Andai Cinta Bisa Memilih

Andai Cinta Bisa Memilih
Ingin pacaran...


__ADS_3

"Sudah?" Tanya Wisnu, begitu Yunia kelihatan keluar dari pintu rental komputer. Yunia mengangguk. Dia baru saja selesai nge-print lembar undangan untuk acara tahlil besok malam. Ya ... Wisnu memang membawa laptopnya, tapi enggak sama printer nya. Jadi mereka harus ke rental komputer untuk print, setelah itu tinggal di foto copy.


"Langsung ke tempat foto copy ya, mas..." Ujar Yunia saat tiba di depan Wisnu. Wisnu yang sudah mau melangkah masuk ke dalam mobil menghentikan langkahnya.


"Tempat foto copy nya di mana?" Tanya Wisnu.


"Dekat perempatan sana, mas." Jawab Yunia.


Wisnu mengangguk mengerti lalu melanjutkan niatnya masuk ke dalam mobil. Yunia ikut masuk dan duduk di sebelahnya.


"Ini nanti disebarkan kapan? Kok enggak dari kemarin di buat lalu disebarkan..." Ujar Wisnu sambil melajukan mobilnya. Mereka sudah mulai meninggalkan rental komputer dan menuju tempat foto copy seperti yang ditunjukkan oleh Yunia.


"Belum sempat, mas... ini nanti, setelah difotocopy, tinggal ditulisi namanya... kalau mungkin nanti sore bisa disebar, kalau enggak ya ... paling besok pagi disebar..." Sahut Yunia.


"Apa enggak terlalu mepet waktunya?" Tanya Wisnu sambil menoleh ke arah Yunia sebentar.


"Enggak apa-apa.... biasanya orang-orang juga gitu kalau ngundang kenduri..." Jawab Yunia yakin. Mendengar itu Wisnu enggak ngomong apa-apa lagi.


Di tempat foto copy, Yunia turun untuk memfoto copy, dan meminta Wisnu untuk menunggu di mobil saja.


"Enggak lama kok..." Katanya. Wisnu sih oke-oke saja di suruh tunggu di mobil. Lagian enakan nunggu di mobil adem ada AC- nya. Di luar udara sudah mulai panas. Dan memang enggak butuh waktu lama untuk memfoto copy kertas undangan itu. enggak sampai tiga puluh menit sudah selesai.


"Ah, beres... tinggal ditulisi namanya, udah bisa disebar deh..." Kata Yunia sambil duduk kembali di sebelah Wisnu.


"Udah? Terus sekarang langsung pulang nih?" Tanya Wisnu memastikan. Sambil mulai menghidupkan mesin mobilnya.


"Diajak makan sop buah dulu juga mau, kok." Sahut Yunia sambil meringis. Ya, selama menunggu di tempat foto copy tadi, di tengah suhu udara yang dirasakan panas... Yunia sempat membayangkan enaknya makan sop buah yang segar dan nikmat.


"Sop buah? Beli dimana?" Tanya Wisnu.

__ADS_1


"Ikuti jalan ini lurus, nanti di sebelah kanan jalan ada mas..." Jawab Yunia.


"Oke... siap nyonya..." Sahut Wisnu bercanda dengan meniru gaya seorang sopir yang berbicara dengan juragannya.


"Kok nyonya?" Tanya Yunia.


"Lah, kan emang nyonya.... Nyonya Wisnu..." Jawab Wisnu. Aduh! Sesaat tadi Yunia lupa kalau orang disebelahnya ini adalah suaminya. Yunia langsung meringis.


"Kenapa?" Tanya Wisnu saat melihat ekspresi wajah Yunia.


"Enggak apa-apa..." Sahut Yunia, tapi pandangan Wisnu tetap terarah padanya, dari caranya memandang Yunia orang pasti tahu, kalau dia enggak percaya dengan "enggak apa-apa"-nya Yunia.. karena itu dia masih terus menatap dan menunggu Yunia melanjutkan ucapannya.


"... Pacaran aja belum pernah tau-tau udah nyonya..." Lanjut Yunia setengah bergumam pelan seperti berbicara pada dirinya sendiri, sambil membuang muka ke samping. Tapi ternyata masih bisa didengar oleh Wisnu.


"Emang kamu belum pernah pacaran?" Tanya Wisnu.


"Mau pacaran gemana? Ada cowok mau deketin aja aku udah di interogasi macem-macem sama bapak... terakhir bapak bilang... jangan pernah pacaran...." Jelas Yunia sambil mengenang bapak.


"Tapi aku pengen juga ngerasa punya pacar... Ada yang antar jemput sekolah... ada yang apel dimalam minggu... "


"Ya, kan nanti bisa pacaran sama aku... Mau diantar jemput sekolah? Gampang ... itu ada pak Yono..." Sahut Wisnu sambil mengulum senyum.


