
Rumah
Setelah mereka berdua sampai di rumah barulah jae memberanikan diri untuk meminta sesuatu dari yaya
"Yay aku minta maaf"
"Minta maaf kenapa?"
"Aku minta maaf karena aku tidak bisa menjadi laki-laki yang baik"
Yaya tersenyum
"Lah selama ini kan kamu memang laki-laki yang baik"
"Bukan itu"
"Tapi aku tidak bisa melindungi kamu, buktinya saja tadi kamu sampai di dorong gitu"
"Oh tadi , kalau tadi mah udah biasa ya yang namanya iri kan tidak bisa di pendam iya kan. Lagi pula bagiku buat apa sih iri dan kalau ada yang butuh bantuan aku kan juga aku bantu selama itu masih masuk akal satu lagi aku itu tidak suka sama orang yang punya rasa dendam, dari pada punya rasa dendam mendingan juga upgrade diri kerja dan hidup bahagia, iya kan sayang"
"Ya tapi kan aku tetap khawatir sayang"
"Oke deh aku maafin kamu"
"Hehe, yay aku berangkat kerja dulu ya cuman sebentar kok, ini ada dokumen yang harus di tanda tangani sama bos aku"
"Iya, hati-hati"
Selama 5 jam jae berangkat kerja meninggalkan yaya yang sendirian di rumah, tiba-tiba terbayang di benaknya ia ingin beres-beres rumah. Mulai dari ruang garasi mobilnya hingga dapur semua di bersihkannya demi terlihat mengkilap dan mencerminkan rumah yang sehat.
'Akhirnya rumah ini bersih juga, pasti jae suka deh karena kan jae suka tu kalau rumah yang bersih, duh capek juga ya bersih-bersih tidur dulu kali ya'
Pukul 04.30
'Hadeh ketiduran lagi, untung tadi sudah sholat duhur ya, sholat asar dulu deh sambil nunggu jae pulang'
Setelah ia selesai sholat ia pun berjalan menuju sofa dan menonton acara tv kesukaannya sembari memakan camilan yang ada di mejanya. Sudah lebih dari 5 jam ia tidak menemukan tanda-tanda bahwa suaminya itu pulang, ia langsung pergi mandi sholat dan menunggunya kembali di sofa tv.
Tak berlangsung lama setelah ia selesai sholat terdengar suara mobil suaminya yang sudah terparkir di garasinya.
"Sayang"
"Lama banget sih katanya cuman sebentar?"
"Ya kan ada yang harus aku urus dulu, nih fotonya juga sudah aku kirim kan?"
"Foto?"
"Iya, aku kirim foto ke kamu biar kamu enggak ngiranya kalau aku itu bohong sama kamu"
"Sebentar"
__ADS_1
"Eh iya, maaf ya jae aku baru buka ponsel aku"
"Iya enggak kenapa kok"
Jae tersenyum
lama-lama ia mendekatkan wajahnya pada yaya lalu memiringkan kepalanya menatap yaya yang membuat yaya bisa merasakan nafas segar dari jae gelagapan.
Bibir jae telah menyentuh bibir ranum yaya tapi karena yaya mendorong dadanya pelan, membuat jae termundur kebelakang.
"Kamu kan dari kantor kan, mandi dulu sana, bau tau" Ucap yaya sembari menutup hidungnya.
Jae mencium bau badannya.
"Enggak, perasaan masih harum kok” Elaknya.
"Iya ih, aku tu ya dari semenjak kita pertama kali ketemu aku tau aroma badan kamu, kalau ini mah bau keringat kamu. mandi dulu sana nanti aku males deket-deket sama kamu" Titah yaya.
Jae memanyunkan bibirnya kesal
Karena memang sudah malam jadi dia menuruti perintah istrinya itu, dari pada nanti yaya malas mendekatinya, lebih baik dia mandi.
Sepeninggalnya jae dari ruang tengah, yaya bernafas lega setidaknya yang akan dilakukan jae tidak terjadi sekarang disini.
