Andai Cinta Bisa Memilih

Andai Cinta Bisa Memilih
Calon Juragan Restoran


__ADS_3

Saat itu restoran tidak begitu ramai, Yunia sedang duduk di meja kasir sambil membuat beberapa catatan tentang cara menerima pembayaran dengan mengunakan credits card, dan Ester sang kasir pagi ini, sedang pergi ke kamar kecil, ketika interkom di meja kasir berbunyi.


"Kasir, selamat siang..." Sapa Yunia, langsung mengucapkan sapaan wajib yang harus dia ucapkan jika mengangkat telepon lokal.


"Siapa ini...?" Tanya suara seorang wanita dari entah dimana.


"Yunia, Bu..." Jawab Yunia.


"Yunia...? Ah, iya... Yunia, datang temui aku sekarang, ya..." Perintah wanita itu.


"Temui siapa? Dimana?" Tanya Yunia. Dia belum tahu siapa yang menelpon dan harus menemuinya di mana?


"Ah, iya aku lupa... Aku Ratna, kau temui aku di Gasebo empat, ya..." Ujar wanita yang mengaku bernama Ratna itu.


"Baik Bu ..." Sahut Yunia. Setelah itu Ratna memutuskan sambungan interkom itu. Tinggal Yunia yang bingung, Gasebo empat itu ada di mana?' Untung Ester keburu datang, jadi dia bisa bertanya...


"Kak Ester, Gasebo empat itu yang mana?" Tanya Yunia saat Ester sudah dekat ke arah nya.


"Gasebo empat? mau ngapain?" Ester balik bertanya.


"Aku disuruh menemui Bu Ratna di sana..." Sahut Yunia.


"Oh ... itu, kamu perhatikan. Urutan nomor Gasebo dimulai dari sebelah kanan setelan pintu itu..." Ujar Ester sambil menunjuk ke arah pintu tembusan menuju ruang restoran lain yang sebenarnya lebih sering dipakai untuk acara gathering, karenanya, walaupun sama-sama tempat makan, anak-anak crew restoran lebih sering menyebutnya ruang gathering.


"Oh... makasih kak Ester. Kalau gitu Yunia ke sana dulu ya..." Ujar Yunia setelah bisa menebak dimana Gasebo empat itu berada.


"He em..." Gumam Ester mengiyakan.


Yunia segera mengambil buku catatan kecil beserta bolpoinnya dan dia masukkan ke saku rok seragamnya, cuma berjaga-jaga, siapa tau nanti ada yang perlu dia catat.


Sampai di Gasebo yang dimaksud, Yunia celingukan. Di sana enggak ada orang.


"Di mana Bu Ratna?" Tanya Yunia dalam hati. Kepalanya celingukan mencari sosok yang mungkin sedang menunggu, hingga tatapannya terhenti pada seorang wanita yang sedang berjalan ke arahnya sambil memegang telpon di tangan kanan, dan sebuah tas jinjing di tangan kiri. Kelihatannya wanita itu sedang ngobrol asik dengan orang di seberang telepon, hingga dia berbicara sambil sesekali diselingi tawa berderai.


"Yunia?" Tanya wanita itu tanpa suara, saat dia sudah berdiri dekat dengan Yunia. Yunia mengangguk, menyadari kalau wanita itu masih mendengarkan suara orang di seberang telepon.


"...Oh... iya.... oke, oke... see you... waalaikum salam." Ucap Ratna akhirnya mengakhiri percakapan teleponnya.

__ADS_1


"Hai, Yunia... Senang bisa bertemu denganmu, akhirnya...." Ucap Ratna sambil menyelipkan ponselnya di saku celana panjangnya. Setelah itu, ia mengulurkan tangannya untuk menyalami Yunia. Yunia membalas uluran tangan itu agak canggung. "Senang bertemu denganku? Memangnya siapa orang ini? Kenapa kedatanganku seperti sudah dinantikan olehnya?" Pikir Yunia.


"Ayo duduk..." Ajak Ratna. Yunia mengangguk, lalu mengikuti Ratna masuk ke dalam Gasebo dan duduk di seberang kursi yang diduduki Ratna.


"Bagaimana kesan pertamamu berada di sini?" Tanya Ratna memulai pembicaraan, sambil meletakkan tas jinjing yang dia bawa. Dilihat dari bentuknya, sepertinya tas itu berisi laptop, Tapi Ratna tidak mengeluarkan isinya, jadi Yunia tidak tahu pasti, apakah tebakannya itu benar atau tidak.


"Senang, Bu. Suasana di sini begitu nyaman. Banyak pepohonan rindang membuat udara begitu sejuk..."


"Bagaimana dengan teman-teman barumu?" Tanya Ratna menyusul, saat Yunia agak kebingungan menguraikan pendapatnya.


"Sejauh ini teman-teman yang Yunia temui baik-baik, Bu. Mereka banyak membantu Yunia..." Jawab Yunia jujur.


"Baguslah... Begini Yunia. Sebelumnya, saya sebaiknya memperkenalkan diri lebih dulu... Mungkin Yunia lupa... kita pernah saling bicara sebelum ini...." Ucap Ratna, membuat Yunia mengerutkan dahi... "Bicara? kapan? Dimana?" pikir Yunia.


