
"Yun... kamu jadi ikut ke pasar bareng bibi kan...?" Tanya Bik Sumi pagi itu, begitu melihat Yunia tengah membuatkan teh hangat untuk ibu, dan kopi hitam untuk Wisnu.
"Iya Bik.." Sahut Yunia sambil menoleh ke arah Bik Sumi sebentar. "Bibi mau teh juga?" Tawar Yunia.
"Bibi sudah minum tadi, tapi kalo mau, buatkan teh satu teko besar sekalian.... untuk orang-orang yang mbiodo nanti..." Ujar Bik Sumi memberi petunjuk.
"Oh... kalo itu siap Bik... itu, sedang nunggu airnya mendidih.... ini Yunia dahulukan untuk ibu dan mas Wisnu...." Sahut Yunia lagi, sambil mengaduk kopi yang barusan dia seduh.
"Pinter...." Puji Bik Sumi sambil tersenyum. Setelah itu beliau beralih ke ibu... "Mbak, ngapunten, nanti kalau ada yang mbiodo datang, minta tolong suruh kupas kan bawang merah itu saja dahulu, untuk bikin bumbu..." Ujar Bik Sumi memberi arahan pada ibu. Sambil menunjuk satu kantung kresek tanggung yang terletak di bawah meja dapur.
"Oh iya... Kalian engga lama kan belanjanya? Jam berapa orang-orang itu akan datang?" Tanya Ibu, rupanya beliau agak keder juga menjadi tuan rumah dadakan untuk acara selamatan ini. Maklum, sudah lama juga beliau tidak tinggal di daerah itu, jadi beliau merasa canggung dan bingung dengan adat di sana.
"Engga lama sepertinya, mbak... soalnya semua sudah dipesan, nanti tinggal ambil saja di pedagangnya, kecuali barang-barang yang kecil dan sedikit-sedikit kemarin itu..." Ujar Bik Sumi menjelaskan.
"Ke pasarnya bareng paman, Bik?" Tanya Yunia menyela.
"Ah, iya itu... Wisnu bisa nganterin engga ya? Pamanmu tadi pagi disusul Pak Gito, katanya pagi ini mau mengaliri sawahmu ....." Bibi bertanya sekaligus memberi tahu. Pak Gito itu orang yang dipercaya untuk mengurus sawah milik bapak yang otomatis menjadi milik Yunia sekarang.
"Engga tau, Bik.. Mungkin bisa. Kalaupun mas Wisnu engga bisa, kan masih ada pak Yono, sebentar Yun tanya dulu...." Kata Yunia kemudian sambil pergi menemui Wisnu sambil membawa segelas kopi yang dia bikin untuk Wisnu.
Yunia tidak tahu pasti, dimana Wisnu berada, tapi belum lama tadi, Wisnu kelihatan keluar dari kamar mandi. "Mungkin sekarang dia ada di depan" Begitu pikir Yunia... tapi, sambil menuju ruang tamu, Yunia menyempatkan diri melongok ke kamar, menduga, barangkali saja Wisnu masih ada di kamar. Dan... memang iya. Wisnu ada di kamar sedang membongkar kopernya tanpa mengenakan baju. Dia hanya memakai celana pendek yang dia pakai semalam. Tapi rambutnya kelihatan basah, jadi pastinya Wisnu sudah mandi. Cuma belum ganti baju saja.
"Mas..." Panggil Yunia. "Sedang apa?" Tanyanya kemudian sambil meletakkan gelas kopi yang dibawanya di atas meja belajarnya, lalu mendekati Wisnu.
__ADS_1
"Eh? Ini... Mas lagi cari kaos yang mau mas pakai hari ini..." Ujar Wisnu memberi tahu.
"Bisa Yun bantu?" Tanya Yunia sambil berlutut di samping Wisnu bersiap mencarikan kaos yang dimaksud Wisnu.
"Iya, tolong cariin dong..." Kata Wisnu. Sementara Yunia berlutut di depan koper, Wisnu sudah pindah duduk di kursi belajar Yunia. Dia sudah menyeruput kopinya.
"Awas panas, mas..." Kata Yunia memperingatkan.
"He em..." Gumam Wisnu.
Tak lama kemudian Yunia sudah mengambilkan satu stel pakaian untuk Wisnu.
"Mau pakai yang ini, mas?" Tanyanya sambil menyerahkan pakaian itu pada Wisnu.
