
Sekitar jam dua siang, saat Yunia dan Wisnu sampai di rumah, setelah tadi sempat mampir ke rumah Tante Mia. Mereka tidak berniat untuk mampir-mampir lagi, karena selain Wisnu masih agak lelah setelah menjalani perjalanan yang cukup jauh semalaman, Yunia juga sudah lapar.
"Mau mampir dulu ke resto?" Tanya Wisnu yang sempat menawarkan kepada Yunia, saat tanpa sengaja terdengar perut Yunia keroncongan. Yunia meringis.
"Engga..." Jawab Yunia sambil menggeleng.
"Bener engga mau?" Tanya Wisnu memastikan. Yunia kembali menggeleng.
"Sebentar lagi juga sampai rumah...." Kata Yunia memberi alasan.
Akhirnya, Wisnu memacu mobilnya agak cepat supaya bisa segera sampai ke rumah.
Begitu mobil berhenti di halaman rumah, tanpa menunggu Wisnu yang masih harus memastikan bahwa mobil terparkir dengan baik, Yunia segera turun. Dilihatnya, pintu rumahnya terbuka, dan terlihat beberapa orang yang sedang duduk bercakap-cakap di ruang tamu.
"Assalamualaikum..." Salam Yunia begitu mencapai pintu.
"Waalaikum salam..." Sahut orang-orang yang duduk di sana.
Di ruangan itu, Yunia melihat ibu sedang ngobrol dengan beberapa orang tetangga sekitar.
"Sudah pulang, nduk..." Sapa ibu. Yunia mengangguk. Menyalami dan mencium punggung tangan ibu-ibu para tetangganya. Khusus untuk ibu, setelah mencium punggung tangannya, Yunia juga memeluk tubuh ibu.
"Yunia kangen, Bu." Katanya bermanja, sambil duduk di lengan kursi yang diduduki ibu. Ibu tersenyum. "Yunia engga tahu kalau ibu bakal datang hari ini..." Tambahnya sambil mencomot sejenis kue yang tersaji di meja. Sepertinya kue itu oleh-oleh yang dibawa ibu dari kota B.
"Ya, ibu kan harus datang untuk acara selamatan ini... " Sahut ibu. "Eh, tadi sudah ke rumah Tante Mia?" Tanya ibu saat teringat alasan keterlambatan Yunia pulang.
"Sudah..." Jawab Yunia sambil mengangguk lagi. "Pulang sekolah tadi mas Wisnu jemput Yunia, terus ke rumah Tante Mia... aduh, sampai lapar rasanya perut Yunia..." Keluh Yunia seperti mengadu.
"Lah memang mas-mu engga ngajak makan di luar?" Tanya ibu.
"... Sudah.... Dia-nya aja yang engga mau..." Wisnu yang baru masuk rumah langsung menyahut.
"Iya... Yunia ingat masih punya sisa rendang kemarin... kalau dimakan dengan sayur tewel pasti nikmat..." Kata Yunia sambil nyengir. Air liur nya seperti sudah mau menetes membayangkan makanan itu dalam benaknya. Ibu-ibu yang duduk di hadapannya tertawa.
"Oalah Yun... Yun... wong jangan wadang ae (\=orang sayur yang dimasak kemarin saja) kok diinget ... ya lebih enak makanan di restoran sana dong..." Celetuk seorang ibu. Tapi Yunia cuma meringis.
__ADS_1
"Ya, sudah... ayo sana makan dulu... ajak mas-mu makan sekalian..." Perintah ibu.
"Mas Wisnu masih lapar?" Tanya Yunia sambil menatap Wisnu.
"Ya laparlah..." Sahut Wisnu.
"Bukannya mas Wisnu tadi sudah makan bakso?" Tuduh Yunia
"Eh? Kapan mas makan bakso?" Elak Wisnu
"Lah tadi di sekolah Yun... mas kan duduk di tempat orang jualan bakso...?"
"Halah..! Cuma numpang duduk doang sambil rokoan (\=merokok)..." Ujar Wisnu memberi tahu.
"Oh.... kirain...." Kata Yunia sambil mesem malu.
"Udah-udah... sana kalian makan dulu..." Ujar ibu menengahi.
"Ibu engga makan sekalian?" Tanya Yunia kini kembali berpaling ke arah ibu.
"Ibu sudah makan tadi..." Jawab ibu.
"Eh?! Ngomong-ngomong... bibi ke mana, Bu?" Tanya Yunia tiba-tiba sambil mendadak berhenti dan berbalik menghadap ke arah ibu lagi, membuat Wisnu yang memang berjalan di belakangnya hampir menabraknya.
"Ih! Kamu itu ya..." Celutuk Wisnu kaget. Yunia cuma melirik sekilas ke arah Wisnu sambil tertawa kecil menyadari kekagetan Wisnu. tapi perhatiannya lalu kembali ke ibu menunggu jawaban.
"Bibi mu tadi pulang dulu... katanya mau menyiapkan perabotan yang akan dipakai besok... Wisnu, nanti setelah selesai makan coba kamu ke rumah Bik Sumi... barangkali bibi mu butuh bantuan untuk membawa perabotan itu nanti..." Jawab ibu. Wisnu mengangguk. Setelah itu dia memutar pundak Yunia untuk menghadap ke pintu pembatas ruang tamu dengan ruang tengah, dan mendorongnya pelan untuk mulai melangkah.
