Andai Cinta Bisa Memilih

Andai Cinta Bisa Memilih
Dia lagi... dia lagi...


__ADS_3

Sabtu sore...


"Mas, besok aku mo pulang..." Ucap Yunia sambil berdiri di depan meja kerja Wisnu di restoran. Wisnu yang semula sedang menekuri berkas di depannya serentak mengangkat wajah menatap Yunia.


"Pulang?" Beo Wisnu bingung. "Pulang ke mana? kenapa?" Tanyanya beruntun.


"Iya pulang ke rumah bapak lah... " Sahut Yunia dengan nada santai. Tapi Wisnu melihat kegelisahan di mata Yunia.


"Ada apa?" Tanyanya langsung.


"Ya enggak ada apa-apa...."


"Jangan bilang kalau kamu mau pergi hanya karena ulah Bayu kemarin..." Potong Wisnu


Sesaat Yunia terdiam... ada hubungannya juga sih sedikit. Dia masih malu ketemu Bayu kalau ingat kejadian itu.


"Sebentar lagi waktunya peringatan 100 hari bapak..." Kata Yunia menggantung. Wisnu menghela nafas.


"Kita bisa memperingati dengan mengadakan selamatan di sini kan Yun..." Kata Wisnu akhirnya.


"Tapi Yunia ingin pulang..." Kata Yunia lemah. Dia ingin mendesakkan keinginannya tapi takut Wisnu marah.


"Kapan sih waktunya?"


"Minggu depan..." Jawab Yunia, dia baru dikasih tahu oleh bik Sumi kemarin.


"Pas hari Minggu, waktunya?" Tanya Wisnu menegaskan. Yunia mengangguk.


"Coba kamu konfirmasi dulu waktunya sama ibu, kalau enggak salah, ibu sedang merencanakan acara lamaran buat Bayu..." Jelas Wisnu.


"Hah?! Mas Bayu mau lamaran?" Yunia mendadak antusias. "Sama mbak Ratna?" Tanyanya lagi memastikan. Wisnu mengangguk. Agak heran melihat ekspresi Yunia yang seperti antusias banget gitu. Yang mau lamaran siapa, yang merasa happy siapa.


"Kamu kok seperti seneng banget gitu sih?" Enggak tahan dengan penasaran, akhirnya Wisnu bertanya.


"Ya, seneng dong... akhirnya aku bisa lihat acara lamaran..." Jawab Yunia riang. Sejujurnya Wisnu enggak ngerti di mana sisi amazing nya sebuah acara lamaran, hingga Yunia bisa merasa segitu happy nya? Iya kalo lamaran untuk diri sendiri, kalo untuk orang lain? Tapi satu hal yang kemudian Wisnu sadari dengan pasti... Yunia tidak pernah merasakan acara seperti itu.


"... Yun, sini..."Katanya sambil melambaikan tangan menyuruh Yunia mendekat. Dengan kening sedikit berkerut Yunia mendekat.


Kini Yunia berdiri di dekat kursi Wisnu. Wisnu memutar kursi menghadap ke Yunia. Wisnu meraih tangan Yunia dan menggenggamnya erat.

__ADS_1


"Maafkan mas ya..." Ujar Wisnu pelan sambil menatap wajah Yunia lembut.


"Untuk apa?" Tanya Yunia enggak ngerti.


"Karena mas Wisnu tidak sempat melakukan semua prosesi saat kita nikah dulu..."


"Oh..." Yunia tidak tahu harus berkomentar apa. Yang pasti ingatannya langsung lari ke bapak. Semua terjadi atas kehendak bapak.


Wisnu menarik Yunia semakin dekat, hingga akhirnya, Yunia duduk di pangkuan Wisnu.


"Bukan maksud mas Wisnu untuk mengabaikan semua itu, hanya saja kondisinya belum pas untuk kita menggelar acara itu. Rencananya, lepas tahun ini, mas baru mau menyelenggarakan resepsi pernikahan kita, di saat kamu sudah selesai dengan sekolah kamu ..."


"Iya, mas. Yunia ngerti kok..." Ucap Yunia sambil tersenyum menenangkan. Wisnu balas tersenyum. Dalam hati Wisnu bersyukur dengan sikap Yunia yang penuh pengertian.


"Kamu emang istri yang penuh pengertian Yun." Puji Wisnu sambil menarik wajah Yunia mendekat. Tak tahan Wisnu untuk tidak mencumbu istrinya itu, apa lagi kemarin malam gagal dapat jatah karena Yunia keburu ngambek.


Tapi mungkin memang belum rezekinya Wisnu untuk bisa ***-*** dengan sang istri, baru saja merambah leher jenjang Yunia, terdengar suara ketukan pintu menyela.


Refleks Yunia menarik wajahnya menjauh dan bergerak untuk turun dari pangkuan Wisnu, tapi Wisnu menahannya dan membenamkan wajah Yunia ke dadanya.


"Siapa?!" Tanya Wisnu kesal.


Dan benar saja... tanpa menunggu dipersilahkan, Bayu sudah membuka pintu dan melangkah masuk.


