
Wisnu dan Yunia melangkah menaiki anak tangga menuju lantai dua restoran itu. Di ujung tangga, mereka dihadapkan pada sebuah lorong pendek dengan celah pintu di sebelah kanan dan satu tangga naik lagi di sebelah kiri. Lorong itu habis di depan sebuah pintu lain yang tertutup. Wisnu mengajak Yunia berbelok ke kanan.
Di celah pintu, Yunia melihat kalau ruangan yang mereka masuki itu ternyata sebuah ruangan besar, tapi disekat menjadi tiga ruangan yang lebih kecil. Satu di sebelah kanan dengan tulisan "ACCOUNTING DEPARTMENT" besar di pintu. Satu lagi di sebelah kiri, dengan tulisan "MARKETING" di atas pintu masuknya. Kedua pintu itu terbuat dari kaca dan dilengkapi dengan kunci dan gerendel, Sedang sisanya diujung, yang merupakan ruangan yang agak lebih besar dibiarkan loss tanpa pintu. Tapi sewaktu Yunia masuk tadi, kedua pintu itu terbuka lebar. Tidak ada orang di dalam ruangan itu.
"Pagi, pak..." Sapa orang-orang yang sedang menggerombol di ujung ruangan.
"Pagi.... sedang apa kalian?" Sahut Wisnu sekaligus bertanya, saat melihat beberapa karyawan sedang berkerumun di sebuah meja.
"Sarapan, pak..." Jawab seorang gadis berkacamata. Walaupun menjawab pertanyaan Wisnu, tapi tatapan orang-orang itu terarah pada Yunia. Campuran antara malu dan takut Yunia berusaha melempar senyum ramah pada mereka.
"Sarapan apa?" Tanya Wisnu. Dia agak heran. Di ruangan itu ada sekitar tujuh orang yang sedang berkerumun tadi, tapi dia cuma melihat, sebuah bungkusan yang sudah terbuka beralaskan piring di atas meja.
"Kupat tahu, pak..." Jawab seorang gadis lain yang bertubuh tinggi kurus, dengan rambut yang di cat kemerahan. Sebenarnya Wisnu ingin mempertanyakan HANYA adanya satu bungkusan kupat tahu untuk tujuh orang itu, tapi dia ingat harus segera pergi, jadi dia menunda bertanya soal itu.
"Bu Ari ada?" Tanya Wisnu.
"Ada, pak..." Jawab gadis berkacamata tadi.
"Bapak cari saya...?" Tanya sebuah suara dari arah belakang mereka. Wisnu dan Yunia menoleh.
"Eh, Bu Ari... Ini saya mengantarkan Yunia. Bu Ratna sudah mengabari anda soal ini kan?" Ujar Wisnu langsung pada orang yang ternyata adalah Bu Ari, kepala akunting di restoran itu.
"Oh, iya. Sudah pak... Hai, Yunia, saya Ari..." Salam Bu Ari pada Yunia sambil mengulurkan tangannya untuk bersalaman. Yunia segera menyambut uluran tangan itu.
"Saya Yunia..." Sapa Yunia.
"Nah, Yunia, sekarang kamu ikuti arahan Bu Ari. kalau ada masalah apa-apa tanya aja." Ujar Wisnu pada Yunia. Yunia mengangguk paham.
__ADS_1
"Bu Ari, tolong tunjukkan dimana meja kerjanya ..." Ujar Wisnu lagi pada Bu Ari.
"Oh, iya... Ayo Yun, kita keruangan akunting." Ajak Bu Ari. Yunia melangkah mengikuti Bu Ari, masuk ke ruangan akunting. Wisnu mengikuti di belakangnya.
"Ini mejamu... Ujar Bu Ari, menunjukkan meja di dekat pintu masuk ruang akunting. "Untuk tugasnya, sementara ini kamu bantu-bantu kasir dulu ya, setelah itu kamu bisa membantu pekerjaan general kasir..." Ujar Bu Ari menjelaskan job description untuk Yunia. Yunia kembali mengangguk.
"Begitu ... Pak. ada yang mau ditambahkan?" Tanya Bu Ari pada Wisnu yang masih menyimak penjelasannya.
"Nanti saja di review sama Bu Ratna..." Sahut Wisnu. "Nah, sudah ya... aku pergi dulu..." Lanjut Wisnu. Bu Ari dan Yunia mengangguk. Sesaat Wisnu menatap Yunia ingin memastikan kalau Yunia benar-benar tidak apa-apa kalau ditinggalkan.
"Enggak apa-apa kan, mas tinggal sekarang?" Tanya Wisnu pelan ingin memastikan.
"Sudah enggak apa-apa kok, mas pergi saja..." Jawab Yunia. Wisnu baru saja akan membalikkan badan ketika...
