Andai Cinta Bisa Memilih

Andai Cinta Bisa Memilih
Ajakan


__ADS_3

Acara tahlilan bapak berlangsung tanpa hambatan hingga hari ke tujuh. Yunia sudah mulai menerima kenyataan, kalau bapak sudah tidak lagi mendampinginya. Walaupun terkadang dia masih menangis tatkala diingatkan akan bapak pada setiap hal yang dia lakukan. Kini sampailah Yunia pada saat yang berat.


Lepas tujuh hari, tetangga dan kerabat pun sudah tidak lagi berdatangan untuk tahlil atau sekedar membantu menyiapkan makanan untuk yang tahlil. Kesepian memaksanya mengingat kalau bapak juga sudah tidak ada untuk menemaninya. Apalagi saat Wisnu dan ayah juga berpamitan karena masih harus melanjutkan pekerjaannya yang sudah seminggu lebih mereka tinggalkan.


"Mas Wisnu mau pergi juga?" Tanya Yunia saat mereka tinggal berdua di ruang tengah. Wisnu terdiam sejenak. Hatinya tercekat merasakan kesedihan dalam pertanyaan Yunia. Perlahan ia meraih tangan Yunia dan menariknya dalam pelukannya.


"Mas Wisnu harus kembali bekerja, Yun..." Jawabannya hampir berbisik.


"Lalu, Yun sama siapa di sini?" Tanya Yunia lagi dengan suara bergetar. Dia benar-benar tidak ingin ditinggalkan. Bukannya dia sok lebay takut ditinggal suaminya, tapi lebih cenderung karena takut sendirian....


Wisnu menarik nafas dalam... Dia tidak ingin meninggalkan Yunia dalam keadaan rentan seperti ini, tapi apa daya, pekerjaannya sudah seminggu lebih terlantar.


"Apa... Yunia mau ikut mas pulang sekalian?" Tawar Wisnu akhirnya. Yunia diam berpikir.


"Kalau Yunia ikut... Sekolah Yunia gemana?" Yunia akhirnya balik bertanya.


"Nah, itu dia... Bisa saja Yunia pindah sekolah di sana, tapi semua perlu proses... Engga bisa instan..." Wisnu mencoba memancing nalar Yunia. "Yunia sudah semester akhir kan? Sayang sekali kalau sampai tertinggal pelajaran... Masa mau ngulang lagi?"


"Ih, engga mau kalau harus ngulang kelas lagi..." Tolak Yunia buru-buru.


"Jadi... Karena itu, Yunia harus kuat. Yunia fokus belajar ya... Jangan mikir yang macam-macam. Mas yakin Yunia pasti bisa. Mas akan berusaha untuk bisa kembali kemari tiap ada kesempatan. Untuk bapak.... Anggap saja kalau bapak sekarang lagi pergi haji... " Nasehat Wisnu. Yunia diam termenung.


"Gemana, kamu bisa terima itu?" Tanya Wisnu lagi setelah dirasa Yunia termenung terlalu lama. Yunia menarik nafas panjang. Lalu ia mengangguk.


"Iya, mas. Yunia akan berusaha kuat..." Jawabnya.


"Great! Good girl..." Sahut Wisnu sambil mencium puncak kepala Yunia. "Mas kemarin sudah bicara dengan Bik Sumi dan paman... Mereka akan bergantian menginap. Kalau enggak, Anto juga mau kok nemenin kamu..." Lanjut Wisnu. Anto itu nama anaknya Bik Sumi, kakaknya Ulfa dan Rara. Ya, Yunia bisa meminta mereka untuk menemaninya nanti.

__ADS_1


Akhirnya... Semua kembali ke posisinya. Yunia kembali ke rutinitasnya biasanya, untuk menghibur diri dia mengikuti saran Wisnu, menganggap kalau bapak sedang pergi haji, agar dirinya tidak merasa terlalu kehilangan.


🍃🍃🍃


Yunia melangkah lesu menyusuri koridor sekolah. Hari ini dia mulai sekolah lagi, setelah meliburkan diri karena berduka seminggu lebih lamanya.


Barusan, Yunia dipanggil oleh guru wali kelasnya. Selain untuk menyampaikan ucapan belasungkawa (lagi), Bu Nanik, guru wali kelasnya itu juga menanyakan tentang tempat praktek kerja lapangan yang memang harus diikuti oleh siswa kelas 12.


