
Pernikahan yaya dan jae akhirnya sudah terbongkar, tapi yaya tidak mempermasalahkan hal itu karena ia masih percaya dengan perkataan suami dan manager suaminya.
Sedangkan jae masih berusaha untuk menulikan telinganya karena masih saja ada yang mencibir dirinya dan yaya. Banyak yang tidak menyangka tentang hal itu, begitupun dengan kate.
Dia shock setengah mati ternyata orang yang dia taksir dari semenjak sebelum lost contact dan ingin mendekatinya sudah memiliki istri seperti sudah selesai hidupnya setelah mendengar kabar tersebut. Setelah acara kantor , yaya sangat ingin punya agenda liburan bersama kelurga dan teman-temannya tapi tidak bisa, keluarganya masih sibuk dengan pekerjaan dan sekolah mereka, jae juga sibuk dengan kerjaannya sedangkan kedua sahabatnya itu juga tidak bisa lagi pula keadaan winda yang sedang hamil dan dewi yang sibuk mempersiapkan barang-barangnya untuk dibawa ke dubai.
"Horok, bosen ih, mau jalan-jalan tapi gak tau mau ngajak siapa coba" gumam yaya
Sedari pagi kerjaan yaya hanya bisa tidur, makan, menonton, barmain hp dan begitu seterusnya sampai ia merasa bosan.
Ia ingin sekali bekerja full lagi tapi jae selalu saja melarangnya.
Ceklek
Pintu utama rumah itu terbuka menampakkan jae yang sudah pulang dari kantor agencynya. Tanpa melirik yaya yang ada diruang tv, ia tetap berjalan ke kamar nya.
'Seperti biasa dicuekin mah sudah biasa'
Sebenarnya setelah jae pulang nanti, yaya ingin membujuk jae agar ia dibolehkan untuk bekerja full kembali karena jae sudah pulang jadi ia akan melakukan aksinya apapun itu.
Yaya berjalan menyusul jae kekamar hendak membuka pintu kamar, jae malah keluar membuat yaya menahan kaget dan mematung ditempat ia berdiri.
"Pas banget kamu ada disini" ucap jae melihat yaya.
"Sini bentar" titahnya pada yaya.
Jae berbalik lalu masuk lagi kekamar duluan sedangkan yaya mengangkat satu kepalan tangannya di udara lalu menatap kepala jae serasa ingin meninjunya.
"Ada apa sih?" Tanyanya saat sudah berada didalam kamar.
"Ini apa?" tanya jae datar sembari menunjuk beberapa paper bag belanjaan barang bermerek yaya tadi.
Seketika yaya melotot.
'Nah loh muampus, apa yang akan ia lakukan sekarang kalau lihat ini, mana barang yang gua beli bermerk semua lagi'
"Ee ... mas itu kan..."
"Kamu ngapain beli belanjaan banyak banget, kamu mau jadi wanita yang boros?" tanyanya lagi.
"Enggk, itu diskonan jae makanya aku borong semua" jawab yaya cengengesan.
Tadi pagi yaya memainkan ponselnya dikamar, ia melihat-lihat salah satu jualan olshop kepercayaannya. Karena di sana banyak terpampang diskonan dan gratis ongkir, jadi lah yaya memborong semua barang-barang itu seperti baju, tas dan sepatu yang menurutnya sangat bagus. Tanpa ia sadari ternyata yang dibelinya sangat itu banyak yang membuatnya harus membayar sekitar kurang lebih 2 juta.
"Beli semua itu buat apa? Coba buat apa?" tanya jae yang sudah mulai jengah.
"Yaa .... buat dipake lah emangnya buat apa lagi"Jawab yaya.
"Aish kamu ini ya belanja sih boleh, aku tau kamu itu suka banget sama barang diskonan, tapi bisa kan belanja seperlunya aja, kalau urusan baju nanti aku belikan satu set sama perhiasannya, kalau seperti ini kan astaga yay"
Yaya menunduk, ia memang salah hanya karena kata-kata diskon dan gratis ongkir ia Jadi melupakan yang namanya hemat dan bertanya pada suami terlebih dahulu.
"Ya maaf mas" ucap yaya sementara jae menghela nafasnya sesaat.
"Sebagai hukuman kamu udah nggak boleh belanja barang-barang apapun di olshop online selama 1 bulan tanpa saya” ujar jae.
Yaya mendongak sembari memelototkan matanya, itu hukuman apa perintah sih?
__ADS_1
"Lah kok gitu sih mas ya nggak bisa lah, lah masak aku gak boleh belanja kalau enggak ada kamu” protes yaya tidak terima.
"Itu emang pantes buat kamu biar kamu bisa belajar apa itu hemat dan bisa memilih barang yang berkualitas bagus atau mau aku nggak kasih belanja selama satu tahun pakai kartuku?"
"Ya nggk lah mas" tentu saja yaya tidak mau.
Biasanya gadis itu selalu belanja barang-barang standart atau apapun itu sebulan sekali tetapi yang hanya diperlukan saja.
Terpaksa yaya harus mengalah dari pada tidak belanja setahun dengan kartunya jae ada untungnya juga ia tadi belanja banyak karena ada stok baru untuk barang miliknya yang sudah habis.
Yaya memang begitu, jika sudah habis masa pakai makeup, skincare dan baju dll untuk baju dan sepatu pasti ia akan menyumbangkannya untuk skincare ia akan langsung membuangnya dan membeli yang baru.
"Iya deh."
"Bagus" balas jae lalu melengos pergi kekamar mandi.
Masuknya jae kekamar mandi, yaya langsung merubah raut wajahnya cemberut sembari menghentak-hentakkan kakinya kelantai karena kesal.