"Eh, nanti pulangnya Yun gemana?" Tanya Yunia tiba-tiba. Dia baru ingat kalau dia itu enggak tau jalan dan alamat rumah Wisnu.
"Oh... ya. makasih..." ucap Yunia lega.
"Nomor telepon rumah sudah kamu simpan kan?" Kembali Wisnu memastikan. Yunia mengangguk. "Ya, sudah... sekarang mas pergi dulu ya..." Pamit Wisnu. Sekali lagi Yunia mengangguk.
Wisnu meraih kepala Yunia mendekat lalu mencium puncak kepala Yunia penuh sayang. Inginnya sih ******* bibirnya, tapi kondisi di ruangan itu tidak memungkinkan untuknya melakukan hal itu. Dia takut nanti Yunia malah di bully oleh teman-teman barunya. Apalagi mereka kan belum tahu siapa Yunia sebenarnya. Tapi rupanya, cuma ciuman di kepala saja mampu membuat rona wajah Yunia memerah. Dia senang tapi juga malu. Padahal di ruangan akunting itu cuma ada Bu Ari.
"Bu Ari, titip Yunia ya... "Pesan Wisnu sebelum melangkah kembali ke arah tangga.
"Siap, pak... "Jawab Bu Ari sambil tersenyum. "Yunia aman sama saya..." Tambah Bu Ari sambil mengedipkan sebelah matanya. membuat Yunia tersipu-sipu.
Wisnu pergi meninggalkan Yunia dibawah pengawasan Ari. Yunia yang ditinggalkan menatap area kerjanya dengan agak canggung. Bingung, apa yang harus dilakukannya sekarang.
__ADS_1
"Kata Bu Ratna, kamu adik angkatnya pak Wisnu, iya?" Tanya Ari tiba-tiba.
"Eh, ... iya, Bu ..." Jawab Yunia ragu. Apa saja yang sudah diceritakan Bu Ratna pada Bu Ari ini? Apakah dia tahu hubungan sebenarnya antara dirinya dengan Wisnu? Haruskah dia mengaku kalau dia adalah istrinya Wisnu?
"Jangan panggil, ibu... panggil Ari aja... Umur kita enggak jauh berbeda kan..." Elak Ari. Ya, sepertinya Ari ini tidak terpaut jauh dari Yunia. paling-paling selisih lima atau enam tahun. Karena itu, dia tidak mau merasa "tua" dengan panggilan "ibu".
"Teh Ari, itu kupat tahu nya mau enggak?" Tanya seorang gadis berkerudung hijau, tiba-tiba menyela percakapan mereka sambil melongokkan kepalanya melalui pintu.
"Emang masih ada?" Tanya Ari.
"Ada sih, sedikit..." Jawab gadis itu.
"Iya, sebentar.... Yun. Ayo, aku kenalin sama crew office ini..." Kata Ari kemudian pada Yunia. Yunia mengangguk dan mengikuti Ari menuju ruangan dimana orang-orang tadi berkerumun.
"Guys... kenalin, ini Yunia... mulai hari ini, dia akan PKL di sini...." Ucap Ari pada kawan-kawannya.
"Hai...!" Salam mereka hampir bersamaan.
"Hai...!" Balas Yunia. Yunia senang, sepertinya calon teman-temannya itu orang-orang yang senang berbaur. Enggak ada sifat senioritas diantara mereka. Dan kelihatannya mereka itu usianya masih pada muda, jadi enggak canggung kalau harus ngobrol dengan mereka.
"Hai, aku Emma..." Kata gadis berkacamata. "Aku store keeper..." Lanjutnya memberi tahu posisinya di crew office ini.
"Aku, Maya..."Ujar gadis kurus tinggi tadi. "Aku dan Ian..." lanjutnya sambil menunjuk seorang pemuda yang sedang duduk di pojok ruangan. "... bagian purchasing..."
"Aku Ani, bagian cost control..." Lanjut gadis berkerudung.
Satu persatu mereka menyalami Yunia. Yunia berusaha mengingat nama-nama mereka dan bagian-bagiannya. Cukup banyak juga penghuni area office ini. Ada sekitar tiga belas orang yang sudah hadir pagi ini, termasuk team akunting dan marketing. Sebagian lagi masuk siang karena akan bertugas hingga malam. Dan sesuai dengan petunjuk dari Ari. untuk mengawali PKL nya, Yunia diperbantukan di bagian kasir di lantai bawah, menemani Ester kasir yang bertugas pagi ini dan Sarah sang general cashier.
__ADS_1
Ya, enggak apa-apa lah, kariernya dimulai sebagai cashier, bukankah proses akuntansi ini memang dimulai dari sini...? Siapa tau, dengan bekal pengalaman jadi cashier, Yunia bisa jadi owner restoran yang besar.... 🤗😅