
Hai assalamualaikum kakak-kakak semua...
Terima kasih udah setia membaca karya recehan author...
Sementara menunggu Yunia yang sedang rehat, seperti yang sudah author sampaikan di episode yang lalu, author mau memperbaiki cerita yang sudah ditulis sebelum cerita Andai Cinta bisa memilih ini... Yaitu cerita PUTRI OBOR PITU.
Masalahnya, berhubung sudah terlalu lama off... author sampai kehilangan arah. Karena itu saat niat merevisi muncul, jadinya banyak sekali perbaikan dan perubahan dalam cerita itu. Dan ternyata.... Merevisi itu jauh lebih rumit daripada bikin baru.
So, setelah mencoba beberapa kali dan tidak berhasil (malah jadi tambah ruwet...) Maka dari itu author memutuskan menulis saja dari awal lagi.
Maunya bikin dengan judul sama tapi ternyata enggak bisa. Jadi author kasih judul "OBOR PITU" Karena itu, kalau nanti ada yang baca kedua cerita ini menemukan kesamaan... ya karena sebenarnya ini cerita yang sama. Hanya saja novel kita yang baru ini sudah mendapat sedikit banyak perubahan di sana-sini...
Semoga kakak-kakak para pembaca semua rela meluangkan waktunya, membaca cerita akan mulai up hari ini ya.....
Terima kasih...
Catatan :
Cerita ini berawal dari puluhan atau mungkin ratusan tahun lalu. Disaat manusia masih belum mempunyai agama sebagai landasan hidup. Mereka masih percaya pada hal-hal yang jaman sekarang di sebut mitos serta takhayul.
...* * *...
Pada zaman dahulu kala... (kayak pendahuluan cerita anak-anak ya...?) 😅 Di sebuah desa di daerah Pajajaran... Ada sepasang suami-istri yang baik hati... (beneran kayak dongeng sebelum tidur ini...) 🤗
Keluarga mereka termasuk keluarga yang terpandang dan berkecukupan... Mempunyai sawah yang luas, serta para buruh yang terampil serta setia. Sayangnya, walaupun sudah lama menikah, tapi pasangan tersebut belum juga dikaruniai keturunan.
Sang suami yang memang menginginkan keturunan, seringkali melakukan tirakat. Berupaya memohon kepada sang pencipta agar mereka segera dikaruniai anak. Si istri juga begitu, diam-diam dia sering pergi ke tempat-tempat pemujaan, mengikuti berbagai saran dari kawan dan kerabat yang diyakini akan bisa "mengabulkan" harapannya untuk memperoleh keturunan.
Hingga pada suatu malam, si istri bermimpi ...
__ADS_1
Dalam mimpinya, dia seakan diberi tahu, kalau dia bisa memiliki keturunan, jika sudah meminum air telaga yang ada di tepi hutan, agak jauh di luar desa mereka.
Saat terbangun, si istri menceritakan perihal mimpinya itu pada suaminya. Si suami mendengarkan cerita istrinya dengan kening berkerut.
"Bagaimana, kang? Haruskah yang aku mimpikan itu dicoba?" Tanya sang istri.
Sesaat sang suami berfikir...
"Nyai, sebenarnya beberapa waktu lalu, ada seseorang datang menemui ku saat aku tirakat. Orang itu seakan memperingatkan kalau kejadian serupa ini akan terjadi...." Ujar si suami berterus terang.
"Kejadian apa, kang?" Tanya sang istri tidak mengerti.
"Kejadian ini.... Kejadian saat Nyai datang padaku dan menceritakan perihal mimpi Nyai..." Jawab sang suami sambil menatap wajah istrinya itu dengan tatapan bingung. Si istri serentak menutup mulutnya kaget.
"Bagaimana bisa?" Tanya sang istri heran.
"Aku sendiri tidak tahu..." Jawab sang suami. Beberapa saat keduanya terdiam sibuk dengan pikiran masing-masing. Bagaimana bisa sebuah mimpi dapat diprediksi sebelumnya?
"Lalu.... apa yang akan kita lakukan?" Tanya sang istri akhirnya setelah beberapa saat keduanya terdiam.
Beberapa hari berlalu, bahkan berminggu-minggu sudah terlewati. Dalam tirakatnya, sang suami belum juga mendapatkan petunjuk. Sementara si istri sudah mulai gelisah. Ada keinginan untuk melaksanakan pesan dalam mimpinya itu. Tapi dia takut jika sang suami tidak setuju dengan pendapatnya.
Seringkali sambil melakukan kegiatannya sehari-hari, sang istri berfikir setengah berkhayal, bagaimana kalau dia diam-diam pergi ke telaga itu dan mengambil airnya untuk diminum. Cuma itu saja kan yang harus dilakukan? Dalam mimpinya itu, dia tidak disuruh melakukan apapun lagi. Tapi, telaga yang dimaksud itu berada di tepi hutan. Hanya beberapa orang saja yang berani datang ke sana. Menurut cerita, orang yang sudah pernah datang ke tempat itu sering kali terlihat linglung. Entah apa yang membuat mereka seperti itu.
