Andai Cinta Bisa Memilih

Andai Cinta Bisa Memilih
Marah


__ADS_3

Hari ini rasanya menjadi hari apes buat Wisnu. Belum juga hilang rasa kesal Wisnu gara-gara panggilan sayang crew kitchen pada istrinya, ditambah lagi kekesalannya pada sosok Bastian.


Pasalnya, saat acara ulang tahun Adelia, sang keponakan, Artis satu ini seperti sengaja tebar pesona. Kalau tebar pesonanya sama orang lain sih Wisnu enggak masalah, lah ini ... Bastian seperti sengaja tebar pesona pada Yunia.


Yunia sendiri bukannya sengaja mau happy-happy di atas kekesalan Wisnu. Dia enggak sengaja terpesona, karena terbawa suasana. Ya, namanya ketemu selebriti kondang nan tampan jiwa mudanya langsung saja terhanyut. Apalagi waktu Bastian menyanyikan sebuah lagu sambil menatap dirinya, Wow... seperti melayang rasanya. Sumpah! Waktu itu hilang seketika nama Wisnu dalam ingatannya. Dan sudah pasti hal itu membuat kekesalan Wisnu semakin bertambah.


Belum selesai acara ulang tahun itu digelar, Wisnu langsung menarik lengan Yunia untuk segera mengikutinya ke ruangan kerjanya di lantai atas. Yunia yang belum paham situasi mengikuti langkah Wisnu dengan kening sedikit berkerut.


"Ada apa, sih?" Tanyanya sambil berjalan menyusuri anak tangga. Wisnu belum menjawab. lengan Yunia pun masih berada dalam genggamannya.


"Masuk...!" Katanya dingin saat mereka sudah sampai di depan pintu ruang kerja Wisnu. Tangan Wisnu yang lain sudah membukakan pintunya untuk Yunia. Yunia melangkah masuk. Dia seperti mendengar sirine tanda bahaya berbunyi saat mendengar nada suara Wisnu yang dingin itu.


"Duduk...!" Perintah Wisnu lagi. Pelan-pelan Yunia duduk di sofa yang tadi ditunjuk Wisnu. Wisnu sendiri melangkah mendekati kulkas kecil yang berada di dalam ruang kerjanya itu. Dia membuka pintunya dan mengeluarkan sebotol air mineral dari dalamnya. Seakan penuh *****, Wisnu meneguk isi botol itu hingga habis separuh.


"Mas... ada apa?" Tanya Yunia takut-takut. Rasanya baru kali ini dia melihat ekspresi kekesalan di wajah suaminya itu. Biasanya Wisnu itu orangnya sabar dan penuh pengertian.


Sesaat Wisnu terdiam. Dia menghela nafas, berusaha mengendalikan amarah yang seperti membakar hatinya. Dia bingung dari mana mau memulai pembicaraan ini.


"Mas..." Panggil Yunia lagi.


Wisnu kembali menghela nafas.


"Yun, kamu suka sama Bastian?" Tanya Wisnu akhirnya.


"Suka..." Jawab Yunia ragu. Dia enggak tahu maksud pertanyaan Wisnu. Tapi kalau ditanya suka atau enggak sama Bastian, ya ... dia memang suka. Buktinya dia juga sering nonton sinetron yang dibintanginya, kan. Lain dengan Wisnu. Mendengar jawaban Yunia kedua alisnya langsung seperti bertaut.

__ADS_1


"Beneran suka?" Wisnu memastikan.


"Ya, suka... dia kan artis sinetron... dia juga menjadi bintang film sekaligus bintang iklan... orangnya cakep, ramah lagi.... " Mendadak Yunia menutup mulut menghentikan ucapannya. Dilihatnya ekspresi wajah Wisnu sudah semakin tidak enak dilihat.


"Maksud Yunia..."


"Oh, gitu... jadi karena dia itu selebriti tampan, jadi kamu bisa begitu saja mengabaikan aku?!" Sambar Wisnu dengan nada yang mulai naik. Sekarang gantian kening Yunia yang berkerut.


"Ini maksudnya apa sih? Emang salah ya kagum sama seorang selebriti?" Pikir Yunia.


"Mas, enggak gitu maksud Yunia..." Ujar Yunia berusaha meluruskan permasalahan sekaligus membela diri.


"Kamu juga sepertinya senang sekali, waktu anak-anak kitchen muji kamu ... ngerayu kamu..." Amarah Wisnu mulai merembet mengingat kejadian tadi pagi.


"Eh, enggak ya! Kapan aku kelihatan senang dirayu mereka...! Nada suara Yunia ikutan naik. Dalam pikirannya, ucapan mereka itu bukan rayuan, tapi cuma sekedar sapaan yang setengah bercanda. Makanya dia enggak terima dituduh menikmati pujian dan rayuan anak-anak kitchen itu.


