
Setelah beberapa hari setelah papa yudi di ruang icu, yaya lebih banyak murung dan tidak banyak bicara, lebih parahnya tidak mau berbicara pada jae entah apa kesalahannya pada jae ia juga tidak tahu.
Di kantor juga yaya tidak seperti biasanya saat ia bekerja pun fokusnya selalu teralihkan, sampai dewi dan karyawan yang lain bertanya dalam hati ada apa dengan yaya hari ini?
Rumah
Yaya sekarang berada pada balkon kamar ia berdiri didekat pagar balkon, sambil menatap langit-langit malam bertaburan bintang diatasnya Ia membayangkan wajah sang papa di langit gelap itu, tampak sang papa sedang tersenyum kearahnya. Membayangkan itu ia tersenyum tipis, berharap papanya bisa segera sembuh.
"Yay .." panggil jae pelan.
Yaya menatap jae sekilas yang sudah berada disampingya, jae berbalik, lalu berjalan ke kasur nya untuk tidur dan mengabaikan yaya yang terdiam disana.
'Yaya kenapa ya? Tumben dari kemarin diem sekarang diem lagi' jae menatap yaya heran.
Banyak sekali pertanyaan muncul dibenaknya.
'Salah aku apa coba?'
'Masa aku yang ganteng ini di anggurin terus gimana ceritanya' jae menghembuskan nafasnya.
'Sabar jae... sabar, istri kamu pasti sedang memikirkan papanya'
Yaya berjalan menuju ranjang, ia membaringkan tubuhnya disamping jae yang sudah terlebih dulu terlelap, ia langsung memejamkan matanya dan menyusul jae ke alam mimpi.
Ia berharap tidak akan terjadi apa-apa.
Pagi itu adalah pagi yang sangat memebingungkan bagi jae, karena pagi-pagi buta yaya sudah tidak ada di rumah.
"Hadeh telat .." gumam jae panik sendiri.
Cepat-cepat ia ke kamar mandi untuk bersiap-siap ke kantornya dan tak butuh waktu lama ia pun sudah selesai mandi dan memakai bajunya. Dengan sedikit berlari, ia menuruni tangga, herannya, ia tak melihat yaya di kamar pun dia juga tidak ada kemana perginya suaminya itu?
"Wait, si jae kemana ya?” gumam jae.
"Aku coba cek jadwalnya dulu deh hari ini dia pergi ke kantor atau ada acara lain" gumamnya lagi.
Jadwal yaya
"Hari ini dia tidak ke kantornya? Heh bukannya hari ini dia ke kantor?" Gumamnya lagi sambil melihat jadwal istrinya itu.
Pasalnya hari ini waktunya yaya meeting hari ini, kenapa kenapa wanita itu tidak ke kantor?
"Oh ya hari ini hari sabtu kali ya, jadi pasti yaya pergi meetingnya tidak di kantor kali" gumamnya lagi.
Jae segera melihat kalender dan buku catatan kantor istrinya.
"Oh iya hari ini si yaya ada meeting di luar kantor, di kalender dalam bukunya saja di lingkari pakai spidol merah pasti ini penting"
Jadi karena ini hari sabtu jae memutuskan sehabis ia bekerja ia memutuskan untuk langsung pulang ke rumah sementara yaya sehabis bekerja ia mengajak dewi ke apartemen daril untuk menemui sahabat mereka winda jika dihitung-hitung sejak winda dan daril menikah yaya dan dewi sudah lama tidak bertemu winda.
Ting..tong
Yaya memenjet bel apartemen itu, tak lama kemudian pintu itu terbuka.
"Winda...." ucap yaya dan dewi sembari memeluk sahabat mereka.
"Yaya, dewi" ucap winda membalas pelukan kedua sahabatnya.
"Eh apa kabar? Udah lama loh kita nggak ketemu begini" ujar dewi sembari melepaskan pelukan mereka.
"Aku baik kok, kalian gimana?" tanya winda balik pada dewi dan yaya.
"Kita juga baik" jawab yaya dan dewi bersamaan.
