Andai Cinta Bisa Memilih

Andai Cinta Bisa Memilih
Malam mingguan.


__ADS_3

Wisnu melangkah mendekati Bik Sumi dan mencium punggung tangan kanannya.


"Masuklah..." Perintah Bik Sumi, sambil sedikit mendorong pelan bahu Wisnu. Wisnu mengangguk, lalu dia mengikuti langkah Bik Sumi masuk ke dalam rumah. Yunia mengikutinya dari belakang, masih sambil menautkan bibirnya menahan tawa.


"Boleh duduk...?" Tanya Wisnu, saat beberapa detik mereka cuma berdiri di samping kursi tamu, padahal Yunia sendiri malah menunggu Wisnu duduk duluan.


"Mas, jangan konyol deh..." Ujar Yunia masih berusaha menahan geli.


"Ya, namanya juga tamu, belum dipersilahkan mana berani duduk duluan..." Jawab Wisnu masih mempertahankan perannya.


Bik Sumi sampai geleng-geleng kepala mendengarnya. Beliau merasa takjub sekaligus geli dengan tingkah Wisnu.


"Sampeyan itu kok ono-ono ae ta le...le... " (\= kamu itu kok ada-ada saja sih, nak ..) Ujar Bik Sumi pada Wisnu.


""Lah, habis Yunia minta diapelin, jadinya ya seperti ini..." Jawab Wisnu beralasan. Sesaat Bik Sumi menatap Yunia. Yunia sendiri cuma bisa angkat bahu, tidak tahu apa yang harus dia katakan.


Dia memang ingin merasakan "diapelin" di malam Minggu, tapi tidak pernah meminta, apalagi membayangkan, kalau Wisnu akan melakukannya untuk Yunia.


"Oalah... anak jaman sekarang... kakehan reken." Gumam bibi setengah menggerutu mengatai Wisnu "banyak polah" tapi sambil tersenyum geli juga. Setelah itu beliau berlalu dari sepasang suami istri yang baru mulai tahap apel malam Minggu mereka. Ya, khusus untuk mereka acara apel-nya bebas mau apa saja. Bik Sumi merasa sudah tidak perlu mengawasi lagi, toh mereka sudah menjadi pasangan yang halal ... 🀦


"Duduk, mas..." Ujar Yunia akhirnya mempersilahkan. Wisnu lalu duduk. Setelah Wisnu duduk, Yunia lalu menyusul duduk di seberang kursi Wisnu.


"Mas tadi pulang jam berapa dari rumah temannya?" Tanya Yunia memulai pembicaraan.


"Sekitar jam lima tadi udah pulang kok..." Jawab Wisnu.


"Jam lima? Lah terus kemana...?"


"Enggak kemana-mana... langsung pulang."


"Tapi waktu kasih tau Yunia tadi mas enggak ada di rumah kan?"


"Ada. ... "Jawab Wisnu membuat Yunia tambah bingung. kok dia enggak melihat Wisnu tadi di rumah? Melihat kebingungan di wajah Yunia, Wisnu tertawa.


"Mas tadi pulang waktu kamu masih mandi. Setelah itu mas duduk-duduk dengan pak Yono di halaman depan. Pak Yono sedang memeriksa oli mobil, besok kita kan mau perjalanan jauh, jadi mas suruh pak Yono untuk memeriksa kondisi mobilnya..." Ujar Wisnu menjelaskan.


"Kok Yunia enggak lihat mas tadi di depan, cuma ada pak Yono aja, tadi..." Sangkal Yunia.


"Kamunya aja yang enggak memperhatikan... Mas tadi lihat kok kamu lewat, mas kan ada di dalam mobil..."

__ADS_1


"Oh, pantas saja...." Ujar Yunia akhirnya mengerti.


"Gemana? Udah selesai nge pack buat besok?" Tanya Wisnu mengganti topik pembicaraan.


"Kayaknya sih, udah... Yunia juga masih mikir-mikir, apalagi yang belum Yunia siapkan..."


