Andai Cinta Bisa Memilih

Andai Cinta Bisa Memilih
Mama


__ADS_3

"Assalamualaikum...." Terdengar suara seseorang menyerukan salam dari arah depan.


"Waalaikum salam..." Jawab Wisnu dan Yunia hampir berbarengan. Tak berapa lama kemudian muncul ibu sambil menggendong Sabina, diikuti ayah lalu Alit dibelakang ayah dengan tas perlengkapan Sabina di tangannya.


"Halo sayang..." Sapa Wisnu kepada Sabina. Saat itu dia sudah selesai makan, tapi tadi dia masih tetap duduk di kursinya, karena menemani Yunia yang belum selesai makan. Melihat kedatangan ibu dan Sabina, Wisnu segera bangkit dan mendekat. Yunia sendiri cuma berdiri di tempatnya sekedar untuk menghormati ayah dan ibu yang baru datang.


"Sudah, duduklah, habiskan sarapan mu." Perintah ayah sambil ikut duduk di kursi yang ada di kepala meja.


"Alit, buatkan aku teh...!" Perintah ayah lagi pada Alit.


"Baik, tuan..." Jawab Alit sambil mengangguk dan langsung pergi ke dapur.


"Ayah mari makan..." Tawar Yunia sambil kembali duduk.


"Ayah kenyang, tadi di poliklinik, sambil nunggu ibumu antri imunisasi Sabina, ayah makan bubur kacang hijau..." Ujar ayah.


"Oh iya, ibu tadi juga mbungkus buat kamu..." Sambung ibu seakan diingatkan. "Alit, dimana tadi kacang hijau nya?" Tanya ibu. Alit yang sudah berada di dapur segera kembali ke meja makan untuk menyerahkan bungkusan kacang hijau yang diminta ibu. Sementara Wisnu sudah bermain dengan Sabina yang dia dudukkan di atas meja makan.


"Sabina tadi imunisasi apa, Bu?" Tanya Yunia. Dia sudah menyelesaikan makannya dan bermaksud membawa piring kotor ke dapur, tapi keburu diminta oleh Alit yang baru saja meletakkan gelas teh pesanan ayah.


"Biar sama saya saja, non..." Katanya sambil langsung meraih piring kotor di depan Yunia. Akhirnya Yunia membiarkan Alit mengambil piring itu dan dia mengalihkan perhatiannya ke Sabina.


"Sabina imunisasi campak..." Jawab ibu untuk Yunia.


"Hai, Sabina sayang... tadi disuntik, ya?" Tanya Yunia pada Sabina.


"Euh...." Ucap balita yang memang masih belum bisa bicara itu. Dia cuma melirik Yunia sebentar lalu kembali menghadap ayahnya.

__ADS_1


"nda ta ta ta ta ...!" Ucapnya lagi seperti hendak menangis, seakan dia mengadu pada ayahnya bahwa neneknya sudah membiarkan orang lain menyakiti lengan kirinya dengan jarum suntik. Tapi Wisnu yang memang tidak mengerti arti ucapan Sabina malah tertawa mendengarnya, yang lain juga.


Sabina masih terus "mengoceh", mengadu pada Wisnu dan melampiaskan kekesalannya. Wisnu masih terus tertawa mendengar ocehan anaknya, hanya Yunia yang menunjukkan perhatian penuh pada ocehan itu dan bersikap seakan-akan mengerti serta menanggapinya.


"...Iya, nak? Sakit...?" Ucap Yunia yang sekarang sudah berdiri di samping Wisnu setengah membungkuk menghadap Sabina.


"Bjah... Bjah... Bjah..." Ucap balita itu yang kini mulai mau menatap Yunia, rupanya dia suka karena ada yang menanggapi ucapannya.


Beberapa menit Yunia dan Sabina saling "mengobrol" dengan bahasa yang hanya mereka sendiri yang memahami. Ayah, ibu dan Wisnu hanya menyimak dan sesekali tertawa mendengar celoteh Sabina. Hingga akhirnya...


"Mas mau ke kantor, kamu mau ikut enggak?" Ujar Wisnu menyela obrolan mereka.


"Katanya tadi, Yun mulai PKL besok..." Sahut Yunia tanpa mengalihkan tatapannya dari Sabina.


"Itu tadi mas jawab asal saja ke Bayu, tapi kalau Yunia mau mulai hari ini, ya enggak apa-apa. Ayo bareng mas sekalian..."


Wisnu maklum, karena itu dia tidak keberatan Yunia tinggal di rumah untuk hari ini.


