Tanya Wisnu. Dia sudah tahu acara itu langsung dari team marketing restoran mereka.


"Yunia izin pulang terlambat ya... Kepingin lihat bintang film itu..." Kata Yunia sambil menoleh ke arah Wisnu. Ya, acara meet and great itu rencananya akan di gelar sekitar jam empat sore. Jam segitu biasanya akhir jam kerja Yunia.


"Boleh... tapi ada syaratnya...." Jawab Wisnu.


"Apa syaratnya?" Tanya Yunia antusias.


"Yunia enggak boleh macem-macem di sana..." Kata Wisnu mengatakan syaratnya.


"Macem-macem gemana?" Tanya Yunia enggak ngerti.


"Ya, macam-macam.... tebar pesona, mungkin..." Jelas Wisnu yang kini tidak lagi menggosok punggung Yunia tapi malah menciumi tengkuk Yunia, membuat bulu roma Yunia seketika berdiri.


"Enggak ... Yunia cuma ingin lihat bintang film itu secara langsung, kok..." Sahut Yunia cepat sambil mengelak ciuman Wisnu yang sudah merambah ke bagian lain...


"Mas... ayo cepetan mandinya. Nanti bik Iyam keburu datang..." Kata Yunia sambil mengajak berdiri Wisnu untuk segera membilas tubuh di bawah shower.


"Iya... kita akan segera makan ..." Ujar Wisnu. "Setelah mas makan kamu...." Lanjut Wisnu sambil menarik tangan Yunia agar kembali masuk ke dalam bathtub.....


🍃 🍃. 🍃

__ADS_1


__ADS_2