
Cuma Pemberi Tahuan...
Cerita "Andai Cinta bisa memilih" ini mau dibikin tamat. Kalau pun ada lanjutannya cuma dibikin dalam bagian ekstra episode. Si author ini kepingin melanjutkan menulis dan memperbaiki novel lainnya yang sempat terbengkalai (bahkan sampai kehilangan arah gara-gara kelamaan enggak ditengok.) 🤦🤗
So buat temen-temen yang sudah setia membaca cerita ACBM... tolong nanti singgah juga di cerita lain author ya... Terima kasih untuk dukungannya selama ini... 😘😘😘
Rencananya ini cerita yang bakal author perbaiki lebih dulu. Sepertinya bakalan banyak revisi nih... 😅😅😅.
...* * * * * * * * *...
"Kamu kenapa, Yun?" Tanya bik Sumi saat melihat ekspresi wajah Yunia yang seperti lega sekali setelah memegang buku nikah itu.
"Yunia takut diejek temannya karena dia hamil, bik..." Wisnu yang menjawab.
"Heh?!" Seru bik Sumi terdengar gusar. "Orang hamil kok takut diejek... Kamu hamil itu kan dengan suami kamu... itu jadi ladang ibadah buat kamu... kok malah takut..." Ujar bik Sumi menasehati.
"Tapi kan orang enggak tahu kalau Yunia sudah menikah, bik... Yang ada orang bakal berpikir kalau Yunia ini anak nakal, karena masih sekolah kok hamil..." Yunia beralasan.
"Siapa yang berani ngejek kamu...? Sini bibi hadapi..." Sahut bik Sumi sedikit berapi. Tentu saja dia tidak terima, anak asuhannya diejek untuk sesuatu yang bukan merupakan suatu kesalahan.
"Udah... kamu enggak usah takut, enggak usah cemas... Bibi sudah mengantisipasi kemungkinan ini sebelumnya..." Lanjut bik Sumi.
"Maksudnya?" Tanya Yunia kurang mengerti.
"Gini... Masalah pernikahan kamu itu memang sempat jadi bahan pembicaraan orang beberapa waktu lalu... Kamu tahu sendiri, di daerah kita ini, berita apa yang tidak menjadi gosip seluruh warga... dari mulut yang satu menjalar ke mulut yang lain, ceritanya malah jadi berkembang enggak karuan ... " Cerita bik Sumi, sesaat beliau berhenti untuk mengambil nafas, sekaligus melegakan perasaannya yang sempat terpancing emosi karena ingat kejadian yang kurang menyenangkan itu.
"... Akhirnya, sampai juga cerita itu ke sekolahmu. Wali kelas mu menelpon bibi untuk minta klarifikasi. Karena itu, bibi datang ke sekolah, sekaligus juga menunjukkan buku nikah itu, pada mereka. Ya, daripada menjadi bahan gosip yang enggak benar, bibi lalu berusaha menjelaskan keadaan yang sebenarnya ke sekolah. Jadi sebenarnya, pihak sekolah kamu sudah tahu soal status kamu ini."
"HAH?!" Seru Yunia terkejut. Dia sudah menduga kalau warga sekitar tahu tentang pernikahannya ini, tapi dia benar-benar enggak menyangka kalau pihak sekolah juga sudah tahu soal ini.
"Iya... Bibi sudah menghadap wali kelas dan kepala sekolah kamu. sudah menjelaskan alasan terjadinya pernikahan ini... "
"Terus... mereka bilang apa, bik?" Tanya Yunia penasaran dengan reaksi para guru itu.
"Ya, sebenarnya mereka agak menyayangkan pernikahan muda ini. Tapi mengetahui kondisi kamu, juga mengingat, kalau cuma beberapa bulan lagi kamu bakal lulus, akhirnya mereka memahami dan memberi toleransi..." Jelas bibi.
"Alhamdulillah..." Gumam Yunia lega.
"Alhamdulillah..." Bik Sumi dan Wisnu ikut bersyukur.
"Sudah, sekarang enggak perlu cemas apalagi takut. Rawat kandungan kamu dengan baik. Niatkan untuk ibadah. Enggak usah mikirin yang macam-macam..." Ucap bik Sumi.
__ADS_1
"Terima kasih, bik..." Ujar Yunia sambil memeluk bik Sumi. Bik Sumi membalas pelukan Yunia.
"Iya sama-sama..." Sahut bik Sumi terharu. Tanpa sepengetahuan Yunia, bik Sumi mengusap setitik air yang menggenang di sudut matanya. "Mbak... anak e pean wes Gedhe...Wes kate dadhi ibu..." (\=mbak... anakmu sudah besar... Sudah mau jadi ibu) Bisik hati bik Sumi terkenang pada ibu kandung Yunia, yang merupakan kakak kandungnya.
"Wes... Kamu kalau masih pusing-pusing istirahat saja dulu... bibi mau melanjutkan pekerjaan di dapur..." Ucap bik Sumi sambil melepaskan pelukannya. Dia tidak ingin terhanyut dalam kenangannya.
