
Beberapa detik Yunia dan Rico saling pandang, saling menjajaki apa yang sedang dipikirkan oleh orang yang berada dihadapannya itu.
"Kalian makan di sini juga?" Ujar Rico akhirnya memulai pembicaraan.
"Eh, iya..." Jawab Yunia, bingung mau ngomong apa. "Eh, kenalin... mas, ini Rico, teman sekolah Yun. ... Rico, ini mas Wisnu..." Ujar Yunia akhirnya memperkenalkan mereka.
"Hai..." Sapa Wisnu sambil tersenyum ramah. Dia melambaikan tangannya memberi kode, bahwa dia tidak bisa bersalaman, karena tangannya masih kotor.
"Hai, mas..." Balas Rico juga sambil tersenyum dan mengangguk. Dia juga membalas lambaian tangan Wisnu. Mendengar nama Wisnu, kegalauan yang ada di hati Rico terasa berkurang. "Oh, ini yang namanya Wisnu...dia kan kakak angkat Yunia..." Pikir Rico.
"Sedang makan bersama?" Tanya Yunia akhirnya, Setelah otaknya bisa kembali bekerja. Dia segera mengalihkan pandangannya dari Rico dan melemparnya kearah keluarga Rico.
"Iya... Ibu hari ini berulang tahun, dan Ayah dapat undangan makan dari restoran ini. Makanya kami berkumpul di sini. Kebetulan, kami yang memasok ikan di restoran ini... " Ujar Rico menjelaskan. Seketika Yunia mengucapkan"O" tanpa suara.
"Berdua aja...?" Tanya Rico.
"Iya, Tadinya cuma mau cari sabun muka, eh bisa nyasar sampai ke sini..." Jawab Yunia sambil meringis, berusaha mencairkan suasana yang sejenak tadi terasa begitu kaku.
"Ooo ... Eh, iya. Hari Senin kan mulai PKL, kamu kapan berangkat...?" Tanya Rico akhirnya berbasa-basi. Dia ingat kalau Yunia akan PKL di kota B.
__ADS_1
"Besok... Iya kan, Mas?" Ujar Yunia sambil menoleh ke arah Wisnu. Wisnu mengangguk.
"Wah, bakalan lama nanti kita enggak akan ketemu. ... " Komentar Rico setengah berbasa-basi, setengah mencari tahu, apa reaksi Yunia, saat menyadari, kalau mereka bakalan lama berpisah.
Rico berharap, akan melihat sedikit rasa kecewa atau apa gitu dari Yunia, saat mereka tidak bisa bersama, apalagi dalam waktu yang relatif lama begitu... Tapi Rico tidak mendapat kesan apapun dari Yunia. Enggak dari ekspresi wajahnya apalagi ucapan. Enggak ada sama sekali. Apa Yunia benar-benar tidak akan merindukannya? Padahal untuk Rico sendiri, baru beberapa hari enggak ketemu saja sudah enggak betah ingin segera menelpon, atau bahkan pergi langsung untuk menemuinya kalau saja tidak dilarang ibunya.
"Ya, selamat jalan kalau begitu ... " Ujar Rico. Alih-alih mengharapkan Yunia yang bakal sedih akan perpisahan mereka, kini malah Rico sendiri yang merasa kecewa. Kalau sudah begini, Rico kembali ragu untuk melangkah. Dia benar-benar penasaran jadinya. Apa sebenarnya arti seorang Rico untuk Yunia? Benarkah kalau dirinya terlalu berharap banyak pada Yunia? Ingin rasanya dia menanyakan hal itu langsung, tapi ... masa di depan begitu banyak orang seperti ini?
Kelihatannya Rico seperti masih mau bicara lagi, tapi terdengar suara seseorang memanggil namanya dari meja tempat keluarganya berkumpul, hingga akhirnya dia mengurungkan niatnya untuk berbicara lebih banyak dengan Wisnu dan Yunia.
"Emmm nanti aku telpon ya..." Lanjut Rico, "Boleh kan Mas?" Tanya Rico pada Wisnu. Rico bertanya begitu karena menganggap Wisnu sebagai kakak angkat, secara tidak langsung adalah walinya Yunia. Wisnu yang tidak punya prasangka apa-apa ya tidak keberatan.
"Terima kasih, mas... kalau begitu saya permisi dulu..." Kata Rico pada Wisnu. Wisnu mengangguk. "Oke Yun... sampai ketemu lagi, eng... kapan-kapan..." Lanjutnya pada Yunia. Dia enggak tahu pasti, kapan mereka bisa kembali bertemu. Yunia mengangguk. Setelah itu Rico kembali ke meja keluarganya.
