Andai Cinta Bisa Memilih

Andai Cinta Bisa Memilih
Tak ada dilema, tapi sakit...


__ADS_3

Beberapa saat lamanya mereka berdua hanyut dalam pikirannya masing-masing. Kalau orang melihat dari posisi duduk mereka yang rapat dan tangan Wisnu yang masih melingkar di pinggang Yunia, orang pasti mengira kalau mereka adalah pasangan yang sedang kasmaran. Mereka tidak melihat saja, kalau wajah keduanya sendu.


"Yun... " Panggil Wisnu setelah beberapa saat mereka saling diam.


"Hem..." Gumam Yunia tanpa merubah posisi tubuhnya.


"Tetaplah di samping ku... berbahagialah denganku... " Pinta Wisnu juga tanpa merubah posisi.


Sesaat Yunia tercenung mendengar permintaan Wisnu. Perlahan dia bergerak sedikit menjauh dari tubuh Wisnu, berbalik dan menghadap ke arah Wisnu. Beberapa saat mereka saling tatap.


"Mas... mas jangan pernah tinggalin Yunia, ya..." Pinta Yunia, menjawab permintaan Wisnu. Wisnu tersenyum lalu merengkuh kembali tubuh mungil Yunia.


"Insya Allah... kita bahagia bersama, sayang..." Bisik Wisnu berjanji. Yunia langsung mengeratkan pelukannya. Wisnu menciumi puncak kepala Yunia penuh sayang.


Ya, Yunia mungkin tidak sepandai Adriana yang sudah meraih S3 dalam pendidikannya. Tapi dalam keterbatasan pendidikan itu, Yunia tahu arti dari tanggung jawab dan mau mencoba berkomitmen untuk menjalani tanggung jawab itu. Wisnu sangat berterima kasih untuk itu. Sambil memeluk Yunia yang menyandarkan kepala di bahunya, Wisnu menatap Sabina penuh haru...


"Sayang sekali, ibu kandungmu sama sekali tidak menginginkanmu sayang..." Bisik hati Wisnu sendu.


Ya, sebelum berpisah tadi, Wisnu sempat menanyakan kepada Adriana, adakah dia menyesal telah mengabaikan anak mereka. Apakah dia tidak tersentuh hatinya setelah dia melihat Sabina tumbuh dengan cantik dan lucunya? Jawabannya...


"... Aku senang, kamu mau mengurusnya..." Cuma itu jawaban Adriana dengan nada yang sangat ringan tanpa beban sama sekali. Diplomatis sekali bukan... ? Dia menemukan jawaban lain yang artinya sama dengan 'TIDAK' untuk pertanyaan Wisnu. Wisnu benar-benar merasa sesak mendengarnya.


Seandainya saja Adriana menunjukkan sedikit saja perhatian, kalau dia ingin hidup bersama Wisnu serta membesarkan Sabina bersama-sama, mungkin sekarang Wisnu akan berada dalam dilema yang sangat pelik. Entahlah... Jawaban Adriana itu sungguh teramat sakit untuk Wisnu, tapi sekaligus memantapkan hatinya untuk terus berada di samping Yunia... Gadis pilihan orang tuanya, sekaligus titipan bapak angkatnya. Yang akhirnya dia putuskan, untuk mendampinginya membesarkan Sabina, menggantikan Adriana, ibu dari anaknya...


Saat suasana sedang terasa melow itu, tiba-tiba ponsel Wisnu berdering. Segera Yunia merenggangkan tubuhnya dari Wisnu, karena Wisnu harus meraih ponsel yang dia taruh di saku celananya.


"Halo, Assalamualaikum..." Salam Wisnu saat menjawab telepon.


"......."


"Iya... Iya.... waalaikum salam..."

__ADS_1


Terlihat Wisnu menutup pembicaraan dan memasukkan ponselnya kembali ke saku celananya.


"Dari siapa, mas?" Tanya Yunia tanpa tendensi apa-apa. Karena selama ini dia memang jarang sekali bertanya siapa dan mau apa seseorang menelpon suaminya. Kalau Wisnu merasa Yunia perlu tahu, pasti akan Wisnu beri tahu tanpa Yunia harus bertanya.


"Ibu, beliau tanya kita ada dimana, katanya ini sudah waktunya Sabina mandi dan makan sore.." Jawab Wisnu.


"Ah, iya..." Ucap Yunia sambil menepuk keningnya sendiri, sadar kalau dia lupa akan jadwal Sabina. "Na, ayo pulang sudah dicariin sama Mbah uti..." Ujarnya kemudian sambil bangkit dari duduknya. Meraih Sabina dalam gendongannya.


"Ina mau digendong papa atau mama?" Tanya Yunia pada Sabina. Tapi Sabina mana bisa menjawab...


"Sini digendong papa aja..." Ucap Wisnu sambil meraih Sabina. Yunia membiarkan Wisnu menggendong Sabina, sementara dia sendiri mengemasi gendongan serta mainan Sabina dari atas rumput.


