Andai Cinta Bisa Memilih

Andai Cinta Bisa Memilih
Analisa Hati


__ADS_3

Mobil berhenti di depan sebuah rumah sederhana bercat hijau dengan pagar besi setinggi dada.


"Ayo..." Ajak Wisnu pada Yunia sambil membuka seatbelt-nya. Perlahan Yunia ikut membuka seatbelt sambil menatap rumah itu dengan ragu...


"Turun.... engga... turun... engga..." Pikirannya.


"Ayo... Emang kamu mau nunggu di mobil..." Kata Wisnu yang tau-tau sudah berdiri di samping Yunia dan membukakan pintu untuknya. Maunya Yunia nyeletuk "Emang boleh?" Tapi takut nanti Wisnu malah mikir macem-macem, jadinya Yunia mulai bergerak turun. "Turun ya turunlah... " pikir Yunia akhirnya.


Yunia berjalan mengikuti langkah Wisnu yang sudah lebih dulu masuk ke pekarangan rumah itu. Yunia menghela nafas panjang. Hanya menduga-duga saja sudah bikin hatinya lelah. ..


"Assalamualaikum..." Salam Wisnu setelah berdiri di depan pintu rumah. "Assalamualaikum...." Ulangnya, kali ini sambil mengetuk daun pintu. Yunia yang sudah berjalan mendekat lalu berusaha mengintip lewat jendela kaca yang ada bersebelahan dengan pintu.


"Orangnya ada dibelakang barangkali, mas..." Katanya. "Yun, lihat ke belakang dulu ya..." Kata Yunia memberitahu Wisnu. Wisnu mengangguk.


"Mas tunggu di sini aja ya..." Katanya sambil duduk di tembok teras rumah. Yunia mengangguk, lalu dia berjalan ke samping rumah, untuk melihat apakah pintu samping rumah itu terbuka (Umumnya, rumah-rumah di daerahnya memang selalu memiliki pintu keluar masuk di bagian samping, bukan di bagian belakang, karena bagian belakang rumah di daerah itu biasanya kandang atau kebun).


Nah, kan benar... Pintu samping rumah itu terbuka, tandanya ada orang di rumah. Saat Yunia mendekat terdengar suara mixer memenuhi ruangan. "Pantesan saja enggak kedengaran..." Pikir Yunia.


"Assalamualaikum..." Salam Yunia. Tidak ada jawaban. "Assalamualaikum..." Ulang Yunia setengah berteriak untuk mengatasi suara mixer


"Waalaikum salam...." Sahut seseorang setelah ada jeda beberapa saat. Tak lama kemudian seseorang muncul dari arah dalam. "Siapa ya....? Eh... Ini Yunia, kan?" Ujar orang itu yang tak lain adalah Tante Mia. Yunia mengangguk.


"Iya, Tante... ini Yunia..." Jawab Yunia. Dia lalu menyalami Tante Mia. Tante Mia tersenyum.


"Ayo, masuk..." Ajak Tante Mia sambil celingukan ke arah belakang Yunia. "Dengan siapa...?" Tanya Tante Mia akhirnya saat tidak melihat seseorang yang dia pikir akan menyertai Yunia.


"Dengan... mas Wisnu..." Jawab Yunia ragu.


"Wisnu...?" Tanya Tante Mia, sepertinya beliau engga menyangka kalau nama Wisnu yang akan beliau dengar.


"Iya, mas Wisnu... Itu orangnya ada di depan, tadi diketuk pintunya engga ada sahutan, jadi saya lewat sini..." Jelas Yunia.

__ADS_1


"Oh..." Kata Tante Mia tanpa suara... "Ya sudah, ayo masuk, Tante bukakan pintu buat Wisnu..."Katanya kemudian.


Setelah Yunia masuk, Tante Mia lalu mulai melangkah menuju ke ruang tamu ...


"Ayo..." ajaknya pada Yunia, menyuruh untuk mengikutinya. "Tuti, tolong lanjutkan dulu yang selesai di mixer..." katanya pada wanita muda yang berada di sana. Nampak wanita muda itu mengangguk mengiyakan perintah Tante Mia, menatap ke arah Yunia dan tersenyum untuk menyalaminya. Yunia balas mengangguk sambil tersenyum sambil melangkah mengikuti Tante Mia.


Pintu dibuka, Tante Mia mempersilahkan Wisnu untuk masuk. Mereka lalu duduk di kursi ruang tamu itu sebentar. Wisnu menyampaikan pesan dari ibu, tentang pesanan kue yang akan diambil besok.


"Ah, iya Ibumu sempat telpon kemarin sore... untuk selamatan bapak e sampeyan (\=kamu) kan?" Kata Tante Mia sambil menatap Yunia sebentar untuk memastikan. Wisnu dan Yunia mengangguk. Rupanya ibu sudah menceritakan tentang Yunia pada Tante Mia. Sekarang yang menjadi pertanyaan Yunia.... seberapa jauh ibu cerita?


