
Akhirnya, setelah sempat mampir-mampir untuk mendapatkan beberapa barang untuk buah tangan, Jam 3.40 sore itu mereka sampai di stasiun kereta.
"Huft.... Untung belum terlambat...." Ujar Bayu saat mobil paman yang mereka pakai untuk ke stasiun berhenti di parkiran.
"Kamu sih... udah tau waktu udah mepet, masih juga sempat-sempatnya cari barang yang aneh-aneh...." Sahut Wisnu yang memegang kemudi setengah ngedumel. Bayu yang duduk di bangku belakang cuma nyengir mendengar ucapan kakaknya. Dia segera turun dan mengambil koper miliknya.
"...Aku mau ambil tiket dulu..." Katanya menghindari omelan sesi dua dari sang kakak dan langsung melangkah menuju gedung stasiun. Yunia yang duduk di jok depan segera turun lalu mengikutinya sambil membawa beberapa kantong kecil oleh-oleh yang tadi mereka beli. Sementara Wisnu dan ibu masih menurunkan barang yang akan dibawa dari mobil. Mereka hanya berempat, ayah tidak ikut mengantar, katanya mau tidur saja, karena memang beberapa malam terakhir beliau kurang tidur.
Sementara Bayu mengurus tiket, di tepi ruangan tidak jauh dari tempat Bayu berdiri, Yunia berusaha mengemas barang-barang yang akan dibawa Bayu dalam satu kemasan besar, saat Bayu memanggilnya.
"Yun.... tolong panggilkan ibu... atau minta KTP-nya... aku lupa minta tadi..." Kata Bayu. Yunia mengangguk, lalu tanpa banyak bicara, setelah mengikat kantung plastik besar itu dia pergi menyusul ibu ke tempat parkir.
Di sana....
"....Iya. Aku tahu...!" Terdengar suara Wisnu berbicara dengan nada kesal.
"Ya, ibu cuma khawatir saja...." Terdengar sahutan ibu.
Wisnu memaki samar. Ibu menatapnya tajam, jelas tidak suka melihat anaknya memaki.
"Apa yang sedang mereka bicarakan... nadanya kok seperti tegang gitu...?" Pikir Yunia sambil memperlambat langkahnya.
Terlihat Wisnu sudah mau bicara lagi, tapi ternyata ibu sudah lebih dulu menyadari kehadiran Yunia...
"Hei, Yun. Kenapa kembali?" Tanya ibu mengalihkan perhatian Wisnu. Wisnu membalikkan badannya. Melihat keberadaan Yunia, dia urung bicara.
"Em... itu... mas Bayu minta KTP ibu untuk check in..." Jawab Yunia. Diam-diam Yunia bolak balik memandang ibu dan suaminya itu bergantian. Menebak-nebak, apa kira-kira yang sedang mereka bicarakan.
"Oh, iya... ayo kita ke sana..." Ajak ibu lalu melangkah mendahului menuju gedung stasiun. Wisnu mendengus. Sepertinya dia masih kesal dengan pembicaraan dengan ibu barusan. Wisnu mengunci pintu mobil, Yunia masih berdiri menatapnya, tapi engga berani bertanya. Saat Wisnu berjalan mengikuti ibu sambil menyeret koper ibunya, Yunia langsung mengikuti......
Jam 4 tepat, kereta berangkat membawa ibu dan Bayu. Setelah melihat kereta itu pergi, Wisnu lalu mengajak Yunia pulang.
"Mau langsung pulang atau engga?" Tanya Wisnu saat mereka sudah duduk di mobil. Wisnu sudah menghidupkan mesin mobil dan Yunia sudah memasang sabuk pengamannya.
"Emang mau ke mana lagi?" Yunia balik bertanya.
"Ya, engga tau, barangkali aja kamu ada perlu apa... mumpung kita masih di jalan..." Ucap Wisnu. Yunia terdiam sejenak berpikir.... Mobil sudah bergerak meninggalkan area stasiun.
__ADS_1
"Aku engga ada rencana kemana-mana..." Jawab Yunia akhirnya.
"Ya udah... kalo gitu kita langsung pulang, nih?" Tanya Wisnu lagi memastikan. Yunia mencebik sambil angkat bahu.
"Jangan gitu...." Kata Wisnu.
"Gitu gemana?" Tanya Yunia engga ngerti.
"Itu..." Kata Wisnu sambil menirukan gaya Yunia mencebik tadi. Yunia merengut.
"Jangan gitu...." Kata Wisnu lagi.
"Gitu gemana lagi?" Tanya Yunia gemes.
"Ya... itu...." Kini Wisnu menirukan gaya Yunia merengut.
"Ih...!" Dengus Yunia kesal sambil memukul lengan Wisnu.
