
"Assalamualaikum..." Salam sebuah suara menarik Yunia dari kerinduannya pada bapak.
"Waalaikum salam..." Sahut Yunia sambil mengusap setetes air yang menggenang di sudut matanya. Yunia segera keluar dari kamar bapak untuk melihat siapa yang datang.
"Mbak Yun...!" Pekik Ulfa saat melihat Yunia.
"Hai Ulfa! mbak kangen..." Yunia ikutan memekik heboh. mereka berpelukan sambil berjingkrak-jingkrak seperti orang yang bertahun-tahun tidak bertemu.
"Apa kabar, mbak?" Tanya Ulfa setelah mereka melepaskan pelukannya.
"Alhamdulillah, baik... kamu sendiri?" Yunia balas bertanya.
"Alhamdulillah.... mbak, kok embak kelihatan lebih gemuk sih... ini pipi tambah gembil..." Ujar Ulfa sambil mencubit pipi Yunia gemes.
"Masa sih?" Yunia mengelak cubitan Ulfa dan melihat bayangannya pada kaca jendela. "Kayaknya sama aja... Ya, paling nambah dikit lah..." Sambung nya sambil tertawa. Sepertinya dia sendiri merasakan kalo pipinya tambah chubby sekarang...
"Eh, ada Ulfa..." Sapa Wisnu yang tau-tau muncul di ambang pintu.
"Mas .." Sapa Ulfa sambil berjalan menghampirinya Wisnu dan menyalaminya. "Oh, iya... Ul tadi bawain nasi sama lauknya..." Kata Ulfa teringat dengan tujuannya datang tadi. Dia meraih rantang yang tanpa Yunia sadari sudah ada di atas meja.
"Wah, makasih banget, Ul... kebeneran, mbak udah lapar..." Kata Yunia sambil menyambut rantang itu dan membawanya ke ruang tengah. Ulfa dan Wisnu mengikuti. Wisnu yang berdiri di samping Yunia malah ikutan melongok ke dalam rantang.
"Mas, mau makan sekarang?" Tanya Yunia setelah membuka susunan rantang itu.
"Wist... ayam diapain itu? Kayaknya enak. Ya, Yun, mas makan sekarang.... Makasih ya, Ul, tau aja ada orang yang kelaparan..." ucap Wisnu. Dia lalu duduk di kursi makan itu.
Ulfa tertawa kecil, sementara Yunia pergi mengambil piring dan sendok.
"Itu kan ibu yang suruh. Tadi pagi ibu sengaja masak lebih banyak, katanya mbak Yun mau pulang, Terus tadi ibu bilang mbak udah pulang dan Ul disuruh nganterin makanannya ke sini..." Cerita Ulfa.
"Bibi udah pergi sekarang?" Tanya Yunia sambil berjalan kembali ke meja makan dengan piring dan sendok di tangan.
"Udah... " Jawab Ulfa.
"Ayo ikut makan..." Ajak Wisnu pada Ulfa.
"Enggak, mas... Ulfa udah makan tadi." Jawab Ulfa. "Ya udah, Ulfa pulang dulu aja. Mbak Yun sama mas Wisnu silahkan makan dan istirahat, nanti sore aja Ulfa balik ke sini lagi..." Kata Ulfa.
"Kok pulang sih?" Ujar Yunia.
"Ya, biar mbak Yun bisa istirahat. Kalau Ul di sini nanti mbak Yun enggak bakal bisa istirahat dengan tenang, pasti bawaannya pengen ngoceh terus..." Kata Ulfa yang disambut tawa oleh Yunia dan Wisnu.
Akhirnya Ulfa pulang. Wisnu melanjutkan makan siang yang sedikit terlambat bersama Yunia.
__ADS_1
Usai makan, sambil duduk dilantai kamarnya, Yunia membongkar koper berisi oleh-oleh yang telah disiapkan oleh ibu. Yunia membagi-bagi oleh-oleh itu dalam beberapa bagian kecil, rencananya dia akan memberikan oleh-oleh itu pada para tetangga dekat nanti sore.
