Antara Aku, Kamu, Karier Kita

Antara Aku, Kamu, Karier Kita
Sifat buruk yaya


__ADS_3

Dikantornya yaya tengah melamun menghadap kearah layar komputer dan laptopnya. Hari ini adalah cek data. Alih-alih menatap dokumen yang ada di depannya, yaya malah meratapi nasibnya yang tidak tahu bagaimana alurnya nanti.


"Yaya!" Panggil pakbos keras, sontak yaya tersadar dari lamunannya, matanya mengerjab-ngerjab beberapa kali.


"I-iya pak" jawab yaya.


"Tolong nanti berkas yang harus saya tanda tangani segera di bawa ke ruangan saya, saya mau selesaikan hari ini juga" ucap pakbos.


"Eee.. iya paa, eh maksud saya pak" jawab yaya kepada sang pakbosnya yakni ayahnya sendiri


Tiba-tiba ada pesan dari kakakakao untuk yaya disela-sela pembelajaran


Pesan kakakakao dari jae "apa kamu nanti bisa ketemu saya saat jam istirahat atau setelah pulang kerja?"


'Heleh, aku harus jawab apa ini'


(Typing)


Balasan kakakakao yaya "


bisa, apa ada yang mau kamu bicarakan kalau bisa kenapa tidak lewat telfon saja?


'Apaan ini enggak dibalas tapi dibaca? Apa jangan-jangan beneran penting lagi, yaudah lah kan habis istirahat atau habis pulang kerja kan jadi ada waktu untuk bernafas sebelum ketemu sama tu orang'


Akhirnya yaya memutuskan untuk bertemu dengan jae sepulang kerja


Pulang kerja


Sepulang kerja, yaya segera pergi menuju caffe langganannnya dan duduk di caffe sejenak sembari menunggu jae yang tadi ingin mampir dan ingin membicarakan sesuatu. Setelah hampir satu jam jae tidak kelihatan sama sekali yaya mulai bertanya pada pihak weaters barang kali jae sudah datang lalu pergi lagi.


"Maaf mas tadi ada laki-laki yang datang ke mari tidak ya, ciri-cirinya dia tinggi kulit badannya agak putih kira-kira dia datangnya jam berapa ya mas?" Tanya yaya kepada salah satu waiters.


"Oh mbak yay ya dari kantor sebrang, maaf mbak saya tidak melihat laki-laki dengan ciri-ciri seperti yang mbak sebut bahkan disini pun tidak ada satu laki-laki yang mampir hanya ada murid dan pekerja kantoran saja." Jawab sang waiters.


"Ya udah deh makasih" jawab yaya.


'Dari tadi kek kalau tidak jadi ya jangan kirim pesen dulu bambang'


Rumah


"Aaaaaaa..... Mau makan Teriak yaya frustasi saat dia berada di dalam kamarnya.


"Gimana sih tu si jae tadi katanya udah deal mau ketemu habis kerja la ini malah kagak dateng, kalau gitu aku lebih mending pulang ya setidaknya ya kabari kek kalao kagak jadi" ucap yaya bermonolog.


Malam harinya yaya mengerjakan dokumen yang di tugaskan ayahnya dengan wajah datar, murung bercampur menjadi satu nampak sekali tidak ikhlasnya.


Tok.tok.tok


Pintu yaya diketuk dari luar.


"Yay kamu tidak makan malam? Kita sudah nungguin kamu loh di meja makan" ujar mama siti diluar kamar yaya sedikit berteriak.


"Iya ma nanti, mama sama papa duluan aja yaya mau ini tugas dari papa dulu" jawab yaya juga ikut berteriak.


"Oh ya udah kalau gitu mama sama papa makan malam dulu, kamu jangan lupa makan malam" ucap mama siti lagi.


"Iya ma" jawab yaya.


Pagi harinya yaya belum beranjak dari tempat tidurnya, ia masih bergelut dengan mimpi indahnya karena bergadang mengerjakan tugas dari ayahnya di kantor, matanya jadi tidak bisa dibuka untuk saat ini. Yang ia ingin hanyalah tetap rebahan dikasur yang empuk ini.


