Andai Cinta Bisa Memilih

Andai Cinta Bisa Memilih
Permisi....


__ADS_3

Malam sudah semakin larut, suasana juga sudah semakin sepi. Wisnu sudah menyuruh pak Yono untuk beristirahat di kamar yang disediakan untuknya, sementara dia sendiri masih duduk di ruang tamu.


Saat Yunia bingung dimana Wisnu akan tidur malam ini, sebenarnya Wisnu juga berpikiran sama. Saat terakhir dia menginap di rumah ini, suasana sedang berduka, banyak tetangga dan kerabat yang melekan di sana, jadi tidur pun setidur-tidurnya, bersama dengan anggota keluarga lain. Berbeda dengan saat ini.


Kini mereka tinggal "sendiri". Semua sudah tahu tempatnya masing-masing. Hanya saja khusus untuk Wisnu, dia masih merasa canggung. Ya, kalau sekedar keluar masuk kamar Yunia sih sudah enggak masalah, tapi kalau untuk tidur di sana...


Wisnu menghela nafas berusaha membuang kegundahannya.


"Apa tidur di kamar bapak aja, ya?" Pikir Wisnu sesaat. Tapi dia juga engga berani tidur di sana.... Bukan karena takut sesuatu yang tak kasat mata... tapi dia takut dianggap lancang. Walau bagaimanapun, bapak adalah sosok yang sangat dia hormati. Kalau dengan ayahnya sendiri mungkin Wisnu masih berani sedikit kurang ajar, tapi tidak dengan bapak.


"Kalau tidur di kursi panjang ini... Duh, malah bisa jadi omongan nanti..." Terbayangkan, kalau sampai ibunya lihat dia tidur di kursi, bisa jadi dia mendapat ceramah pagi nanti... Lebih parah lagi kalau pak Yono yang melihatnya... bisa jadi bahan gosip para art di rumahnya nanti....


Hu uh!


Wisnu menggaruk cepat kepalanya yang tidak gatal karena kesal. Akhirnya karena matanya juga sudah mulai mengantuk, dengan langkah berat, dia menuju kamar Yunia.


Di dalam kamar, Wisnu melihat Yunia sudah tertidur pulas. Sesaat dia berdiri di samping pembaringan, memperhatikan gadis yang sudah menjadi istrinya itu lekat-lekat. Dalam tidurnya, gadis itu terlihat manis dan polos. Perlahan, dia merebahkan tubuhnya di samping Yunia.


Sebenarnya, berada di dekat Yunia ini bukan kali pertama untuknya. Mereka pernah cuma duduk, ngobrol akrab berdua, bahkan berpelukan juga mereka pernah, tapi sungguh, engga seperti ini rasanya. Entah kenapa, jantung Wisnu berdentum tanpa aturan, saat tanpa Yunia sadari, kepalanya menyusup ke bawah ketiak Wisnu, dan Wisnu bisa mencium harum rambutnya.


Wisnu merubah posisi tidurnya hingga berbaring miring menghadap Yunia. Perlahan, disentuhnya kepala Yunia. Rambutnya yang menutupi wajah, Wisnu sibakkan ke belakang telinga.


"Mas sayang kamu, Yun." Bisiknya pelan lalu mencium kening Yunia lembut. Setelah itu dia lalu menelentangkan tubuhnya kembali dan berusaha untuk tidur.


ya, baru sebatas itu yang bisa Wisnu lakukan untuk gadisnya.


🍃 🍃 🍃

__ADS_1


Adzan subuh berkumandang di kejauhan. Perlahan Yunia mengerjapkan matanya. Matanya masih terasa berat untuk terbuka, tapi dia merasa harus bangun pagi... kenapa ya? Berpikir... berpikir....


Ah, iya! Yunia harus bangun pagi, karena pagi ini dia akan ikut bibi berbelanja ke pasar, membeli semua kebutuhan untuk acara selamatan...


Eughhh!


Yunia menggeliatkan badannya yang terasa kaku, saat itu tanpa sengaja tangannya menyentuh sesuatu yang terasa aneh... itu bukan guling! Secepat kilat, Yunia menoleh ke arah yang disentuh tangannya tadi.


Hah!


Seketika Yunia menutup mulutnya sendiri, menahan seruan yang hampir keluar dari mulutnya karena terkejut. itu Wisnu. Ya, tanpa sengaja, tangannya tadi menyentuh pundak Wisnu saat dia menggeliat.


"Jadi mas Wisnu tidur di sini ..." Gumam Yunia pelan. Pantas saja dia merasa nyaman sekali tidurnya semalam. Rupanya ada orang disampingnya. menyalurkan kehangatan tak kasat mata hanya dengan keberadaannya. hingga membuatnya bisa tidur dengan pulasnya.


