Antara Aku, Kamu, Karier Kita

Antara Aku, Kamu, Karier Kita
Ayah Yudi Kenapa?


__ADS_3

2,5 bulan sudah berlalu


Pernikahan yaya dan jae berjalan seiring waktu dan hidup berdua hanya rasa cinta yang tulus, saling gelut, saling debat, tidak mau kalah, dan juga suka mengungkit keasalahan yang sudah lalu, namun cepat berbaikan.


Hari ini yaya dan dewi akan pergi ke appart daril untuk bertenu dengan winda, mereka ingin melihat keadaan winda apakah daril telah menepati janjinya atau tidak, dan kabarnya kini winda sedang hamil muda.


Setelah menikah dengan daril, mereka berdua memutuskan untuk tinggal di appartemen daril begitu berat bagi winda yang akan meninggalkan kedua orangtuanya untuk tinggal bersama suaminya tapi harus bagaimana lagi bagi seorang perempuan wajib untuk ikut suami jadi rini harus ikut tinggal di appartemen daril.


Yaya dan dewi datang ke appartemen daril dengan membawa buah tangan, setelah yaya menekan bell selang beberapa menit kemudian winda datang untuk membukakan pintu, mereka saling berpelukan hangat dan saling berbincang ria selayaknya ibu-ibu anak satu meskipun salah satu dari mereka bertiga masih ada yang menjomblo, tetapi begitulah mereka bertiga kalau sudah tidak bertemu.


Padahal yaya dan dewi tidak bertemu dengan winda hanya dua minggu dan karena keadaan winda yang sedang hamil muda, ia memutuskan untuk cuti dari kerjaannya.


"Cuy gimana keadaan kamu sekarang setelah nikah sama daril?" tanya yaya sembari meletakkan buah tangan yang dibawanya menuju ke dapur, lalu duduk disofa appartemen daril dan winda.


"Aku baik kok yay wi, kalian berdua oke kan?" tanya winda balik.


Yaya dan dewi mengangguk.


''Kandungan mu udah masuk presemester berapa wind?" tanya dewi sembari mengusap-usap perut winda yang masih rata.


"Udah masuk tiga minggu dan mau proses masuk ke empat minggu" jawab winda.


"njirrrr kok aku malah jadi pengen punya anak ya" tutur yaya spontan sembari melihat kearah perut winda.


Sontak winda dan dewi beralih menatap yaya yang sedang berkhayal sembari berafirmasi positif siapa tau afirmasinya menjadi kenyataan.


"Ealah tinggal bikin kok susah, bikin lah ngomong sama suamimu itu biar meluangkan waktunya sedikit buat bikin anak, enggak sibuk terus" ucap dewi pada yaya sembari senyum menggoda.


"Iya yay bener tu kata dewi, masa sih aku duluan yang punya anak duluan sementara dirimu kan yang nikah duluan" ucap winda.


Yaya berdecak "Bodo amat ya, aku pengen kerja dulu" jawab yaya dengan santuynya.


Tiba-tiba dewi dan winda menunduk murung setelah mereka mendengar ucapan yaya barusan.


"Kalian masih bisa bersyukur masih bisa kerja nah sedangkan aku harus cuti dulu selama hamil dan melahirkan" ucap winda.


Melihat raut wajah winda, yaya dan dewi tidak tega melihatnya.


"sabar ya wind, kalau lo mau lo kan bisa minta WFH bisa kok nanti tinggal bilang aja sama bos" ucap dewi sembari mengusap-usap perut winda.


"iya sih, ntar aku pikir-pikir dulu deh" jawab winda.


"Hwaiting wind, lo kan masih mau kerja kan lo bisa WFH agar kamu bisa kerja lagi meskipun kamu lagi dalam keadaan hamil muda tanpa harus cuti dulu" ucap yaya memberi semangat pada winda.


"Okay bakal aku coba nanti setelah aku pikir-pikir lagi, but ya kalau aku di izinin sama suami, bukannya aku juga harus izin suami juga" ujar winda menekan suaranya di akhir ucapannya.


