Antara Aku, Kamu, Karier Kita

Antara Aku, Kamu, Karier Kita
Sama-sama cemburu?


__ADS_3

"Aku bisa jelaskan"


"Aku tidak cemburu hanya saja aku tidak suka melihatnya"


"Maaf.... kamu Rilak kan? Kamu ngapain disini?" Tanya Yaya heran.


Saat sampai di pintu utama gedung agency Jae Yaya tidak sengaja melihat ada Rilak disana, dan kalian tahu apa yang terjadi disana? Yaya tidak sengaja melihat Rilak hampir saja makan bareng dengan Jae dan hampir saja Rilak menyuapi Jae.


"Seharusnya saya yang tanya sama kamu ya ngapain kamu disini?" Tanya Rilak balik.


"Kamu tu harus minta izin dulu kalau mau kesini, sebenarnya kamu sudah baca aturan disini belum sih? kalau mau kesini harus bikin janji dulu, lah ini main dateng aja" omel Rilak yang memandang Yaya dengan pandangan tak sukanya.


Yaya geram, ingin sekali menampar wanita itu karena terlalu songong, dan lagi ia harus bisa menjaga vibrasinya agar tidak terpancing emosi, jika bukan teman mungkin wajah putih nan cantik itu akan mulai memerah karena tamparan Yaya.


"Kenapa diam? Kamu ke sini itu mau ketemu sama siapa?" Tanya Yaya lagi.


Yaya memasang wajah judesnya


"Nggak mau ketemu sama siapa-siapa, mas nih buat mas sama semua temen-temen grubnya mas, maaf aku udah ngeganggu waktu bermesraan kalian berdua" ucap Yaya dengan menekan kata bermesraaan.


Ia memberikan makanan itu kepada Jae lalu melengos pergi ke cafe untuk menenangkan dirinya.


"Yay" panggil Jae berusaha menghentikan langkah Yaya yang semakin jauh dari gedung agencynya, namun Yaya tetap melanjutkan langkahnya dengan wajah yang masih menahan sedikit kesal.


"Dasar tu cewek nggak punya sopan santun, enggak punya etika, kayaknya enggak pernah di ajarin tu ya sama orang tuanya atau enggak pernah diajarin selama disekolah kali ya" cibir Riak terhadap Yaya yang sudah pergi meninggalkan gedung agency Jae.


Jae yang mendengar ucapan ratna yang menghina Yaya, mertuanya, dan guru yang sudah mendidik istrinya tersebut berusaha menahan kesal agar emosinya tidak meledak seketika.


"Maaf bisa anda pergi dari sini sekarang" ucap Jae.


"kamu ngusir aku?" Tanya Yaya sedikit terkejut mendengar ucapan Jae tiba-tiba berubah.


"Saya sudah bilang kan bisa pergi dari sini sekarang" ucap Jae.


"Tapi Jae"


"Saya ingin sendiri lagi pula saya masih ada kerjaan" ujar Jae.


"Oke, saya permisi" ucap Rilak melenggang pergi meninggalkan kantor takut Jae akan kembali marah kepadanya.


Jae masuk ke dalam gedung dan terduduk lemas sembari memegang kepalanya yang pusing, saat ini mungkin Yaya salah paham karena melihat kejadian barusan.


Yaya sekarang berada di cafe yang tidak jauh dari gedung TG sementara Winda dan Dewi sudah pulang ke rumahnya masing-masing karena hari juga sudah mulai sore dan kerjaan juga sudah selesai. Ia ingin sekali menendang kursi yang ada di depannya saat ini tetapi karena dirinya saat ini sedang di tempat umum tidak mungkin Yaya menendang kursi begitu saja dan membuat orang yang sedang makan dan minum terganggu, lagian juga kalau kursinya rusak ia juga tidak mau untuk mengganti kerusakan kursinya.


"Jijik gua lihat tu cewek gatel, tukang genit sama suami orang, heran deh cowok jomblo kan banyak kenapa harus suami orang dan yang di godain itu suami aku lagi" gumam Yaya kesal.


Drrrt.. drrrttt


Handphone Yaya tiba-tiba berbunyi, Yaya melihat sekilas notifikasi telfon dari Jae, dengan perasaan magernya ia langsung mengangkatnya.


"Hmmm" ucap Yaya.


"Yay... halo, kamu bisa ke gedung TG sekarang?" Ucap Jae di sebrang telfon.


"Nggak bisa. mager" jawab Yaya.


"Mager kenapa?"


"Mas denger Yaya kan, Yaya mager"


"Kamu ini mager tinggal jalan aja ke sini sebentar aja"


"Mas, aku udah bilang ya dari tadi kalau aku tu lagi mager" ucap Yaya lalu langsung menutup telfonnya.


"Assssh tu orang ya bikin naik darah" gumam Yaya.