Mama siti masuk ke dalam kamar anaknya yang tidur seperti putri tidur. Sudah menjadi kebiasaan bagi mama siti untuk berteriak dikamar anaknya yang susah bangun pagi, karena apa? Sehabis sholat subuh ia tidur lagi dengan nyenyak.


"Yaya ayo bangun sudah siang ini, berangkat kerja sana nanti telat aja ayah kamu marah-marah." Ucap mama siti membangunkan yaya tidak santai, ia menarik selimut anaknya namun ditarik lagi oleh yang punya.


Tidak ada jawaban, yaya masih tenang dimimpinya.


"YAYA!!" Panggil mama siti berteriak tak jauh dari kupingnya.

__ADS_1


Karena kaget yaya langsung tertunduk.


"Mama apaan sih, sakit ini telinga yaya." Ucap yaya dengan suara serak sembari mengusap-usap telinganya yang terasa berdenyut.


"Lagian kamu tuh udah dibangunin dari tadi enggak bangun-bangun, kamu tu udah gede yay bentar lagi nikah kamu enggak bisa kayak gini terus. Blablabla."


Di pagi hari yang cerah ini yaya sudah mendapatkan siraman rohani dari sang mama, yaya hanya diam dengan kondisi mata terpejam entah apa ia mendengarkan ceramah mamanya atau tidak?


"Udah cepet mandi sana, jae sudah nungguin di ruang tamu" titah mama siti.


"Heleh" yaya cengo. "Ngapain dia pagi-pagi disini" tanya yaya dengan nada tak suka.


"Ya mau jemput kamu lah masak mau jemput anak kucing, kamu tu yang bener aja yay" jawab mama siti sewot.


"Suruh dia pergi duluan aja ma, yaya lama kalau siap-siap." Ucap yaya tak sudi jika dijemput jae, bukan apa-apa ia trauma menjadi patung hidup di mobil.


"Heh enggak boleh gitu, udah baik dia mau jemput calon istrinya." Ucap mama siti memperingati anaknya.


"Siapa suruh dia jemput." Gumam yaya pelan.


"Apa kamu bilang?" Tanya mama siti melotot.


"Nggak ada kok ma" jawab yaya sembari beranjak dari tempat tidurnya lalu pergi ke kamar mandi dengan langkah lunglai.


Selang beberapa menit yaya sudah siap dengan aktifitasnya lalu ia menuju ke depan menemui orang-orang yang ada didepan.


Nampak dari pintu tengah, di ruang tamu papanya sedang asyik berbincang dengan jae sesekali tertawa.


Yaya berjalan menuju ruang tamu mendekati laki-laki beda usia itu.


"Ekhem." yaya berdehem demi menyadarkan dua orang didepannya ini, sontak papa yudi dan jae memandang yaya secara bersamaan.


"Kamu mau jemput saya?" Tanya yaya mendatarkan wajahnya pada jae.


jae mengangguk.


"Yaudah ayok, sebentar lagi udah mau telat kantor aku nanti di marahin atasan aku." Ucap yaya mengedarkan pandangannya ke arah lain.


"Gimana mau marahin orang atasannya kamu aja masih ada disini" celetuk papa yudi terkekeh pelan.


"Hari ini kan meeting pertama yaya pa" jawab yaya.


"Apa iya yay?" Tanya papa yudi kini menatap yaya.


"Oh iya hari ini memang kamu yang mendampingi papa di kantor untuk sementara waktu karena sekretaris papa sedang izin, oh iya jae ingin mengajak kamu katanya mau kesesuatu tempat" jawab papa yudi.


Yaya mengerutkan keningnya bingung.


'Ke sesuatu tempat? sudah ku duga'


'Boleh nih, apaan sih nggak-nggak boleh'


"Yaudah pa, yaya berangkat kerja dulu." Ucap yaya sembari mencium punggung tangan papanya begitu juga dengan jae.


"Iya hati-hati" jawab papa.


Sesampainya kantor, yaya belum turun dari mobil ia menyempatkan diri berbalik menatap jae.


"kamu tidak ada meeting gitu sama agency kamu atau sama member grub kamu?" Tanya yaya basa-basi.


Jae mengangguk.


"nah kalau ada meeting kenapa repot-repot nganterin saya?" Tanyanya lagi.