"Bawa yang penting-penting, saja... yang sekiranya nanti bisa dibeli di sana, ya kita beli di sana... jadi enggak terlalu banyak bawaannya..." Nasehat Wisnu. Yunia mengangguk paham. Walaupun sebenarnya hampir seluruh kebutuhan pribadinya sudah dia masukkan ke koper.


"Mas... anterin Yunia beli sabun muka yuk... " Ajak Yunia kemudian.


"Boleh, sekarang kita pulang dulu, ya. Ambil mobil..." Sahut Wisnu.


"Ambil mobil? Memangnya mau beli di mana?" Tanya Yunia. Dia pikir cuma mau beli sabun muka di toko sekitar rumah saja, kenapa harus bawa mobil?


"Lah, kan katanya mau malam mingguan..." Ujar Wisnu seakan mengingatkan. Membuat wajah Yunia seketika berbinar...


"Asik....! Kita jalan-jalan ya, mas..." Sahutnya antusias. Wisnu mengangguk dan tersenyum.


Inilah yang dia suka dari Yunia... Yunia mudah sekali dibuat senang dengan hal-hal yang sederhana. Lihat saja, hanya dengan mendengar kalau dia diajak jalan-jalan saja sudah senang, apalagi kalau dia dibelikan sesuatu...


Yunia tidak pernah menginginkan apalagi berani meminta barang-barang yang aneh-aneh. Paling-paling dia minta dibelikan sop buah atau bakso, itu juga paling yang dijual di pinggir jalan, bukan di restoran mewah. Padahal kalau Yunia mau, Wisnu pasti akan membelikannya. Jangankan cuma sop buah atau bakso... tas atau sepatu branded kelas dunia pun pasti Wisnu belikan.


"Bik...!" Panggilnya sambil melangkah masuk ke ruang tengah mencari keberadaan bibinya. ...


🌼🌼🌼 singkat cerita 🌼🌼🌼


Setelah Yunia pulang dulu untuk mengganti pakaian, Wisnu mengajak Yunia pergi ke mall.


Seperti biasa, Yunia dengan semangat menengok barang-barang yang di pajang di etalase toko. Beberapa kali Wisnu mendengar Yunia memuji... "Ih, bagusnya..." atau "wow cantik sekali..." Tapi setiap ditawari untuk membeli barang itu Yunia selalu bilang... "Enggak ah... Yunia cuma mau lihat-lihat aja, kok..." Sampai Wisnu bingung sendiri, Kalau memang nggak niat beli, kenapa setiap barang dia perhatikan dengan begitu antusiasnya? Wisnu enggak tahu aja, kalau itu adalah salah satu seni jalan-jalan di mall. πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚


"Jadi, kamu mau beli yang mana?" Tanya Wisnu untuk kesekian kalinya. Saat itu mereka sedang berada di sebuah butik, dan Yunia sedang mengamati sebuah gaun malam indah yang dipakaikan pada sebuah manekin. Yunia memperhatikan label harga yang menggantung di bagian leher belakang gaun...


"Bagus, sih... tapi harganya mengerikan..." Bisik hati Yunia saat menyadari ada lebih dari 5 deretan angka yang tertera di label itu.


"Enggak... Yunia cuma seneng lihatnya, enggak kepengen untuk memakainya..." Begitu jawaban Yunia untuk kesekian kalinya. Setelah itu dia mengalihkan pandangannya ke luar butik. Matanya kini mengarah ke sebuah stand aksesoris yang berada di tengah lorong tak jauh dari butik itu.


"Kita ke sana yuk..." Ajaknya pada Wisnu. Lalu tanpa menunggu jawaban Wisnu, dia mendahului melangkah ke arah stand itu.


Di stand itu, Yunia kembali asik memilih-milih sejumlah jepitan dan karet rambut. Dia kelihatan begitu serius memilih kini, hingga tiba-tiba...

__ADS_1


"Mas... rambutnya Sabina sepanjang apa?" Tanyanya pada Wisnu.