Parkiran


Yaya berjalan menuju mobilnya yang terparkir di parkiran.


"Yaya" baru hendak masuk ke dalam mobil ada suara yang memanggilnya yang membuat Yaya berbalik mencari asal sumber suara.


"ngapain disini? Ada janji sama orang ya di cafe sini?" Tanya Yaya terlalu malas meladeni orang yang sekarang sedang berdiri di hadapannya.


Orang itu mengusap tengkuknya merasa canggung.


"Hmm, boleh nebeng mobil kamu nggak?" Ucapnya pada Yaya.


"La kan ada motor kan, motor kamu si ciprit itu mana?" Jawab Yaya cepat.


"Ciprit baru sakit yay jadi aku bawa ciprit ke bengkel, enggak jauh kok dari caffe ini" balas cowok itu.


"Maaf ya tapi aku baru enggak nerima tebengan sekarang" kata Yaya.


"Kenapa? kan deket kok bengkelnya tinggal mak nyil doang" ucap Dono.


"Nggak bisa , sorry ya buru-buru nih" ucap jawab Yaya sedikit memutar agar bisa cepat pulang ke rumah.


"Pliss, sampe bengkel aja kok" pinta Dono lagi memohon pada Yaya.

__ADS_1


"aku gak bakal macem-macem kok sama lu" lanjutnya.


Yaya menyipitkan matanya, ia masih curiga kalau Dono ada maksud lain tapi ia berusaha untuk percaya dengan intuisinya saat ini.


"Yay, aku tu serius lagi enggak pegang uang cas buat naik taxi atau ojek" ucap Dono memohon sembari memegang kedua tangan Yaya.


Yaya melepaskan genggaman tangan Dono. "Kamu tu ngapain sih megang-megang tangan aku" sahut Yaya.


"Eh, refleks sorry-sorry" kata Dono yang menggaruk-garuk rambutnya padahal tidak gatal.


"Terus nanti bayar bill bengkelnya gimana kan dirimu bilang kagak pegang uang cas kan?" Tanya Yaya pada Dono.


"Itu udah di bayar tenang aja, karna aku buru-buru tadi makanya itu aku lupa ambil uang ke atm" jawab Doni cepat.


Entah ia berbohong atau tidak entahlah Yaya emang tidak tahu sekarang, Yaya mulai memutar otaknya agar bisa memberikan tebengan untuk Dono dan percaya pada Dono bahwa ia tidak akan macam-macam.


"Tapi ini tebengan terakhir ya" ucap Yaya .


Mata Dono berbinar-binar


"Makasih ya yay" ucap Dono senang dan bersyukur.


Lalu mereka masuk ke dalam mobil Yaya dan Yaya sendiri yang akan menyetir mobilnya dalam kecepatan diatas rata rata agar bisa segera sampai ke rumah dan menyelamatkannya dari setan yang berusaha melamakan waktunya dengan Dono.


Rumah


"Dari mana?" Tanya Jae yang sudah berdiri di dekat pintu utama.


Yaya menghela nafasnya


"Dari kantor lah" jawab Yaya.


"Habis dari kantor kemana?" Tanya Jae lagi.


"Ke gedung agency kamu terus habis itu ke cafe" jawab Yaya.


"Habis dari cafe?" Tanya Jae lagi.


Yaya mengerutkan keningnya, ia berfikir untuk mencari jawaban yang pas agar ia tidak mendapat ceramah lagi dari suaminya itu


"Lah rumah nok gimana sih" jawab Yaya singkat.


"Nggak usah bohong ya sama saya, sudah saya bilangkan sama kamu kalau saya tidak suka sama wanita yang suka berbohong apalagi istri saya sendiri, paham" balas Jae datar.


"Mas ngapain sih aku bohong, manfaatnya apa juga kalau aku bohong" jawab Yaya santai.


"Kamu pergi kemana sama cowok?" Tanya Jae lagi.


Ia masih belum paham apa yang Jae ucapkan.


"Cowok itu pacar kamu kan, kamu pergi berdua kan sama pacar kamu?" Fitnah Jae.


Yaya mengangkat satu alisnya dan merasa bingung dengan ucapan Jae barusan.


"Horok, pacar... pacar apaan?" Beo Yaya.


Jae menghembuskan nafasnya jengah.


"Pacar siapa lagi kalau bukan pacar kamu, tadi pergikan sama cowok?" Fitnah Jae lagi.


'Mampus ternyata ni mas-mas bisa jadi intel juga ya udah kek dispats aja, tau-tau dia udah lihatin gua tadi?'


Sekarang Yaya mengerti maksud ucapan suaminya itu.


"Oh dono ya yang mas maksud?" Tanyanya.


Jae mengangkat kedua bahunya .


"Pfffft, ceritanya ni kamu cemburu ya mas sama dono?" Goda Yaya.


