
Yunia duduk termangu di bangku taman yang ada di komplek perumahan. Pagi ini ceritanya Yunia menemani Alit mengajak Sabina bermain di taman komplek perumahan. Alit tadi permisi untuk ke toilet, jadi Yunia yang mengawasi Sabina yang duduk sambil bermain di atas tikar plastik yang sengaja mereka bawa dari rumah. Arah pandangan Yunia ada pada Sabina, tapi pikirannya melayang pada sikap Wisnu yang mendadak terasa dingin.
Yunia tidak tahu apa kesalahannya. Awalnya begitu manis. Wisnu menggandeng tangan Yunia untuk duduk dan menyaksikan interaksi Bastian dengan fansnya secara dekat. Tapi tiba-tiba Yunia mendapatkan tatapan dingin dari Wisnu. Belum sempat Yunia bertanya ada apa. Tiba-tiba ponsel Wisnu berdering. Yunia melihat sekilas ada kerutan di kening Wisnu, sebelum dia melangkah pergi, meninggalkan Yunia begitu saja.
Waktu itu Yunia mengikuti Wisnu dengan pandangannya. Karena dilihatnya Wisnu berbicara serius dengan orang yang menelpon, Yunia pikir pasti ada hal penting yang harus Wisnu kerjakan. Karena itu, Yunia lalu mengalihkan perhatiannya pada Bastian kembali.
Sampai acara meet and great itu berakhir, Wisnu tidak kembali ke kursinya. Bahkan, sampai lewat Maghrib, Wisnu terus berada di ruangannya. Ruangan yang berada di ujung tangga lantai dua itu...
Yunia memberanikan diri mengetuk pintu ruangan itu.
"Mas... sudah sore..." Ucap Yunia saat pintu ruang kerja Wisnu terbuka. Dilihatnya wajah Wisnu yang seperti orang yang sedang suntuk. Jadi Yunia enggak berani bertanya macam-macam.
"Hem... " Cuma sahutan Wisnu. Sesaat Yunia bingung. "HEM" itu maksudnya apa?
Dipandanginya Wisnu yang melangkah masuk kembali ke ruangannya. Yunia bingung lagi. Ini maunya gemana sih? Yunia baru mau melangkah mengikuti Wisnu masuk ke ruang itu, tapi Wisnu sudah keburu kembali keluar. Sepertinya dia hanya mengambil ponsel dan kunci dari ruang itu. karena sambil memasukkan ponsel ke saku celananya, Wisnu menutup pintu ruangan itu.
"Ayo..." Ajaknya.
Tanpa banyak bicara, Yunia mengikuti langkah Wisnu menuruni tangga lewat area kitchen langsung ke area parkir belakang. Teman-teman yang menyapanya hanya dibalas anggukan kecil oleh Yunia. Kalau Wisnu.... Jangan tanya, dia sama sekali tidak mengindahkan sapaan itu. Bukan sifat Wisnu untuk mengabaikan setiap sapaan yang dia terima, tapi sepertinya Wisnu yang ini memang sedang "hilang". Entah Wisnu mana yang merasuki tubuh tegap dan gagah itu.
Sepanjang jalan mereka diam seribu bahasa. Wisnu masih hanyut dalam pikirannya, sementara Yunia begitu takut untuk memulai pembicaraan. Sampai di rumah pun begitu. Mereka masih saling diam, hanya basa-basi pendek untuk menjawab pertanyaan orang rumah. Malah, setelah Yunia keluar kamar mandi setelah memberikan badan, dia sudah tidak melihat Wisnu di sekitarnya.
Dalam situasi seperti itu, Yunia sibuk bertanya-tanya sendiri. Apa kesalahan yang sudah dia lakukan? Baru kali ini Yunia merasa begitu sakit hatinya. Diacuhkan oleh orang yang menjadi tumpuan hidupnya, tanpa ada orang yang bisa dia ajak untuk berkeluh kesah. Sendiri.... Sepi ... Tanpa terasa setitik air mengalir di sudut matanya.
"Bibi.... aku ingin pulang...." Gumamnya lirih sambil menahan air mata yang seperti mendesak ingin keluar.
"Hei...!"
Tiba-tiba sebuah suara mengejutkannya. Refleks Yunia mengangkat muka melihat kearah asal suara.
Di dekatnya sekarang sudah berdiri seorang gadis yang sepertinya seusia dengannya sedang menatap kearahnya.
__ADS_1
"Aku?" Tanya Yunia sambil menunjuk ke hidungnya sendiri. Yunia ingin memastikan kalau gadis itu memang menyapanya tadi, karena Yunia sendiri tidak merasa mengenal gadis itu.
"Ya iyalah kamu. Siapa lagi? Yang duduk di sini kan cuma kamu..." Sahut gadis itu sambil tersenyum sok akrab. Yunia cuma bilang "O" tanpa suara.
"Kamu lagi mengasuh dia?" Tanya gadis itu sambil menunjuk ke arah Sabina.