"Eng....Mas, itu bajunya perlu di pindah engga?" Tanya Yunia menutupi kegugupannya. Ya gemana enggak gugup, baru sekarang ada laki-laki yang mengenakan pakaian di depannya begitu saja, tanpa merasa harus berbalik badan.
"Maksudnya?" Tanya Wisnu
"Maksudnya...." Secara naluriah, Yunia mengangkat wajah menatap ke arah lawan bicaranya, Tapi seketika dia tertunduk kembali. Hatinya jadi kebat-kebit. Dia melihat Wisnu sedang melorot celana pendeknya untuk berganti dengan celana panjang.
"Aduh... kenapa jadi porno gini..." Keluh Yunia dalam hati. Tanpa dia sadari wajahnya sudah mulai memerah, sedang tangan kiri dan kanannya sudah saling meremas, tanda dia sudah mulai gelisah. "Apa aku harus keluar kamar ya..." Pikir Yunia lagi...
"Yun....?" Panggil Wisnu menoleh ke arah Yunia. Perhatiannya tadi fokus merapikan kaos yang dipakainya dan memasukkannya ke dalam celana panjang sebelum dia menarik resletingnya. Karena itu, dia heran saat dirasakannya Yunia mengambil jeda terlalu lama untuk menyelesaikan ucapannya.
__ADS_1
"Maksudnya, itu bajunya perlu dipindahkan ke lemari atau engga? Emmmm mas kan sekarang tinggal disini... tapi beberapa hari lagi mas balik lagi ke rumah sana..." Jawab Yunia masih belum berani menatap Wisnu. Dia sudah ingin pergi keluar, tapi kakinya seperti terpaku ditempatnya, hingga hanya badannya yang bergoyang ke depan dan kebelakang...
Kening Wisnu sedikit berkerut. Sesuatu melintas dipikirannya. Bukan soal baju, tapi bahasa tubuh Yunia. Dia tahu, ada yang tidak beres dengan tingkah Yunia. KENAPA? Detik berikutnya, baru dia sadar. Seulas senyum miring terbit dari bibirnya. Pelan-pelan, Wisnu mendekati Yunia.
"Yun..." Panggilnya pelan. Refleks Yunia mengangkat wajah mencari asal suara. Dia yang sedari tadi tertunduk melongo kaget, waktu tahu-tahu Wisnu sudah berdiri dekat di hadapannya.
"Em..." Refleks juga Yunia mundur selangkah saat dirasakannya Wisnu berdiri terlalu dekat dengannya.
Mendadak, tanpa diduga sama sekali. Tiba-tiba tangan Wisnu bergerak cepat. Satu tangan meraih pinggang Yunia, sedang tangannya yang lain meraih tengkuk Yunia dan menguncinya. Ia memagut bibir Yunia penuh nafsu.
Lagi-lagi Yunia tidak tahu harus berbuat apa. Ini kali kedua Wisnu menciumnya pagi ini. Tapi yang sekali ini dia rasakan kalau Wisnu melakukannya penuh emosi, tidak seperti tadi pagi yang seperti sekedar menggodanya.
Wisnu melepaskan ciumannya saat dia sadari, Yunia mulai gelagapan kehabisan udara. Sementara bobot tubuhnya mulai tertumpu ke tubuh Wisnu. Ya, kaki Yunia lemas rasanya setelah diserang Wisnu barusan.
Huft...!
"Bersiaplah untuk menghadapi situasi seperti ini setiap hari...." Ucap Wisnu lirih di telinga Yunia, sambil melepaskan rengkuhannya. Yunia cuma bisa tertunduk tak menjawab. Ia berusaha mencari pegangan. Ternyata, sensasi ciuman Wisnu bisa membuatnya begitu mabuk hingga kepalanya kosong dan badannya limbung karena kakinya tidak bisa berpijak di bumi dengan benar ....
"Oh, iya ... baju itu kamu pindah ke lemari engga apa-apa.... terus kopernya kamu isi dengan pakaian yang mau kamu pakai di sana..." Kata Wisnu lagi sambil melangkah keluar kamar. Meninggalkan Yunia yang masih bingung dengan perasaannya.
Wisnu memilih keluar, karena entah itu karena sayang, entah itu karena cinta atau sekedar karena nafsu... ada suatu hasrat yang menuntut penyaluran. tapi Wisnu tahu, situasi dan kondisinya tidak mendukung untuknya melakukan pelepasan. Makanya dia memilih keluar kamar saja.
"Hem..." Gumam Yunia. Lalu dia jatuh terduduk di lantai, saat tubuh Wisnu sudah hilang di balik pintu....
__ADS_1
🍃 🍃 🍃