Antara Aku, Kamu, Karier Kita

Antara Aku, Kamu, Karier Kita
Ayah yudi koma


__ADS_3

Setelah yaya dan dewi berbincang bincang di acara ia melihat di sebrang sana bahwa jae sedang bersama dengan seorang wanita yang tidak ia kenal sama sekali, tapi bukan yaya namanya kalau tidak bisa bikin kacau acara perkenalan wanita itu dengan suaminya.


"Are you jae?" ucap seorang wanita dan lalu memeluk jae begitu erat.


Jae merasa risih lalu ia melepaskan pelukan orang itu, sedangkan yaya merasa jengkel dibuatnya bisa-bisanya wanita itu memeluk suaminya sendiri di depan matanya.


Jae menaikkan satu alisnya bingung. "Horok dia siapa?" tanyanya.


Yaya menahan tawa.


suaminya ini benar-benar lucu banget Disaat orang lain masih mengenalnya ia justru malah lupa siapa nama orang itu. Tapi yaya juga tidak mood karena yang sedang ada di hapannya ini adalah seorang cewek.


"Ih... masak kamu nggak inget sama aku sih?" tanya wanita itu balik.


Jae menggeleng, jae mencibir dalam hatinya karena mendengar gaya bicara wanita itu yang sok di lembut-lembutin jae juga bingung kenapa belakangan ini ia sering lupa dengan orang-orang disekitarnya.


"Btw ini gue sasa mantan kamu" Ucapnya memperkenalkan dirinya pada jae agar ia teringat lagi.


Yaya mendegus mendengarnya, lalu memutar bola matanya malas sembari bersidekap dada.


'Hanya mantan kan? Kok bangga banget sih jadi mantan heran deh'


"Oh" jawab jae cuek dan dingin.


"Udah lama ya kita nggak ketemu, sorry dulu aku nggak kasih kabar sama kamu, karena dulu sehabis kita sma aku kerja partime di perusahaan terkenal selama 3 tahun dan sekarang aku sudah punya usaha sendiri sembari aku bekerja juga di kantor ini" Ucap sasa.


"Hmm gitu" gumam jae.


Ia menatap gadis itu dingin dengan wajahnya yang datar dan ia ingat sekarang siapa wanita ini, sasa memang mantan pacarnya saat zaman sma, saat dulu jae sayang dan perhatian sekali padanya, tampa ada kabar sasa malah meninggalkannya.


Pernah satu pesan masuk di hp jae saat jae baru saja debut pertamanya sebagai rapper dan pesan itu dari sasa, pesan itu bertuliskan ‘kita putus' hanya dengan dua kata itu mampu membuat jae bertanya-tanya.


Saat di telfon nomor itu sudah tidak bisa lagi dihubungi lagi entah ia ganti nomor atau sudah sibuk dengan kerjaannya, jae benar-benar sangat membenci wanita di hadapannya saat ini.


"Kamu maafin aku kan? Dan apa kita bisa mulai dari awal lagi? Aku janji, aku akan selalu kasih kabar ke kamu" tanya sasa.


'Horok nih tante-tante, ini yang suka sama suami aku kok banyak banget dan kalau kek gini namanya mah pelakor, ku gebuk juga lo, '


Jae menyeringai dengan entengnya ia berbicara.


"Sorry nggak bisa" jawab jae.


"Tapi kenapa? Dulu kan kita saling sayang saling cinta, tapi kenapa kamu begini sekarang?"


"Kamu lupa yang berubah itu kamu"


"Jae-"


"Sorry siapa ya? Tolong jangan ganggu suami saya” sahut yaya yang sudah mulai kesal.


Jae dan sasa menoleh ke arah yaya.


Ada rasa senang saat yaya mengakuinya, Sedangkan sasa terbelalak merasa tak percaya dengan apa yang ia dengar barusan di telinganya


"Kenapa? Nggak percaya ya? Tanya aja sama mantan lo" tanya yaya.


"Wh-what? s-suami? B-b-bagaimana bisa" beo sasa yang masih tak percaya.


"Jae jadi benar dia itu istri kamu?” tanyanya lagi.

__ADS_1


"Sayang katanya kita mau makan ini baby kembar kita juga udah laper ini" ucap yaya sembari mengusap-usap perutnya


Jae sedikit terkejut dengan ucapan istrinya barusan, tapi ia maklumi kelakuan istrinya itu atau mungkin saat ini ia sedang cemburu dengan mantan pacarnya.


