Antara Aku, Kamu, Karier Kita

Antara Aku, Kamu, Karier Kita
Meninggal


__ADS_3

Langit pun mendung mengiringi perjalanan yaya yang kesal setelah pergi dari tempat suaminya bekerja, hujan seraya turun melengkapi suasana hati dhaya yang tengah menyetir mobilnya menuju rumah sang mama untuk menenangkan hatinya, tapi tiba-tiba....


Kring... kring.....


"Halo ma, kenapa?"


"Papa kamu yay"


"Kamu ke rumah saja dulu yay"


'Mama kenapa sih kok enggak seperti biasanya'


Yaya segera pulang untuk memastikannya sendiri


Rumah


'Ada apa ini'


'Kenapa banyak orang'


'Bendera kuning?'


"Yaya, ini tangannya kenapa merah begini?" tanya mama siti.


"Enggak kenapa ma, ma ada apa?" Tanya yaya.


"Papa kamu meninggal yay" ucap mama siti sembari menghapus air matanya yang masih ada di pipi.


"Enggak mungkin ma" elak yaya.


"Yaya yang sabar ya nak" ucap mama muti sembari memeluk yaya.


Beberapa menit kemudian setelah yaya sampai di rumah terdengarlah suara ambulan yang sudah berada di depan rumahnya, di ambilnya sebuah keranda jenasah dari sebuah rumah sakit menuju ke rumah yaya karena tepat hari ini ayahnya telah berpulang.


"Enggak mungkin papa, nanti siapa yang biayain bagus sekolah, siapa nanti yang ajarin yaya soal kantor ma kalau papa sudah tidak ada lagi" elaknya lagi sembari melihat ke arah keranda jenazah ayahnya yang ada di depannya.


"Masih ada jae yay, kamu harus kuat ya jagain mama juga" ucap ayah shofiyan.

__ADS_1


Tiba-tiba yaya terdiam sebentar lalu tiba-tiba...


Brrruuuukkk


Yaya pingsan tepat tidak jauh dari keranda sang ayah.


"Pa mama bawa ke kamar ya" ucap mama muti pada ayah shofiyan sembari menggendong tubuh yaya yang melemas.


"Iya ma, ma tolong juga telfon jae biar yaya bisa lebih tenang" ucap papa shofiyan.


"Iya pa" ucap mama muti.


Mama muti berjalan menuju kamar yaya sembari menggendong tubuh yaya yang melemas.


'Kamu harus kuat ya yaya' gumam mama muti sembari memandang wajah yaya.


Selang beberapa jam jae pulang kerumah mertuanya hendak meminta maaf pada yaya berharap istrinya ada dirumah, tapi setelah masuk ia mencari-cari keberadaan yaya tidak ada ia merasa heran karena banyak orang yang berkerumun di rumah mertuanya


"Loh ma ini kenapa dan kenapa ada keranda disini?" Tanya jae.


"Papa jae, papa sudah tidak ada lagi... tadi mama di telfon oleh pihak rumah sakit kalau keadaan papa menurun terus papa dan mama kamu yang ke rumah sakit sampai akhirnya papa sudah tiada" jelas mama siti.


"Tadi pingsan jae tapi sudah di bawa sama mama kamu ke kamar, lebih baik kamu susul ke kamar jae tenangkan yaya dan hibur dia" jelas sang mama.


Jae segera berdiri dari duduknya dan langsung menuju ke kamar yaya.


Tok..tok...tok..


"Yaya" jawab ucap jae.


"Kamu dari maja aja jae?" Tanya mama muti.


"Panjang ma ceritanya, ma apa benar keadaannya papa sempat memburuk sebelum papa tiada?" Tanya jae pada sang mama.


Mama muti menarik nafasnya "iya, tadi keadaannya papa sempat koma dan kritis sebelum akhirnya papa tiada" jelas mama muti.


"Astaga, terus keadaan yaya sekarang gimana ma?" Tanya jae.

__ADS_1


"Yaya hanya pingsan karena syok saja, kamu jae mama mohon untuk di saat-saat ini kalian jangan lagi ada perdebatan kasihan yaya mana sekarang yaya sudah kehilangan ayahnya dan yaya hanya punya kamu jae, jadi mama mohon sekali sama kamu tolong jaga dan jangan ada debat lagi diantara kalian berdua" jelas mama muti sembari mengucapkan sedikit permintaannya pada jae.


"Iya ma aku tau kok" ucap jae.


3 jam telah berlalu dan jenazah ayah yudi sudah di makamkan, sementara yaya akhirnya sadar dari pingsan yang cukup lama.


"Yaya, kamu makan dulu ya" ucap jae sembari memperlihatkan piring yang berisi makanan pada yaya.


"Mas... papa mas" ucap yaya.


"Iya aku tau, sekarang kamu makan dulu ya kalau kamu enggak makan kamu sakit, kamu nggak mau kan bikin papa sedih karena kamu mogok makan seperti ini" ucap jae.


"Makan ya" lanjutnya.


Yaya mengangguk.


"Aku janji sampai kapanpun aku akan selalu berada di samping kamu" ucap jae sembari menyuapkan sesendok nasi ke mulut yaya.


"Uhuk uhuk... kamu tadi bentak aku" ucap yaya.


"Iya deh aku yang salah, enak kan masakannya?" Tanya jae.


"Enak"


"Ini aku yang masak karena tadi pas ada makanan banyak kamu masih pingsan jadi aku memutuskan untuk masak saja makanan kesukaan kamu biar kamu enggak sedih lagi" jelas jae sembari menyuapi istrinya makanan yang ada di piring.


"Enak kok, ternyata kamu pintar masak juga" ucap yaya.


"Iya dong aku gituloh" jawab jae sembari menyombongkan dirinya.


"Kumat"


"Apa?" Tanya jae.


"Enggak mas, kamu kan memang jago masak" jelas yaya.


"Yang penting kamu suka, dah makan dulu" ucap jae.

__ADS_1


Sementara itu luar kamar yaya terlihat mama muti, mama siti dan papa shofiyan sedang melihat jae sedang mencoba menghibur yaya dengan caranya sendiri. Mulai dari sini jae berjanji akan selalu ada di samping yaya, apakah omongan jae bisa di pengang ataukah sebaliknya yang justru kembali lagi menyakiti hati yaya kembali.


__ADS_2