
Yunia terbangun beberapa jam kemudian. Saat melihat keluar jendela, hari masih gelap...
"Jam berapa ini?" Tanyanya pada diri sendiri. Matanya mengarah ke jam dinding yang berada di atas pintu masuk kamar. Hampir jam lima ...
Mengikuti kebiasaan... Setelah melihat jam, matanya akan mengarah pada kalender yang tergantung di tembok samping tempat tidurnya. Memastikan hari apa sekarang, dan melihat catatan kaki di kalender itu untuk mengingatkan, ada ulangan atau engga di sekolah. Anak kelas 12... hampir tiap hari ada aja ulangan...🤦
"Yes! Aman." Kata hatinya, saat tidak menemukan catatan apa-apa di hari itu. Yunia menyibak selimut, berjalan keluar kamar untuk segera mengambil air wudhu.
Keluar kamar, yang dilihat pertama kali adalah Bayu yang sedang duduk merokok di kursi panjang, sementara segelas kopi yang tinggal setengah gelas tersanding di meja kecil di sebelahnya.
"Mas Bayu...? Kok, dia di sini?" Gumamnya heran. Serta merta otaknya bekerja. Menoleh ke seputar ruangan, hingga dari pintu ke ruang belakang, Yunia melihat beberapa ibu tetangga sedang sibuk meracik sesuatu sambil bercakap-cakap pelan. "Kok, rame banget?" Pikirannya. Berpikir... berpikir....
"Bapak!" Serunya tiba-tiba setengah berteriak, saat otaknya berhasil menyambung ke kotak memori. Seketika Yunia berlari ke ruang depan, di mana jenasah bapak masih terbaring menunggu untuk dikebumikan.
Seruannya berhasil mengejutkan orang-orang yang ada di rumah saat itu. Segera saja Bayu, paman, Wisnu dan Pak Winoto yang kebetulan sedang duduk-duduk di sekitar situ mendekat. Disusul oleh Bik Sumi dan Bu Winoto yang berjalan setengah berlari dari arah belakang, yang lain hanya menatap dan memperhatikan Yunia dari tempat mereka semula.
"Yun... istighfar...." Bujuk Bik Sumi sambil merangkul pundak Yunia yang sudah berlutut di samping jenasah bapak sambil menangis terisak.
"Aku kira, semua ini cuma mimpi buruk... tapi ini.... bapak... bapak..." Adu Yunia pada Bik Sumi sambil memeluknya erat.
"Sabar, nduk... Relakan bapakmu... insya Allah, bapakmu Khusnul khatimah..." Ujar Bu Winoto sambil memeluk Yunia.
"Dulu ibu pergi.... sekarang bapak ikutan pergi... lalu aku sama siapa?" Ujar Yunia lagi masih sambil menangis.
"Kamu masih punya kami... Kami keluargamu sekarang..." Sahut pak Winoto, membuat Yunia menoleh ke arahnya. Ucapan pak Winoto membawa Yunia pada realita lain... Wisnu...! Tanpa sadar, matanya mencari Wisnu.
Itu dia! Berdiri agak di belakang ayahnya, sedang menatap Yunia penuh khawatir. Sesaat mereka berdua saling tatap. Hingga Bayu memdehem mengingatkan.
"Ehem... Ehem..."
Refleks mata Yunia mengarahkan pada Bayu. tapi setengah detik kemudian langsung membuang muka karena malu. Sementara Wisnu langsung mengibas pundak Bayu kesal. Yang dikibas tertawa ditahan, sementara yang lain hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan mereka.
"Yunia sudah sholat?" Tanya ibu Winoto mengingatkan. Yunia menggeleng.
"Belum, Bu." Katanya sambil bangkit dari lantai.
"Ayo, sholat dulu... doakan ibu dan bapakmu..." Perintah Bik Sumi. Kali ini Yunia mengangguk lalu melangkah ke ruang belakang untuk berwudhu.
__ADS_1
🍃🍃🍃
Prosesi pemakaman bapak berjalan lancar. Paman dan bibi mewakili Yunia menjadi tuan rumah, menyiapkan segala sesuatu yang diperlukan untuk prosesi, serta menyambut tamu yang datang untuk menyampaikan belasungkawa.
Teman-teman sekolah Yunia datang setelah lewat jam sekolah. Mereka datang berombongan, disertai beberapa guru. Rupanya berita meninggalnya bapak sudah menyebar di sekolah.
"Dari mana kalian tahu tentang bapak?" Tanya Yunia pada Santi, Mawar dan Listi, teman sekelas sekaligus sahabatnya.
