Antara Aku, Kamu, Karier Kita

Antara Aku, Kamu, Karier Kita
Keinginan ayah yudi


__ADS_3

Yaya terduduk lemas disebuah bangku taman yang berada di rumah sakit itu sembari menumpukan kepalanya dengan tangan.


Ia benar-benar tidak percaya. Kenapa ia sebagai anak tidak diberi tahu dari awal? Ia merasa tidak becus menjadi seorang anak yang tidak bisa merawat orangtuanya.


Flassback on


"Jadi sebenarnya papa mengidap penyakit getah bening itu sudah lama, waktu kamu masih sekolah yay." Jelas mama siti yang membuat yaya tak percaya.


"Papa dulu waktu di kantor ada acara suntik imunisasi hepatitis B tapi papamu ngumpet yay alasannya takut sama jarum suntik. Akhirnya penyakitnya papa sudah bertambah parah dan setiap hari harus mengonsumsi obat yang rutin kalau satu hari saja tidak minum obat harus di ulang lagi dari awal harga obatnya juga mahal yay lebih tinggi dari gajimu dari papa, gajimu di kantor 3 juta kan kalau obat papamu lebih dari 3 juta. Karena penyakitnya udah bertambah parah jadi merusak organ lain yay, kamu pernah mencium nafas papa kamu yang baunya tidak wajar? Nah itulah penjalaran penyakitnya yay. Papa disuruh untuk merahasiakan ini semua pada kalian, agar kalian tidak merasa sedih dan cemas dengan kondisi papa. Papa memang tampak baik-baik saja didepan kalian. Tapi saat papa sendirian atau sama mama dia sering ngeluh.


Makanya papa juga pengen kamu cepat-cepat bekerja yay, biar dia bisa liat salah satu anaknya bahagia sebelum kondisi yang lebih buruk terjadi"Jelas mama siti lagi.


Semua orang terdiam mendengarnya. Sedangkan yaya kembali menangis.


"Maafkan mama nak, karna tidak memberi tahu kalian" Ucap mama siti menatap sendu anak-anaknya.


Karena tidak ingin terbawa emosi, yaya lebih memilih keluar dari tempat itu mencari angin segar untuk menenangkan pikirannya.


Flassback off


Tanpa disadari air matanya jatuh begitu saja, membasahi pipi yaya.


Dia benar-benar takut akan kehilangan papanya.


Karena yang ia tau, seseorang yang mengidap penyakit komplikasi cancer hati ( LIVER) dan hepatitis B memang tidak begitu berbahaya akan tetapi ada sebagian orang yang menderita penyakit ini menurut sebagian keluarga yang menderita penyakit ini memberikaan informasi kalau penyakit ini sangat berbahaya.


Setiap yang bernyawa pasti akan mati. Dia tau itu, tapi untuk kehilangan orang kita sayang berat rasanya dan belum bisa untuk menerimanya.


Yaya merasakan seseorang memegang pundaknya.


Dengan cepat Yaya menghapus air matanya lalu Ia mendongak, mendapati suaminya berdiri di samping bangku taman itu.


"sayang, kamu ngapain ada disini malam-malam?" tanya jae, namun yaya hanya diam tak bergeming.


“Kita masuk yuk, katanya papa udah siuman dan mama pengen ketemu kamu" ajak jae lembut.


"Nggak, aku belum siap melihat keadaan papa" Ujar yaya sambil menutupi rasa sedihnya.


Jae menghela nafas lalu duduk disamping jae.


"sayang, kamu harus kuat, papa pengen ketemu sama kamu dan papa butuh semangat dari anak-anaknya kamu juga nggak mau kan bikin papa sedih?" ujar jae selembut mungkin.


Kata-kata jae memang ada benarnya juga, dia tidak mau membuat papanya bersedih hanya karena dirinya.


Jae menatap yaya lekat, begitupun dengan yaya dan pandangan mereka saling bertemu.


Yaya menganggukkan kepalanya sekali, memberi kode untuk yaya menemui papanya.


Mengerti, yaya pun bangkit dari duduknya lalu masuk kembali ke dalam rumah sakit diikuti jae berjalan disampingnya.


Ceklek ..

__ADS_1


Yaya dan jae memasuki ruangan papa yudi, dimana di sana sudah terdapat keluarga yaya dan juga jae yang sedang mengelilingi kasur rawat papa yudi.


Yaya melangkah mendekati ranjang sang papa.


"Pa, gimana keadaan papa? Apa yang papa rasain?" tanya yaya lembut. Papa yudi tersenyum menatap anak perempuannya itu sembari mengusap lembut rambut hitam lebat yaya


"Papa nggak kenapa. Kamu jangan khawatirin papa ya." Pinta sang papa.


"Pa, astaga jelas aku sebagai anak, harus khawatirin papanya, papa kenapa nggak bilang sih kalau dari dulu tuh papa sakit. Kenapa harus ditutup-tutupin sih pa? Kalau papa ngomong dari awal pasti aku bakalan bawa papa ke rumah sakit yang lebih bagus di luar negeri buat menjalani perawatan yang lebih bagus disana" Cerocos yaya panjang lebar.


Ia begitu sangat menyayangi papanya.


Papa hanya tersenyum menenagkan.


"Nggak ada gunanya juga papa perawatan mahal-mahal kalau seperti ini jadinya" Ucapnya.


Yaya menggeleng.


"Nggak pa, kalau papa ada niatan buat sembuh, Pasti papa bakal sembuh dan harusnya papa bilang sama yaya" Balas yaya menahan tangisnya.