"Heh?!" Tanya Wisnu memastikan. Setelah sekian lama, baru sekarang Yunia menyebut nama Sabina. Wisnu sendiri bukan tidak mau menyinggung soal Sabina, dia hanya memberi waktu kepada Yunia untuk menyesuaikan diri sebagai seorang istri, sebelum nantinya belajar menjadi seorang ibu.


"Sabina... rambutnya sepanjang apa? Aku ingin beli jepit rambut kecil ini... Ih, lucu-lucu banget..." Kata Yunia mengulangi dengan penuh semangat.


"Emmmm, rambutnya sepanjang...." Wisnu tidak melanjutkan ucapannya, dia lalu mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan foto Sabina pada Yunia. Yunia memperhatikan foto itu. Foto seorang anak perempuan yang terlihat sangat cantik dan lucu. Rambutnya agak merah dengan panjang sebahu.


"Berapa umurnya sekarang, mas?" Tanya Yunia lagi sambil terus memperhatikan foto-foto yang dia slideshow di ponsel Wisnu.


"Mau delapan bulan, kalau enggak salah..." Jawab Wisnu agak ragu..


"Ih! Umur anaknya sendiri engga tahu..." Ujar Yunia bergurau dengan nada mencela. Wisnu cuma meringis mendengarnya.


"Nih..."Yunia telah selesai melihat seluruh foto Sabina, lalu memberikan kembali ponsel Wisnu pada pemiliknya. Setelah itu dia memilih beberapa buah jepit rambut kecil yang tadi sudah dia timang-timang di tangannya. Ada sekitar lima pasang jepit di tangannya kini. Dia memutuskan untuk tidak jadi membelikan Sabina karet rambut, soalnya rambut anak itu masih pendek.


"Dah, ini aja..." Katanya.


"Kok kecil semua?" Tanya Wisnu saat memperhatikan jepit di tangan Yunia.


"Ya iyalah kecil... Sabina kan masih kecil." Sahut Yunia.


"Untuk kamu sendiri enggak beli?" Tanya Wisnu.


"Oh, iya... karet rambut ku juga udah agak melar... Sebentar...." Yunia kembali asik memilih-milih. "Mas, bagus yang mana?" Tanya Yunia sambil menunjukkan tiga macam karet rambut. Untuk Wisnu sih karet rambut itu hampir tidak ada bedanya. cuma beda warna aja.


"Bagus... ambil semua aja..." Jawab Wisnu.


"Ih, kok banyak banget..." Tolak Yunia. "Yang ini ya, mas?" Tanya Yunia meminta pendapat.


"He em..." Sahut Wisnu akhirnya. Yunia tampak senang dengan pilihannya. Setelah itu dia melangkah ke kasir. Dia sudah mau membayar, tapi di dahului oleh Wisnu. Wisnu membayar untuk "belanjaan" Yunia. Yunia senengnya bukan main. Padahal sisa uang yang kemarin diberikan oleh Wisnu juga masih banyak.


"Makasih, mas..." Ujarnya. Kelihatan sekali dia merasa senang. Untuk Yunia, pacaran model begini yang ada dalam bayangannya. malam mingguan... ditraktir sang pacar... Padahal buat Wisnu sih, biasa aja. Sudah sewajarnya dia membelikan istrinya suatu barang, apalagi hanya sekedar jepit rambut yang nilainya remeh. Walaupun Yunia meminta emas berlian sekalipun pasti akan dia belikan...


"Kalau sudah, kita makan yuk... udah lewat waktu makan malam nih..." Ajak Wisnu. Yunia langsung mengangguk setuju.


"Mau makan di mana?" Tanya Yunia.


"Ya... kita coba jalan ke sana... ada restoran apa saja di sana..." Ujar Wisnu sambil menggandeng tangan Yunia dan mengajaknya mencari restoran yang bisa mengundang selera.

__ADS_1


"Enggak ke food court aja, mas?" Tanya Yunia polos. Membuat Wisnu gemes. Selera istrinya itu musti sedikit di upgrade rupanya... πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚


__ADS_2