"Dari Si Nunug..." Jawab Santi sambil menunjuk pada Nugraha, teman sekelas mereka.
"Iya... katanya dia dikabari oleh Bulik nya yang tinggal di dekat sini..." Sambung Listi. Yunia mendengarkan sambil menyembunyikan seringainya... dia khawatir, kalau bukan hanya berita kematian yang mereka dengar, tapi juga berita pernikahannya.
"Semoga mereka memang benar-benar engga tahu dan bukan pura-pura engga tahu..." katanya dalam hati.
Untung saja, sampai kunjungan mereka berakhir, tidak ada satupun yang menyinggung soal itu. Teman-teman perempuan Yunia malah sempat curi-curi pandang ke arah Wisnu dan Bayu...
"Siapa dia, Yun?" tanya mereka berbisik. sambil menunjuk dengan ekor matanya. Yunia meringis memahami maksud pandangan mereka...
"Em... itu mas Wisnu dan mas Bayu..." Jawab Yunia
"...di emong gemana?" tanya teman lain kurang mengerti...
"Ya, kan gini.... orang tuanya Yunia itu dulu punya anak asuh......" Mawar langsung menjelaskan tentang Wisnu dan Bayu pada teman lainnya dengan sok tahu.
Ya, Yunia memang sempat beberapa kali bercerita tentang dua orang kakak angkatnya itu pada sahabat-sahabatnya.
"Kakakmu cakep..." Puji Santi yang langsung di iya kan oleh yang lain.
"Udah punya gandengan, belum?"
"Emangnya truk... gandengan..." seloroh yang lain menimpali, yang langsung disambut tawa teman-temannya.
"Gemana, Yun...?" kejar Santi. Engga perduli dengan ledekan temannya.
"Udah..." Jawab Yunia sambil menahan tawa.
"Ah ... kamu sih engga asik..." ujar Santi lagi dengan nada menyalahkan.
__ADS_1
"Loh?! kok aku yang engga asik?" Tanya Yunia engga ngerti.
"Habis, punya kakak cakep kamu diem aja... giliran udah ada yang punya baru ditunjukin..." Keluh Santi yang langsung di sambut tawa teman-temannya. Yunia jadi ikutan tertawa mendengarnya.
Beberapa lama Yunia kembali bergembira bersama teman-temannya, hingga mereka berpamitan pulang, dan membawa sebagian rasa gembira itu bersama mereka.
Kesepian serta kesadaran kalau bapak sudah tidak mendampinginya kembali menyelimuti hatinya.
Yunia duduk di lantai, di ruang depan yang beralaskan karpet. Untuk sementara, kursi tamu sudah dipindahkan ke dalam kamar. Karena ruang depan ini akan digunakan untuk acara tahlilan hingga 6 hari ke depan.
Tangannya mempermainkan ponsel, melihat kembali foto-foto dirinya dengan bapak. Dadanya terasa sesak, Yunia perlu menarik nafas panjang beberapa kali untuk bisa melegakan hatinya.
"Sedang apa, Yun?" Tanya Bayu, yang tahu-tahu sudah duduk di dekatnya.
"Eh? engga sedang ngapa-ngapain...." Jawab Yunia sambil mengangkat wajahnya dari ponsel. "Ada apa?" Tanya Yunia saat melihat ekspresi wajah Bayu yang seperti ingin mengatakan sesuatu.
"Emmm gini... Sebenarnya aku ngerasa waktunya kurang pas, tapi mau gemana lagi..." Bayu berhenti sebentar.
"Yun... maaf ya, aku dan ibu mau pamit pulang duluan..." Lanjut Bayu.
"Kok cepat-cepat?" Tanya Yunia seperti keberatan.
"Iya... sebenarnya rencana semula, kami akan pulang kemarin sore... tapi karena kejadian itu..." Sahut Bayu menggantung. Yunia mengangguk paham.
"Hanya mas Bayu dan ibu? Ayah dan mas Wisnu...?
"Katanya, ayah akan tinggal hingga selesai tujuh hari... kalau mas Wisnu, aku engga tau pasti, gemana rencananya."
"Kok engga nanti saja, barengan dengan ayah, gitu..." Yunia berusaha menahan.
"Aku mau ada ujian, sekaligus mewakili ayah dan mas Wisnu mengurus pekerjaan... Kalau ibu.... emmm ... ada Sabina...." Sampai sini Bayu agak ragu untuk bicara. Dia takut salah omong.
"Ah, ya... Sabina..." Satu hal lain yang membawa Yunia pada realita baru... Sabina... Dia sekarang adalah ibu sambung seorang anak bernama Sabina...
________________________
di emong \= dirawat
__ADS_1