Antara Aku, Kamu, Karier Kita

Antara Aku, Kamu, Karier Kita
Kena marah


__ADS_3

Masalah Winda yang tadi sudah Yaya selesaikan, besoknya ia akan membantu Deril untuk berbicara pada orang tua Winda perihal masalah penikahan mereka berdua.


"Jam segini baru pulang, dari mana?" Tanya Jae saat melihat Yaya pulang ke rumah sudah larut malam.


Yaya meneguk salivanya payah.


Takut jika Jae akan marah padanya malam ini.


'heh, omg ceramah rohani apa yang bakal ku denger malam ini'


Yaya menegakkan tubuhnya, berdehem singkat agar tidak gugup lantas ia berjalan mendekati Jae yang sedang duduk di sofa sembari menonton acara reletishow di tv.


"Eh sayangku udah pulang, mau aku bikinin kopi atau teh mas?" Ucap Yaya mengalihkan pembicaraan.


"Jangan mengalihkan pembicaraan ya yay" balas Jae tegas.


Yaya mulai menggigit bibir bawahnya takut.


"Dari mana kamu jam segini baru pulang?" Tanya Jae sekali lagi.


"Da..dari kantor" jawab Yaya.

__ADS_1


"Kamu nggak inget kalau kamu hari ini ada tugas dari ayah kamu?" Tanya Jae kini menatap Yaya dengan aura sangat dingin.


'Mampus pasti dia marah banget setelah ia tanya kepada karyawan yang ada di kantor dan aku kagak ada di kantor hari ini'


"Mateng dah di tangan tu bapak-bapak ganteng"


"Jawab jangan cuman diam aja disitu" tanpa sadar Jae meninggikan suaranya.


Yaya gelagapan, ia meremas rok yang ia kenakan dengan kuat.


' aku harus jawab apa nih'


"Hmmm perasaan saya benar kan kamu bolos kerja hari ini?" Tanya Jae.


"Iya mas aku bolos hari ini" jawab Yaya pelan.


Jae tertawa sumbang mendengarnya. Ia menaruh hpnya di meja lalu bersedekap dada menatap Yaya yang menunduk saking takutnya.


"Pergi kemana kamu sepanjang hari ini sayang, kamu sudah mulai berani bolos kerja ya hari ini" ucapnya tampak tenang namun sangat menusuk.


"Tadi saya bantuin masalah Winda dulu mas" jawab Yaya jujur.

__ADS_1


"Ada apa sama Winda? Masalah kamu sendiri tidak penting gitu?" Tanya Jae.


"Sayang emangnya kamu ortunya sampai kamu rela bela-belain nyelesein masalah Winda, apa dia anak kamu gitu?" Tanya Jae lagi.


Yaya sudah tidak bisa menahan emosinya lagi ia tiba-tiba bangkit dari duduknya dan berbicara dengan emosinya yang masih belum bisa di kontrol.


"Denger ya wahai mas-mas tampan yang terhormat, Winda itu besti aku jadi urusan dia juga urusan saya. Kita kenal sudah lama lebih dari 19 tahun mas setiap saya ada masalah pasti mereka juga bantuin saya, jadi saya juga tidak bisa tinggal diam gitu aja, saya juga harus membantunya, kami sudah seperti saudara mas. jadi mas aku mohon jangan menyepelekan masalah persahabatan kami" ucap Yaya menggebu-gebu, nafasnya naik turun karena ia tidak terima atas ucapan suaminya.


"Winda sahabat saya sudah dilecehin mas, saya tidak terima kalau sahabat saya dinodai oleh laki-laki yang bukan mahramnya" lanjut Yaya.


Jae terdiam mendengar ocehan istrinya itu.


"Coba mas bayangin kalau misalnya saya atau adik perempuan mas sendiri digituin mas terima nggak? Pasti tidak kan?" Ujar Yaya.


"Cukup yay!" ucap Jae sedikit membentak, Yaya terdiam.


Jae beranjak ke kamarnya dengan emosi yang masih tertahan meninggalkan Yaya yang kini duduk lemah disofa.


Yaya mengusap wajahnya kasar, kepalanya terasa pusing karena seharian marah-marah terus.


'Asssshhhhh'

__ADS_1


__ADS_2