"... Maaf. HP Tante tadi lowbat... Tante cas di kamar.... karena suara mixer kencang jadi enggak kedengaran...." Ujar Tante Mia menjelaskan. Kali ini kembali menghadap ke Wisnu.


Sementara itu, saat tahu kalau ibu sudah cerita tentang dirinya pada Tante Mia, pikiran Yunia sudah berkelana kemana-mana.


Aduh! Kenapa hatinya jadi enggak nyaman gini sih? Dia sama sekali tidak pernah berniat untuk membohongi siapapun. Apakah dengan tidak mengatakan suatu hal juga termasuk berbohong? Yunia tidak tahu. Tapi yang pasti, sekarang dia merasa takut dan merasa bersalah karenanya.


Selama ini dia engga pernah merasa se-enggak nyaman ini dalam menghadapi seseorang. Apalagi ini cuma Tante Mia... seseorang yang tidak punya hubungan langsung dengan hidupnya. KENAPA? Pertanyaan itu mengusik nuraninya.


"Astaghfirullah.... Maafkan aku ya Allah..." Batin Yunia. Ternyata begini rasanya didera rasa bersalah.


Ditatapnya Wisnu yang duduk menyamping di hadapannya. Apa sebenarnya kekurangan mas Wisnu? Kenapa Yunia masih memperhatikan pria lain?


Wajah mas Wisnu bisa dibilang tampan. Kalau diperhatikan, mas Wisnu itu setipe dengan Ariel Noah, dengan rahang yang kokoh serta tatapan matanya yang tajam, membuat wanita yang menatapnya mudah meleleh hatinya.


Eh?! Begitu kah yang Yunia rasanya sekarang? Rico juga sebenarnya cakep, tapi pasti beda tipe dengan Wisnu. Wisnu terlihat begitu matang dan mantap untuk dijadikan tempat berlindung...


Eh?! Semakin diperhatikan, kok kelihatan semakin tampan sih? Kenapa baru sekarang pikiran ini melintas di benaknya? Hadeuh! Yunia mencela dirinya sendiri diam-diam.


Kalau ngomongin baiknya.... Bukankah selama ini mas Wisnu sudah bersikap baik pada Yunia, pada bapak juga... bukankah karena hal itu, makanya bapak meminta Wisnu untuk menjadi suaminya? Seseorang yang bapak percaya untuk menjaga Yunia seumur hidupnya....


Seketika, perasaan bersalah yang tadi dia rasakan untuk Wisnu kalah telak dengan rasa bersalahnya pada bapak. Dia serasa menjadi anak durhaka telah menyalahi amanat dari bapak.

__ADS_1


"Ya Allah... maafkan Yunia pak..." Bisik hati Yunia sambil menunduk, berusaha menyembunyikan setitik air mata yang mendadak muncul di sudut matanya.


"Ya, kan Yun?" Tanya Wisnu mendadak sambil menoleh ke arahnya.


"Huh?" Yunia kaget.


"Kamu melamun, Yun?" Tanya Wisnu meledek.


"Engga..." Elak Yunia sambil membungkuk, pura-pura menggaruk kakinya agar bisa sembunyi-sembunyi mengusap sedikit genangan air itu, sambil berusaha mencari tahu apa yang barusan kedua orang di depannya itu sedang bicarakan. Tapi otaknya benar-benar blank. Mereka tadi ngomongin apa sih?


"Tante Mia tanya, kuenya mau diambil besok atau lusa..." Wisnu memberi clue sementara matanya tak lepas memperhatikan Yunia.


"Selametan nya hari Kamis atau hari Jumat, nduk?" Akhirnya Tante Mia mengulang pertanyaan yang tadi sudah disampaikan saat Yunia "tidak hadir" di sana.


"Emmm selametan nya hari Jumat, malam Sabtu, Tante..." Jawab Yunia akhirnya nyambung.


"Ya, kalau hari Jumat malam.... kuenya diambil hari Jumat pagi saja, biar lebih fresh..." Usul Tante Mia.


"Iya, seperti begitu lebih baik Tante.... jadi nanti setelah diambil bisa langsung dikemas bersama kue-kue lain yang dibuat di rumah..." Ujar Yunia. Tante Mia mengangguk setuju.


"Ya sudah.... Tante, pesan dari ibu sudah saya sampaikan, sekarang kami mau pamit pulang..." Ujar Wisnu mohon diri.


"Loh? Kok buru-buru?" Sahut Tante Mia basa-basi.


"Anu, saya agak mengantuk Tante, baru sampai tadi pagi.... Yunia juga belum sempat pulang ... dari sekolah tadi langsung saya ajak kesini..." Ujar Wisnu beralasan. Sekilas Tante menoleh ke arah Yunia.


"Yang tabah Yo nduk... Semoga bapakmu tenang beristirahat di sana..." Katanya pada Yunia sambil tersenyum lembut.


"Amin..." Sahut Wisnu dan Yunia hampir bersamaan. Setelah itu mereka lalu pulang.


🍃 🍃 🍃

__ADS_1


__ADS_2