Andai Cinta Bisa Memilih

Andai Cinta Bisa Memilih
Pulang


__ADS_3

Seperti yang sudah direncanakan, akhirnya pada hari Kamis, Wisnu dan Yunia berangkat pulang. Tadinya Yunia ingin mengajak Sabina ikut serta, tapi dicegah oleh ibu.


"Lain waktu saja Yun kalau mau ngajak Sabina. Di sana kalian akan repot, banyak yang harus dikerjakan, akan tambah repot kalau Sabina ikut..." Begitu alasan ibu. Setelah dipikir-pikir iya juga... akhirnya Yunia mengikuti saran ibu.


"Jangan lupa sampaikan salam dan permintaan maaf ibu sama Bulik Sum ya Yun. Ibu enggak bisa ikut karena ayahmu sedang kurang enak badan..." Lanjut ibu pada Yunia.


"Inggih (iya) Bu..." Sahut Yunia.


Pukul sebelas siang, Mereka sudah sampai di bandara tujuan.


"Wah, asik ya pakai pesawat. jam segini sudah sampai... coba kalau pakai mobil atau kereta, paling-paling tengah malam nanti baru sampai..." Celoteh Yunia sesaat setelah mereka turun. Wisnu tersenyum.


"Ya iyalah cepat... kalau sama lambatnya buat apa bayar lebih, Yun..." Sahut Wisnu. Yunia tertawa. Mereka menyeret koper berjalan keluar dari bandara, hingga...


"Mas Wisnu...!" Panggil seseorang menarik perhatian keduanya. Wisnu celingukan mencari orang yang memanggilnya. Seorang lelaki berkacamata hitam dan memakai topi tampak berjalan mendekat.


"Pa kabar mas..." Sapa orang itu sambil membuka kacamatanya. Lalu mengulurkan tangannya mengajak Wisnu bersalaman.


"Kamu..." Kata Wisnu saat mengenali orang itu dengan nada malas. Tapi dia tetap menerima uluran tangan orang itu Lain dengan Yunia. Begitu mengenali orang yang memanggil nama suaminya, dia berseru heboh.


"Mas Bastian...!"


"Shhht..." Ujar Bastian panik sambil menaruh satu jari di bibirnya sendiri. Sesaat dia celingukan. Yunia refleks menutup mulutnya menyadari kesalahannya sambil ikutan celingukan. Untung seruan Yunia tidak terlalu kencang, hingga reaksi orang yang disekitar mereka cuma melirik saja. Bastian tersenyum lega dan segera memakai kacamata hitamnya lagi.


"Ada acara apa kamu ke sini?" Tanya Wisnu basa-basi.


"Biasalah, tour promo ..."Jawab Bastian santai.


"Terus, mana crew mu... biasanya kemanapun kamu selalu diikuti anak buah mu...?" Wisnu kembali bertanya.


"Aku lagi ingin sendirian, mas... capek diikutin melulu..." Jawab Bastian. "Hei... emmm nama kamu Yunia, kan...?" Sapa Bastian pada Yunia. Yunia mengangguk senang. Ya, senang lah... seorang selebritis terkenal bisa mengingat namanya, kan keren itu... 🤗


"Mas Wisnu ada urusan bisnis di kota ini?" Tanya Bastian kembali ke Wisnu.


"Enggak, aku ada acara keluarga di sini..." Sahut Wisnu.


"Oooo... nginep dimana mas?" Tanya Bastian kepo.


"Ngapain kamu tanya-tanya...?" Tanya Wisnu agak ketus.


"Ya, barangkali aja kita nginep satu hotel, lagian kita bisa ngobrol soal konsep acaranya Bayu..." Jawab Bastian sambil nyengir.

__ADS_1


"Mas Wisnu nginep di rumah Yun..." Ujar Yunia keceplosan. Bastian tersenyum senang, sedang Wisnu menatap jengkel pada Yunia. Menerima tatapan Wisnu, seketika Yunia menunduk.


"Aku boleh berkunjung?" Tanya Bastian.


"Emmm... bo...Leh." Sahut Yunia ragu sambil melirik Wisnu.


"Oke deh... nanti aku telpon mas Wisnu ya..." Ujar Bastian lagi.


"Hem." Dengus Wisnu. "Dah... aku pergi dulu..." Ujar Wisnu akhirnya sambil meraih pinggang Yunia, menggiringnya untuk pergi meninggalkan Bastian.


"Oke... sampai jumpa lagi nanti ... dah Yunia..." Kata Bastian sambil melambaikan tangan.


"Dah..." Ujar Yunia sambil tersenyum ramah dan menyempatkan diri menoleh kebelakang untuk membalas lambaian tangan Bastian.


"His." Desis Wisnu seperti kesal. Yunia menatap Wisnu bingung. "Kenapa orang ini mendadak seperti marah-marah gini sih?" Pikir Yunia.


"Mas Wisnu, kenapa?" Tanya Yunia.


"Enggak kenapa-napa..." Jawab Wisnu pendek dengan malasnya.


Beberapa saat Yunia masih berjalan sambil menatap Wisnu penuh tanda tanya, tapi saat mereka sampai di depan taksi, dan taksi bergerak meninggalkan area bandara, keheranan Yunia terlupakan. Matanya asik memperhatikan jalanan yang dia lalui. Ada rasa bahagia membungkus kerinduan yang tak disadari saat melihat jalanan yang sudah begitu akrab dengannya selama bertahun-tahun ini.