"Sayang .."
"Hmm .."
Yaya menatap jae tak percaya.
'Lah kenapa tiba-tiba jadi ngomongin anak sih'
"Eeh ... kalau aku sih terserah Allah aja sih mau di kasih berapa aku manut aja"Jawab yaya.
Jae mengangguk.
"Kalau dikasih 4 tapi kembar gimana?" Yaya langsung melotot.
'Bambang hamil anak kembar itu lebih ribet woy'
"Moh" Bantah yaya cepat.
Jae mengernyit.
"Kenapa? Tadi bilang terserah Tuhan aja mau di kasih berapa"
"Yaa ... tapi nggak empat kembar semua juga kali, nanti kalau perut aku tambah besar terus kamu ada meeting terus kamu ada konser sama grub kamu ke luar negeri gimana?"
Jae tertawa pelan.
"Jae ih malah ketawa" Ucap yaya.
__ADS_1
"Kalau aku sih maunya empat kembar semua” Ucap jae memberi tahu.
Yaya hanya ber oh ria menanggapinya. Hening sesaat.
"Yaya .. "
"Hmm .. "
"Sayang .. "
"Apa sih"
"Kamu mau lanjutin karier kamu lagi nggak?” tanya jae.
"Kenapa jadi nanya gitu?” tanya yaya balik.
"Kan sekarang kamu sudah jadi bos nih terus kamu tidak mau upgrade diri kamu gitu belajar akuntansi lagi, belajar fotografi lagi atau kalau kamu mau audisi kpop gitu"Jawab jae.
Yaya berpikir sejenak.
Kalau dipikir-pikir sepertinya dia sudah bosan.
"Hmmm .... aku lenih milih kerja di kerjaan aku sekarang aja deh"Jawab yaya.
"Lah Kenapa, agency aku sudah mau menerima kamu loh biasanya ngotot banget pengen keluar rumah" Ledek jae.
"Kan udah nggak dibolehin sama kamu gimana sih aku enggak boleh kerja full, udah lupa"
"Sekarang aku bolehin deh, mau lanjutin karier kamu lagi nggak?" tanya jae sekali lagi.
"Nanti dulu ah, aku mau fokus di kerjaan aku sekarang aja" Ujar yaya.
"Sekarang aku nurutin apa kata kamu aja. Aku juga mau jadi istri yang penurut"Jawab yaya lagi.
"Really?" Tanya jae lalu duduk dari tidurnya tadi.
"He'em."
"Kalau gitu kalau aku minta hak aku, kamu turutin nggak?” tanya jae tersenyum menggoda lalu menaik turunkan alisnya.
Seketika yaya mengatupkan bibirnya rapat-rapat ia bingung saat ini apa yang harus ia jawab? Lagi-lagi ia selalu salah dalam berceletuk.
'Mampus, gimana ini apa ini sudah waktunya?'
Yaya tersenyum kikuk sepertinya ini sudah memang kewajibannya sebagian istri dan ini sudah waktunya apalagi jae sudah sabar menunggunya.
Dengan ragu ia mengangguk membaut jae tersenyum senang karena mendapat lampu hijau dari istrinya, ia pun mendekatkan wajahnya pada yaya, yaya bisa merasakan deru nafas jae diwajahnya, jantung yaya berdetak lebih cepat dari biasanya berharap jae tidak mendengar detak jantungnya.
Yaya menutup matanya begitupun jae dan ia merasakan bibirnya telah menyentuh bibir yaya, lalu jae ******* bibir manis milik yaya yang akan menjadi candunya dan berpindah ke bawah mencium leher pendek yaya dan memberi tanda disana bahwa yaya sekarang adalah miliknya seutuhnya.
Lama-kelamaan membuat yaya menikmatinya lalu membalas ciuman dari jae membuat jae senang karena mendapat balasan dari istrinya itu.
__ADS_1
Dimalam itulah mereka kini saling membuka hati satu sama lain dan berjanji akan saling percaya.