"Hmmm ........ okay kalau itu yang lo mau sekarang, aku bakal nemein kamu kerja wfh kalau perlu kita bertiga kerja wfh saja selama kamu masih dalam hamil muda gini, lagian hamil muda itu kan setauku masih rentan kandungannya" usul yaya.


"Lah nggak usah" tolak winda.


"Jangan gitu ya pleaseee... entar kamu bisa di omelin sama keluarga kamu apalagi sama suamimu, pleaseee jangan ya yay" ucapnya lagi untuk menolak agar yaya dan dewi tidak kerja wfh demi menemani dirinya kerja wfh.


"heleh nggak kenapa lagi wind, demi dirimu mah aku santuy" ucap yaya.


"yaudah terserah deh tapi nanti kalau dirimu di omelin keluarga mu atau diomelin suami mu diriku kagak nanggung loh ya" ucap winda.


"Woy dirimu kapan?" tanya yaya pada dewi.

__ADS_1


Dewi menaikan satu alisnya binggung


"Kapan apanya yay?" tanya dewi.


Yaya menarik nafas jengah, salah satu temannya ini beneran tidak peka tapi polos dan tidak peka itu beda tipis, uppps.


"Nyusul nikah lah maemunah masak ya nyusul makan pecel" jawab yaya.


"Hedeh boro-boro dah aku nikah pacar aja diriku kagak ada" ujar dewi malas.


Sontak yaya dan winda menahan tawanya, bagaimana ia tidak punya pacar? dewi berhadapan dengan cowok aja bawaannya judes terus kayak mau nagih uang kas sekolah, cowok kan jadi agak illfieel duluan mau deket sama dewi.


"Yang sabar ya wi, terus berdoa jangan lupa" ucap yaya dan winda kompak.


Karena keasyikan mengobrol yaya dan dewipun tersadar bahwa hari sudah malam, mereka langsung berpamitan kepada winda dan segera pulang, setelah yaya sampai ke rumahnya tiba-tiba.....


"Hah? papa mertua aku masuk rumah sakit? yang bener aja" tanya jae di telfon.


"Iya jey udah deh dirimu kesini dulu aja" jawab tim agency jae diseberang telfon.


"Okey aku kesana sekarang, shrarelock lokasi rumah sakitnya" ucap jae dan langsung mematikan telfonnya.


Dengan perasaan yang shock mendengar kabar papa mertuanya dari sang tim agency ia langsung berlari menuju kamarnya untuk mengambil kunci mobil dan dompetnya.


"Yay siap-siap sana, ambil tas" ucap jae pada yaya yang asik menonton serial drama favoritnya.


Yaya menatap jae bingung, kenapa suaminya terlihat buru-buru


"Menangnya mau kemana woy, ini masih malem bambang?" tanya yaya yang masih bingung.


"Papa kamu... sekarang masuk rumah sakit, kamu sekarang cepat ganti baju terus kita langsung ke rumah sakit" jawab jae yang masih terburu-buru.


"ngapain sih aku bohong, tadi tu tim agency aku telfon aku makanya aku ini juga tidak tahu keadaanya sekarang seperti apa" ujar jae lalu ia keluar kamar.


Yaya sudah siap untuk pergi ke rumah sakit dengan menggunakan kaos polos celana kulot, karena ini keadaan yang sangat urgent jadi ia tidak menampilkan penampilannya sekaran, rambutnya ia biarkan terurai bebas seperti biasa, ia keluar kamar untuk menemui jae.


Saat yaya sudah berada di dalam mobil jae langsung tancap gas dengan kecepatan diatas rata-rata menuju rumah sakit tempat papanya di rawat.


Setelah beberapa menit kemudian mereka sampai di rumah sakit tempat papanya yaya di rawat.


Disana mereka berdua berucap syukur karena kondisninya baik-baik saja saat mereka berdua tiba di rumah sakit,


Yaya berlari menuju koridor rumah sakit untuk menanyakan ruangan tempat papanya di rawat diikuti jae di belakangnya.