Malam harinya yaya dan jae makan malam berdua dengan diam belum ada yang mau berbicara satu pun sejak tadi.
Hingga yaya tak tahan dengan keheningan ini, jadi ia memberanikan bicara pada jae soal yang tadi
"Jae" panggil yaya pelan.
"Hmm" gumam jae.
"A-aku besok boleh kerja full lagi nggak?"
"maaf ya yay kali ini enggak dulu" jawab jae cepat.
"Lah, kenapa sih mas aku bosen tau di rumah paling enggak ijinin kek gitu aku ya buat ikut audisi-audisi gitu" Ucap yaya memelas.
Ingin rasanya yaya mengumpati jae didepan wajahnya, tapi ia tidak berani. Yang bisa ia lakukan hanyalah menghembuskan nafas sabar, Selesai yaya makan dan membereskan semuanya, barulah ia pergi ke kamar hendak tidur.
Saat ia memasuki kamar, tampak lah jae yang sedang memijat pelipisnya lelah, yaya mendekati jae yang sedang duduk di sofa sembari mengerjakan pekerjaannya.
"Kenapa mas?" tanya yaya.
Jae menoleh sekilas pada dhaya lalu menatap laptopnya kembali.
"Nggak papa"Jawabnya.
"boongnya kumat” cibir yaya.
Jae tidak menanggapinya, ia hanya diam.
"Kalau ada masalah tuh cerita mas, jangan di pendem sendiri. Siapa tau nanti aku bisa bantu" ucap yaya lagi.
Jae menatap kearah yaya sepenuhnya.
"Cuma lagi pusing aja ini apa tu namanya cari nasabah" Jawabnya lalu menghempaskan tubuhnya ke punggung sofa.
"Emang baru ada berapa?"
"Ada dua ini tinggal dikit lagi sih".
Yaya manggut-manggut.
__ADS_1
Sepersekian detik kemudian ia tersenyum smirk, tiba-tiba sebuah ide terlintas di otaknya.
"Masih bingung ya mas?" tanya yaya sementara Jae menggeleng lemah.
"Gimana kalau untuk sementara ini aku bantuin kamu cari nasabah" ucap yaya mengusulkan dirinya sendiri.
Jae kembali lagi menoleh pada yaya dengan satu alis terangkat.
"Aku bisa kok"
"Nggk"
Yaya berdecih pelan.
"Emang kenapa sih mas aku tuh nggak boleh bantuin, ikut audisi apa ikut pelatihan gitu, aku tuh bosen di rumaah” Rengek yaya.
Jae memutar bola matanya jengah. Sudah berapa kali ia bilang pada yaya kalau jae tidak mau istrinya bekerja juga diluar dan ia ingin yaya tetap santai di rumah, tapi istrinya itu tidak mengerti juga.
"jae pliss .... masa bantuin kamu cari nasabah atau bantuin kerjaan kamu kamu nggak bolehin sih" ujar yaya memohon.
"Aku bisa kok sayang" ucapnya lagi sembari bercanda.
Jae berpikir, menimang-nimang ucapan yaya.
Sebenarnya sih dia mau-mau saja tapi ia sangat tidak tega menyuruh istrinya itu untuk bekerja full lagi ataupun mengikuti ajang audisi apapun.
Karena prinsip jae memang begitu, saat nanti ia sudah memiliki istri, sekaya apapun dirinya dan sesukses apapun dirinya nanti istrinya itu tidak ia perbolehkan bekerja cukup dia saja yang mencari nafkah, selagi ia masih mampu, dan jika istrinya ingin bekerja ia juga tidak keberatan asalkan pekerjaan itu tidak membebankan istrinya.
"Pliss mas" pinta yaya sembari telapak tangannya ia satukan untuk memohon pada jae.
Jae menghela nafas.
"Iya deh"Jawab jae.
Jae sudah memikirkan itu, karena ia sudah tidak tahu lagi harus bagaimana lagi sekarang dan mau tidak mau jae mengiyakan permohonan yaya karena saat ini ia sangat membutuhkan itu untuk di data.
Seketika mata yaya berbinar mendengar jawaban jae, refleks ia memeluk tubuh jae yang ada disampingnya.
"Yess ... makasih ya jae" ucap yaya dengan senangnya permintaannya dikabulkan jae.
"Yay..bisa lepasin pelukannya enggak aku nggak bisa nafas" Ucap jae karena pelukan yaya yang sangat erat.
Sadar, ia pun langsung menjauhkan badannya dari jae, Ia merasa malu dengan apa yang dilakukannya.
"Hehe ... ma-maaf mas , nggak sengaja juga" ucap yaya yang salah tingkah setelah memeluk jae.
"Hmm mas, jadi kapan aku bisa bantuin kamu?” tanya yaya.
"Kalau besok pagi gimana, jadi setelah dari kantor kamu terus kamu ke kantor aku"
Seketika mata yaya berbinar.
"Serius mas, ini beneran besok? "
Jae mengangguk singkat.
"Yess .. akhirnya" gumam yaya senang.
__ADS_1
Jae merasa heran dengan yaya, dia ini sedikit pemalas disaat orang lain hanya ingin berdiam diri di rumah kenapa yaya sangat ingin sekali bekerja? Apa serunya bekerja bagi yaya? Hanya dia yang tahu. Ia senang karena jae mau mengizinkannya bekerja kembali walaupun hanya membantu pekerjaan jae sedikit, tapi kesenangan itu belum sepenuhnya karena jae masih sedikit dingin padanya karena kejadian yang yaya tidak tahu penyebabnya.