Andai Cinta Bisa Memilih

Andai Cinta Bisa Memilih
Kedipan mata


__ADS_3

Yunia bergegas melangkah ke meja kasir, diserahkannya Bundelan bon itu pada Ester.


"Kak Ester, ini bon nya...." Kata Yunia. Meletakkan bon itu di atas meja lalu bersiap mau melangkah lagi.


" Kamu mau kemana Yun?" Tanya Ester yang melihat Yunia seperti terburu-buru.


"Mau ke kitchen, itu tamu di atas udah enggak sabar nungguin pesanannya." Sahut Yunia.


"Memang siapa yang handle, kok jadi kamu yang repot?" Tanya Ester lagi.


"Enggak tahu..." Jawab Yunia sambil menggedikkan bahunya. Setelah itu tanpa menunggu tanggapan Ester, Yunia segera pergi ke dapur.


Di dapur terasa sekali hiruk pikuknya para crew kitchen dalam mengolah makanan. Ya, walaupun acara meet and great itu akan di selenggarakan jam empat, tapi para fans itu sudah mulai berdatangan sejak jam dua siang tadi. Jadi para crew kitchen sudah mulai sibuk menyediakan set menu pilihan para tamu undangan itu.


"Hai Yunia...."


"Halo cantik..."


"Ada perlu apa sayang..."


Sapaan itu silih berganti menyambutnya. Ya, sejak Yunia bergabung di restoran itu, sapaan seperti itu memang sering dia dapatkan. Yunia cuma bisa meringis menerima sapaan itu. Ingin hatinya menolak sapaan model itu. Tapi Yunia sendiri tahu, kalau mereka itu hanya bercanda. Biasalah, mulut lenjeh laki-laki.... Entah bagaimana reaksi mereka kalau mereka tahu, kalau yang mereka sapa dengan cara demikian itu adalah istri bos mereka.... πŸ˜‚ Untung saja sampai saat ini, Wisnu belum tahu bagaimana cara anak buahnya menyapa istrinya itu.


"Mas... itu pesanan soup Zuppa untuk tamu di lantai dua sudah selesai? Orangnya sudah marah-marah, tuh..." Tanya Yunia pada salah satu cook Helper yang kebetulan berada di dekatnya.


"Soup Zuppa? ... Pak Tio ...! Soup Zuppa nya siap?" Cook Helper itu malah berteriak pada pak Tio, koki khusus masakan western.


"Siap... nih! Orderan siapa ini?" Tanya pak Tio sambil meletakkan masakan yang rupanya baru matang di atas meja.


"Orderan si Pepi... kemana orangnya?" Tanya cook Helper yang Yunia tahu bernama Didin itu, setelah melihat nota kecil yang tergantung di rak tempat nampan. Di tepi rak itu bergantungan beberapa nota pesanan pelanggan yang masih menunggu untuk disiapkan oleh para koki.


"Boleh saya saja yang mengantarkan? Orangnya sudah marah-marah tuh..." Ujar Yunia menawarkan.


"Ya, bolehlah... nanti kamu konfirmasi sama Pepi ya..." Kata pak Tio. Yunia mengangguk. setelah itu dia segera mengambil nampan dan membawa soup beserta main course pesanan lainnya itu pada sang pemesan.


Beberapa menit kemudian...


"Permisi... Mbak... ini pesanannya mbak.... " Kata Yunia sambil meletakkan makanan yang dibawanya di atas meja.


"Hadeuh.... lama banget sih...." Gerutu si perempuan, sama sekali tidak berniat untuk menyembunyikan rasa BeTe- nya. Berlainan dengan yang laki-laki.


"Wah, makasih ya... eh, siapa nama kamu?" Kata Bastian ramah. Yunia memilih untuk "sedikit mengabaikan" kekesalan perempuan itu.


"Saya Yunia, mas.. eh...kak." Rupanya Yunia masih bingung untuk memberi nama panggilan pada selebriti itu.


"Udah, panggil mas juga enggak apa-apa..." Kata Bastian sambil tertawa kecil, sementara tangannya mulai meraih pisau dan garpu, dan bersiap menikmati Cordon blue-nya. Rupanya dia merasa lucu melihat kebingungan di wajah Yunia. Selama ini orang selalu memanggil namanya begitu saja tanpa bingung untuk memberi embel-embel penghormatan seperti Yunia.


"Eh, iya mas, mbak... ada lagi yang bisa saya bantu?" Tanya Yunia.

__ADS_1


"Untuk sementara cukup..." Jawab Bastian.


"Em... menu desert nya akan segera diantarkan. Kalau mas dan mbak perlu bantuan, silahkan tekan bel di sudut itu..., selamat menikmati hidangan kami, saya permisi ..." Ujar Yunia menutup pembicaraan dan segera undur diri, sebelum perempuan itu mulai berkomentar lagi.