"... lewat telepon..." Ucap Ratna lagi memberi petunjuk. Sampai di sini bagaikan ada sebuah lampu menyala di kepala Yunia.


"Mbak Ratna...?" Tebak Yunia ragu. Tapi Ratna mengangguk mengiyakan.


"Oh, ini Mbak Ratna nya mas Bayu...?" Tanya Yunia memastikan dengan nada penuh antusias. Ratna tertawa sambil kembali mengangguk.


"Ih, Alhamdulillah... tadinya Yunia agak-agak takut gitu berada di sini sendiri, enggak ada yang kenal sama sekali... Untung sekarang ada mbak Ratna... Eh... sebentar.... yang dimaksud GM nya bernama Bu Ratna itu... Mbak Ratna, bukan?" Cerocos Yunia tanpa sadar. Ratna kembali mengangguk dan tertawa.


"Ralat... bukan sebuah, tapi tujuh restoran..." Ucap Ratna memperbaiki komentar Yunia. Mendengar kata tujuh, mata Yunia seketika membulat lebar.


"Wih...! Keren banget...!" Seru Yunia tambah kagum.


"Kamu mau jadi GM seperti aku?" Tanya Ratna.


"Mau... Tapi apa Yunia bisa, ya?" Sahut Yunia ragu.


"Belajarlah dengan baik. Suatu hari pasti kamu akan memimpin restoran ini..." Ucap Ratna meyakinkan Yunia.


"Ya... mudah-mudahan Yunia nanti bisa punya restoran sebagus ini..." Ucap Yunia penuh harap.


"Kalau cuma punya sih gampang, Yun... yang penting kamu harus bisa memimpin, supaya restoran yang kamu dirikan bisa bertahan lama, ditengah persaingan bisnis yang semakin lama semakin ketat..." Nasehat Ratna. Yunia mengangguk paham.


"Nah, sejauh ini... apakah kamu keberatan aku tempatkan kamu sebagai kasir?" Tanya Ratna.

__ADS_1


"Enggak, mbak... enggak masalah kok..." Jawab Yunia.


"Syukurlah... tadinya aku was-was, takut dimarahi mas Wisnu, karena menempatkan kamu di kasir..." Ujar Ratna mulai menjelaskan maksudnya.


"... Aku tempatkan kamu di sana, supaya kamu belajar, sesuai dengan pendidikan yang kamu terima sekarang. Rencananya, jika kamu sudah bisa dan paham, kamu secara bertahap akan pindah ke bagian akuntansi lainnya. Semoga saja, sambil jalan, bersamaan dengan tingkat pendidikan kamu ... eh, kamu mau kuliah kan?" Ratna bertanya.


"Insya Allah, jika mas Wisnu mengizinkan, Yunia mau kuliah..." Jawab Yunia.


"Bagus... Nanti sambil belajar ilmu akuntansi di bangku universitas, kamu juga bisa sekalian praktek di restoran ini..." Lanjut Ratna.


"Wah, jadi... aku bakal lama PKL di sini, emang boleh?" Celetuk Yunia. Ratna kembali tertawa.


"Tentu saja... Aku tidak bisa selamanya menangani semua restoran itu sendiri, aku perlu kamu untuk membantu..." Ujarnya.


"Kenapa aku...?" Tanya Yunia.


"Ya, kalau enggak kamu siapa lagi? Mas Wisnu dan mas Bayu sudah mempunyai banyak sekali pekerjaan yang harus mereka urus..."


"Lah?! Apa hubungannya mas Wisnu dan mas Bayu dengan restoran ini...?" Celetuk Yunia enggak paham.


"Loh... ya, banyak sekali hubungannya... Mereka kan owner restoran ini..." Sahut Ratna yang seketika membuat Yunia melongo.


OWNER?


Ya ampun! Pantas saja mas Wisnu kenal dengan para karyawan di sini... orang dia owner nya...!


"Karena itu juga, aku enggak akan membuka hubunganmu dengan mas Wisnu untuk sementara. Supaya orang-orang tidak menjadi canggung denganmu dan Yunia juga bisa berinteraksi dengan mereka, tanpa ada embel-embel istri owner di keningmu. Bagaimana, Yunia keberatan soal ini?" Tanya Ratna. Yunia langsung menggeleng.


"Enggak, mbak... Yunia enggak masalah..." Katanya menegaskan.


"Baiklah, kalau begitu. Sekarang, Yunia boleh kembali ketempat Yunia. Ingat, kalau ada apa-apa, jangan sungkan untuk menghubungi aku..." Ujar Ratna menutup pembicaraan mereka.


"Siap, mbak... kalau gitu, Yunia pamit dulu ya, mbak..." Ujar Yunia. Ratna mengangguk.


Yunia lalu bangkit dari duduknya, dan beranjak pergi meninggalkan Gasebo itu.


Wih...! Ternyata restoran sebesar ini punya suaminya, ada tujuh lagi, tadi kata mbak Ratna... Wow, keren amat ya...? Tapi sekarang dia harus kembali ke meja kasir, dan belajar dari bawah... Ah, enggak apa-apa... Yang penting suatu saat nanti, dia bisa jadi juragan restoran yang hebat... 😂😂😂

__ADS_1


🌼 🌼 🌼


__ADS_2