Antara Aku, Kamu, Karier Kita

Antara Aku, Kamu, Karier Kita
Sebar Undangan


__ADS_3

Pagi harinya yaya sudah berada dimeja makan bersama keluarganya.


"Ma, pa hari ini yaya enggak berangkat kerja dulu ya" ucapan Yaya terdengar lusuh.


"Loh kenapa? Kamu sakit?" Tanya mama Siti. Yaya diam.


"heleh enggak deng ma, kak yaya enggak panas badannya" jawab bagus dengan memegang dahi dan tangan yaya.


"Ini lagi satu bocil yang suka recokin orang terus tiap hari, bisa tidak satu hari tu ya isinya jangan recokin orang" tukas Yaya sewot sembari menepis tangan adiknya menyingkir dari keningnya.


"Memang kenapa kamu enggak mau berangkat kerja?" Tanya papa Yudi.


"tiba-tiba mager pa" jawab Yaya pelan.


"Kok mager sih, udah enggak ada malas-malasan. Kamu berangkat kerja sana, kamu ingat kamu sekarang kan sedang kerja di kantor papa?" Ucap mama Siti.


Yaya menghela nafas berat


"Hedeh iya iya, yaudah yaya berangkat kerja dulu" ucap yaya seperti biasa ia menyalami punggung tangan mama dan papanya lalu mengucap salam.


Untuk informasi setelah Yaya bekerja menjadi tukang rias iya mencoba mencari pekerjaan lain lewat website, seketika ia menemukan website perusahaan yang membuat yaya tertarik untuk melamar dan kriteria yaya masuk ke kriteria perusahaan yang sedang membuka lowongan. Akhirnya dengan percaya dirinya yaya mencoba untuk mendaftar menjadi karyawan di perusahaan itu, yaya tidak berharap apapun karena yang ia pikirkan saat ini adalah bekerja di tempat yang nyaman, lingkungan yang positif, dan dapat teman baru. Setelah ia mendaftar melalui website itu tidak perlu menunggu waktu lama yaya akhirnya di panggil untuk interview untuk menjadi staff di perusahaan itu ia tidak menyadari bahwa yang akan meng-interview dirinya adalah teman dari ayahnya sendiri.


Besoknya selesai yaya menjalani masa interview tiba-tiba ayahnya menatap yaya dengan tatapan orang yang sedang observasi sesuatu lalu saat itu ayahnya hanya berkata padanya "kamu udah dapat kerjaan?" dengan santainya ia menjawab "ya belum lah pa", dan satu hal perkataan dari ayahnya yang sampai saat ini ia masih tidak percaya bahwa ayahnya lah yang menyelamatkan dirinya "padahal kamu itu pintar yay, kamu juga jujur pasti ada kok perusahaan yang mau menerima kamu, kamu coba berdoa sama Tuhan dan minta supaya ada satu perusahaan yang menerima kamu jadi karyawan di sana" dan sampai sekarang ia baru menyadari hal itu.


Kantor Asuransi


"Yaya..." sapa dewi.


"Hmm" jawab yaya lesuh.

__ADS_1


Temannya pun sedikit bingung.


"Kamu kenapa? Lemes banget kayaknya kamu sakit?" Tanya dewi.


"Enggak kenapa" jawab yaya sembari berjalan menuju ruang kantor duluan dan meninggalkan temannya dewi yang masih berada di luar kantor.


Temannya pun menyusul mengejar yaya yang sudah berjalan duluan tidak mengerti lagi ada apa dengan temannya itu.


"Kamu tu kenapa sih yaya?" Kalau ada masalah ceritalah jangan dipendam sendiri" Ujar winda merasa gemas.


"Nanti aja ya pas jam isoma"


Ruang kantor


"Heh?" Teriak winda sontak para rekan kerjanya yang lain pun menatap aneh kearah mereka.


"Jangan gitu juga kali, malu tau" Ucap yaya lalu meminta maaf pada semua rekan yang berada di ruangan itu.


"Serius kamu yaya?" Tanya winda masih tidak percaya.


"Iyalah masa boongan sih" jawab yaya sewot.


"Hedeh siapa taukan boongan , karena kan yang ngaku-ngaku suka sama jae kan banyak belum lagi fans-fansnya tuh yang sayang banget sama jae kan" ucap winda sementara dewi hanya mengangguk pelan.


"Aku aja enggak suka sama dia" jawab yaya berdecak pelan.


"Heleh jangan gitu lo yay, nanti malah jadi cinta loh kayak itu serial ikatan cinta yang mas al yang awalnya enggak suka sama andin tu lama-lama jadi suka beneran ke andin, hayolo" ucap winda tersenyum, untuk kali ini hanya itu yang bisa ia ucapkan.


Yaya diam ia tidak tau lagi harus bicara apa, dipikirannya ia sedang memikirkan bagaimana nasib dengan sang rapper.

__ADS_1


"Kalau udah nikah jangan lupa aku dan dewi juga diundang ya" ujar winda.


"iya yay kalau nikah jangan lupa undang aku juga dong" ujar rini dengan nada melasnya sembari memanyunkan bibirnya.


"Iya, tapi kalian tolong banget rahasiain ini dari rekan-rekan kantor yang lain" ucap yaya berbisik.


"Siap bos, tenang saja aku dan winda tu paling bisa jaga rahasia apalagi rahasia sebesar ini"


"Btw nikahnya kapan?" Tanya winda.


"Satu bulan lagi" Jawab yaya pelan dengan wajah datar.


"Heh? Apa? Satu bulan lagi, seriusan kamu yay?" Teriak winda. Yaya menutup wajahnya dengan buku yang ada ditangannya menahan malu.


"Aku kan sudah bilang jangan keras-keras kalau ngomong winda, nanti kalau ada paparanzi gimana?" ucap yaya berbisik yang masih menutup wajahnya dengan buku yang ada ditangannya.


"maaf yay aku kaget kenapa cepet banget sih, satu bulan lagi berarti kamu sudah nikah sama jae jae itu?" tanya dewi berbisik pada yaya.


"iya, aku juga belum tau bagaimana perasaan lingga saat mendengar berita aku ini" ucap yaya sembari mencari solusi.


"ya kamu bilang saja apa adanya sama lingga, gampang kan?" jawab winda sembari bertanya.


"iya juga ya" jawab yaya dan dewi kompak.


"nanti deh aku coba kalau udah ketemu sama orangnya, sekarang fokus kerja dulu ya kepala aku pusing nih aku pengen cepet-cepet pulang" ucap yaya.


"heduh mulai nih remaja jomponya kumat" ucap dewi pada yaya sembari menaruh minyak angin gosok di samping yaya.


"ya kayak tidak tau yaya saja dew gitulah kalau ada problem dikit campur cuaca atau udara kantor jomponya kumat" tambah winda sembari meletakkan tangannya ke pundak yaya.

__ADS_1


"Sssstttt dah kerja woy kerja" ucap yaya pada winda dan dewi yang sedari tadi belum beranjak dari ruangan yaya.


__ADS_2