"Iya...." Jawab Yunia ragu.
"Sudah berapa lama? Si Alit kemana?" Tanya gadis itu sambil duduk di samping Yunia, membuat Yunia bingung mendengarnya. Berapa lama apanya?
"Emmm itu, Alit sedang ke toilet..." Jawab Yunia.
"Oh.... ke toilet, kirain Si Alit udah enggak kerja lagi... Gemana? Enak kerja di sana?" Cerocos gadis itu dengan yakinnya.
"Kerja? Kerja di mana?" Yunia balik bertanya enggak mengerti.
"Ya di rumahnya pak Win lah... Kamu pengasuh barunya Sabina, kan?" Tuduh gadis itu dengan sok yakin.
"Ya iyalah pengasuh.... Mau ngaku jadi ibunya? Ngimpi....!" Kata gadis itu sambil tertawa lepas. Membuat Yunia yang mendengarkannya merasa miris.
"Kalo aku mau jadi ibunya gemana?" Tanya Yunia iseng.
"Hei! Lihat aja... mana ada orang yang percaya kalau Sabina itu anak kamu.... Secara, kulitnya segitu putihnya, rambutnya aja kemerahan... sekilas aja orang udah bisa menebak kalau orang tuanya pasti bule... enggak seperti kita... ha ha ha...." Ujar gadis itu sambil tertawa terbahak bahak... Rupanya, untuk gadis itu, bayangan Yunia menjadi ibunya Sabina itu memang kelihatan ganjil, hingga membuatnya begitu geli hingga bisa tertawa terbahak begitu.
Dalam hati Yunia jadi berpikir sendiri.... Bagaimana kalau kedepannya, orang selalu menganggapnya sebagai pengasuh Sabina dan bukan ibunya? Akankah hatinya sakit?
Perlahan, Yunia mendekat dan meraih Sabina dalam pelukannya.
"Ma ma ma..." Ucap Sabina sambil mengetuk-ngetuk mainan yang dia genggam ke lengan Yunia.
"Iya.... mama... Aku akan jadi mamamu..." Ujar Yunia pelan sambil merengkuh Sabina lebih erat dan mencium kepalanya...
__ADS_1
Terdengar suara tawa dari gadis yang duduk di dekat mereka.
"Ya, enggak apa-apa lah... ngarep jadi mommy nya gadis cilik ini.... bokap nya udah keren tajir lagi....." Celetuknya. Yunia yang kebingungan untuk merespon celetukan itu akhirnya memutuskan untuk mengikuti alur cerita gadis itu.
"He he he .... ya, enggak salah kan kalau ngarep di ambil jadi mommy nya Sabina, ya kan sayang... " Ucap Yunia sambil kembali menciumi Sabina. Sabina terkekeh geli. Begitu juga gadis itu....
"Eh, ngomong-ngomong nama kamu siapa?" Tanya gadis itu. "Aku Sumi..." Lanjutnya sambil mengulurkan tangan mengajak salaman.
"Aku Yunia..." Jawab Yunia sambil membalas uluran tangan gadis yang mengaku bernama Sumi.
"Kamu tinggal di mana?" Tanya Yunia pada Sumi.
"Enggak terlalu jauh dari rumah pak Win... " Jawab Sumi. Yunia tidak berminat untuk bertanya lebih detil, sebelah mana tidak terlalu jauh yang dimaksud Sumi.
"Kamu di sini lagi ngapain?" Tanya Yunia lagi.
"Lagi ngasuh juga. Itu anak asuhanku..." Jawab Sumi lagi sambil menunjuk sekumpulan anak yang sedang bermain panjat tali di area bermain taman. "Yang pakai baju coklat..." Lanjut Sumi lebih detil. Yunia memperhatikan anak-anak itu, dan memang di sana ada seorang anak laki-laki yang memakai baju coklat.
"Anaknya sehat ya..." Komentar Yunia saat melihat tubuh anak itu memang agak tambun. Sumi tertawa...
"Tentu saja.... satu hari enggak cukup enam kali minum susunya..." Katanya masih sambil tertawa.
Tiba-tiba, anak laki-laki yang sedang mereka perhatian terpeleset dan jatuh. Sumi langsung berlari mendekat tanpa repot-repot pamit pada Yunia. Yunia memperhatikan mereka masih sambil memeluk Sabina.
"Sabina rewel, non?" Tanya Alit tiba-tiba dari arah belakang Yunia. Refleks Yunia menoleh.
"Enggak.... Anak mama Yun pintar ya...." Ujar Yunia kembali fokus pada Sabina.
Ah, sudahlah... Mau Wisnu nyuekin Yunia separah apapun, yang pasti sekarang ada Sabina yang harus dia perhatikan. Urusan Wisnu yang jadi dingin padanya, nanti saja dia tanyakan ke orangnya langsung. Yunia menghela nafas panjang....
"Mas.... sebenarnya apa salahku?"
__ADS_1
🍃🍃🍃