Andai Cinta Bisa Memilih

Andai Cinta Bisa Memilih
Sampai di rumah


__ADS_3

Yunia melangkah turun dari mobil. Sesaat dia berdiri termangu di depan tangga masuk ke pintu utama rumah itu. Rumah yang besar sekali... itu kesan pertama yang terlintas di benaknya. Sama sekali jauh dari bayangan rumah Wisnu yang dahulu pernah ia kunjungi.


"Ayo masuk, Yun." Ajak Wisnu.


"Eh, perasaan dulu rumahnya enggak seperti ini deh..." Ujar Yunia pada Wisnu.


"Iya, yang kamu kunjungi dulu itu rumah pertama kami, waktu awal-awal kami pindah ke kota ini..." Ujar Wisnu menjelaskan. "Setelah beberapa tahun, kemudian kami pindah ke sini.." Lanjut Wisnu sambil merangkul pundak Yunia dan mengajaknya masuk, menyusul Ibu sudah lebih dulu masuk ke dalam rumah. Sementara pak Yono, setelah melihat majikannya masuk ke dalam rumah, dia melajukan mobilnya menuju garasi yang ada di samping kiri rumah.


Yunia mengedarkan pandangannya ke seputar ruangan yang dia lalui. Dari pintu masuk itu, dia melewati sebuah ruang tamu yang besar dan indah. Setelah melewatinya, mereka masuk ke sebuah ruang keluarga yang juga cukup besar.


Di sebelah kiri ruang keluarga, ada sebuah kamar, Yunia tidak tahu kamar apa itu, karena pintunya tertutup. Sedang di sebelah kanannya ada pintu kaca besar yang menunjukkan sebuah ruangan terbuka yang tembus ke garasi. Yunia tahu itu, karena Yunia melihat pak Yono masuk dari ruangan itu.


Wisnu, membawanya melewati ruang keluarga dan masuk ke ruang makan. Di sana Yunia melihat sebuah kamar lagi di sebelah kiri, itu pasti kamar tidur ayah dan ibu. Yunia tahu, karena dari kamar itu, muncul ayah dengan wajah kelihatan habis cuci muka.


"Sampai juga, kalian..." Sapa ayah.Yunia segera mendekat dan mencium punggung tangan lelaki yang kini menjadi pengganti bapaknya. Pak Winoto mengusap punggung Yunia sekilas.


"Monggo, teh hangatnya...." Ujar seorang wanita paruh baya muncul dari arah dapur yang letaknya bersebelahan dengan kamar ibu. Wanita itu meletakkan tiga gelas teh di atas meja makan, lalu menghampiri Yunia.


"Yun, kenalkan, ini Bik Iyam. Kalau perlu bantuan apa-apa, minta tolong saja sama Bik Iyam ini...." Kata Wisnu. Yunia menerima uluran tangan wanita itu.


"Jangan sungkan-sungan untuk nyuruh bibi ya, non...." Kata Bik Iyam. Yunia mengangguk sambil tersenyum.


"Tuan mau dibuatkan teh juga, atau kopi mungkin..." Tanya Bik Iyam pada pak Win. Pak Win segera menggeleng.


"Enggak usah, Yam. Aku mau tidur lagi setelah ini..." Tolak pak Win.


"Baik, tuan. Apa perlu saya siapkan makan malam...?"Tanya Bik Iyam lagi.

__ADS_1


"Enggak, usah, Yam. Kami tadi sudah makan di jalan. " Terdengar suara ibu menyahut. Ibu baru keluar dari kamar. Kelihatannya ibu sudah bersih-bersih dan berganti pakaian dengan pakaian rumah.


"Wisnu, minum teh mu, lalu ajak istrimu beristirahat. Dia pasti lelah sekali setelah seharian melakukan perjalanan jauh..." Ucap ibu lagi.


Yunia lalu menikmati teh hangat itu sebentar, Wisnu juga. Tapi Wisnu cuma menyeruput teh itu sedikit.


"Sudah?" Tanya Wisnu pada Yunia, saat melihat Yunia sudah meletakkan kembali gelas teh nya. Yunia mengangguk. "Ayo..." Ajaknya kemudian. Setelah itu dia mendahului melangkah menuju kamar mereka. Ibu yang semula duduk di kursi makan ikutan bangkit.


"Mau nengok Sabina, sebentar..." Katanya. Lalu mereka berjalan beriringan meninggalkan ruang makan.


Di depan ruang makan itu, bersebrangan dengan ruang keluarga, ada beberapa ruangan. Yang paling dekat dengan ruang makan adalah kamar Bayu. Wisnu yang memberi tahu.


"... Sudah tidur sepertinya, dia..." Ujar Wisnu saat melewati pintu kamar itu. Yunia cuma memperhatikan pintu kamar itu sebentar, setelah itu perhatiannya beralih ke ibu. beliau masuk ke kamar di sebelah kiri kamar Bayu.


