
Yunia memperhatikan ekspresi wajah Wisnu dengan hati bimbang. Wisnu kelihatannya senang-senang saja mengetahui kehamilannya. Lalu kenapa dirinya malah bingung? Ya, Yunia bingung. Ada rasa bangga, bahagia, tapi juga takut dan malu... gemana jadinya kalau pihak sekolah tahu kalau siswanya ada yang hamil? Eh, tapi kan dia hamil secara sah, bukan karena "kecelakaan"... Ya, tapi bagaimana dengan kelanjutan pelajaran nya...? Apa pihak sekolah mengizinkan siswa yang hamil ikut sekolah? Deuh... beneran, Yunia jadi enggak nyaman memikirkan hal itu.
Sampai di rumah, setelah mengucapkan salam, Yunia langsung masuk kamar. Dia tidak mendengar pertanyaan bik Sumi tentang hasil pemeriksaan barusan.
"Wisnu..." Panggil bik Sumi saat melihat Wisnu melangkah memasuki rumah.
"Ya, bik..." Sahut Wisnu menghentikan langkahnya untuk menuju kamar dan berdiri menghadap bibinya itu.
"Gemana hasil pemeriksaannya...?" Tanya bik Sumi. Wisnu tersenyum kecil.
"Anu... Yunia positif, bik..." Jawab Wisnu sambil cengar-cengir seperti anak kecil yang tertangkap basah mencolek kue yang sedang dihias ibunya.
"Alhamdulillah..." Sambut bik Sumi. "Tapi semuanya baik-baik saja, kan?" Tanya bik Sumi lagi, karena sepintas tadi dia melihat wajah Yunia seperti ada masalah.
"Alhamdulillah, baik bik..." Jawab Wisnu.
"Tapi, kenapa wajahnya Yunia tadi seperti ditekuk begitu?" Tanya bibi lagi penasaran. Wisnu tidak tahu pasti, kenapa Yunia seperti keberatan menerima kenyataan kalau dirinya sedang hamil.
"Enggak apa-apa, bik... mungkin dia masih kaget aja, enggak nyangka kalau dia hamil..." Jawab Wisnu beralasan.
"OOO" Ucap bik Sumi tanpa suara. Ya sudah...Selamat tambah momongan kalau gitu. Sekarang bibi mau ke dapur dulu." Katanya lalu berbalik masuk ke dapur. Wisnu mengangguk walaupun bik Sumi sudah berbalik dan tidak melihat anggukan nya.
Wisnu menghela nafas panjang. Ada perasaan tidak nyaman muncul dihatinya. melihat ekspresi wajah Yunia tadi, seketika mengingatkannya pada kejadian serupa hampir dua tahun lalu. Seperti ada tangan kecil yang mencubit hatinya. Kembali Wisnu menghela nafas panjang, sebelum melanjutkan langkahnya masuk ke kamar.
Di kamar, dia melihat Yunia sedang duduk di atas kasur sambil memeluk kedua kakinya. Wajahnya dia benamkan diantara kedua lututnya, karena itu dia tidak melihat kedatangan Wisnu. Wisnu mendekat.
"Yun..." Panggilnya pelan takut mengejutkan Yunia. Yunia mengangkat wajah dan menatap Wisnu. Wisnu melihat kerisauan diwajahnya. Karena itu Wisnu lalu segera duduk disampingnya.
"Ada apa, huh?" Tanyanya sambil mengusap pipi Yunia dengan punggung jarinya.
"Mas... Yunia beneran hamil, ya?" Ucap Yunia pelan sambil menatap wajah Wisnu dengan tatapan sendu. Wisnu terhenyak melihat tatapan itu, walau tidak sama, tapi rasanya serupa dengan tatapan yang diberikan Adriana saat mengetahui dirinya hamil. Denyut nyeri itu kian terasa di dadanya. Apakah rasa nyeri itu nyata atau sekedar efek de Javu..
__ADS_1
"Kenapa? Kamu enggak mau punya anak?" Tanya Wisnu sambil terus menatap wajah Yunia. Suaranya bergetar berusaha mengendalikan emosi yang terpancing oleh praduga nya barusan.
"Bukan enggak mau... tapi gemana dengan sekolah Yunia, mas... Yunia takut dikeluarin dari sekolah, kalau pihak sekolah tahu Yunia hamil..."
"Apa hanya karena itu Yunia sedih?" Tanya Wisnu.
"Yunia enggak sedih, mas... Yunia takut..." Ralat Yunia.
"Takut apa?"