"Assalamualaikum bibi...!" Seru Yunia langsung memeluk bik Sumi erat.


"Waalaikum salam..." Sahut bik Sumi ditimpali oleh paman. Sementara Wisnu masih menunggu sopir taksi menurunkan barang bawaan mereka dari bagasi mobil. Paman mendekat untuk membantu membawakan barang bawaan itu masuk ke dalam rumah.


"Assalamualaikum, paman..." Ujar Wisnu sambil menyalami dan mencium punggung tangan paman.


"Waalaikum salam..." Sahut paman. Paman meraih koper yang sudah diturunkan sopir taksi dari bagasi, sementara Wisnu masih harus menyelesaikan pembayaran ongkos taksi nya. Setelah sopir berlalu pergi, dia lalu meraih koper lain yang tersisa dan menyusul masuk ke dalam rumah.


Begitu masuk, yang dilihat pertama kali adalah Yunia yang baru selesai menyalami paman. Kini gantian Wisnu yang menyalami bik Sumi.


"Gemana perjalanannya, kamu enggak mabuk udara kan, Yun?" Tanya bik Sumi setengah menggoda Yunia. Bik Sumi tahu kalau Yunia datang naik pesawat, dan itu adalah kali pertama untuk keponakannya itu. Yunia meringis.


"Agak pusing sih sebenarnya, bik... tapi Yunia tahan sambil menciumi buah jeruk ini..." Ujar Yunia sambil menunjukkan buah jeruk yang sudah terkupas dan tinggal setengahnya.


"Dasar wong ndesit (\=dasar orang desa) ..." Ujar paman mengolok-olok. Tapi Yunia tidak marah, dia malah tertawa mendengarnya.


"Enggak ketemu beberapa Minggu, kok kelihatannya kamu tambah gemuk, Yun..." Komentar bik Sumi sambil memperhatikan Yunia. Sekali lagi Yunia tertawa.


"Iyalah, bi... di sana Yunia makanannya enak-enak terus. Belum lagi teman-teman Yunia juga suka pada ngemil, jadi Yunia suka ikutan ngemil..." Cerita Yunia sambil tertawa. Paman dan bik Sumi ikut tertawa. Dalam hati mereka bersyukur, karena kelihatannya Yunia bahagia dengan keluarga barunya.

__ADS_1


"Ya sudah, sana istirahat dulu, kamarnya sudah bibi bersihkan... itu teh hangat sudah ada di meja. Sekarang bibi mau ke rumah bik Jum untuk mengingatkan kalau dia musti masak di sini mulai lusa..." Kata bibi panjang lebar.


"Terima kasih, bi." Ucap Yunia dan Wisnu hampir bersamaan.


"Paman ikut pulang juga?" Tanya Wisnu saat melihat paman juga ikut berjalan dibelakang bik Sumi.


"Lah, kan paman mau nganter bibi mu ke rumah bik Jum..." Jawab paman.


"Oh..." ujar Wisnu.


"Wes, ta' pergi dulu. assalamualaikum..." Paman berpamitan.


"Waalaikum salam..." Sahut Yunia dan Wisnu kembali hampir bersamaan.


Paman dan bibi pergi meninggalkan rumah. Yunia dan Wisnu lalu menyeret koper mereka ke kamar.


Berbeda dengan saat kedatangannya terakhir, kali ini Wisnu tanpa ragu-ragu langsung menuju kamar Yunia dan membanting tubuh di sana.


"Ugh! Nikmat sekali bisa meluruskan badan seperti ini." Katanya sambil menggeliat. Yunia cuma menatap Wisnu sebentar, setelah itu keluar kamar, tapi tak lama kemudian dia kembali dengan membawakan segelas teh untuk Wisnu.


"Makasih..." Ujar Wisnu setelah menyeruput tehnya dan memberikan gelas itu kembali pada Yunia.


"Mas, laper enggak?" Tanya Yunia sambil meletakkan gelas itu di atas meja.


"Laper sih, ada makanan enggak?" Wisnu balik bertanya.


"Enggak tau. Sebentar, Yunia lihat dulu, ada makanan enggak..." Kata Yunia sambil berjalan keluar kamar menuju meja makan. Yunia membuka tudung saji.


"Cuma ada gorengan..." Gumamnya.


"Ada makanan enggak, Yun?" Tanya Wisnu yang ternyata sudah berada di ambang pintu kamar dan berjalan menghampiri.


"Cuma ada gorengan..." Ulang Yunia menjawab pertanyaan Wisnu sambil menunjukkan makanan yang ada di bawah tudung saji.


"Ya, udah... mas cuci muka dulu, setelah itu kita keluar cari makanan." Kata Wisnu lalu berjalan ke kamar mandi.


Yunia mengangguk dan menatap Wisnu hingga hilang dibalik tembok dapur. Setelah itu dia berjalan ke arah kamar bapak.


Yunia membuka pintu kamar itu. Keadaannya masih sama dengan saat terakhir kali Yunia tinggalkan. Rupanya bik Sumi masih terus menjaga kebersihan kamar itu.


"Pak, Yunia pulang..." Katanya lirih penuh kerinduan.

__ADS_1


__ADS_2