"Tapi kalau tidak dicoba, bagaimana bisa tahu kalau cara ini akan berhasil atau tidak?" Pikir sang istri.
Berulang kali perempuan itu berfikir. Dicoba... enggak... dicoba... enggak... Sementara hasrat untuk segera memiliki momongan terasa semakin kuat.
Akhirnya, pada saat sang suami pergi tirakat, dengan meminta tolong dua orang pembantunya, seorang perempuan dan seorang laki-laki, sang istri diam-diam pergi menuju telaga itu.
"Nyai... apakah tidak akan apa-apa kita pergi ke sana?" Sang pembantu laki-laki bertanya agak takut-takut.
__ADS_1
"Semoga saja..." Jawab sang nyonya berusaha meyakinkan pembantu serta dirinya sendiri.
"Kalian nanti cukup berjaga-jaga... biar aku sendiri yang mengambil air telaga itu." Putus sang nyonya.
"Tapi Nyai..." Si pembantu perempuan resah.
"Kita hati-hati saja... jika nanti ada yang dirasakan aneh, kita segera balik lagi..." Kata sang nyonya akhirnya tak terbantahkan.
Akhirnya... setelah berjalan sekian lama, Jalanan setapak yang mereka lalui berakhir di sebuah sungai. Sungai itu merupakan batas wilayah yang sering dikunjungi oleh orang-orang pencari kayu. Di seberang sungai, merupakan wilayah "antah berantah" karena merupakan daerah yang berbatasan dengan hutan. Orang-orang jarang ke sana.
"Bagaimana Nyai... apakah kita akan menyeberangi sungai ini?" Tanya sang pembantu laki-laki.
Sesaat si nyonya berfikir. Telaga itu tercipta pasti karena ada mata airnya. Ada telaga, biasanya ada sungai yang menyalurkan airnya. ..
"Kita ikuti arah sungai ini saja ke arah hulu..." Jawab sang nyonya. Dua pembantu itu saling pandang tak mengerti. Tapi mereka tidak berani membantah. Mereka lalu berjalan membelah belukar, mengikuti arah hulu sungai, dan akhirnya... Jalan mereka terhalang oleh rumput dan bebatuan. Jika ingin terus, mereka harus mencebur masuk ke dalam sungai dan berjalan dengan berbasah-basah di sungai tersebut.
Si pembantu laki-laki mengambil sebuah kayu yang berada tak jauh dari tempat mereka.
"Ayo nyai... pegang kayu ini..." Katanya. Lalu, setelah sang nyonya memegang ujung kayu, dia melangkah mendahului sambil memegang erat ujung kayu satunya. Sang nyonya berjalan membelah arus sungai dengan bertumpu pada kayu yang dipegang oleh pembantu laki-laki nya. Sementara pembantu perempuan, menjaga di belakangnya.
Air sungai itu tingginya hanya sebatas lutut orang dewasa, arusnya pun tidak terlalu deras. Semakin lama mereka berjalan, terasa semakin ringan langkah mereka. Kejernihan serta kesejukan air itu membuat kepenatan setelah berjalan sebegitu jauhnya hilang. Ketakutan dan kecemasan yang semula menyelimuti perjalanan mereka seketika terlupakan. Hingga akhirnya... Mereka mendengar desau angin meniup daun-daun yang terlihat semakin rimbun di depan mereka Dan di ujung sungai... mereka melihat telaga yang begitu teduh karena dikelilingi pohon-pohon yang sedikit rapat di kanan kirinya. Sepintas, telaga itu bagaikan gua raksasa dengan lantai yang berkilau karena bias cahaya matahari di atas permukaan air.
Ketiganya menghela nafas panjang.
"Nyai..." Ucap sang pembantu perempuan. Yang dipanggil tidak menyahut. Matanya fokus ke arah telaga.
"Itukah telaga yang ada di mimpi ku? Mengapa bisa sama persis? Apakah aku pernah kemari?" Tanyanya dalam hati.
Seakan sudah mengenal tempat itu... perempuan itu melangkah keluar dari dalam sungai dan mendekati telaga.
"Nyai..." Panggil kedua pembantunya khawatir. Mereka segera mengikuti langkah majikan mereka. Berusaha menahannya agar tidak terlalu jauh melangkah ke dalam hutan. Tapi sang majikan tidak mengindahkan.
__ADS_1
"Nyai... mari kita segera mengambil air telaga itu dan segera pulang..." Ucap si pembantu perempuan lirih. Tangannya menggapai ujung baju majikannya, takut majikannya itu melangkah terlalu jauh meninggalkan nya. Sementara matanya jelalatan ke sekitar. Suara desau angin itu seperti suara ribuan orang sedang berbisik. Membuat bulu romanya berdiri merinding.....
...🙏 🙏 🙏...