"Kamar Ini sebenarnya di sediakan untuk mu... tapi karena kamu sekarang istriku, kamarmu pindah ke kamarku. Kamar ini dipakai untuk kamar Sabina..." Ujar Wisnu menjelaskan. Ada desir kehangatan yang agak aneh mendengar keterangan Wisnu itu.


"Bu, sudah pulang..." Sapa seorang wanita muda yang rupanya tidur di ruangan itu. Ibu hanya mengangguk. Wanita itu segera menyalami ibu.


"Dia enggak rewel, kan?" Tanya ibu.


"Enggak, Bu..." Sahut wanita itu. Ibu manggut-manggut mendengarnya.


"Yun... ini Alit, yang bertugas mengasuh Sabina..." Ibu memperkenalkan mereka. Wanita yang bernama Alit itu segera menghampiri Yunia dan menyalaminya. Yunia menerima salam itu dan mendekat ke tempat tidur Sabina.


Diperhatikannya wajah gadis kecil yang sekarang menjadi tanggung jawabnya. Wajahnya cantik sekaligus lucu. pipinya agak tembem membuat orang ingin mencubitnya karena gemas. Wajahnya mirip Wisnu, tapi kulitnya putih, dan rambutnya agak merah... ini pasti diwarisi dari ibunya.


"Ya, sudah... Kamu tidur lagi saja, ini masih terlalu pagi untuk bangun..." Kata ibu pada pengasuh itu. Alit mengangguk.

__ADS_1


"...Ayo Yun, sekarang kita tidur..." Ajak ibu. Yunia ikutan mengangguk lalu mengikuti ibu keluar kamar. Di pintu, Wisnu masih berdiri menunggunya. Ibu menepuk pundak Yunia sekilas dan tersenyum, lalu tanpa berkata apa-apa lagi, melangkah menuju kamarnya, meninggalkan Yunia dengan Wisnu.


"Ayo..." Ajak Wisnu. Yunia mengangguk lalu mengikuti Wisnu, masuk ke kamar di samping kamar Sabina.


Kamar Wisnu cukup besar. Tempat tidurnya yang seukuran king size berada lurus dengan pintu masuk, dengan kamar mandi di sudut ruangan, Di depan tempat tidur itu ada sederet lemari pakaian yang besar dan tinggi, sedang di sebelah tempat tidur, ada meja kerja dengan beberapa buku di atasnya.


Di sudut kanan, berbatasan langsung dengan deretan lemari tadi, ada Sofa set lengkap dengan TV lcd besar, Sofa itu menghadap ke jendela kaca lebar di samping pintu masuk.


"Ini kamar kita Yun... Kalau kamu mau, kamu boleh mengganti dekorasinya. Tapi jangan sekarang, aku udah ngantuk..." Ucap Wisnu setengah bercanda. Yunia tertawa kecil.


"Siapa juga yang mau berbenah tengah malam gini... "Sahut Yunia pelan setengah menggerutu. Wisnu ikutan tertawa mendengar jawaban Yunia.


"Aku mau mandi ... Kamu mau mandi juga, atau kita mandi barengan aja?" Tanya Wisnu sekaligus menggoda Yunia.


"Enggak, mas mandi duluan aja." Jawab Yunia cepat sambil nge-leos, menyembunyikan wajahnya yang pasti sudah memerah karena gurauan Wisnu. Wisnu tertawa melihat Yunia salah tingkah. Ingin dia terus menggoda istrinya itu, tapi karena keburu ingin buang air kecil, dia mengurungkan niatnya dan masuk ke kamar mandi.


"Barang-barang bawaan kita tadi masih di mobil, mas..." Terdengar suara Yunia mengalihkan pembicaraan.


" Enggak apa-apa, besok pagi pasti dibawakan pak Yono ke sini..." Sahut Wisnu.


Tak lama kemudian terdengar suara kecipak air, menandakan Wisnu sudah mulai mandi. Yunia menunggu sambil tiduran di kasur busa yang empuk itu. Ah, betapa nikmatnya, bisa tiduran sambil telentang dengan bebas di atas kasur, setelah hampir sehari semalam, dia tertidur dengan posisi duduk terus.


Saking nikmat dan ngantuk nya, akhirnya Yunia langsung tertidur pulas. Dia tidak tahu, saat Wisnu selesai mandi, dan memanggil namanya.


"Yah... tidur..." Ujar Wisnu, saat mendapati Yunia sudah pulas di atas kasur.


Semula Wisnu membangunkan Yunia untuk menyuruhnya gantian mandi, tapi saat dia tepuk-tepuk pipi Yunia, Yunia tidak juga bangun... akhirnya dia memilih menyusul Yunia pergi ke pulau kapuk.... πŸ˜‚

__ADS_1


πŸŒΌπŸŒΌπŸŒΌπŸ‘‰πŸ‘‰πŸ‘‰


__ADS_2