
Perjalanan ke kota B ternyata cukup melelahkan. Hal itu terutama dirasakan oleh Yunia yang memang jarang sekali bepergian jauh. Memahami hal itu, beberapa kali Wisnu meminta pak Yono untuk menepi di rest area, agar mereka bisa beristirahat.
"Yun, tolong belikan kopi untukku dan pak Yono..." Pinta Wisnu pada Yunia saat mereka untuk kesekian kalinya mampir di rest area.
Yunia yang duduk setengah mengantuk di sebuah bangku di rest area itu mendongak, menatap Wisnu sesaat, kelihatan sekali kalau dia masih loading dengan keadaan sekitar. Lalu ia celingukan, mencari kedai kopi terdekat.
Ya, saat itu sudah cukup malam, menurut perkiraan sekitar tiga atau empat jam lagi mereka sampai. Tapi Wisnu meminta beristirahat karena dia ingin merokok sebentar. Wisnu tidak berani merokok saat kendaraan melaju karena mereka menghidupkan AC mobil.
"Biar saya yang belikan, pak..." Usul pak Yono memahami keadaan Yunia. Wisnu menatap Yunia sesaat, lalu mengangguk pada pak Yono.
"Ada lagi yang mau dipesan?" Tanya pak Yono sebelum pergi.
"Aku mau mie rebus..." Yunia menyahut tapi sambil meletakkan kepalanya di atas meja, mencari posisi enak untuk tidur. Wisnu tertawa kecil melihat polah istrinya. Dia sempat berpikir, itu tadi Yunia sadar atau enggak waktu bilang minta mie rebus, jangan-jangan ngelindur dia.
"Ya, pak... minta mie rebus, sama teh hangat sekalian ..."Perintah Wisnu akhirnya pada pak Yono. Pak Yono mengangguk paham, lalu pergi ke dalam sebuah kedai untuk memesan kopi, teh dan mie rebus.
Sementara pak Yono pergi, Wisnu duduk merapat ke arah Yunia. Sementara ini mereka cuma berdua karena ibu sedang ke toilet. Dielusnya punggung Yunia lembut.
"Capek ya..." Katanya.
"He em..." Gumam Yunia masih dengan posisi setengah menelungkup di atas meja.
"Sabar, ya... enggak lama lagi sampai kok..." Hibur Wisnu sambil memeluk Yunia dari samping dan mencium bagian belakang kepalanya.
"Hemmm." Gumam Yunia lagi. Sepertinya, sebagian nyawanya sudah terbang ke pulau kapuk. Karena saat Wisnu iseng mempermainkan jari Yunia, Yunia diam saja tidak bereaksi. Akhirnya Wisnu membiarkan Yunia tertidur sebentar, sementara dia sendiri mulai mengambil rokok dan menghisapnya.
Tak lama kemudian...
"Loh?! kok tidur di sini...?" Tegur ibu saat kembali dari toilet dan melihat Yunia tertidur sambil duduk dengan kepala bertumpu di meja.
__ADS_1
"Biarkan saja, Bu... kasian, capek dia..." Sahut Wisnu. Ibu mengangguk. Mereka membiarkan Yunia tertidur hingga mie rebus pesanan Yunia datang.
"Yun... ini mie nya udah ada... katanya minta mie rebus..." Ujar Wisnu sambil menepuk pipi Yunia pelan.
"Lah, ada mie rebus, toh... aku juga mau dong. Enaknya malam-malam begini makan mie rebus..." Ujar ibu.
"Mau saya pesankan mie, Bu?" Tanya pak Yono menawarkan.
"Boleh, pak. Bapak pesan sekalian untuk bapak juga kalau mau..." Ujar ibu. Pak Yono mengangguk paham, lalu kembali ke dalam kedai untuk membuat pesanan tambahan. Sementara itu, Wisnu masih mengiming-imingi Yunia dengan aroma mie rebus.
"Yun, ini mie nya... nanti keburu dingin enggak enak..." Katanya.
"Hem..." Yunia membuka matanya dengan malas. Walaupun perutnya lapar, tapi kantuknya membuat selera makannya hilang... "Yunia, ngantuk...." Katanya sambil menguap. tangannya refleks menutupi mulutnya.
"Cuci muka dulu sana, biar enggak ngantuk..." Nasehat ibu. Yunia pikir benar juga ucapan ibu. Karena itu dia lalu bangkit dari duduknya. Matanya mencari letak toilet.
"Yunia cuci muka dulu deh..." Katanya setelah melihat arah toilet, sambil mulai melangkah.
Sementara Yunia cuci muka, mie rebus yang semula untuk Yunia dimakan oleh ibu. Ibu pikir Yunia akan mendapat ganti mie rebus yang sama panasnya nanti, daripada ibu harus menunggu dan membuat mie rebus yang sudah ada menjadi dingin.