"Ma, gus" panggil yaya saat melihat mama dan adiknya sedang berdiri di hadapan ruang rawat inap sang papa.


"yaya" panggil sang mama.


"yaya, jae" panggil tim agency jae langsung memeluk yaya.


"Papa kamu... hikss...." ujar tim agency dipelukan yaya.


Tim agency menatap iba pada yaya yang sedang terisak, untuk menyemangati istri jae mengelus pelan rambut panjang yaya.


"kamu yang sabar ya, berdoa sama Tuhan supaya mama cepat sembuh" ucap tim agency.


"Bagaimana keadaan papa sekarang?" tanya jae yang dari tadi masih dalam keadaan panik.

__ADS_1


"Keep calm jae, papa metua kamu sudah ditangani dokter, kita sama-sama berdoa semoga keadaan mama baik-baik saja" ucap papa sambil menepuk pundak jae.


Jae mengangguk lesuh.


"Emang kronologinya seperti apa sih ma?" tanya yaya.


Semua mata sontak langsung menatap ke arahnya.


"Tadi papa lagi kerja tiba-tiba papa bilang kalau mau ke dokter jadi papa berangkat ke dokter sama supir, terus entah kenapa dokter suruh papa untuk rawat inap, kebetulan ada kami disana waktu itu jadi semuanya yang ngurus sebagian ya kami" ucap tim agency jae.


Yaya dan jae terdiam mendengarnya, yaya jongkok sembari memijit kepalanya yang pusing dan berharap sang papa baik-baik saja.


"Yaya" panggil mama Sofia.


Yaya, papa fajar, mama siti, bagus dan kakak nana pun menoleh ke arah sumber suara.


"Gimana?" tanya mama Sofia.


"Masih di tangani dokter ma, ini kita masih nunggu disini" jawab yaya lesuh.


"kita sama-sama berdoa ya kepada Tuhan untuk kesembuhan ayah kamu" ucap mama Sofia.


Tak lama kemudian dokter keluar dari ruang rawat inap papa yudi.


Sontak semua orang yang berada disana langsung berhamburan menanyai kondisi papanya yaya pada dokter.


"Dok gimana keadaan suami saya?"


"Iya dok, gimana keadaan papa saya?"


Tanya mama siti dan yaya.


"Sebelumnya apa kalian semua keluarga dari pasien?" tanya dokter.


"Iya dok'' Jawab mereka semua kompak.


tak sabar ingin tau bagaimana keadaan sang papa dokter ini malah bertanya.


Dokter itu sedikit terlonjak namun setelah itu mangut-manggut, ia pun menghela nafasnya sebentar.


"Jadi begini, keadaan pasien saat ini sedang tidak baik-baik saja" ucap sang dokter sontak membuat orang yang ada disana terkejut.


"M-maksud dokter apa?" tanya yaya.


"Pasien menderita penyakit komplikasi cancer yang sudah lumayan cukup parah" jawab sang dokter.


Semua orang membelalakan matanya kaget, mereka semua tidak tau kalau selama ini papa yudi terkena penyakit komplikasi cancer.


"No, nggak mungkin ini nggak mungkin kan dok?" ucap yaya.


"Saya tidak bohong terkait data pasien, sepertinya papa kalian sudah lama mengidap penyakit itu" ucap sang dokter.


Sontak yaya menatap sang mama untuk meminta kronologi yang sebenarnya terkait penyakit sang papa, berharap mamanya tau apa yang sebenarnya terjadi, mama siti pun menoleh ia melihat yaya menatapnya tajam seolah-olah minta penjelasan.


"Ma..., sebenarnya apa yang terjadi? kronologinya seperti apa ma, jelasin ma" ucap yaya dingin.


Mama siti gelalapan, baru kali ini yaya bersikap dangat dingin padanya.

__ADS_1


Dengan berat hati mama siti harus menceritakan semuanya.


"Sebenarnya......


__ADS_2