"Dia lagi.... dia lagi.... sebel aku..." Dumel Yunia pelan, tapi masih bisa didengar oleh telinga Wisnu. Entah kenapa, hilang sudah rasa malu yang Yunia rasakan terhadap Bayu akibat kejadian kemarin malam. Yang ada sekarang adalah rasa kesal karena telah mengganggu momen romantisnya dengan sang suami.


Wisnu sendiri sebenarnya kesal, tapi ini memang masih jam kerja, dan dia masih berada di ruangan kerjanya di restoran. Enggak salah kalau ada saja yang datang menginterupsi kegiatannya (apapun kegiatan itu) 😂


"Ada apa?" Tanya Wisnu dengan nada dibuat sewajar mungkin.


"Eh... sorry... mengganggu ya?" Ucap Bayu enggak enak, saat melihat Yunia masih duduk di pangkuan Wisnu. Tapi ekspresi wajahnya terlihat seperti meledek untuk Yunia.


"Enggak... enggak mengganggu kok... " Ucap Yunia di ramah-ramahin, dengan senyum yang kelihatan banget dipaksakan, lalu dia memaksa turun dari pangkuan Wisnu. Mau enggak mau Wisnu melepaskan Yunia.


"Eh... aku balik lagi nanti aja..." Kata Bayu sambil bersiap untuk berbalik keluar.


"Enggak perlu, mas... Monggo dilanjutkan meeting nya...." Cegah Yunia, "... Mas Wisnu, besok aku jadi ..." Lanjutnya sambil melangkah keluar ruangan kerja itu. Dia memilih keluar, karena mood nya untuk bermesraan dengan Wisnu sudah hilang sekarang.


"Loh...?! Yun...!" Panggil Wisnu setengah panik. Dia beranjak dari kursinya untuk mengejar Yunia yang kelihatannya kesal sekali tadi.

__ADS_1


"Ada apa mas? Besok jadi apa?" Tanya Bayu sambil menatap Wisnu yang bergerak terburu-buru, dia ikutan bingung dengan polah Wisnu. Biasanya kakak satu-satunya ini selalu tenang menghadapi apapun.


"Brengsek Lo...!" Maki Wisnu pada Bayu saat melintas di depannya. Wisnu segera mengejar Yunia, meninggalkan Bayu yang masih berdiri ditempatnya semula, menatap Wisnu hingga hilang di balik pintu. Bayu setengah bingung setengah kesal karena dimaki kakaknya tanpa tahu apa kesalahannya.


Sementara itu....


"Hai say .. mo kemana?" Tanya salah seorang crew kitchen saat Yunia melintas menuju parkiran. Saat itu restoran sedang jeda keramaiannya. Biasanya setiap Sabtu malam, mulai jam tujuh-an gitu restoran bakalan ramai lagi. Jadi mereka menikmati waktu luang sambil ngobrol dan merokok di ruang tempat karyawan makan, yang langsung menembus ke area parkir bagian belakang.


"Pulang lah... " Jawab Yunia ringan.


"Abang anterin mau...?" Tawar crew kitchen lainnya.


"Dianter pake motor butut Lo? Halah enggak level...! Noh, BMW dia udah nongkrong di parkiran..." Ledek teman yang lain.


"Eh, pakai motor itu bisa lebih mesra, iya enggak say..." Ucap si crew kitchen itu enggak mau kalah... Yunia tersenyum basa-basi mendengarnya, sementara teman-temannya langsung tertawa meremehkan.


"Ya, say... mau dianter abang..." Bujuk si crew kitchen lagi sambil mengedipkan sebelah matanya menggoda.


"Jangan mau, Yun... ntar pas turun dia narik bayaran, dia kan kadang nyambi jadi supir ojek..." cela sang bartender yang kebetulan baru bergabung di sana.


"Enggak bakalan narik bayaran ke kamu say... yang ada malah aku traktir kamu kalo mau..." Elaknya.


"Jangan mau.... Jangan mau Yun..." Sahut teman-teman yang lain memprovokasi. Yunia tertawa geli. Siapa juga yang mau dianterin orang itu...


"Jangan mau apa?"


Tiba-tiba sebuah pertanyaan menghentikan semua gelak tawa mereka. Semuanya menoleh kearah asal suara...


"Pak..." Sapa mereka sambil tersenyum canggung.


"Ya..." Membalas sapaan mereka. "Apanya tadi yang jangan mau?" Tanya Wisnu sambil berjalan mendekati Yunia. Mereka semua saling bertukar pandang...


"Enggak kok pak... Cuma bercanda tadi..." Jawab salah satu dari mereka memberanikan diri. Kalo sampai bos nya itu menuntut lebih rinci jawabannya bisa kacau nih... Untung perhatian Wisnu segera beralih ke Yunia.


"Udah mau pulang sekarang?" Tanyanya. Yunia mengangguk. "Ya udah, ayo..." Ajak Wisnu sambil berjalan mendahului kearah parkiran. Yunia mengikuti di belakangnya setelah melempar senyum kecil sebagai tanda pamitan pada teman-teman di belakangnya.


Teman-temannya itu saling mendelik menyalahkan, mereka takut karena hampir ketahuan menggoda "adik" bos mereka. Bisa-bisa dapet SP nih... Mereka enggak tahu aja, kalau beneran ketahuan, nasib mereka bisa lebih parah lagi... 😌


🍃 🍃 🍃

__ADS_1


__ADS_2