🍃 🍃 🍃
Begitu sibuknya mereka mempersiapkan segala sesuatunya untuk acara selamatan bapak, hingga tak terasa malam sudah datang.
Wisnu masih duduk diruang tamu ditemani paman dan Pak Yono (sopir Wisnu), sambil bercakap-cakap ringan. Sementara Yunia, Bik Sumi dan ibu duduk di ruang tengah. Mereka bertiga baru selesai membuat daftar belanjaan yang harus mereka beli besok pagi.
"Yun, bibi pulang dulu... malam ini bibi mau tidur di rumah saja..." Ujar Bik Sumi memberi tahu Yunia.
__ADS_1
"Loh? Kok enggak nginep di sini aja Bik..." Sahut Yunia, sambil mengangkat wajah dari catatan yang sedang dia baca ulang.
"Enggak lah... Malam ini, kamu sudah ada ibu dan mas mu yang menemani ..." Elak Bik Sumi. "Mbak... njenengan (\=anda) kalau mau tidur di kamar itu monggo ... kamarnya sudah saya bersihkan..." Lanjut Bik Sumi kepada ibu, sambil menunjuk ke arah kamar yang biasa Bik Sumi pakai jika sedang menginap di sana.
"Oh, inggih, matur suwun..." Balas ibu sambil tersenyum.
Ya, di rumah itu memang hanya ada empat kamar tidur. Kamar bapak dulu... kamar Yunia, kamar yang sering dipakai oleh Bik Sumi, dan satu kamar yang agak lebih kecil yang kadang dipakai sebagai kamar tamu.
Kalau ibu tidur di kamar Bik Sumi, lalu Wisnu tidur di mana? Sampai disini, sesuatu terlintas dipikiran Yunia... Kalau Pak Yono pasti akan disuruh tidur di kamar kecil itu... Lah, kalau Wisnu? Apa dia akan tidur di kamar bapak? Rasanya kok ada yang ganjil ya?
Ya, walaupun mereka sudah resmi menikah lebih dari sebulan yang lalu... tapi karena kejadian meninggalnya bapak, urusan tempat tidur ini tidak pernah terlintas di benak Yunia. Dia sendiri baru sadar sekarang ini, Dimana biasanya Wisnu tidur selama itu?
Waktu itu... Lebih dari seminggu lamanya Wisnu tinggal di sini, Yunia selalu pergi tidur lebih dulu, karena Wisnu selalu melekan bersama bapak-bapak yang melakukan tahlil . Selama itu juga Yunia tidak pernah memikirkan, kapan dan dimana Wisnu tidur. Dia baru terpikir hal itu sekarang...
"Mas... mau pulang sekarang?" Tanya Bik Sumi pada suaminya.
"Ayo..." Jawab paman dari ruang tamu.
"Kok cepat-cepat sih, paman?" Tanya Wisnu berbasa-basi. Terdengar suara paman tertawa.
"Ya, enggak juga Wis... Besok hari yang sibuk, lebih baik tidur awal, supaya bisa tidur cukup... " Jawab paman sambil bangkit dari duduknya.
" ... Lagi pula, sudah lama aku enggak kelonan (\=tidur sambil dipeluk) sama bibi mu..." Lanjut paman kemudian sambil tersenyum miring.
Entah siapa sebenarnya yang sedang dia ledek. Yang pasti, semua yang mendengar tertawa. Ucapannya itu sukses membuat Bik Sumi, Wisnu dan Yunia tersipu malu.
"Wes... bibi pulang dulu, Yun.... Mbak, monggo kulo (\=saya) pamit dulu..." Ujar Bik Sumi akhirnya mengalihkan perhatian semuanya. Ibu mengangguk.
Bik Sumi dan suaminya melangkah ke pintu, Yunia dan Wisnu mengikutinya, sekedar untuk mengantar mereka pulang hingga ke halaman rumah. Setelah bibi dan pamannya menjauh, mereka berbalik, dan masuk lagi ke dalam rumah.
"Kunci sekalian, Yun." Perintah Wisnu sambil kembali duduk di kursinya tadi, dia melanjutkan obrolannya dengan pak Yono. Yunia menurut.
Setelah mengunci pintu, sesaat dia bingung... mau apa dia sekarang? dia melangkah ke ruang tengah, tempat ibu semula duduk. Tapi ibu sudah tidak ada di sana sekarang, mungkin beliau sudah masuk kamar...
"Duh... gemana ini?" Pikir Yunia bingung sendiri, sambil menatap ke arah ruang tamu, tempat Wisnu sekarang berada. Tanpa bisa di cegah, otaknya sekarang terfokus pada kata yang tadi paman ucapkan KELONAN. Dan hal itu berhasil membuatnya merinding ...
__ADS_1
"Ah, terserah deh dia mau tidur dimana..." Gumam Yunia akhirnya dalam hati. Daripada dia jadi berpikir yang macam-macam. Akhirnya dia memilih untuk tidur duluan...
🍃 🍃 🍃