Takut membangunkan Wisnu, Yunia bangun perlahan, berusaha melewati tubuh Wisnu untuk turun dari pembaringan. Ya, habis tempat tidur Yunia itu terletak mepet ke tembok, jadi mau enggak mau, biar bisa turun, Yunia harus melewati tubuh Wisnu. Tapi, karena kasur Yunia tidak terlalu besar, gerakan Yunia sempat mengguncang pembaringan dan membuat Wisnu terbangun.


"Udah mau bangun, Yun?" Tanya Wisnu dengan suara berat khas orang yang baru bangun tidur.


"Euh... Udah subuh ya..." Kata Wisnu sambil mengerjapkan matanya. Lalu dia bangkit duduk dan menggeliat, untuk meregangkan otot-otot tubuhnya yang terasa kaku.


Yunia yang semula sudah mau turun sekarang malah terkesima dengan Wisnu. Wisnu itu walaupun baru bangun tidur kok malah terlihat macho sih... Gerak geriknya kalau diperhatikan malah bikin Yunia terpesona.


"Engga jadi turun?" Tanya Wisnu tiba-tiba, saat menyadari Yunia masih duduk terpaku menatapnya.


"Eh?! ... Jadilah... mas mau turun duluan engga?" Tanya Yunia mendadak gugup. Dia malu karena ketahuan sedang memperhatikan Wisnu. Wisnu tersenyum samar melihat Yunia yang seperti kesulitan menyibak selimut yang membelit kakinya.


"Ya kalau kamu mau turun ya turun aja..." Kata Wisnu mempersilahkan Yunia untuk turun lebih dulu melewatinya. Sejenak kening Yunia berkerut. Sebenernya dia sudah merasa jengah harus melewati atas tubuh Wisnu, tapi Wisnu sendiri engga bergerak untuk menepi. Perlahan Yunia bergerak melangkah dengan lututnya melewati bagian bawah tubuh Wisnu yang masih duduk dengan kaki terjulur.

__ADS_1


"Permisi..." Ujar Yunia sambil melangkahi Wisnu.


"Permisi juga..." Jawab Wisnu. Mendengar jawaban Wisnu, gerakan Yunia terhenti dengan posisi lutut terentang mengapit kaki Wisnu.


"Permisi buat apa?" Tanyanya.


"Kamu permisi buat apa?" Wisnu balik bertanya. Ada seringai mencurigakan dari bibirnya.


"Ya, Yun permisi, karena Yun harus melangkahi mas Wisnu... Mas Wisnu permisi buat apa?" Tanya Yunia polos.


"Mas Wisnu permisi buat....." Jawab Wisnu menggantung. Yunia menatap Wisnu menunggu jawaban, tapi tanpa di duga, bukan jawaban yang dia terima. Mendadak, dengan gerakan yang teramat sangat cepat untuk diikuti oleh nalar Yunia...


Ugh!


Tahu-tahu Wisnu menyergap, dan seketika menjatuhkan tubuh Yunia kembali terlentang ke atas kasur, dengan posisi tubuh Wisnu berada di atasnya. Beberapa detik mereka saling tatap. Berusaha membaca pikiran masing-masing.


"Mas...." Ucap Yunia hampir berbisik.


"Aku permisi buat...." Bisik Wisnu juga dengan suara yang terdengar semakin berat, sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Yunia.


Kembali tidak ada kelanjutan dari bisikan Wisnu, karena kini bibir Wisnu sudah mencumbu bibir Yunia yang sedari tadi sedikit terbuka tanpa Yunia sadari.


Yunia hanya bisa diam menerima serangan Wisnu, Hatinya mendadak melayang....dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Sampai akhirnya Wisnu menghentikan aksinya.


"Do You like it?" Tanya Wisnu tiba-tiba menarik paksa kesadaran Yunia.


"Eh?" Gumam Yunia bingung. Keduanya masih tetap saling tatap. Wisnu mengulum senyum. melihat senyum itu, tiba-tiba Yunia seperti disadarkan oleh sesuatu. Wajahnya seketika memerah hingga ke kuping. Segera didorongnya tubuh Wisnu dari atasnya.

__ADS_1


"Mas Wisnu, nakal!" Sentaknya sambil bergerak cepat untuk bangkit dan bergegas turun dari kasur. tanpa menengok ke belakang lagi Yunia segera pergi ke luar kamar, meninggalkan Wisnu yang terkekeh kecil melihat kelakuan lugu istrinya....


🍃 🍃 🍃


__ADS_2