"Itu sudah menjadi kewajiban saya." Jawab jae, yang sebenarnya juga itu perintah mama dan papanya. Yaya manggut-manggut.


"Yaudah kalau gitu aku masuk kantor dulu, Makasih." Ucap yaya lalu turun dari mobil jae.

__ADS_1


"Tunggu bentar," jae mengehentikan langkah yaya yang mendadak menutup pintu mobil.


"Apa lagi?"


"Nanti sehabis pulang kerja saya jemput kita ke sesuatu tempat dulu, setelah dari tempat itu mama papa saya pengen ketemu sama kamu di appartemen"


Yaya manggut-manggut, lalu menutup pintu mobil jae. Ia berjalan masuk ke kantor dengan santai.


Sepulangnya yaya kerja, jae memang menjemputnya dan kini mereka baru saja sampai ke appartemen mama jae.


"Permisi." Ucap yaya dan jae memasuki appartemen.


"Iya." Jawab mama ratna berjalan ke arah mereka.


"Eh... yaya, sini duduk dulu." Ucap mama Muti lemah lembut.


"Iya mah." Ucap yaya lalu duduk di sofa ruang tamu di samping mama Muti.


"Mama kangen banget sama kamu, makanya mama suruh william buat ajak kamu ke sini." Ucap mama Muti tersenyum, yaya hanya membalas senyum pada mama Muti.


"Gimana kerja kamu sayang?" Tanya mama Muti.


"Alhamdulillah lancar kok ma." Jawab yaya masih dengan senyuman merekah di bibirnya.


"Jae tidak sampai mengganggu kerjaan kamu kan nak?"


'Njirrr ngeganggu banget padahal yang sibuk itu jae tapi Jae selalu aja punya waktu buat gangguin aku'


"Enggak kok mah, b-aja." Jawab yaya tersenyum masam.


"Kak yaya?" Ucap luna saat tiba di ruang tamu, yaya dan mama Muti mengedarkan pandangannya menatap luna.


"Hai juga luna." Sapa yaya balik.


Luna duduk di samping yaya.


"Kaka kapan datangnya?" Tanya luna.


"Baru aja." Jawab yaya, luna manggut-manggut detik berikutnya luna tersenyum misterius pada yaya, membuat yaya menaikan satu alisnya bingung.


"Kak, kakak pintar menari ya?" tanya luna.


"Hmmm... iya kamu tau dari mana?" Tanya yaya balik.


"Kak bagus yang bilang dan luna pernah lihat di instageruemnya kak yaya" Jawab luna, yaya mengangguk.


'Roman-romannya ada yang kagak beres nih, apakah ini ada unsur koreografer lagi'


"Hmmm... kak." Panggil luna menampilkan senyum termanisnya, yaya mengangkat kedua alisnya seolah bertanya 'apa'.


"Aku ada tugas dari guru suruh bikin itu kak koreografi tari gitu dan terus di praktik in koreografinya kak dalam tarian tapi aku tidak bisa . Bantuin ya kak please" ucap luna memohon.


"Heh ini yaya itu baru sampai udah bikin repot aja. Suruh tu kakak kamu sana" ucap mama Muti mendelik pada ponaannya, luna memanyunkan bibirnya sebal.


"Kak jae pasti enggak mau ma udah sibuk tu sama kerjaannya"


"Enggak papa kok ma, sini kaka yaya bantuin" ucapan dari yaya membuat kedua bola mata lena berbinar.


"Beneran kak, seriously?" Tanya luna memastikan.


Yaya tersenyum mengangguk.


"Bentar"


Luna langsung berlari ke kamarnya guna mengambil tab dan laptop untuk menggambar lalu balik lagi ke ruang tamu memberikannya pada yaya.


Mama Muti geleng-geleng kepala " maaf ya yaya, jadi ngerepotin padahal mama pengen ngobrol-ngobrol banyak sama kamu." Ujar mama Muti merasa tidak enak.

__ADS_1


"Enggak papa kok ma santai aja." Jawab yaya tersenyum walaupun hatinya mengatakan 'lagi enggak mood aku malah suruh bikin koreografi tapi enggak kenapa lah sama calon ipar sendiri juga kan enggak sama orang lain, kalau sama orang lain udah ku suruh bayar '


__ADS_2