Andai Cinta Bisa Memilih

Andai Cinta Bisa Memilih
Ikan


__ADS_3

Hampir jam sembilan pagi itu...


"Huft..." Yunia duduk setengah membanting tubuh, di bangku kayu warung kopi. Lumayan capek juga dia setelah berputar-putar hampir mengelilingi pasar untuk mencari barang-barang kebutuhan untuk selamatan.


"Nih...!" Ujar Wisnu yang sudah lebih dulu duduk di sana, sambil mengangsurkan segelas teh hangat ke dekat Yunia.


"Makasih..." Ujar Yunia menerima gelas itu lalu menyeruputnya pelan.


"Masih banyak yang dicari?"Tanya Wisnu.


"Engga. Bibi sedang memastikan pesanan ayam potong untuk diambil besok..." Jawab Yunia.


"Besok? ... Jadi besok kita ke sini lagi?" Tanya Wisnu lagi. Yunia mengangguk sekali dengan pasti.


"Untuk ayam, besok baru diambil... biar fresh. kalau diambil sekarang nanti kulkasnya penuh.... Besok diambil, dimasak langsung di kemas, jadi enggak perlu masuk kulkas..." Kata Yunia menjelaskan. Wisnu terdiam. Dia baru sadar, ternyata rumit juga menyiapkan acara selamatan ini.


Selama ini dia dan keluarganya terbiasa menggunakan jasa catering, jadi tidak tahu secara rinci segala detil pengerjaannya. Apalagi dia punya anak buah banyak, tinggal suruh, entah bagaimana caranya, semua tahu-tahu sudah beres.


Mendadak Wisnu berdiri dari duduknya. Yunia terheran dibuatnya. Tapi ternyata Wisnu hanya mau menolong Bik Sumi yang terlihat mendekat dengan tangan membawa keresek yang kelihatannya berat.


"Apa ini, Bik?" Tanya Wisnu sambil segera mendekat untuk mengambil alih keresek itu.


"Itu ayam.. " Jawab Bik Sumi.


"Loh, kata Yunia ayamnya diambil besok...?" Tanya Wisnu enggak paham.


"Iya... itu untuk lauk isi berkat... ini untuk makan orang-orang yang mbiodo sama sekalian untuk isi lemper... " Jawab Bik Sumi menjelaskan. "Udah, ayo kita cepat pulang.... orang-orang pasti sudah menunggu kita di rumah..." Lanjut Bik Sumi memerintah.


"Bibi enggak minum dulu...?" Tanya Yunia sambil berdiri setelah mendengar perintah bibinya itu.


"Enggaklah.... sudah kelamaan ini.... Bibi minta minum punyamu saja sedikit..." Sahut Bik Sumi. Tanpa bicara, Yunia memberikan gelas teh yang tadi dia minum, isinya memang masih banyak.

__ADS_1


"Ayo, Yun... kamu bayar, aku duluan ke mobil ya... Nanti kamu tunggu di gerbang depan aja.." Kata Wisnu kemudian. Yunia mengangguk. Setelah melihat Yunia mengangguk, Wisnu mendahului pergi ke mobil sambil membawa barang belanjaan yang tadi di bawa Bik Sumi. Sementara Yunia masih harus membayar makanan dan minuman yang tadi di nikmati Wisnu, saat dia menunggu mereka keliling pasar.


Ya... Dengan berbagai pertimbangan, Wisnu tadi disuruh Bik Sumi nunggu di warung kopi saja, daripada harus ikut muter-muter di dalam pasar. Wisnu sih seneng-seneng aja disuruh nunggu di warung kopi. Iya kalo belanja di supermarket enak, lah ini belanja di pasar tradisional....


Sesuai petunjuk, Yunia dan bibi menunggu Wisnu dengan mobilnya di depan gerbang pasar. Engga usah ditanya dimana mereka harus duduk. Sudah otomatis, Bik Sumi memilih duduk di belakang, dan Yunia akan duduk di samping Wisnu yang jadi sopir. Mobil berjalan pulang.


"Yun... uangnya masih cukup?" Tanya Wisnu pelan saat mereka sudah ditengah jalan menuju rumah. Dia melihat belanjaan mereka begitu banyak, jadi dia takut uang yang dia berikan kepada Yunia tadi pagi untuk biaya selamatan itu kurang.


"Masih banyak, mas..." Jawab Yunia.


"Oh, ya sudah.... nanti kalau kurang, ngomong ya..." Pinta Wisnu. Yunia mengangguk. Wisnu yang sedang menatap jalanan di depannya enggak lihat anggukan Yunia. Karena itu dia menoleh kearah Yunia saat tidak mendengar jawaban Yunia.