"Ah, mas Wisnu mah enggak asik... Yunia kan ngomongin pacar, bukan sopir..." Yunia merengut. Wisnu tertawa melihat ekspresi wajah istrinya.


"Dasar masih labil... " Kata hati Wisnu. Wisnu bisa membayangkan "definisi" pacaran yang dimaksud Yunia. paling-paling enggak jauh dari kencan dan jalan-jalan.... ya, seperti yang suka ditampilkan di layar televisi itu deh....


"Udah, jangan manyun... nanti kita pacaran, oke?" Kata Wisnu lagi berusaha menghibur. "Mau pacaran model ABG atau pacaran model dewasa...?" Tanya Wisnu tiba-tiba iseng sambil mengedipkan sebelah matanya. Senyumnya terkesan miring di mata Yunia.


"E eng... mas Wisnu sih... godain Yunia... " Rengek Yunia kesal bercampur malu. Dia lalu kembali membuang muka ke arah jendela, berusaha menutupi wajahnya yang sudah mulai memerah. Wisnu tertawa terkekeh.

__ADS_1


"Katanya mau pacaran... ya mas tanya, Yunia maunya pacaran model gemana...?" Kata Wisnu di sela tawanya.


"Yunia cuma pengen diapelin malem Minggu, terus jalan-jalan, makan-makan... nonton bioskop kalo mungkin, terus pulang... udah. Cuma itu...." Sahut Yunia dengan nada sedikit kesal. Wisnu masih saja tertawa mendengar perkataan Yunia. Perkataan Yunia itu memang sesuai dengan gambaran yang dia miliki tentang "definisi" pacaran yang dimaksud Yunia.


".... Udah jangan manyun terus... itu bukan kedai sop buah nya?" Tanya Wisnu mengalihkan perhatian Yunia, saat mereka melintasi sebuah kedai semi permanen di tepi jalan.


"Eh, iya... " Sahut Yunia. Seketika dia lupa tentang masalah pacaran yang mereka bahas beberapa detik yang lalu. 😂


Semula, Yunia maunya beli sop buah dibungkus, supaya bisa dimakan bareng-bareng dengan orang-orang di rumah, tapi Wisnu bilang... makan di tempat saja, supaya lebih nikmat, masih fresh. "..buat orang-orang di rumah, nanti kita bungkus..." Begitu katanya.


Karena itu, mereka menghabiskan waktu beberapa lama di kedai itu. Selesai menikmati sop buah, mereka masih harus menunggu pesanan untuk dibawa pulang pula...


"Beli berapa bungkus, Yun?" Tanya Wisnu.


"Sepuluh..." Jawab Yunia.


"Memangnya cukup, di rumah kan banyak orangnya..." Tanya Wisnu lagi.


"Enggak apa-apa... nanti bisa ditambah dengan buah-buahan yang ada di rumah... " Jawab Yunia. "Lagi pula... sudah banyak kue-kue lain di rumah..." Tambah Yunia memberi tahu Wisnu.


"Ya sudah... asal jangan sampai kekurangan aja..." Kata Wisnu setengah memperingatkan. Yunia mengangguk. Setelah menyelesaikan transaksinya, mereka pun pulang.,


Sampai di rumah...


"Yunia...!" Seru beberapa suara hampir bersamaan menyambut Yunia. Yunia melihat ketiga sahabatnya, Santi, Lesti dan Mawar sudah duduk di ruang tamu. Mereka semua masih pakai seragam sekolah, pasti mereka langsung ke rumahnya sepulang sekolah.


"Hei... Kalian udah di sini.? Assalamualaikum..." Sapa Yunia sambil mendekat dan memeluk ketiga sahabatnya penuh antusias. Kalau orang yang tidak tahu, dari cara mereka berpelukan pasti menyangka kalau mereka tidak bertemu sudah puluhan tahun saking hebohnya, padahal belum sampai dua puluh empat jam sejak mereka berpisah di depan gerbang sekolah kemarin.


"Kebetulan, kalian datang... ini bantuin nulis nama untuk undangan besok..." Ujar Yunia langsung tanpa ba-bi-bu lagi sambil mengeluarkan plastik berisi kertas fotocopy-an tadi.

__ADS_1


"Hah.... waalaikum salam..." Sahut teman-teman Yunia dengan gaya kesal, karena Yunia langsung menyuruh mereka bekerja, padahal mereka baru saja bertemu. Yunia hanya tertawa tidak perduli dengan akting teman-temannya. Ya, gaya kesal mereka memang cuma akting, karena Yunia tahu, mereka sengaja datang memang untuk membantu Yunia.


🍃 🍃 🍃


__ADS_2