Andai Cinta Bisa Memilih

Andai Cinta Bisa Memilih
Adriana


__ADS_3

Yunia asik menyuapi Sabina dengan puding yang tadi dibawakan oleh pelayan. Sesekali matanya beredar memperhatikan keadaan sekitar restoran sambil mencari tahu apakah Wisnu sudah datang atau belum.


"Enak, sayang?" Tanya Yunia saat menyuapkan puding terakhir dari piring itu. Sabina tidak menjawab karena sibuk mengunyah. Melihat satu porsi puding berhasil dihabiskan sendiri oleh Sabina, Yunia terpikir untuk memesan satu lagi. Baru saja mau memanggil pelayan, matanya menangkap kehadiran Wisnu di pintu masuk.


"Sabina... itu papa..." Kata Yunia pada Sabina. Mendengar kata 'papa' Sabina ikutan celingukan walaupun arah pandangnya ngawur. Yunia tertawa melihat tingkah Sabina.


"Ist sie deine Frau?" (\=apakah dia istrimu) Terdengar suara seseorang berkata sambil mendekat. Yunia segera menoleh ke arah asal suara sementara tangannya masih mengusap mulut Sabina yang agak belepotan oleh puding yang dimakannya.


Di dekatnya kini berdiri Wisnu bersisian dengan seorang wanita bule.


"Ya." Kata Wisnu pendek dengan nada datar. Yunia tidak mengerti apa yang dijawab "Ya" oleh Wisnu barusan. Matanya tanpa bisa dicegah menatap perempuan itu dengan penuh perhatian. Dadanya berdesir. Yunia memang belum pernah bertemu dengan perempuan itu, tapi bayangan perempuan itu sudah setiap hari dia temui. Tanpa diperkenalkan, Yunia merasa yakin kalau itu pasti ibunya Sabina.


"Hai..." Sapa perempuan itu. Yunia ingin membalas sapaan itu, tapi tiba-tiba suaranya bagai terpendam di tenggorokan. Yunia cuma bisa mengangguk lemah sementara matanya menatap Wisnu penuh tanya. "Apakah perempuan ini yang telah membuat mas Wisnu bersikap begitu dingin padaku?" Bisik hatinya.


"Yun... ini Adriana...." Ujar Wisnu memperkenalkan mereka. "Dia, ibunya Sabina." Imbuhnya.


DEG!


Padahal Yunia sudah menebaknya. Tapi saat Wisnu mengatakan dengan jelas kalau dia ibunya Sabina, kenapa jantung Yunia seakan berhenti berdetak beberapa detik rasanya? Tanpa terasa ada rasa panas menyerang matanya. Tanpa bisa di cegah, ada rasa takut yang menyelimuti hatinya.


"Ehm... Hai." Sahut Yunia akhirnya dengan suara yang agak serak, setelah bisa menguasai perasaannya. Adriana mengulurkan tangannya mengajak bersalaman. Agak ragu Yunia membalas uluran tangan itu.

__ADS_1


"Dieses Mädchen sieht immer noch klein aus." (\=Gadis ini masih terlihat kecil). Ujar perempuan itu pada Wisnu.


"Aber diese Frau kann mehr Verantwortung übernehmen als Sie." (\=Tapi wanita ini bisa mengambil tanggung jawab lebih darimu.) Sahut Wisnu dengan nada dingin.


Wanita itu hanya tersenyum, Yunia tidak tahu kenapa dia tersenyum. Sejujurnya, otaknya sudah tidak menerima apapun ucapan wanita itu, selain karena tidak mengerti, pikiran Yunia sudah dipenuhi bayangan-bayangan 'Apa jadinya jika wanita itu mengambil kembali Wisnu dan Sabina?' Baru membayangkannya saja sudah membuat Yunia ingin menangis.


Untuk Wisnu sendiri. Dia jengkel, karena ucapannya ternyata tidak membuat wanita itu tersinggung sana sekali.


"Hallo liebe Sabina" (\=Halo Sabina sayang) Kata wanita itu pada gadis kecil di samping Yunia. Sesaat gadis kecil itu memperhatikan wanita yang menyapanya. Tapi ketika tangan Adriana mendekat ingin menggendongnya. Sabina mulai mencebik menunjukkan gelagat ingin menangis. Adriana, entah karena tidak memperhatikan gelagat itu, atau memang mengabaikan gelagat Sabina, karena memang ingin menggendongnya. Dia tetap meraih Sabina dan membawanya dalam pelukannya. Dan benar saja... Dalam hitungan detik, tangis Sabina pun pecah memenuhi ruang restoran. Untung saja tamu yang datang saat itu tidak terlalu padat. Mereka hanya tersenyum maklum mendengar tangisan Sabina.