Jae mengernyit


"Nggak weh, siapa yang cemburu" jawab Jae cepat.


"Bilang aja kali mas enggak papa kok, ternyata kamu yang seperti itu bisa ya cemburu juga ya" ledek Yaya lagi.


"Dengerin ya mas, dono itu bukan pacar aku tadi dia minta tebengan suruh aku antar ke bengkel" jelas Yaya.


"Kenapa harus kamu? Kan masih banyak orang kan di cafe itu?" Tanya Jae.


"Lah kan nggak tau juga aku mas, istri mas iki kan cantik, imut, sexy, lumayan pinter lagi" jawab Yaya santai.


"Ngapain dia ngajak ke bengkel sama kamu?"


"Minta di olesin oli kali biar lancar tu pikirannya" jawab Yaya ngawur.


Jae menatap Yaya tajam


"Saya serius ya yay" ucapnya.

__ADS_1


"Ambil motornya lah emangnya mau ngapain lagi"


"Bener cuman itu, enggak ada yang lain?"


"Astaga cuman itu sayangku, istrimu yang satu ini beneran serius" jawab Yaya.


"Lagian yang pacaran itu bukannya mas ya kenapa jadi saya" lanjut Yaya yang kembali menyindir Jae.


"Nggak, aku nggak pacaran jangan asal ngomong ya" ucap Jae mengelak ucapan Yaya yang dengan enak hati menuduhnya pacaran.


"Heleh tadi pegangan tangan, terus tu ngusap-ngusap rambut segala, bukankah itu namanya pacaran ya wahai suamiku" cibir Yaya mendelik.


"Salah paham kamu"


"Salah paham dari mana bambang, aku lihat semuanya dari awal, tanya aja sama sasaeng dan dipat mereka juga tahu"


"Kamu tu yang cemburu bukan saya"


Yaya tertawa


"Cemburu, maaf ya pak di kehidupan saya nggak ada yang namanya cemburu ya"


"Kamu cemburu?"


"Nggak woy"


"Yay" tegur Jae karena Yaya yang sudah mulai kehilangan kendali mengontrol emosinya.


Yaya berdecak. "Mbuh lah capek aku mas, nggak mau debat juga kalo memang masih enggak percaya ya udah bereskan?" Ucap Yaya lalu pergi menuju kamarnya.


Kalau mereka sudah berdebat bisa 2 hari baru kelar karena mereka berdua sama keras, untuk saat ini Yaya memilih untuk mengalah.


Yaya asik menonton serial drama kesukaannya di temani beberapa camilan favoritnya.


Sesekali ia tertawa karena ulah aktornya yang beracting komedi.


"Belum tidur?" Tanya Jae sembari duduk disebelah Yaya yang masih asik menonton.


"ntar" ucap Yaya tanpa menoleh ke arah Jae.


"Hari sabtu kamu ada acara?" Tanya Jae lagi.


"Ada" jawab Yaya.


"Kemana?"


"Kerumah Winda, sebentar lagi dia nikah"


"Sama mantan aku" tanpa sadar Yaya mengatakan itu pada Jae.


Jae mengernyit binggung. "Mantan? Nggak salah nih?"


Seketika Yaya tersadar dengan ucapannya, ia segera menutup mulutnya karena sudah salah bicara.


"Yay" panggil Jae karena Yaya hanya diam dan tidak melanjutkan ucapannya.


"Maksudnya pacarnya dia lah" jawab Yaya gagu.


Jae menyipitkan matanya melihat Yaya.


"Maksudnya dia itu mantan kamu terus sekarang dia nikah sama sahabat kamu?" Tebak Jae.


'Bener-bener speak gemini ni orang, cenayangnya kumat'


"Ya mungkin"


"Tolong jawab yang bener"


Yaya menghela nafasnya


"Ia dia tu dulu mantan aku yang pernah selingkuhin aku" jelas Yaya.


"Dia selingkuhnya sama sahabat kamu?"


"Omg ya nggak lah, sam cewek lain"


"Terus kamu masih sayang sama dia? Kamu masih ada cinta sama dia?"


"Ngawur, dia udah punya orang kali"


"Terus kalau dia belum punya orang kamu masih mau deketin dia lagi?"


"OMG mas, ya enggak lah mas astaga, dia tu cowok playboy dia yang bikin aku sakit hati, dari situlah aku trauma karena cinta" jawab dhaya sedikit frustasi.


"Cukup ya jangan mancing emosi"


'Kenapa ya suami gua kek gini banget'


"Cemburuan banget jadi cowok" gumam Yaya.

__ADS_1


"Heh, coba ulangin sekali lagi, kamu bilang apa barusan?" Tanya Jae yang mendengar ucapan Yaya.


"Ada tukang es kepal lewat" jawab Yaya sambil beranjak dari sofa menuju kamarnya, ia sudah lelah meladeni suaminya itu.


__ADS_2