"Denger engga?" Tanya Wisnu. Yunia yang sudah mengalihkan perhatiannya keluar jendela jadi menoleh kembali kearah Wisnu.


"Denger apa?" Tanyanya bingung.


"Nanti kalau kurang...." Ujar Wisnu tanpa menyelesaikan ucapannya, tapi Yunia sudah paham maksudnya.


"Tapi mas kan enggak lihat kamu... mas lihat jalan di depan itu..."


"Iya... iya..." ucap Yunia setengah bersungut.


"Yunia... sama suami enggak boleh seperti itu..." Tegur Bik Sumi tiba-tiba dari arah belakang. Seketika Yunia meringis, menoleh kearah Bik Sumi. Sekilas Yunia juga melihat Wisnu mengulum senyum. Diam-diam Yunia meleletkan lidah ke arah Wisnu. Wisnu membuang pandangannya menahan tertawa.


Sampai di rumah, mereka segera sibuk menurunkan belanjaan. Ibu-ibu tetangga yang sudah datang untuk membantu segera mengeksekusi barang-barang belanjaan itu. Ada yang mengupas kentang, ada yang mengupas bawang merah dan bawang putih, ada juga yang merakit kertas kerdus untuk wadah makanan berkat nanti.


Yunia baru saja duduk untuk bergabung dengan kelompok yang merakit kerdus, saat Bik Sumi menghampiri dan ikut duduk di sampingnya.


"Yun, undangan tahlilnya sudah siap?" Tanya Bik Sumi sambil ikut mengambil kertas kardus itu dan mulai merakit.


"Ah, iya.... tinggal di print..." Jawab Yunia seakan diingatkan.

__ADS_1


"Sebaiknya segera di print, langsung di foto copy. Daftar undangan sudah ada kan?" Lanjut Bik Sumi. Yunia mengangguk.


"Ya udah, Yun ngurusin undangan dulu deh." Kata Yunia sambil kembali bangkit dari duduknya dan pergi ke kamar. Dia bermaksud mengambil flash disk di kamar. Saat sedang merogoh tas sekolahnya untuk mencari flash disk itu, Wisnu masuk.


"Yun... itu ada tamu di depan, tapi aku enggak kenal..." Kata Wisnu memberi tahu.


"Eh? Siapa ya?" Yunia bertanya.


"Engga tau, kamu temui dulu gih..." Perintah Wisnu.


"Iya, sebentar..." Jawab Yunia. Tangannya kembali mencari-cari di dalam tasnya. Setelah meraih apa yang dia cari, dia lalu melangkah untuk menemui tamu yang tadi dikatakan Wisnu. Wisnu sudah lebih dulu pergi untuk menemani tamu tersebut sambil menunggu Yunia datang.


Di ruang tamu, Yunia melihat seorang lelaki setengah baya tengah ngobrol dengan Wisnu. Yunia mencoba mengingat-ingat siapa lelaki itu, tapi data di memorinya enggak merespon.


"Maaf, bapak siapa ya?" Tanya Yunia akhirnya karena tidak berhasil mengingat siapa lelaki itu.


"Oh, nak Yunia... Saya Taslim. Saya buruh di keluarga nak Rico ... Saya disuruh mengantarkan ikan kemari atas permintaan nak Rico...." Ujar lelaki itu. Mendengar itu, tanpa sadar Yunia melongo. Rico mengantar ikan ke rumahnya?


"Itu, ikannya masih di mobil, mau diturunkan di mana...?" Tanya lelaki itu lagi.


"Eh?! Tunggu sebentar... saya tanya bibi saya dulu..." Jawab Yunia. Lalu, dia berpamitan ke belakang sebentar. Dia langsung mencari Bik Sumi. Tanpa bisa dicegah, Yunia mulai merasakan tanda bahaya berkedip-kedip di jantungnya. Bagaimana ini.... Apa yang harus dia lakukan? Yunia sudah terima kalau nanti bibinya itu mengomel. Tapi masalahnya, bagaimana dengan ikan-ikan itu...? Diterima atau enggak?


Kalau diterima.... Yunia merasa enggak enak dengan Rico. Yunia tahu, Rico mengirim ikan itu bukan tanpa maksud tertentu. Tapi kalau menolaknya... bisa jadi pertanyaan semua orang. KENAPA? Mana Wisnu dan ibunya ada di sini lagi.... Hadeuh.... musti gemana ini...?


🍃 🍃 🍃


________


asking for help...


Itu ikan sebaiknya diterima atau enggak sih? Author jadi bingung sendiri nerusin ceritanya... 🤦😂

__ADS_1


__ADS_2