"Ya ya ya.... " Sahut si perempuan dengan nada bosan. Berbeda dengan sahutan Bastian...


"Ya, terima kasih, Yunia..." Katanya disertai senyuman ramah.


Yunia tersenyum gembira. Seorang selebritis sekelas Bastian berhasil mengingat namanya, bahkan menyebutkannya dengan nada yang manis sekali... Ingin rasanya Yunia melompat-lompat karena gembira.... πŸ˜…


Beberapa waktu kemudian....


Jam empat sore lebih sedikit, acara meet and great itu dimulai. Yunia, yang walaupun jam kerjanya sudah selesai, dia tetap stay di meja kasir. Dia tadi sempat mandi dan berganti dengan pakaian yang kelihatan lebih santai dari seragam hitam putih nya. Karena dia bukan tamu undangan, jadi enggak mungkin dia ambil kursi dan duduk bersama para tamu. Karena itu, dia lebih memilih duduk di meja kasir. Sekalian menemani Rina, kasir yang bertugas sore itu. Ester yang jam kerjanya sudah habis pun tidak segera pulang seperti biasanya, dia bersama Yunia masih betah duduk di meja kasir sambil melihat interaksi para bintang tamu itu dengan para fans nya.


"Yun..." Panggil seseorang mengalihkan perhatian Yunia dari para bintang dan fansnya yang sedang memainkan sebuah game. Yunia menoleh, ternyata yang memanggilnya adalah Wisnu. Tanpa dia sadari Wisnu ternyata sudah berdiri di dekat meja kasir yang berbentuk seperempat lingkaran itu.


"Eh, mas..." Sambut Yunia. Secara refleks Yunia segera mendekat dan mencium punggung tangan kanan Wisnu. Wisnu membalas dengan mencium puncak kepala Yunia.


"Kenapa masih di sini?" Tanya Wisnu saat menyadari kalau Yunia masih duduk di kursi kasir.


"Ya, Yunia kan udah bilang, kalau Yun mau lihat acara itu..." Kata Yunia sambil menunjuk para selebriti itu dengan dagunya.


"Iya, tapi kenapa malah duduk di sini? Kenapa engkau duduk bergabung di sana?" Tanya Wisnu lagi.


"Ya... itu kan tempat untuk para undangan... Yunia kan enggak punya undangannya..."


Yunia melihat Wisnu melambai singkat ke arah panggung kecil itu. dan terlihat Bastian membalas lambaian itu. Eh... "Apa mereka saling mengenal?" Pikir Yunia.


Kau bunga di tamanku


Di lubuk hati ini


Mekar dan kian mewangi


Melati pujaan hati


Bersemilah sepanjang hari


Mewarnai hidupku


Agar dapat kusadari


Artimu bagiku


Kau melati putih dan bersih


Kau tumbuh di antara belukar berduri

__ADS_1


Seakan tak peduli lagi


Meski dalam hidupmu kau hanya memberi


Kau tebar harum sebagai tanda


Cinta yang telah kau hayati


Di sepanjang waktu


O-o-o-o-oh ...


.....


Bastian menyanyikan lagu soundtrack film terbaru-nya itu dengan cukup manis. Para fans-nya dibuat meleleh dengan suara merdu dan caranya bernyanyi. Sesekali dia membalas lambaian tangan para fans dengan lugasnya, membuat sang fans berteriak setengah histeris, merasa bangga, karena lambaian tangannya dibalas oleh seorang Bastian... (πŸ€”πŸ˜‚)


.....


Kau melati putih dan bersih


Kau tumbuh di antara belukar berduri


Seakan tak peduli lagi


Meski dalam hidupmu kau hanya memberi


Kau tebar harum sebagai tanda


Cinta yang telah kau hayati


Di sepanjang waktu


O-o-o-o-oh ...


Mekar dan kian mewangi


Melati pujaan hati


Bersemilah sepanjang hari


Mewarnai hidupku


Agar dapat kusadari


Artimu… bagiku..


Sambil menyanyikan bait itu, perlahan Bastian melangkah mendekati meja tempat Wisnu dan Yunia duduk. Yunia tersenyum setengah ge er saat Bastian berdiri di depan mereka. Dia separuh terkesima oleh karisma sang bintang, hingga tiba-tiba, matanya melihat Bastian mengedipkan sebelah matanya menggoda. Jantungnya seperti berdenyut. Refleks dia menoleh ke kiri ke kanan... mencari tahu, pada siapa Bastian barusan memberikan kedipan matanya. Hingga matanya bertemu dengan mata milik Wisnu. Senyum di bibirnya seketika memudar, menyusul kebekuan yang dia terima dari pandangan mata Wisnu yang terasa dingin menusuk.

__ADS_1


πŸŒΌπŸŒΌπŸŒΌπŸ‘‰πŸ‘‰πŸ‘‰


__ADS_2