"....Kami pihak sekolah, memberi kesempatan untuk siswa menentukan tempat praktek kerjanya.... Kamu tinggal mengisi formulir ini, lalu berikan kembali pada ibu untuk dipertimbangkan. Kalau sudah fix bisa langsung diajukan ke perusahaan yang dituju.... Tapi kalau kamu memang tidak punya referensi mau praktek di mana... Maka pihak sekolah akan memilih dan menempatkan kamu di perusahaan rekanan sekolah untuk tempat praktek kerjanya..." Ujar Bu Nanik menjelaskan.


Yunia mendengarkan penuh perhatian. Dalam hati dia berpikir, dimana dia ingin praktek kerja... Kalau ada bapak pasti bisa dimintai pendapat. Bapak mungkin akan membantunya memilih tempat yang baik dan berpotensi untuk penerimaan kerja jika Yunia praktek di sana.... Bapak....


"Ah... Bapak lagi..." Bisik hati Yunia. Dia merasa hatinya seperti dicubit. Sekarang segala sesuatu pasti membawanya berpikir tentang bapak.


"Akan saya pertimbangkan dulu, Bu...." Jawab Yunia akhirnya sambil mengerjapkan mata, menghindari meluncurnya genangan disudut mata.


Sesampainya di kelas, Santi langsung menarik tangannya dan mendudukkannya di bangku mereka.... Listi dan Mawar ikutan mengerubunginya.


"Eh...? Ada apa ini?" Tanya Yunia bingung sambil menatap teman-temannya itu bergantian.


"Nanti, kamu ikut ke rumah Rico, kan?" Tanya Santi. Mawar dan Listi mengangguk-angguk ikutan bertanya dengan pandangannya.


"Mau ngapain?" Yunia balik bertanya. Ya, dia bingung... Engga ada hujan engga ada angin, kenapa juga dia musti ke rumah Rico? Pertanyaannya itu serta merta membuat ketiga temannya menepuk dahi masing-masing. Yunia spontan tertawa melihat kekompakan mereka.


"Ah, bodoh kamu San... Kamu belum cerita langsung nanya... Gini deh jadinya..." Keluh Mawar.


"Lah, kamu sendiri... Kenapa engga cerita ke dia...?" Sungut Santi tidak terima disalahkan.

__ADS_1


"Ya, kirain kamu udah cerita..." Mawar membela diri.


"Eh! Kalian sebenarnya mau ngomong apa sih?" Lerai Yunia .


"Tau nih... Dasar engga jelas..." Listi ikutan mencela membuat dirinya langsung meringis, karena bahunya mendapat kibasan tangan dari Mawar dan Santi.


"Dah! Diem dulu kalian...!" Perintah Mawar dengan nada bossy-nya. Yang lain manyun mendengarnya, tapi mereka menurut. Mereka membiarkan Mawar untuk mulai bercerita.


"Gini, Yun... Hari ini Rico ulang tahun, dia ngundang kita buat ikut merayakan ulang tahunnya itu di rumahnya...."


"Iya, Yun... Kamu ikut ya..." Pinta Listi dengan nada memelas. Yunia tertawa mendengar gaya memohon mereka. Yunia tahu, kenapa mereka sampai bergaya memelas begitu... Itu karena biasanya Yunia akan menolak jika harus melakukan sesuatu yang ada hubungannya dengan Rico. Mereka semua tahu, Rico naksir Yunia. Yunia sendiri bukan engga ada hati sama sekali... Hanya saja peringatan dari bapak membatasinya. Yunia engga boleh pacaran!


Yunia tersenyum kecut. Dulu aja engga boleh deket-deket sama Rico apa lagi sekarang? Bagaimana mau main hati dengan Rico... Orang, hatinya sendiri sudah disita oleh mas Wisnu...


"Kalian ke ulang tahun Rico aja sana... Aku ..."


"Ya... Jangan gitu dong... Kami mana mungkin berpesta sendiri... Kamu ikut ya..." Potong Mawar.


"Iya, kamu ikut ya... Daripada kamu bengong di rumah sendirian..." Imbuh Santi.


"Iya, Yun... Kan sekarang udah engga ada..." Belum selesai Listi bicara, bahunya kanan kiri sudah mendapat kibasan tangan dari Mawar dan Santi.


"Aww..." Pekik Listi sambil menutup mulutnya menyadari kalau dia hampir kelepasan bicara. Dilihatnya Mawar dan Santi mendelik memberi peringatan.


"Maaf." Itu yang coba Listi sampaikan lewat pandangan matanya. Tapi Yunia sudah terlanjur paham maksud Listi tadi. Pasti Listi tadi mau ngomong... "... karena sekarang bapak engga ada, jadi enggak ada yang bisa ngelarang kamu..." Yunia mendesah galau.


____________________

__ADS_1


💌🙏 Bab ini belum selesai, tapi ada yang mengalihkan duniaku... 😇


__ADS_2