Huft.... Aman...
Yunia menarik nafas panjang. Sungguh dia sudah tidak mau mencari masalah untuk terus berhubungan dengan Rico lebih dari sekedar teman. Tapi dia juga enggak mau mendapat masalah untuk mengatakan sesuatu soal Rico, yang bisa memancing kemarahan Wisnu. Jadi sebisa mungkin akan menganggap tidak pernah ada sesuatu yang istimewa antara dia dan Rico. Yunia akan berjalan menjauh, menjaga jarak dengan Rico. Pergi dan menghilang. Itulah siasatnya.
Ya, mulai besok, bukan cuma jarak dalam arti kiasan yang akan dia ciptakan. tapi juga jarak dalam arti sebenarnya.
__ADS_1
Wisnu dan Yunia menyelesaikan acara makan malam mereka. Setelah itu mereka meninggalkan restoran. Sebelum pulang, mereka sempat berbelanja di bazar mall. Yunia membeli beberapa jenis makanan ringan untuk bekal perjalanan mereka besok juga perlengkapan pribadinya yang sudah hampir habis.
πΌπΌπΌ keesokan harinya πΌπΌπΌ
Sekitar pukul sembilan pagi, Yunia berpamitan pada paman dan bibi. Hari ini, untuk pertama kali dalam hidupnya, Yunia akan meninggalkan rumah yang selama ini menjadi tempat tinggalnya. Bukan cuma pergi sesaat untuk suatu kunjungan seperti yang biasa dia lakukan bersama bapak, Tapi secara resmi, Yunia akan pergi mengikuti suaminya. Rumahnya kini adalah tempat dimana Wisnu berada. Jadi sekalipun dia kembali ketempat itu, bisa disebut itu adalah sebuah "kunjungan", bukan pulang. Kecuali Wisnu menetapkan kalau mereka akan tinggal di sana.
"Pinter-pinter jaga diri, yo nduk (\=nak pr. )..." Ucap Bik Sumi dengan suara bergetar menahan tangis. Yunia sendiri sudah tidak bisa menahan air mata yang sudah sedari tadi mendesak ingin keluar, bahkan sebelum dia sempat mengucapkan kata pamit pada kedua orang tua itu. Dia cuma bisa mengangguk mengiyakan.
"Le (\=nak lk.)... titip Yunia, ya... Tolong yang sabar menghadapi istrimu... dia masih begitu muda, masih banyak yang harus dia pelajari..." Pesan Bik Sumi pada Wisnu. Wisnu mengangguk.
"Iya, bi... Saya janji akan menjaga Yunia..." Ucap Wisnu jadi ikutan terharu melihat perpisahan antara Yunia dengan paman dan bibinya.
Tadi pagi, mereka menyempatkan diri untuk berziarah ke makam bapak dan ibu, di sana, di depan makam bapak, sekali lagi Wisnu berjanji akan menjaga Yunia setulus hatinya. Dan kini dia mengulangi janjinya dihadapan Bik Sumi. Adik dari ibu kandung Yunia.
Wisnu mencium punggung tangan Bik Sumi. Bik Sumi mencium puncak kepala Wisnu, memberikan restu sekaligus menunjukkan rasa sayangnya pada anak angkat kakaknya itu. Saat ibu Winoto akhirnya ganti berpamitan, air mata Yunia sudah deras mengalir. Dia menyalami paman dan semua sepupunya (yang juga sudah bersimbah air mata...) juga para tetangga dekat yang kebetulan turut hadir untuk melepas kepergian Yunia.
Akhirnya, setelah drama tangis-tangisan itu, dengan dipeluk oleh ibu, Yunia bisa diajak masuk dan duduk di kursi belakang mobil Wisnu. Wisnu duduk di depan bersama pak Yono yang memegang kemudi. Dan mobil pun melaju meninggalkan rumah beserta orang-orang terdekat Yunia selama ini. Yunia masih terus menoleh ke belakang, hingga mobil berbelok dan menyembunyikan mereka semua dari pandangannya.
Menit-menit pertama berlalu dalam kesenyapan. Ibu dan Wisnu, memberi waktu untuk Yunia melampiaskan kesedihannya karena harus berpisah dari lingkungan yang sudah memeluknya selama ini. Tapi tidak sampai sejam kemudian, Wisnu sudah berusaha mengalihkan perhatian Yunia dengan mengajaknya bicara tentang hal-hal yang mereka temui sepanjang jalan. Walaupun awalnya agak sulit, tapi akhirnya perhatian Yunia mulai teralihkan dan sedikit demi sedikit melupakan kesedihannya.
__ADS_1
πΌπΌπΌπππ