"Ya itu... takut dikeluarin dari sekolah... takut nanti teman-teman mengolok-olok Yunia..." Akhirnya Yunia bisa menyampaikan maksudnya.
"Tapi Yunia mau menerima dan merawat anak itu kan?" Tanya Wisnu memastikan. Dia takut dan trauma jika wanita yang dicintai ternyata tidak ingin mempunyai anak darinya.
"Tentu saja! Ini kan anakku... " Jawab Yunia secara refleks, membuat Wisnu menarik nafas lega seketika.
"Alhamdulillah... terima kasih, sayang..." Ucapnya sambil langsung memeluk Yunia erat. "Insya Allah, kamu enggak akan dikeluarin dari sekolah karena hal ini. Mas akan memastikan itu." Kata Wisnu masih dengan posisi memeluk Yunia. "Kalau pun kamu dikeluarin, mas Wisnu bakal carikan sekolah lain untuk kamu, supaya kamu bisa menyelesaikan sekolahnya..." Tambah Wisnu sambil melepas pelukannya. Yunia mengangguk.
"Ya, tinggal Yunia tunjukkin aja buku nikah kita, mereka enggak bakal bisa menuduh macam-macam ..."
"Emang, kita punya buku nikah, mas?" Tanya Yunia enggak yakin.
"Ya punya lah... kamu pikir mas mu ini enggak mikirin masa depan kamu, apa? Semua dokumen administrasi kamu sudah mas urusin. Surat nikah, akta Kematian bapak, surat ahli waris dan semua urusan legalitas tentang kamu sudah beres..."
"Iya? Terus dimana sekarang?" Tanya Yunia.
"Apanya?" Wisnu balik bertanya
"Buku nikahnya lah..." sahut Yunia. "Orang lagi ngomongin soal buku nikah kok masih tanya apanya." Sambung Yunia.
"Buku nikah mas ya ada di rumah sana... buku nikah kamu disimpan sama bibi..."
__ADS_1
"Kok enggak dikasih ke Yunia?" Potong Yunia.
"Ya, waktu itu pengacara mas enggak ketemu kamu, ketemunya sama paman dan bibi, jadi dikasih ke mereka... "
Sesaat Yunia diam berfikir. Wisnu memperhatikan dan menebak-nebak apa yang sedang dipikirkan oleh istrinya itu.
"Sebentar mas..." Kata Yunia kemudian sambil bergerak turun dari kasur.
"Kamu mau ngapain?" Tanya Wisnu heran.
"Tunggu sebentar di sini..." Pinta Yunia. Setelah itu dia berjalan keluar kamar, diikuti pandangan heran Wisnu.
Tak berapa lama...
"Ono opo, to Yun...?" (\=Ada apa sih, Yun?) Terdengar suara bik Sumi mendekat. Tak lama kemudian Yunia kembali muncul dari ambang pintu kamar sambil menuntun bik Sumi masuk. Terlihat wajah bik Sumi yang bingung karena mendadak "diseret" Yunia dari dapur.
"Bik, kata mas Wisnu, bibi pegang buku nikah Yunia. Mana bik, Yunia mau lihat..."
"Oalah... kirain ada apa. Mau tanya itu aja sampai bibik e di serat-serat begini..." Omel bik Sumi tapi dengan wajah tersenyum.
"Yunia enggak nyeret bibik... Habis di sana tadi banyak orang..." Elak Yunia tidak mengakui kalau dirinya sudah menyeret bibinya itu.
Memang tadi dia langsung menarik tangan bibinya itu dan memintanya untuk mengikutinya ke kamar. Yunia mau langsung tanya malu, soalnya di luar kamar mereka, sudah banyak ibu-ibu tetangga yang sibuk membantu persiapan pelaksanaan acara tahlilan bapak.
Bik Sumi cuma menggelengkan kepalanya mendengar alasan Yunia.
"Mana bik?" Tanya Yunia lagi.
"Buat apa sih?" Bik Sumi balik bertanya. Tapi beliau sambil bergerak ke arah lemari buku Yunia. Yunia dan Wisnu mengikuti gerakan bik Sumi dengan pandangannya. Dari laci lemari itu, bik Sumi mengeluarkan buku kecil bersampul merah kecoklatan. "Ini...?" Tanyanya sambil memberikan buku itu pada Yunia. Yunia segera mendekat dan mengambil buku itu dari tangan bik Sumi.
"Eealah... ternyata selama ini buku itu ada di sini toh..." Ujar Yunia sambil mengusap permukaan buku itu seperti mengusap sesuatu yang sangat berharga.
__ADS_1
🌼 🌸 🌼