Andai Cinta Bisa Memilih

Andai Cinta Bisa Memilih
Cerita di pagi hari


__ADS_3

Sudah jam lima, waktu Yunia terbangun. Dia menggeliat dan merasakan tangan Wisnu berada di atas dadanya. Seketika dia menoleh ke arah Wisnu.


"Hem... wangi..." Gumam Yunia pelan saat mengendus aroma rambut Wisnu yang masih agak lembab. Seketika dia sadar kalau dia sendiri belum mandi.


Yeak! Bau kecut.


Karena itu, dia bergegas bangun dan pergi ke kamar mandi.


Diperhatikannya ruang mandi itu penuh kagum. Kamar mandi yang berlapis porselen, dengan bathtub terletak di ujung ruangan dan shower diatasnya. Di sisi kiri dari bathtub ada toilet duduk dengan rak tempat handuk stainless di seberangnya, menempel pada dinding. Dan paling dekat dengan pintu masuk ada wastafel dengan cermin besar di depannya,


Yunia mengutak-atik kran shower memastikan air mengalir dengan benar. Di rumahnya tidak ada shower dan bathtub, dia terbiasa mandi dengan gayung. Tapi dia pernah menginap di hotel dengan fasilitas seperti ini, jadi ya... enggak terlalu gaptek lah... Cuma harus mempelajarinya lebih dulu... Mau tanya ke Wisnu, Yunia kasihan, dia tahu Wisnu juga kelelahan kemarin, lagian dia malu, masa urusan mandi aja musti tanya ke Wisnu.... πŸ€—πŸ˜…


"AH..!" Seru Yunia spontan karena kaget, saat air tiba-tiba menyembur dari atas kepalanya. membasahi badan dan pakaiannya yang memang belum dia lepas. Dia agak malu untuk buka baju sebenarnya... Di rumahnya dulu, dia kalau mandi, badannya menghadap bak mandi besar, jadi dia merasa setengah bersembunyi, lah di sini... air mengalir dari atas, tidak ada tembok apa-apa yang bisa dia jadikan penghalang. Sesaat dia celingukan. Lalu Yunia melihat, diantara bathtub dan toilet itu ada tirai kedap air berwarna putih. Yunia menarik tirai itu, Ah, aman... Dia pun mulai membuka pakaiannya yang sudah basah dan mulai mandi...


Selesai mandi, dengan handuk melilit tubuh, Yunia keluar dari kamar mandi. Sekarang dia bingung. kopernya belum diantar ke kamarnya. Lalu, dia mau pakai baju mana? Bajunya yang tadi selain sudah bau, juga basah. Mau keluar ambil koper sendiri juga enggak berani. Masa keluyuran di rumah orang (Yunia masih belum merasa itu rumahnya) cuma pakai handuk doang? Mendingan mengurung diri di kamar mandi terus kalau musti seperti itu. Lalu matanya menatap ke arah Wisnu yang masih terlelap... Ragu-ragu dia mendekat...


"Mas.... mas..." Panggilnya sambil menepuk-nepuk lengan Wisnu. Tapi Wisnu enggak bereaksi.


"Mas... Mas Wisnu!" Panggil Yunia lagi agak keras sambil agak membungkuk mengguncang bahu Wisnu.


"Hemmm..." Gumam Wisnu sambil membuka matanya. Jangan salahkan Wisnu jika saat membuka mata, yang pertama dia lihat adalah bukit kembar Yunia, karena Yunia menang setengah membungkuk ke arahnya.


"Mas... kopernya kok belum dianterin ke sini... aku pakai baju mana ini..." Kata Yunia sambil kembali tegak. Tanpa sadar mata Wisnu mengikuti pusat tatapannya.

__ADS_1


"Mas...!" Panggil Yunia agak menyentak saat Wisnu masih terdiam tidak menjawab pertanyaannya. Wisnu tersentak beralih menatap wajah Yunia, tapi cuma sebentar, Wisnu merasa wajahnya memanas, takut malu pada Yunia, dia membuang pandangan ke bawah. Celaka buat dia... yang tertangkap netranya kini malah paha mulus Yunia yang tidak tertutup handuk. Seketika rasanya badannya seperti panas dingin... Wisnu menelan ludah. Ada rasa panik ingin menghindar, tapi ada hasrat yang meledak menginginkan penyaluran.


"Mas... mas Wisnu enggak apa-apa?" Tanya Yunia kini sambil mendekat. Ekspresi Wisnu benar-benar membuatnya khawatir. Disentuhnya kening Wisnu untuk mengecek suhu tubuhnya. Tanpa di duga. Hanya dalam hitungan detik, Wisnu meraih tangan Yunia dan langsung menariknya, membuat Yunia jatuh di atas tubuh Wisnu.