"Btw bayi kamu gimana, sehat kan?” tanya yaya mengusap perut winda yang sudah agak membuncit.
"Sehat kok, malah aktif banget dedeknya" jawab winda tersenyum.
"Ayo masuk masak kita ngobrol di luar" ajak winda mempersilahkan kedua sahabatnya masuk.
"gimana kerjaan kalian?” tanya winda saat mereka sudah duduk di sofa ruang tamu.
"Hmm ... akhir-akhir ini sih, ribet banyak yang tidak lulus, terus juga dari kemarin yaya tu agak aneh"Jawab dewi.
__ADS_1
"Kenapa?" Tanya winda bingung.
"Tau tuh, kemarin tu gue sapa dan beda banget sepertinya sahabat kita satu ini lebih banyak diem, terus dia lebih dingin aja gitu. Kenapa sih kamu yay?" ucap winda dan bertanya pada yaya.
"Hmm nggak tau, semenjak papa masih ri ruang icu aku seperti ada yang hilang, entah kenapa dia jadi seperti kehilangan pemimpin gitu" Jelas yaya menatap sendu teman-temannya.
"Ayah kamu masih di ruang icu? Apa penyakitnya sampai segitunya ya?" Tanya dewi.
"Iya entah sampai kapan papa berada disana"
"btw si daril kemana? Dia nggak ada disini kan?" tanya yaya pada winda.
Winda menggeleng.
"Aman, dia enggk ada disini dia baru aja pergi ada urusan dikantor katanya, but i dont know" Jawab winda.
Yaya manggut-manggut,
"Rajin amat sih suamimu, lagi libur gini kerja" ucap dewi.
Rasanya agak malas sekali bertemu daril karena tampang songongnya ingin sekali yaya tampol.
"Suami gua lebih parah, udah tau hari libur bukannya di rumah juga malah kerja, mana jamnya tidak di kurangi" ucap yaya.
"Aneh banget sih suamimu yay" ucap dewi.
"Jangan-jangan dia ngambek gak dikasih jatah ama lu ya ..” ledek dewi.
"Bisa jadi tuh yay" lanjut winda.
"Aish, jatah apaan" bantah yaya.
"Kalian berdua apa-apaan sih"
Dewi dan winda tertawa senang melihat raut wajah kesal sakaligus malunya yaya.
Rumah
Dengan lemasnya ia memasuki rumah terlihat jae sedang duduk diruang tamu sedang mengerjakan pekerjaannya di laptopnya dan mengecek beberapa dokumen hardfile yang ada di sebelah laptopnya
"Assalamualaikum" ucap yaya sembari menyalimi tangan jae.
"Hmm Waalaikumsalam" jawab jae datar tanpa menoleh pada yaya.
"Maaf mas aku pulangnya telat, soalnya tadi lagi bantuin winda masak” ucap yaya.
"Iya .. " gumam jae, ia berdiri lalu berjalan menuju kamar.
Yaya menatap punggung jae yang sudah mulai jauh, ia menghela nafas lega karena beruntung sekali jae tidak memarahinya bahkan tidak ada satupun ceramah yang ia sampaikan padanya malam ini. Tapi ia yakin, jae pasti sangat marah padanya dengan tingkahnya saja sudah membuat yaya tau bahwa jae sedang marah tapi ia berusaha untuk mengontrolnya karena ia mengerti dengan suasana hati yaya sekarang.
Yaya memilih lebih baik di ceramahi oleh jae dari pada di diamkan seperti ini.
'Jae sesibuk itu kah'
Malam pun telah berlalu, jae dan yaya masih saja saling diam sampai akhirnya....
Ting ... tong.
Bel rumah jae berbunyi, cepat-cepat jae membukanya.
"Siapa sih yang dateng pagi-pagi begini?" gumam jae yang sedang asik menonton berita di tv.
Hari ini ia tidak ke kantor karena tidak kerjaan Jadi dia libur hari ini.
'Cowok? Pagi-pagi begini? Ngapain' gumam jae yang mengintip dari jendela.
'Enaknya di bukain enggak ya?'