Yunia menatap Sabina. Tangannya terkepal di samping menahan gerakan refleksnya. Dia ingin meraih Sabina untuk menenangkannya. Tapi dia tidak berani, karena menyadari, Sabina sekarang sedang digendong ibu kandungnya. Dia menoleh ke arah Wisnu sekilas. Kelihatannya Wisnu juga tidak keberatan. Malah, dia melihat mata Wisnu yang seperti bahagia sekaligus terharu melihat interaksi anak dan ibu kandungnya itu.


"Em... maaf. Permisi..." Ujar Yunia akhirnya. Dia ingin beralasan akan ke kamar kecil sebenarnya, tapi otaknya sudah buntu. suaranya seperti tercekat di tenggorokan. Karena itu, tanpa menunggu jawaban dari Wisnu ataupun Adriana, dia segera berlalu dari tempat itu.


Beberapa menit kemudian....


Yunia melangkah menyusuri basemen, mencari tempat dimana pak Yono memarkirkan mobil dan menunggu. Aslinya, Yunia agak bingung. Dia lupa, di lantai berapa Pak Yono parkir. Tadi dia tidak begitu memperhatikan posisi parkirnya, karena berpikir dia hanya tinggal menelpon pak Yono untuk menjemput mereka. Tidak ada dalam skenario nya, kalau malah dia yang harus mencari pak Yono.


Dia tadi sudah menghabiskan beberapa menit hanya untuk sembunyi dan menangis di toilet umum mall. Setelah merasa cukup lega, Yunia mencuci muka, dan bermaksud pulang lebih dulu.Tapi sekarang .... ponselnya ada di dalam tas. Tasnya ada di restoran. Di restoran, ada Wisnu dan Adriana yang tidak ingin dia temui. Dan karena dia tidak membawa uang untuk naik taksi, mau enggak mau dia harus mencari sendiri keberadaan pak Yono.


Setelah berjalan berputar-putar, akhirnya Yunia melihat pak Yono yang sedang duduk di sebuah warung kopi basemen, tempat para karyawan mall makan, dan para sopir menunggu majikannya mereka.

__ADS_1


"Pak..." Panggil Yunia setelah jarak mereka dekat.


"Eh, iya Neng. Mau pulang sekarang?" Tanya Pak Yono agak terkejut sambil berdiri dari duduknya.


"Iya, pak." Jawab Yunia.


"Lah, kalau Neng Sabina...?"


"Em... dia masih ingin bersama papanya..." Jawab Yunia asal. Kening pak Yono berkerut. Dia merasa, ada yang tidak beres telah terjadi. Walaupun Wisnu itu ayahnya, masa iya Wisnu akan membawa Sabina sambil bekerja. Kalaupun iya, pasti ada seseorang yang mendampingi.


"Enggak lebih baik kita tunggu sebentar, Neng. Kasihan, nanti kalau Neng Sabina nangis gemana?" Tanya pak Yono mencoba memberi saran.


Sejenak Yunia termenung. Membayangkan Sabina menangis membuatnya merasa sedih, tapi saat teringat kalau anak kecil itu sedang bersama orang tua kandungnya, membuat hati Yunia terasa pedih. Dia merasa tersisihkan.


"Enggak apa-apa, pak... Mas Wisnu pasti bisa menenangkan Sabina..." Ujar Yunia akhirnya sambil masuk ke dalam mobil. "Lagian di sana kan ada ibunya..." Imbuh Yunia pelan hampir bergumam.


Pak Yono tercenung.


"Neng... saya minta izin bayar kopinya dulu ya..." Pamit pak Yono kemudian. Yunia mengangguk tanpa memperhatikan. Dia sudah tidak tahu harus berpikir apa. pikirannya terasa buntu.


Pak Yono meninggalkan Yunia sendiri di mobil. Karena bingung dengan kondisi Yunia yang seperti sedang bersedih itu, akhirnya Pak Yono memberanikan diri menelpon Wisnu. Meminta petunjuk apa yang harus dia kerjakan.

__ADS_1


🌼🌼🌼👉👉👉


__ADS_2