"AW...!" Seru Yunia kaget. Beberapa detik mereka saling tatap, membaca situasi dan hasrat masing-masing.


"... boleh...?" Tanya Wisnu hampir berbisik disertai tatapan penuh arti, sementara tangannya sudah menggenggam simpul handuk yang Yunia kenakan. Yunia paham akan arti tatapan Wisnu. Dia mengangguk sambil membuang pandangannya, tak berani menatap Wisnu lebih lama. Wisnu tersenyum. Diarahkannya wajah Yunia kembali menghadapnya, dan saat wajah Wisnu mendekat, Yunia memejamkan matanya. Dia biarkan Wisnu memimpinnya memasuki dunia suami istri yang baru untuknya ......


Jam enam lewat... terdengar suara ketukan di pintu kamar. Saat itu Yunia dan Wisnu sudah jatuh tertidur karena kelelahan sehabis olahraga pagi khusus untuk suami istri. Inginnya, mereka terus tidur sampai siang, tapi ketukan di pintu menarik paksa kesadaran mereka. Sesaat keduanya bertukar pandang.


"Siapa?!" Seru Wisnu dengan nada malas.


"Aku...!" Jawab orang yang di luar kamar. Dari suaranya, Wisnu tahu kalau orang itu adalah Bayu.


"Sebentar..." Sahut Wisnu sambil bangkit dari kasur. Mereka belum berpakaian, karena itu Wisnu menyelimuti Yunia hingga ke leher, setelah itu dia memungut pakaiannya yang berserakan di lantai dan dia sembunyikan di bawah selimut sekalian. Dia hanya memakai celana pendek tanpa baju.


"Ini, ... tadi pak Yono mengetuk-ngetuk pintu kamar mas buat nganterin koper ini, tapi enggak juga dibukakan pintu, jadi ditinggal di depan pintu ini... " Jawab Bayu sambil menunjuk koper di samping pintu.


"Oh, ya... makasih..." Jawab Wisnu saat melihat kopernya.


"...terus anu... ditunggu ibu untuk sarapan, Yunia udah bangun, belum?" Sambung Bayu,


"Belum... dia masih tidur..."

__ADS_1


"Mas masih capek? Mau ngantor enggak?" Tanya Bayu saat merasa Wisnu malas-malasan menjawab pertanyaannya.


"Enggak tau, aku masih ngantuk... nanti aja lah aku masuk agak siangan dikit. Enggak ada yang urgent kan?" Wisnu balik bertanya.


"Enggak.... Yunia sendiri, hari ini enggak jadi masuk PKL...?"


"Biar dia istirahat dulu deh. PKL nya mulai besok aja..." Wisnu memutuskan.


"Ya, udah... untung ibu bos. Kalau enggak, udah dipecat di hari pertama tuh..." Canda Bayu sambil tertawa kecil. Wisnu ikutan tertawa. Wisnu meraih handle kopernya dan menyeretnya masuk.


"Udah, aku mau tidur lagi." Kata Wisnu mengkode Bayu supaya pergi. Bayu cuma angkat bahu lalu melangkah pergi. Wisnu segera menutup kembali pintu kamar setelah Bayu menjauh.


"Gemana, mas... ?" Tanya Yunia, saat Wisnu sudah berjalan mendekat.


"Gemana apanya?" Wisnu balik bertanya dengan cueknya. Lalu dia kembali mendekati Yunia dan masuk ke balik selimutnya.


"Itu tadi... Mas Bayu ngomong apa?" Tanya Yunia.


"Ngomongin soal kerjaan. Dia tanya, kamu mulai PKL kapan, mas bilang mulai besok...."


"Kok besok?" Potong Yunia bertanya.


"Ya, sekarang, waktunya kamu jadi istriku... " Tanpa permisi lagi, tangan Wisnu sudah mulai bergerilya di atas tubuh Yunia. Membuat Yunia menggelinjang kegelian.

__ADS_1


"Mas..." Maksudnya ingin memperingatkan Wisnu agar tidak membuatnya geli, tapi saat itu bertepatan dengan aksi dari bibir Wisnu di dadanya, membuat peringatan itu malah keluar sebagai desahan. Wisnu tersenyum, untuknya itu adalah lampu hijau agar dia melanjutkan aksinya....


πŸŒΌπŸŒΌπŸŒΌπŸ‘‰πŸ‘ˆπŸŒΌπŸŒΌπŸŒΌ


__ADS_2