Antara Aku, Kamu, Karier Kita

Antara Aku, Kamu, Karier Kita
Minta pertanggung jawaban


__ADS_3

Dug.dug.dug


Yaya menggedor pintu appart itu dengan kasar, benar-benar tidak sabar ingin menyerang cowok yang berani menyentuh rini.


Dug.dug.dug


Dewi juga menggedor pintu itu dengan kasar. "Woy keluar kagak lo!!!" Teriak Dewi tak tau malu tidak peduli jika ada orang lain yang melihatnya.


Sedangkan Winda hanya bisa diam sembari menggigit bibir bawahnya takut.


Setelah teriakan Dewi tadi, keluarlah seorang cowok berbadan tegap dari sana dengan muka bantalnya.


Yaya terbelalak kaget seketika melihat tubuhnya mematung


"Oooo jadi ini cowok kamu yang berani nyentuh kamu dengan semena-mena?" Tanya Dewi pada Winda sedikit meninggikan suaranya. Dewi mengangguk perlahan.


"Siapa lo? Kenapa lo ada di appart gue?" Tanya cowok itu pada Dewi.


"Gue bestinya Winda, mau apa lo" jawab Dewi.


Cowok itu menatap Winda. "Winda?" Gumamnya.


"Deril?" Bukan Winda yang menjawab melainkan Yaya.


Cowok yang di panggil roni itu menoleh ke arah Yaya, matanya terbelalak kaget melihat Yaya mantan pacarnya semasa kuliah ada dihadapannya.


"Yaya?" Beo Deril.


"Yaya lo kenal sama cowok ini?" Tanya Dewi.


Plakkkk

__ADS_1


Tanpa menjawab pertanyaan dari Dewi dan Yaya langsung menampar Dewi dengan keras membuat lesung pipi sangpunya semerah dan terdapat jejak tangan Yaya disana.


Sedangkan Dewi dan Winda menutup mulut mereka dengan tangannya, matanya membulat sempurna mereka tidak percaya apa yang dilakukan Yaya.


"Aisshhh kurang ajar juga lo ya, mau lo tu sebenarnya apa sih hah? Nggak cukup nyakitin gua sekarang lo berbuat semena-mena sama besti gua iya? Mau cari mati lo sama gua?" Ujar Yaya sambil memukul pundak laki-laki itu.


Emosinya sudah tidak bisa dikendalikan dan wajahnya sudah memerah.


"Awwwh,,,, akh. Apaan sih lo Yaya, sakit tau" ucap Deril meringis kesakitan karena pukulan Yaya.


"Yaya udah tenang dulu, aku tau kalau kamu tu kesel sama dia dan aku juga tau kalau kesabaran kamu tu setipis tisu jadi tenang dulu ya yay" ujar Winda menenangkan Yaya.


Yaya berhenti memukul cowok yang ada di hadapannya karena kini tangannya dipegang oleh Winda, nafasnya naik turun tak terkontrol, rasanya ia ingin segera menghabisi Deril saat itu juga.


"Yaya tenang dulu ya" ucap Winda lagi mengusap-usap lengan dhaya menenangkan.


"Pokoknya gua kagak mau tau kamu harus nikahin Winda dan kamu juga harus tanggung jawab sama besti aku" ucap Yaya dengan suaranya yang sangat meninggi.


Kini mereka sudah berada didalam appart Winda saat Yaya sudah mulai sedikit merasa tenang.


"Sengaja nggak sengaja lo udah ngerusak masa depan besti gua. kamu tu ye dari dulu nggak pernah berubah, brengsek lo" tukas Yaya tajam.


Deril menghela nafas kasar.


"Okey aku tau aku salah dan aku juga tau kalau aku brengsek, tapi soal ini gua beneran insyaf cuman kecelakaan" ucap Deril sedikit berteriak.


"Heh lo tu salah kok lo yang bentak besti gua" sahut Dewi membela Yaya.


Deril mengusap wajahnya frustasi.


"Terus aku harus apa?" Tanya Deril.

__ADS_1


"Gua mau lo nikahin Winda, dia hamil anak lo dan usia kandungannya udah mau 3 bulan" ucap Yaya berbohong.


Deril, Dewi dan Dewi terbelalak kaget mendengarnya, Winda sudah bilang kalau ia tidak hamil kenapa Yaya jadi ngelantur


"Apa?" Ujar Deril cengo lalu beralih menatap Winda yang menunduk.


"Bener Wind kamu hamil?" Tanya Deril pada Winda.


"Eng-"


"Iya, winda sekarang sedang hamil anak kamu" jawab Yaya memotong ucapan Winda.


"Pokonya aku kagak mau tau ya kamu harus nikahin Winda secepatnya sebelum ortunya tau karena kamu udah ngerengut masa depannya dengan tangan kotor lo itu" lanjut Yaya sedikit emosi.


"Tapi-"


"Nggak ada tapi tapian, kamu cinta kan sama Winda? kamu juga sayang kan sama dia? Kalau kamu beneran sayang dan cinta sama winda buktiin, atau aku seret kamu ke penjara seumur hidup atas kasus pemerkosaan dengan paksaan mau lo" ucap Yaya lagi memotong ucapan Deril. Kini ancaman itu tidak main-main, ia bisa bisa menyeret Deril ke penjara kapan pun ia mau.


Deril menggeram, disatu sisi Deril beneran sayang pada Winda tapi untuk menikahinya ia belum siap sepenuhnya.


"Tapi aku masih kuliah gimana kata ortu gue nanti" ujar Winda.


"Heh umur tu nggak jadi masalah ya, aku aja udah nikah nggak ada masalah apa-apa"


Sadar atau tidak Yaya mengatakan itu dihadapan Deril.


"Hah? Lo udah nikah Yaya?" Tanya Deril.


"Bukan urusan kamu ya aku udah nikah apa belum!" Jawab Yaya ketus membuat Deril bungkam seketika.


"Jadi gimana, siapkan? Ntar gua bantuin ngomong ke ortunya Winda" ucap Yaya tertuju pada Deril.

__ADS_1


Deril berfikir sejenak. Ini juga salahnya juga jadi kau tidak mau suka ataupun tidak suka dia harus bertanggung jawab atas perbuatan bejatnya itu.


Deril membuang nafasnya pelan. "Okey, iya" jawab Deril terdengar pasrah.


__ADS_2