Usai membagi, Yunia bangkit dari lantai. menoleh ke arah kasur, dilihatnya Wisnu sudah terbaring tidur. Tanpa sadar Yunia menguap. Dia pun akhirnya menyusul tidur di samping Wisnu.
Hari sudah sore, ketika akhirnya Yunia terbangun. Dia mendengar suara orang berbincang-bincang. Dia pun bangkit dan berjalan keluar kamar.
"Bi..." Sapa Yunia saat melihat bik Sumi sedang di dapur, dan Wisnu sedang duduk di ruang tengah dengan secangkir kopi di sampingnya.
"Udah bangun kamu..." Kata bik Sumi.
"Iya, bik." Sahut Yunia. "Mau mandi tapi rasanya kok dingin banget ya..." Lanjut Yunia.
"Direbusin air, mau?" Tawar bik Sumi.
"Biar Yunia rebus sendiri aja, bik. Mas Wisnu udah mandi?" Yunia beralih menatap Wisnu.
"Udah dong..." Ujar Wisnu sambil tersenyum jumawa. Yunia meringis mendengarnya. Ya, ia memang melihat Wisnu sudah berganti pakaian dan wajahnya terlihat segar.
"Ya udah, Yunia rebus air dulu..." Kata Yunia. Lalu dia mengambil panci yang cukup besar dan memenuhinya dengan air kran. Saat itu dia langsung teringat dengan fasilitas kamar mereka di rumah Wisnu...
"Duh... ini kalo di rumah sana mau mandi air hangat tinggal putar kran langsung keluar air hangat ... di sini harus rebus air dulu..." Begitu pikirnya.
Sambil menunggu air panas, Yunia duduk dekat bik Sumi, mereka berbincang, mendiskusikan makanan apa yang akan mereka masak untuk acara tahlilan bapak nanti.
"Iya enggak apa-apa....mau pesan sama siapa?" Tanya bik Sumi.
"Pesan ke ibu... siapa itu namanya yang rumahnya dekat pertigaan...?" Usul Yunia.
"Oh, mbak Mala..." Sahut bik Sumi. "Wah, sepertinya mbak Mala sedang dibooking sama pak Rahmat yang punya hajat sekarang." Lanjut bik Sumi.
"Kenapa enggak pesan ke Tante Mia aja?" Usul Wisnu. Wisnu seketika ingat dengan wanita teman ibunya itu.
"Ya, bisa coba. Coba kamu hubungi, Tante Mia bisa bantu enggak." Sahut bik Sumi. Sementara Yunia mendengar nama Tante Mia seketika ingatan nya merembet ke teman sekolahnya. Rico, Siapa lagi. "Apa kabar dia ya?" Pikirnya.
"Wah, nomor telepon nya Tante Mia kok enggak ada di daftar kontak ku." Kata Wisnu, menarik perhatian Yunia yang sempat berkelana sesaat. Dilihatnya Wisnu sedang men-scroll layar ponselnya naik turun. " Ya sudah, lepas Maghrib nanti aku ke rumahnya aja lah..." Putus Wisnu.
"Enggak capek kamu?" Tanya bik Sumi.
"Enggak bik, kan tadi udah tidur siang." Sahut Wisnu. "Udah panas belum airnya, Yun. Ayo setelah selesai kamu mandi kita ke rumah Tante Mia." Ajak Wisnu.
"Sama Yun, juga?" Tanya Yunia.
"Ya iyalah... masa mas pergi sendiri...?" Sahut Wisnu seakan aneh mendengar pertanyaan Yunia. Yunia meringis.
__ADS_1
"Ya udah, Yun mandi dulu." Kata Yunia sambil bangkit dari duduknya dan pergi untuk mandi.
Pagi hari...
Adzan subuh sudah berkumandang di kejauhan, sementara alarm ponsel Yunia menjerit-jerit mengguncang gendang pendengaran. Yunia menggeliat bangun, tangannya terulur mengambil ponsel di atas meja kecil di samping tempat tidur untuk mematikan alarm-nya. Lengan Wisnu yang melingkar di atas perut Yunia terusik, membuat si pemilik juga meng-kerjapkan mata ikut terbangun.