"Ya, sudah.... Sabina, hari ini puas-puasin main sama mama ya...." Kata Wisnu sambil mengusap kepala Sabina penuh sayang. Yunia yang mendengar kata "mama" mendadak merinding karenanya. Dari sejak tadi dia "mengobrol" dengan Sabina, dia bingung untuk membahasakan dirinya untuk Sabina, dan kini kebingungannya terselesaikan dengan ucapan Wisnu. Mama. Ya, sebutan itu yang dipilih Wisnu untuk dipakai Yunia terhadap Sabina.


Mama.... suatu kata yang sangat sederhana, bahkan mungkin kata pertama yang paling mudah untuk diucapkan oleh seorang balita, tapi betapa besar artinya. Ada tanggung jawab yang sangat besar untuk bisa menyandang panggilan itu, dan itu dirasakan benar oleh Yunia sekarang.... Sanggup kah dia memerankan dirinya sebagai seorang mama untuk Sabina? Semoga saja... itu doa yang dia panjatkan seketika, saat menyadari makna panggilan itu pada dirinya.


πŸƒ πŸƒ πŸƒ


Jam setengah tujuh pagi. Yunia sudah menyelesaikan sarapannya bersama anggota keluarga Winoto lainnya. Hari ini dia akan memulai PKL nya setelah molor sehari dari waktu yang ditentukan. Saat diberi pilihan tempat PKL oleh Wisnu, mau di restoran, konveksi atau di travel agent, Yunia memutuskan memilih untuk PKL di restoran saja, alasannya simpel, karena di restoran pasti banyak makanan.


"Memangnya walaupun di sana banyak makanan, itu bisa berarti kamu bisa makan seenaknya..." Gurau Bayu.

__ADS_1


"Ya, enggak juga. Tapi minimal kalau Yun lapar enggak susah cari makanan..." Begitu jawaban Yunia, membuat orang yang mendengarnya tertawa.


"Ayo berangkat...." Ajak Wisnu sambil bangkit dari kursinya. Yunia segera ikut bangkit.


"Sebentar, Yunia ambil tas dulu..." Kata Yunia lalu bergegas pergi ke dalam kamarnya. Isi tas itu sudah dia persiapkan dari semalam. Setelah menyambar tasnya, Yunia menyempatkan diri mematut diri di depan cermin beberapa detik. Setelah yakin merasa tidak ada yang salah dengan seragam sekolah yang dia pakai, Yunia segera berlari kembali menuju garasi di mana Wisnu sudah menunggunya. Terdengar suara mesin mobil sudah menderu, rupanya Wisnu sudah menghidupkan mesin mobil, tapi karena Yunia belum berpamitan, Yunia sengaja berjalan melintasi ruang makan. Ya, dia belum salim dengan ayah dan ibu.


"Ayah ... Yunia pergi dulu... Bu...." Kata Yunia sambil mencium punggung tangan kedua orang tua itu.


"Iya ... selamat bekerja mama..." Kata ibu mewakili Sabina menyalami Yunia. Ya, Sabina saat itu sedang dipangku oleh ibu. Yunia tersenyum agak canggung. Panggilan "mama" yang disandangkan padanya masih terdengar aneh ditelinga nya.


"Sampai nanti Sabina sayang..." Ujar Yunia sambil mengecup pipi Sabina sekilas. "Assalamualaikum...." Salamnya kemudian sambil kembali melangkah menuju garasi.


"Waalaikum salam...." Sahut ayah, ibu dan Bayu yang masih duduk di kursinya masing-masing hampir bersamaan. Bayu memilih berangkat agak siang karena dia hendak langsung ke tempat rekanan kerja mereka. Janjian ketemu jam sembilan katanya.


"Udah siap...!" Tanya Wisnu begitu Yunia menghenyakkan bokongnya di jok depan di samping Wisnu.


"Sudah... " Jawab Yunia sambil merapikan letak tas di pangkuannya. Setelah itu pandangannya dia arahkan ke depan, menatap pintu garasi yang masih tertutup.


"Mas..." ucap Yunia sambil menoleh ke arah Wisnu. "Pin...tu...nya..." Suara Yunia terdengar terpenggal dan semakin pelan di ujung kalimat. Maksudnya ingin bertanya, siapa yang akan membuka pintu itu, tapi perhatiannya langsung berubah saat mendapati Wisnu sedang menatap dirinya.


"Mas, kenapa ngeliatin Yun seperti itu?" Tanya Yunia sudah mulai merasa gelisah. Sungguh dia jadi grogi karena pandangan Wisnu yang dirasakan begitu intens pada dirinya.


"Istrinya mas kok manis sekali sih..." Ujar Wisnu sambil tersenyum simpul melihat Yunia salah tingkah.


"E'eng... mas Wisnu mah..." Rengek Yunia tidak bisa menyembunyikan rasa malu sekaligus gembira mendapat pujian dari suaminya....


πŸŒΌπŸŒΌπŸŒΌπŸ‘‰πŸ‘‰πŸ‘‰

__ADS_1


__ADS_2