"Enggak kok, Yunia enggak pusing. Cuma agak mual. Ini Yunia mau minum vitamin yang tadi dikasih Bu Nur, setelah itu Yunia bakal bantuin bibi..." Sahut Yunia. Bik Sumi mengangguk, lalu beliau beranjak pergi dari kamar Yunia.
Kini tinggal Yunia dan Wisnu di dalam kamar. Sesaat mereka saling tatap.
"Gemana...? Udah enggak cemas lagi kan?" Tanya Wisnu. Yunia menggeleng dan tersenyum.
"Bagus... Kalau ada apa-apa itu ngomong, jangan disimpan sendiri. Orang mana tahu apa yang kamu pikirkan..." Sambung Wisnu. Kali ini Yunia mengangguk. Lalu dia menghambur ke pelukan Wisnu.
"Terima kasih, mas..." Ucapnya lirih hampir menangis karena haru. "Terima kasih karena telah menikahi ku." Lanjutnya dalam hati.
Ya, sekarang Yunia bersyukur, karena dia sudah menikah dengan Wisnu, lelaki yang semula merupakan kakak angkatnya itu, telah begitu sabar menjaganya, menyayanginya dan mengajarinya untuk menerima kenyataan hidup serta tanggung jawab yang menyertainya. Tidak bisa dibayangkan, seandainya bapak dulu meninggal tanpa sempat memberinya tempat bergantung, bagaimana jadinya dia.
Kini, dengan Wisnu sebagai suami... Dia akan menjaga serta memenuhi semua kebutuhan Yunia lahir batin, tanpa ada rasa canggung serta malu karena rasa hutang budi.
Yunia menatap wajah Wisnu penuh makna. Banyak hal ingin dia sampaikan, tapi hanya kata terima kasih itu yang bisa keluar dari mulutnya. Kini, Yunia memasrahkan hidup dan masa depannya mutlak di tangan Wisnu.
"Mas juga terima kasih, ya sayang... karena Yunia sudah bersedia menerima dan merawat anak kita di sini..." Sahut Wisnu sambil mengusap perut Yunia, dan mencium pipinya lembut.
Ya, siapa yang tidak ingin menikah dengan orang yang dicintai? Tapi bila orang yang dicintai itu tidak bisa berkomitmen dengan harapan kita, lalu untuk apa dilanjutkan? Bukankah hal itu malah akan menjadi masalah yang akan menyakiti kita pada akhirnya?
Jika suatu perbuatan diawali dengan niat baik, lalu langkah tetap dijaga sesuai dengan logika dan agama, insya Allah, jika suatu saat terjadi masalah, kita sudah punya pedoman untuk menyelesaikannya.
GET REAL !!!
Jangan bilang kamu tidak akan bisa hidup tanpa cinta. Tapi yakinlah kamu akan tetap bertahan hidup dengan mencintai. Jika saat ini kamu hidup dengan pasangan yang tidak kau cintai, berusaha dan berdoalah agar kau bisa mencintainya. Jangan lupa berdoa dan berusaha juga, supaya pasangan kamu juga mencintaimu.
Ingat, Cinta tidak bisa memilih, kemana akan jatuh... Tapi jika kita GEDEBUK IN LOP... usahakan jatuhkan cintamu pada tempat yang aman. Pada suami/istri-mu. Kamu bilang, Kekasihmu mungkin memang mencintaimu, tapi dia tidak bisa dikatakan mencintaimu jika dia tidak menikahi mu. Karena dengan menikah, itu berarti dia siap mendampingi mu dalam keadaan apapun seumur hidup... dunia dan akhirat.
Yunia kegelian hingga menggelinjang sambil tertawa.
"Geli, mas..." Katanya sambil berusaha sedikit menjauh.
"Geli atau geli...?" Tanya Wisnu sambil tersenyum mencurigakan. usapannya kini berubah seperti gerakan gerilya di tubuh Yunia. Yunia terkekeh melihat ekspresi wajah Wisnu. Dia sudah mulai bisa menebak apa yang sedang dipikirkan Wisnu saat ini...
"Enggak..." Kata Yunia.
"Enggak apa?" Tanya Wisnu pura-pura enggak ngerti.
__ADS_1
"Ya enggak...." Sahut Yunia ambigu.
"Enggak apanya?" Wisnu masih pura-pura enggak ngerti.
"Heleh..." Ujar Yunia bingung sendiri mau menjawabnya. "Dah ah... Yunia mau bantu-bantu dulu..." Katanya sambil melepaskan pelukan Wisnu.
"Ya.... Yun... kok gitu sih..." Ucap Wisnu dengan ekspresi memelas pura-pura enggak terima. Tapi dengan teganya Yunia melangkah meninggalkan Wisnu dengan cengiran jail di bibirnya.
🌸 🌼 🌸
lagu Wisnu untuk Yunia...
(Silahkan dengarkan di audio masing-masing...)
UNINTENDED
You could be my unintended
Choice to live my life extended
You could be the one I'll always love
You could be the one who listens
To my deepest inquisitions
You could be the one I'll always love
I'll be there as soon as I can
But I'm busy mending broken
Pieces of the life I had before
First there was the one who challenged
All my dreams and all my balance
She could never be as good as you
. . . . . . .
...🍃 🍃 🍃...
__ADS_1