"Udah?" Tanya Wisnu sambil matanya beredar memperhatikan sekitarnya, memastikan tidak ada barang mereka yang tertinggal. "Yuk...!" Ajaknya setelah yakin tidak melihat barang yang tercecer. Yunia berjalan mengikuti Wisnu. Kini hatinya sudah lega. Wisnu berjanji tidak akan pernah meninggalkannya. Walaupun masih belum ada cinta, tapi yang pasti, jalan hidup Yunia sudah jelas. Dia tidak akan hidup sendiri. Akan ada lengan kokoh untuknya bersandar, dan juga senyuman seorang gadis mungil yang akan menghibur hari-harinya. Tidak cukupkah itu untuk membuat Yunia bersyukur?


πŸƒ πŸƒ πŸƒ


Jumat malam, sekitar pukul sembilan ...


Yunia duduk di ruang keluarga sendiri sambil menonton TV. Sebenarnya niat Yunia duduk di sana adalah menunggu kepulangan Wisnu. Sampai jam segitu, Wisnu dan Bayu belum juga pulang dari tempat kerja mereka. Yunia saja tadi pulangnya dijemput pak Yono.


Jam sembilan lewat, terdengar suara mobil melintasi pelataran rumah dan langsung menuju garasi. Yunia segera bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah pintu tembusan antara ruang keluarga dengan garansi untuk melihat siapa yang pulang, Bayu atau suaminya?


TIN!


Terdengar suara klakson berbunyi satu kali, rupanya yang baru datang melihat Yunia yang berdiri diambang pintu dan menyapanya. Yunia melambaikan tangannya dengan tersenyum riang. Rupanya Wisnu yang datang.


"Sedang apa di situ?" Tanya Wisnu setelah keluar dari mobil dan berjalan mendekat.


"Nunggu mas Wisnu..." Jawab Yunia jujur. Dia lalu meraih tangan kanan Wisnu dan mencium punggung tangannya. Wisnu membalasnya dengan mencium puncak kepala Yunia. Mereka lalu berjalan masuk ke dalam rumah.


"Kamu nunggu di sini, tadi?" Tanya Wisnu saat melihat TV di ruang keluarga menyala. Yunia mengangguk. "Dengan siapa?" Tanya Wisnu lagi, karena dia memang tidak melihat orang lain lagi di sekitar.

__ADS_1


"Tadi sih ada bik Iyam... pak Yono... tapi mereka katanya ngantuk, jadi mereka masuk kamar duluan..." Sahut Yunia


"Mas sudah makan malam belum? Biar Yunia siapin...?" Lanjut Yunia bertanya.


"Sudah, tadi mas sudah makan di kantor... Mas mandi dulu ya..." Sahut Wisnu.


"Mau Yunia bantu siapin air mandi nya?" Tanya Yunia agak ragu. Sebenarnya, biasanya dia tidak pernah bertanya untuk pekerjaan ini, begitu Wisnu pulang, Yunia akan langsung menyiapkan air mandi untuk Wisnu. Lalu kenapa sekarang Yunia musti bertanya dulu?


"Ada apa?" Tanya Wisnu.


"Emmm itu... Filmnya bagus ..." Jawab Yunia takut-takut sambil menunjuk ke TV. Maksudnya, dia sayang sekali meninggalkan film yang sedang diputar di TV. Wisnu melihat kearah TV sebentar, setelah itu dia menghela nafas panjang.


"Jadi ceritanya mas kalah nih sama acara TV...?" Ucap Wisnu pura-pura mengeluh. Mendengar perkataan suaminya, Yunia seketika merasa panik...


"Ih... enggak... ya udah, ayo Yunia siapin air mandi buat mas ..." Sahut Yunia buru-buru sambil bergegas melangkah ke arah kamar mereka. Wisnu tertawa ditahan, dia segera memanggil Yunia kembali.


"Yun...!"


Yunia menghentikan langkahnya dan berbalik badan menghadap Wisnu yang masih berdiri ditempatnya semula.


"Ya...?"


"Enggak apa-apa, kalau kamu mau nonton, mas bisa siapin sendiri kok air mandinya..." Ucap Wisnu memberi tahu.


"Enggak kok mas... ayo..." Sahut Yunia. Mendengar perkataan Yunia, Wisnu lalu berjalan ke arah Yunia, lalu menarik tangan Yunia pelan dan mendudukkan nya di kursi.


"Sudah... kamu duduk di sini... lanjutkan nonton filmnya. Setelah mandi nanti mas susul kesini lagi..." Kata Wisnu lembut.


"Mas enggak marah sama Yunia kan?" Tanya Yunia memastikan.


"Enggak... dah... mas mandi dulu..." Jawab Wisnu menenangkan Yunia dengan kembali mencium keningnya.

__ADS_1


"Terima kasih, mas..." Ujar Yunia sambil menatap punggung Wisnu yang berjalan ke kamar, sementara tangannya meraih bantalan kursi. memposisikan tubuh senyaman mungkin. Hatinya sudah tenang karena yang ditunggunya sudah datang. Dia sekarang bisa lebih fokus menikmati alur cerita film... πŸ˜…


πŸŒΈπŸŒΈπŸŒΈπŸ‘‰πŸ‘‰πŸ‘‰


__ADS_2