"Eh! Hati-hati... lagi nyetir ini..." Ujar Wisnu, tapi sambil tertawa terkekeh. Yunia kaget juga dengan refleksnya. Dia segera menarik tangannya dan melipatnya di dada. Sebel dia sama Wisnu, tapi mau merengut nanti diledek lagi sama Wisnu, jadinya dia cuma buang muka memandang ke luar jendela.
Beberapa saat mereka saling diam. Sampai Wisnu bertanya lagi...
Yunia menoleh kearah Wisnu. Jangan-jangan Wisnu sendiri yang kepingin mampir-mampir?
"Mas Wisnu mau nya kemana?" Yunia akhirnya balik bertanya. Wisnu terkekeh...
"Aku kepingin makan bakso di dekat SMP..." Katanya. "Masih ada kan?" Tanya Wisnu memastikan.
"Masih.... bangunannya sekarang malah udah semi permanen..." Kata Yunia memberitahu.
"Jadi kangen...."
"Kangen makan bakso, kangen sekolah atau kangen dengan kenangan sama seseorang di sana?" Goda Yunia. Wisnu tertawa tambah keras.
"Enggalah... kangen sama baksonya..." Kilah Wisnu.
"Kangen sama kenangannya juga engga apa-apa kok..."
__ADS_1
"Engga, beneran engga..." Kata Wisnu seperti ingin meyakinkan Yunia.
"Ya, udah... biasa aja kali..." Kata Yunia menenangkan Wisnu. Wisnu cuma meringis. Biasanya Wisnu bakal balas menggoda Yunia, tapi sekarang dia merasa harus menjaga hati Yunia.
"Yun... mulai sekarang, kita harus saling jujur ya..." Ujar Wisnu saat sudah menguasai tawanya.
"Aku selalu jujur kok..." Kata Yunia.
"...Dan harus bisa saling menjaga hati..." Tambah Wisnu. "Aku engga melarang kamu bergaul dengan teman laki-laki kamu, tapi tolong di ingat, sekarang kamu udah punya suami... jangan bikin aku salah paham... bisa kan?" Lanjutnya sambil menatap Yunia intens. Yunia mengangguk. Selama ini dia tidak pernah merasa punya masalah dalam hal bergaul.
"Kalau ada apa-apa, lebih baik kamu ngomong langsung ke aku, Aku bukan tipe peramal yang bisa tahu apa yang kamu pikirkan tanpa bertanya..." Sekali lagi Yunia mengangguk.
Tiba-tiba, Yunia teringat adegan ibu dan Wisnu di tempat parkir stasiun tadi. Dia ingin tahu, apa yang mereka bicarakan, hingga kelihatannya membuat Wisnu begitu kesal.
"Mas..." Panggil Yunia setelah beberapa saat menimbang-nimbang.
"Hemm.." Gumam Wisnu menjawab panggilan Yunia. Tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan di depannya.
"Itu tadi... ada apa dengan ibu?" Tanya Yunia memberanikan diri.
"Ada apa dengan ibu?" Wisnu balik bertanya. Kali ini dia menoleh sebentar ke arah Yunia, tapi langsung menghadap ke depan lagi.
"Itu ... yang di parkiran tadi..." Kata Yunia lagi. Sesaat Wisnu mengerutkan dahi mengingat-ingat.
"Oh.... bukan apa-apa..." Jawab Wisnu kemudian saat mengetahui apa yang dimaksud Yunia.
"Beneran bukan apa-apa? Tapi kok, kelihatannya mas Wisnu seperti kesal gitu...?" Kejar Yunia.
"Eng... itu...." Sesaat Wisnu kelihatan salah tingkah. Diusapnya tengkuknya dengan sebelah tangan, sementara tangan yang satu masih memegang kemudi. Wajah Yunia mendekat memperhatikan ekspresi wajah Wisnu. Ekspresinya itu kelihatan aneh... campuran antara kesal dan geli gitu... jadi Yunia bingung, mau ikutan kesal atau tertawa.
"Kamu beneran mau tahu?" Tanya Wisnu saat wajah Yunia sudah dekat di depannya. Tapi ekspresinya sekarang malah kelihatan pengen ketawa bukannya kesal seperti tadi.
"Emang ada apa sih?" Tanya Yunia penasaran.
"Eng... itu karena ibu bilang...." Wisnu sengaja menggantung jawabannya, membuat Yunia semakin mendekat dan memandang wajah Wisnu lebih seksama karena dorongan rasa ingin tahu.
"Ibu bilang .... Jangan sampai bikin kamu hamil dulu...." Sampai sini, spontan Yunia menarik wajahnya mundur. Rasa panas menyelimuti wajah sampai ke kuping.
__ADS_1
"Alamak.... kenapa hal seperti ini musti dibahas sih..." Gerutu Yunia dalam hati sambil membuang muka. Di sampingnya Wisnu juga jadi pringas-pringis engga tahu musti gemana. 😂
.