"Iya papa, papa jangan pernah ninggalin kita. Kita masih sayang sama papa. Kalau papa pergi nanti siapa yang bakal ajak kita jalan-jalan, siapa yang mau main mobil-mobilan lagi sama bagus kalau papa masih sakit" Sahut bagus terisak.


Mama Siti menatap anak perempuan satu-satunya itu, senyum dari bibir pucatnya tidak luntur sedikit pun.


"Kalian semua kan udah pada dewasa, pasti bisa jaga diri sekarang”Jawab papa yudi.


“Lagian kamu ngomong gitu kayak papa udah nggak ada aja” Lanjut papa sembari tertawa singkat.


"Semoga allah sayang sama papa dan segera diangkat penyakitnya, jangan sampai sakit lagi dan semoga ini menjadi penyakit terakhir papa dan setelah itu iangan sampai papa masuk rumah sakit lagi" Ucap bagus pelan.


Mama sofia tersenyum mengangguk.


"Kok gue ambigu ya" Gumam jae.


karena yang ada dipikirannya sekarang adalah tentang kematian sang papa. Penyakit terakhir papa dan tidak masuk rumah sakit lagi? .... Aih kenapa dia jadi berpikiran kesana? Karena kan pikiran bagus minim.


"Doa mu nggak salah? "tanya jae pada bagus.


"enggak tau.”Jawab bagus kesal.


"Harusnya doanya tuh begini" Ucap jae lalu berdehem singkat.


"Semoga papa cepet sembuh, dihilangkan segala penyakitnya lalu bisa berkumpul bersama kita lagi dirumah." Ucapnya lagi.


" Amiiin" semua orang mengaminkan.


Sesampainya jae dan yaya dirumah , jae langsung mengganti bajunya bersiap untuk tidur, Sedangkan yaya memilih duduk di sofa kamarnya sembari memijat pelipisnya yang terasa pusing .


Sebenarnya ia ingin sekali menginap di rumah sakit saja karena ingin menjaga papanya tapi papa yudi menolak, yaya dan jae disuruh pulang karena besok mereka masih ada kerjaan dan mamanya takut akan menambah beban anaknya itu , lagian di sana juga sudah ada bagus dan mama siti yang akan menemaninya jadi yaya tidak perlu menghawatirkan sang papa.


Begitu ucap papa saat berada dirumah sakit, Mau tak mau suka ataupun tidak suka yaya harus mengiyakan perkataan sang papa dan segera pulang.

__ADS_1


"sayang, kamu nggak mau ganti baju?” tanya jae saat keluar dari kamar mandi.


"Hmm" jawab yaya tanpa menatap ke arah jae.


Untuk hari ini entah kenapa ia merasa iba dengan istrinya itu biasanya mereka saling berdebat hal yang tidak penting dan membosankan.


Melihat wajah yaya yang tampak sangat lelah, letih, lesuh dan berantakan membuat jae sangat merasa bersalah.


Ia baru menyadarinya sekarang, bahwa ia punya banyak salah pada yaya.


Padahal yaya butuh semangat dari dirinya bukan malah mengajaknya berdebat, tidak mengerjakan tugas kerjaan dari sang ayah, tidak mengurus rumah dan istrinya dengan baik adalah kesalahan terburuk jae selama ini. Jae merasa ..... amat sangat menyesal. Jae segera berjalan mendekati yaya lalu duduk disampingnya.


“sayang, kamu yang semangat ya jangan kayak gini ini tu bukan kamu yay aku tau itu dan aku gak suka liat kamu kayak gini" Ucap jae lembut lalu menepuk pahanya pelan.


Yaya menatap manik mata Jae lekat .


"yay, kalau kamu punya masalah, langsung aja ceritain ke aku, jangan di pendem sendiri dengan itu beban pikiran kamu bisa berkurang" Ucap jae juga menatap mata yaya.


Entah kenapa yaya menjadi luluh mendengar perkataan jae, Ia tidak menyangka suaminya bisa sedewasa ini.


" Aku lagi banyak pikiran jae..." ucap yaya.


"Iya , kenapa?" tanya jae lembut.


Yaya membuang nafasnya.


"Pertama papa sakit , kedua pekerjaan di kantor, ketiga pekerjaan aku yang lain, kamu tau kan jae kalau aku itu influens jadi deatlainenya sangat banyak belum upload video youtube" Jawab yaya.


"yay, maafin aku ya, kalau selama ini aku nggak pernah tanyain kabar kamu lagi karena aku juga sibuk kerja" Ucap jae kembali merasa bersalah.


"Oh ya mas.." ucapan yaya menggantung.


" Hmm"


"Aku pengen wujudin permintaan papa .."


"Permintaan papa? Apa ? "


"sekarang kan aku sudah bekerja di kantornya papa, dan karena aku dan kamu sudah menikah jadi...."


"Aku mau kasih mama sama papa punya cucu" yaya terdiam kaku.


Entah kenapa otaknya susah untuk berpikir menjawab pertanyaan yaya sekarang. Bukannya dia tidak mau, tapi dia masih harus bekerja jadi dia harus sedikit menunda dulu, Tiba - tiba saja sebuah ide muncul di kepala jae.


"Yay, aduh kok perut aku mules ya" Ucap jae sembari memegangi perutnya yang sebenarnya baik-baik saja, Ia berusaha menghindari pernyataan yaya saat ini.


"yay, ku ke toilet dulu ya sebentar"


Yayapun mengangguk pada jae yang sudah berlari menuju ke kamar mandi.


'yaya minta kasih mama papa cucu, itu berarti?'

__ADS_1


'astaga yay akhirnya hari ini datang juga'


__ADS_2