"Yuk nanti keburu laper lagi dedeknya" Ajak jae sembari memeluk tubuh yaya.


"Permisi" ucap yaya tersenyum mengejek lalu segera pergi dari hadapan sasa.


Sasa pun mengepalkan kedua tangannya, seperti ada rasa sesak dihatinya karena ia sudah mengetahui mantan pacarnya kini sudah menikah, Ia masih saja tidak terima, ia menyesal karena sudah memutuskan hubungannya dengan jae waktu itu dan sampai sekarang pun ia masih mencintai jae.


Apalagi dengan melihat jae yang kini sudah sukses dengan grub nya wonderboys dan kini juga ia sukses dalam kariernya sebagai solois serta penampilan jae yang sekarang yang semakin membuatnya terpana.


'Aku nggk akan biarin kamu lepas gitu aja jae lihat saja nanti.'


"Makasih ya tadi udah bantuin aku" ucap jae saat mereka sudah sampai di restoran setelah dari pesta kantor yaya.


"Itu mah harus mas, kamu itu harus dijauhi dari yang namanya tu cewek kegatelan itu" jawab yaya.


"Kamu ngelakuin ini karena cemburu kan sama dia?” goda jae sedikit pada yaya.


Yaya memberengut “apa? Aku cemburu? siapa yang cemburu bambang" ucapnya.


"Bilang aja iya yayanya jae ki-"


"Horok, ho oh dah iye iye biar cepet" jawab yaya yang sudah mulai kesal.


Jae tersenyum tipis.


Kantor agency


"Apa, papa mertua saya koma?!" beo jae di telfon.


Jar sedang berada di gedung agencynya saat ini, ia sedang latihan koreo dance bersama member wonderboys yang lain, di tengah-tengah latihannya ia dapat telfon dari pihak rumah sakit. Ia memberi tahu bahwa ayah mertuanya kini sedang berjuang dalam komanya karena penyakit yang di derita ayah mertuanya sudah menjalar sampai ke anggota tubuh yang lain.


"Baik sus, saya segera kesana, saat ini ayah mertua saya masih berada di kamar rawat inapnya kan sus?" Tanya jae di sebrang telfon.


"Baik, saat ini ayah mertua anda terpaksa kami pindahkan ke ruang ICU, nanti anda bisa bertanya ke petugas kami saja"


Tanpa banyak berpikir lagi jae langsung berlari menuju parkiran, memasuki mobilnya lalu menancapkan gasnya tinggi.


Pikirannya hanya pada sang ayah mertua ia melupakan segalanya termasuk memberi tahu yaya, disisi lain yaya sedang berada di kantornya ia sedang mengurus dokumen yang di tinggalkan ayahnya selama ayahnya cuti untuk sementara waktu dan sekarang jadi handphonenya sekarang dalam mode pesawat, Selang beberapa menit kemudian, jam menunjukkan pukul 12.00 yaya dan dewi keluar dari kantor mereka hendak menuju restoran untuk makan siang.


"Ayo ke resto apa ke kantin kek aku laper" ajak dewi.


"Eh, bentar dulu" ucap yaya sedang melihat notivikasi ponselnya.


"Kenapasih?"


"Bentar, mama telfon nelfon 20 kali panggilan. Tumben, kenapa ya?"gumam yaya


"Ada hal penting kali coba telfon ulang lagi aja" Titah dewi"


"Kok tiba-tiba perasaan gue nggak enak ya" Cicit yaya sembari menghubungi sang mama. Dalam tiga detik, panggilan yaya tersambung.


"Hallo mah .. ada apa"


"Yay kamu cepetan ke rumah sakit sekarang, papa masuk ruang ICU karena kata suster penyakitnya papa kamu sudah menjalar ke anggota tubuh yang lain jae sudah ada disini, dia baru bicara sama mama juga karena mama dapat informasi ini dari jae" ujar mama siti cepat.


Yaya terdiam, mencerna setiap kata-kata sang mama.

__ADS_1


"Yay kamu masih disana kan?"


"Yaya"


"Oke, oke ma , aku kesana sekarang" dengan cepat yaya berlari menuju parkiran meninggalkan dewi, seketika dewi yang tersadar yaya berlari menuju arah panggilan ia langsung memanggil


"Yay, mau kemana?" teriak dewi karena sahabatnya itu sudah jauh dari hadapannya.


Yaya tidak mengindahkannya ia tetap berlari menuju parkiran, mengabaikan tatapan aneh dari para karyawan yang lain. Selang beberapa menit, mobil yaya sudah terparkir di parkiran rumah sakit tempat ayahnya di rawat.