Sungguh, kalau dalam situasi biasa, yunia pasti bakal tertawa terpingkal-pingkal melihat cara Wisnu menirukan gaya anak buahnya itu. Tapi dalam situasi seperti ini... boro-boro pingin ketawa. Semakin "empet" rasanya.


"Aku sudah bilang enggak mau dipanggil seperti itu, tapi mereka aja yang enggak mau ngerti! Emangnya aku harus marah-marah gitu buat melarang mereka memanggilku sayang?!"


Saking kesalnya, Yunia sudah tidak sadar kalau dia sudah ber aku-aku pada suaminya. Hal yang selama ini selalu dia hindari. Sungguh hatinya terasa sakit. Dia merasa suaminya sudah tidak sayang lagi padanya, hingga masalah sepele seperti itu bisa bikin mereka bersitegang seperti ini. Tanpa dapat ditahan air matanya sudah menetes membasahi pipi.


Yunia segera menghapus air mata itu. Dia tidak mau dinilai lemah atau kalah dalam perdebatan ini. Dia tidak merasa bersalah, kenapa juga harus menangis...? Tapi dia kecewa dengan sikap Wisnu yang dinilai telah menuduhnya sembarangan.


Wisnu seperti mau bicara lagi, tapi saat melihat gerakan tangan Yunia yang mengusap pipinya, dia seperti mendadak tersadar akan sesuatu. Dia menutup kembali mulutnya.

__ADS_1


Beberapa lama keduanya terdiam. Mereka hanyut dengan pikiran dan praduga mereka masing-masing. Beberapa kali Wisnu melirik Yunia. Yunia sendiri lebih memilih membuang muka. Tidak ingin menatap wajah suaminya itu. Tapi nyatanya, hati dan pikirannya bergerak berlawanan arah dengan tindakannya.


Saat sedang bertengkar seperti ini, dia justru merasa butuh orang yang bisa menghiburnya, memeluknya... tapi dia tidak punya orang lain lagi yang dekat dengannya, yang bisa melakukan itu semua, selain suaminya. Karena itu, dia merasa begitu nelangsa. Dia begitu marah, tapi juga rindu dengan pelukan suaminya. Akhirnya dia cuma bisa menangis untuk melampiaskan perasaannya.


Awalnya Yunia menangis diam-diam... tapi lama-lama, ia tidak bisa menahan isaknya, hingga terdengar oleh Wisnu. Wisnu kini menatap istrinya dengan perasaan berkecamuk. Ada amarah, kesal dan kasihan menjadi satu. Kenapa mereka harus bertengkar?


Wisnu kembali meneguk air mineral dalam botol yang selama ini masih dalam genggamannya hingga habis. Dia mencoba berpikir dengan logika, bukan dengan perasaannya seperti tadi. Dan akhirnya dia seperti dihantam oleh sesuatu. Semua ini terjadi, hanya karena dia merasa cemburu pada Yunia.


Cemburu!


Ya, Tuhan... Ternyata seorang Wisnu bisa juga merasa cemburu.


Seumur hidupnya, Wisnu hampir tidak pernah merasa cemburu. Apalagi terhadap pasangannya. Bukan karena dia tidak cinta atau sayang, tapi karena selama ini dia selalu memakai logika dan mempercayai pasangannya. Dan kini... tiba-tiba saja dia merasa seperti seorang yang idiot karena marah-marah hanya karena merasa cemburu?!


Dilihatnya Yunia masih terisak. Perlahan dia mendekat. Wisnu duduk di samping Yunia dan meraih tubuh Yunia dalam pelukannya. Yunia bergerak hendak meronta dari pelukan Wisnu. Tapi Wisnu memeluknya semakin erat.


"Maaf ..." Bisik nya lirih di telinga Yunia. "Maaf karena mas sudah marah-marah sama Yunia..." Katanya lagi dan memeluk Yunia semakin dalam ke dadanya, lalu ia meletakkan dagunya di atas kepala Yunia.


Yunia ingin menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi dan apa yang dia rasakan. Tapi tidak ada kata yang bisa keluar dari mulutnya, karena dalam dekapan Wisnu, tangis Yunia malah semakin kencang.


...πŸ‘‰πŸŒΌπŸŒΈπŸŒΌπŸ‘ˆ...


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Para reader... tercinta, author mau minta tolong, kalau ada waktu, tolong singgah di karya author yang lain ya. Karena otak author yang suka loncat-loncat... jadi author bikin cerita dengan background yang berbeda... silahkan kasih like n komen ya... πŸ€—βœŒοΈπŸ˜…

__ADS_1



__ADS_2