"Sudah pagi, mas..." Kata Yunia.
"Hem..." Gumam Wisnu dengan malas. Dia merubah posisi, dari yang semula tidur miring menghadap Yunia, kini telentang menatap langit-langit kamar. Yunia bangkit duduk, masih berusaha mengumpulkan seluruh kesadarannya setelah berkelana ke alam mimpi.
Tiba-tiba, Yunia merasakan sesuatu yang tidak beres dengan perutnya. Secepat mungkin dia berusaha turun dari atas kasur dan setengah berlari keluar kamar. Wisnu yang setengah tertidur lagi menjadi kaget karenanya.
"Yun! Ada apa?" Tanyanya sambil seketika ikutan bangkit dari tidurnya. Bergegas mengikuti Yunia keluar kamar.
Samar-samar Wisnu mendengar suara Yunia di kamar mandi memanggilnya.
"Mas Wisnu...!"
Wisnu segera mendekat. Di kamar mandi, Wisnu melihat Yunia membungkuk di atas toilet, dan ... Hoek! Hoek! Dia muntah.
"Kamu kenapa, Yun?" Tanya Wisnu sambil mendekat dan mengurut pelan leher belakang Yunia. Yunia tidak menjawab. Dia sibuk memuntahkan isi perutnya. Perutnya benar-benar terasa mual. Bahkan sampai hanya cairan putih yang keluar dari mulutnya karena memang perutnya belum terisi di pagi hari ini.
"Tunggu sebentar, mas ambil air hangat..." Ujar Wisnu. Setelah memastikan Yunia tidak apa-apa, Wisnu bergegas ke dapur untuk mengambil air panas dari termos. Wisnu menuang air panas itu ke dalam cangkir dan mencampurnya dengan air dingin. Setelah dirasakan cukup hangat, dia bergegas kembali ke Yunia.
"Ini..." Katanya sambil memberikan cangkir air hangat itu. Yunia yang sudah bersandar di dinding kamar mandi menerima air hangat itu. Meminumnya sedikit lalu berkumur.
"Mas..." Panggil Yunia lirih karena tubuhnya benar-benar lemas sekarang.
"Ya, udah ngerasa enak-kan? Masih mual?" Tanya Wisnu berusaha mengendalikan kecemasan nya.
"Udah enggak mual, tapi badan Yunia lemes banget..." Sahut Yunia.
"Ayo, mas gendong ke kamar lagi..."Tawar Wisnu.
"Lah, Yunia kan mau shubuh-an..." Tolak Yunia.
"Ya, udah wudhu. Mas tunggu di sini. takut kamu nanti jatuh..." Kata Wisnu akhirnya. Yunia mengangguk. Dia lalu berwudhu sambil ditungguin oleh Wisnu. Wisnu juga mengikutinya kembali ke kamar, dia takut Yunia tiba-tiba terjatuh karena dilihatnya tubuh istrinya itu masih lemas akibat muntah-muntah.
"Setelah agak siang kita periksa ke dokter ya." Kata Wisnu sambil berjalan mengikuti Yunia. "Ke dokter siapa kamu biasa berobat, Yun?" Tanyanya.
"Orang-orang di sini kalau sakit biasanya pergi ke Bu Nur, dia seorang bidan desa..." Jawab Yunia.
"Oh, ya sudah. kita ke sana pagi ini..."Putus Wisnu. Yunia tidak menjawab.
__ADS_1
Setelah melihat Yunia memakai mukena dan bersiap untuk sholat, Wisnu segera kembali ke kamar mandi. Ya, dia sendiri juga harus segera bersiap untuk sholat. Tadinya dia ingin mengajak Yunia untuk sholat berjamaah, tapi melihat kondisi Yunia yang lemas, akhirnya Wisnu membiarkan Yunia sholat duluan supaya bisa segera kembali rebahan.