Yaya mencari keberadaan jae tapi yang ia temui hanya keluarganya.


"Mah .." panggil yaya pada mama siti.


"Yaya .." mama siti memeluk yaya erat, ia menangis dalam pelukan sang anak.


"Kenapa sih ma penyakitnya papa bisa menjalar ke anggota tubuh yang lain? Emang separah itu ma?" tanya yaya saat pelukannya sudah terlepas dari sang mama.


"Tadi jae bicara sama mama kalau malam tadi ayah kamu keadaannya sedikit ngedrop dan sudah di panggil namanya sama suster yang ada di sini tapi ayah kamu tidak ada respondnya yay kata dokternya, paginya dokter langsung memasang alat pernafasan agar ayah kamu bisa bertahan" jelas mama siti teriak pelan.


Air mata yaya sudah jatuh membasahi pipinya, ia tidak menyangka akan seserius ini penyakit ayahnya yang sangat ia sayangi, ayahnya adalah tempat ternyaman yaya. Sejak kecil yaya selalu bersama ayahnya kemanapun ayahnya berada disitu pasti ada yaya bahkan sampai jalan bersamapun yaya selalu berada di samping ayahnya bahkan sesekali yaya merangkul ayahnya tanda sayang tulus pada ayahnya.


"Ma jae dimana?" tanya yaya pada mama siti


"Ada tadi nganterin ayah kamu menuju ruang ICU" jawab mama siti.


Yaya hendak menyusul jae ke ruang icu, sekarang ia sudah berada di ruang icu ia melihat sedikit ayahnya yang masih tertidur dan hendak di masukan ke ruang icu.


Tiba-tiba yaya berjalan ke arah jae


"Jae, papa jae" yaya berjalan cepat menuju jae lalu memeluknya.


"Papa mas, hiks ... papa" ucap yaya.


"Yay papa pasti sembuh, kita ikutin anjuran dari dokter ya, kamu tetap berdoa juga biar papa cepat sembuh" ucap jae pada istrinya.


"Aku seneng kalau papa sembuh, tapi aku nggak seneng kalau keadaan papa sengedrop ini" ujar yaya terisak.


Jae mengusap lembut rambut panjang istrinya.


"Iya sayang i know, Tapi ini juga sudah keputusan dari dokter dan keputusan ini itu sudah di pikirkan matang-matang oleh dokter dan perawatnya sesuai dengan perkembangan papa" ucapnya lagi.


Waktunya mengantarkan ayah yudi menuju ke ruang icu , hanya boleh 2 orang saja yang boleh mengantarkan ayah yudi menuju ruang icu saat itu. Ayah yudi sekarang sudah berada di ruang icu dan sudah di pasangkan sebuah alat untuk membantunya bertahan dan entah sampai kapan ayah yudi bertahan dengan alat itu, Kini yang tersisa di rumah sakit hanya yaya, mama siti, dan jae.


Jae mendekat pada yaya yang masih berdiri di depan ruang icu, Ia menyentuh bahu istrinya lalu mengusap pundaknya pelan memberinya semangat.


Yaya menitikkan air matanya, ia benar-benar rapuh melihat sang ayah yang kini sudah berada di ruang ICU.


"Kenapa bisa ...." gumam yaya pelan, namun masih bisa didengar oleh jae.


"Kenapa bisa penyakit papa sampai separah itu aku tidak tau” Lanjutnya lagi


Jae ikut berdiri disamping yaya.


"Kamu yang sabar ya. Serahin saja semuanya sama Tuhan. Tuhan akan memberikan jalan yang terbaik untuk papa" ucap jae lembut.


"Aku juga belum bisa kabulin permintaan papa sebelum papa jatuh sakit" ucap yaya lagi.


Yaya menghela nafasnya sembari mengusap air matanya kasar lalu melangkah pergi meninggalkan jae Entahlah kenapa ia bersikap seperti ini sekarang? Jae hanya bisa terdiam, kenapa ia kini yang menjadi merasa bersalah? Apa apa yaya kini sedang marah padanya? Lalu Ia menatap langit yang masih berwarna biru cerah

__ADS_1


"Maafin yaya ya ... belum bisa kabulin permintaan papa sebelum papa sakit, sekarang kan yaya sudah bekerja di kantornya papa dan kini... yaya belum bisa kasih papa cucu setelah yaya menikah dengan jae.... maafin yaya ya pa" ucap yaya menahan tangis


__ADS_2