'Kalau aku panggil yaya nanti tu orang berulah nambah lagi'
'Dan kalau aku ijinin masuk, enaknya bikinin minum enggak ya?'
'Ya elah jae, tu orang temennya yaya dan mending nggk usah dibuatin dah'
__ADS_1
'Apa mending aku siram aja ya'
'Ntar kalau nggak dibuatin minum, nanti tu orang ngamuk lagi, karena kan dia tamu'
'Nggak usah aja lah, terserah juga kan kalau dia marah aja'
Jae berjalan menuju kamar, hendak memanggil yaya.
Ceklek ..
Jae membuka pintu kamar terlihatlah yaya sudah rapi menggunakan dressnya mungkin dia mau ke kantor, pikir jae.
"Yay .. " panggil jae.
"Hmm. " Gumam yaya tanpa menatap
"Itu, ada tamu mau cari kamu. Cowok" ucap jae.
Barulah yaya menatap jae dengan menaikkan satu alisnya.
"Tamu, cowok? Siapa?" tanyanya.
Jae mengangkat bahunya acuh,
"nggk tau. Pacar kamu kali" jawab jae memelankan suaranya di akhir kalimat. "Apa kamu bilang" tanya yaya karena kurang mendengar ucapan jae.
"Nggk ada" jawab yaya lalu kembali kebawah. Saat berjalan di tangga, samar-samar jae melihat wajah laki-laki yang sedang duduk diruang tamu itu sembari memainkan ponselnya.
Jae menyipitkan matanya ingin melihat jelas siapa wanita itu, sepersekian detik kemudian ia melebarkan matanya.
“horok, itu kan ... lingga itu?" gumam jae, karena yang bertamu adalah laki-laki yang ditemuinya waktu di konser wonderboys itu.
"Siapa sih?" Jae terlonjak kaget, ia menoleh kebelakang mendapati yaya sudah berada dibelakangnya.
"Astaga ... ngagetin aja sih yay" ucap jae mengelus-elus dadanya karena kehadiran yaya secara tiba-tiba.
Yayaa mengangkat bahunya acuh, lalu berjalan kebawah menuruni tangga.
Jae pun mengikuti yaya yang berjalan ke ruang tamu tapi ia memilih memperhatikan dari jauh.
"Ada apa kamu kemari? " tanya yaya to the point.
Ia menatap lingga datar.
Lingga berdiri dari duduknya.
“yay" panggilnya.
Yaya diam
"A-aku kesini mau minta maaf karena waktu itu nggak dateng ke pernikahan kamu. Aku nggak tau juga kalau papa kamu sakit karena hari itu aku lagi ada acara" ucap lingga menunduk.
"terus urusannya kamu sama saya apa?" tanya yaya dingin.
Lingga gelagapan.
"Ee ... ya karena aku dulu kan udah pernah ketemu sama papa kamu jadi aku merasa nggak enak kalau nggak dateng" jawabnya.
"Saya juga tidak mengharapkan kamu datang ya" Balas yaya dingin.
Linhga membungkam mulutnya sendiri, tidak tahu lagi apa yang harus dia jawab.
"Btw cuman itu kan yang mau kamu sampaikan? Hari ini saya sibuk, so hari ini saya tidak bisa diganggu" ujar yaya.
Sebenarnya masih ada sesuatu yang ingin di bicara pada yaya tapi, melihat kondisi perempuan itu yang tidak baik lingga jadi mengurungkan niatnya.
Ada jae? Dia hanya menguping dari dinding ruang tv. Ia malas jika nanti terjadi perdebatan antara dirinya dan si dedemit.
Melihat lingga sudah pergi, cepat-cepat jae duduk manis di sofa ruang tv lalu pura-pura menikmati acara tv agar yaya tidak mencurigai jika ia menguping.
Jae menatap yaya dengan ekor matanya, terlihat sepertinya ia akan pergi.
'Mau kemana yaya? Harus ku pantau ini, jangan panik jae toh kalau itu istri kamu dia juga kagak bakal tergoda sama tu dedemit'
__ADS_1