Tak lama kemudian, Yunia sudah selesai cuci muka, pak Yono juga sudah kembali dengan dua mangkuk mie rebus. Ya, cuma dua, karena Wisnu tadi menolak untuk ikut memesan.
"Mas, enggak pesan?" Tanya Yunia saat menyadari kalau Wisnu tidak mendapat jatah.
"Enggak ..." Jawab Wisnu kalem sambil menghisap rokoknya.
"Barengan sama Yun, ya..." Kata Yunia. Lalu dia menyendok mie itu, setelah dia tiup dan dirasa cukup hangat, dia menyuapi Wisnu. Wisnu menerima suapan itu. Kunyah-kunyah, telan, setelah itu dia kembali merokok.
Dasar laki-laki, makannya cepat. Yunia belum selesai mengunyah, mulut Wisnu sudah kelihatan kosong lagi. Karena itu Yunia kembali menyuapi Wisnu. Sesuap ke mulut Yunia, dua suap ke mulut Wisnu. Makanya mie itu cepat sekali habis.
__ADS_1
"Katanya enggak mau... tapi habis banyak..." Ucap Yunia setengah menggerutu. Wisnu tertawa ditimpali oleh tawa ibu dan psk Yono.
"Makan kalo disuapi itu ternyata nikmat ya..." Ujar Wisnu beralasan. "Kalau kurang minta lagi aja, Yun..." Kata Wisnu lagi.
"Enggak ah." Tolak Yunia. Dia lalu meraih sejenis keripik yang mereka bawa dari rumah tadi untuk cemilan, sambil menunggu Wisnu selesai merokok dan pak Yono siap kembali mengemudi.
Akhirnya, mereka semua kembali masuk ke dalam mobil, setelah memastikan tidak ada barang mereka yang tertinggal di rest area itu.
Baru saja beberapa meter mobil berjalan, terdengar suara ponsel ibu berdering. Dari Bayu.
"... Sudah sampai mana Bu?" Tanyanya. Ibu memberi tahu posisi mereka saat ini. Bayu sedikit risau karena hari sudah hampir tengah malam, dan dia disuruh ayah menunggu kedatangan mereka.
"Kalau ngantuk, kamu tidur aja... nanti kalau sudah dekat ibu telpon. enggak usah nungguin, besok kamu masuk kerja pagi, kan..." Perintah ibu. Bayu meng-iya-kan ucapan ibu. Setelah itu hubungan telepon terputus. Perjalanan pun berlanjut.
Akhirnya, hampir jam setengah dua malam, mobil itu berbelok ke arah suatu perumahan. Ada dua orang penjaga di gerbang perumahan itu, dan rupanya mereka mengenali mobil Wisnu, hingga tidak perlu banyak bertanya, penjaga itu membuka portal untuk dilewati mobil itu.
"Berhenti sebentar, pak..." Perintah Wisnu pada pak Yono. Pak Yono menghentikan mobilnya ditengah jalan. Dia tahu apa yang akan dilakukan Wisnu, karena itu dia merasa tidak perlu menepi. Wisnu membuka kaca jendela mobilnya.
"Pak... ini, untuk beli kopi, supaya enggak ngantuk..." Kata Wisnu sambil melongokkan kepalanya melewati jendela. Ia menyerahkan sesuatu dalam genggamannya. Penjaga itu segera mendekat dan menerima pemberian Wisnu.
"Terima kasih banyak, pak.. Semoga bapak tambah banyak rezeki nya... " Ucap penjaga itu.
"Amin... "Sambut semua orang menjawab doa itu. Setelah itu Wisnu memberi isyarat kepada pak Yono untuk melanjutkan perjalanan.
Ya, hampir semua petugas jaga di komplek perumahan itu kenal Wisnu. Karena Wisnu selalu bermurah hati pada mereka. Hampir bisa dipastikan, setiap kali Wisnu melewati gerbang saat tengah malam begini, penjaga gerbang itu akan mendapat uang saku dari Wisnu. Bukan masalah nominal yang membuat mereka senang. Tapi karena perhatiannya. Wisnu tidak pernah memandang rendah mereka, malah kadang-kadang dia ikut nongkrong di pos penjagaan untuk sekedar ngobrol bersama para penjaga itu.
Mobil akhirnya berhenti di depan gerbang sebuah rumah. Pak Yono membunyikan klakson dua kali, dan dua orang penjaga rumah bergegas membukakan gerbang untuk mereka.
"Alhamdulillah... sampai juga, kita..." Ucap ibu sambil merentangkan tangan sedikit menggeliat untuk melemaskan tubuhnya yang sedikit kaku karena seharian tadi hanya duduk saja. Yunia ikut-ikutan menggeliat. Sesaat dia termangu. Matanya menatap bangunan yang ada di depannya.
__ADS_1
"Rumahnya kok besar sekali..." Katanya dalam hati...
πΌπΌπΌπππ