Antara Aku, Kamu, Karier Kita

Antara Aku, Kamu, Karier Kita
Mama Siti sudah sembuh, ada apa dengan Winda?


__ADS_3

Ketika Winda sedang memikirkan kelanjutan hidupnya setelah berlibur dengan Deril dan Bagus yang habis kehilangan KTP dan Sim A dan C nya hingga membuat satu keluarga kecil ini panik seketika sementara Yaya yang terus memikirkan Mama Siti yang masih sakit hingga saat ini. Hari sudah malam jam sudah menunjukan pukul setengah dua belas malam, tapi Yaya belum balik dari rumah mamanya. Karena ia masih khawatir pada sang mama setelah kejadian Bagus yang tiba-tiba kehilangan barang penting miliknya.


Karena waktu itu dia tidak tahu mamanya sakit jadi saat ini ia menyuapkannya makan, beri obat, semua Yaya lakukan demi kesehatan sang mama tercinta.


Berkali-kali mama Siti memperingati Yaya bahwa ia sudah tidak apa-apa, tidak perlu di jaga karena sudah ada Bagus dan Papanya, tapi Yaya keras kepala ia ingin tetap menjaga mamanya saat ini takutnya Bqgus ataupun Papanya tidak bisa merawat sang mama dengan baik.


Mama Siti mengalah, membiarkan anaknya untuk melakukan apapun, bukan berniat untuk mengusir tapi Yaya juga punya tanggung jawab baru sekarang, jadi mamanya takut akan merepotkan anaknya itu.


Saat ini Yaya, mama, papa dan bagus sedang berada di ruang tv hanya sekedar menonton dan berkumpul bersama, tadi Yaya menyuapkan mamanya untuk makan dan minum obat.


"Nak, kamu enggak pulang?" Tanya sang papa.


"Lah ini aku kan udah dirumah pa"


Papa menghembuskan nafasnya jengah.


"Maksud papa pulang ke rumah kamu dan suamimu"


"Lah papa kenapa sih kok gitu?" Tanya Yaya.


"Bukan gitu sayang, nanti kalau suami kamu nyariin kamu terus gimana?" Jelas papa yudi.


"Suami?" Tanya Yaya pura-pura tidak tahu.


"Astaga kak, kakak lupa kalau udah punya suami? kakak amnesia, dimensia atau gimana sih?" Tanya Bagus tak habis fikir dengan tingkah kakaknya satu ini.


"Apaan sih" Yaya menatap Bagus sengit.


"Makanya kamu jangan kelamaan disini nanti jadi lupa sama suamimu" sahut mama Siti.


"Lah ma kan bercanda" jawab Yaya cengengesan.


Papa mama dan bagus geleng-geleng kepala mendengarnya. Yaya sudah dewasa namun tingkahnya masih seperti anak umur 10 tahun.


"Bentar lagi pulang kok, palingan juga Jae belum pulang" sahut Yaya.


"Heh enggak boleh gitu" peringat sang mama, Yaya tercengir menampilkan giginya.


"Iya ma maaf, maksudnya tu menantu kesangannya mama mas Jae itu belum pulang jam segini" ucap Yaya lagi.


Mama geleng-geleng kepala.


"Yaudah kalau suami pulang kerja itu ditungguin dong disiapin baju ganti, disiapin air buat mandi, masa nanti suaminya yang nungguin istrinya pulang" ucap mama Siti lagi.


Yaya mendengus. "Pengen banget ya biar aku cepet pulang" ucap Yaya pura-pura sedih.


"Ho oh, bosen ngeliat lu pulang-pulang kan harusnya bawaan apa kek gitu paling gak ya makanan lah buat gue" sahut Bagus bercanda.


"Bukan begitu sayang"


"Iya iya...... kalau gitu Yaya pulang dulu" ucap Yaya lalu menyalimi punggung tangan kedua orang tuanya.


"Jangan ngambek dong, besok boleh kok main ke sini lagi, mama malah seneng kalau kamu kesini jadi ada yang nemein mama masak, tapi ya ini kan udah malem enggak baik buat anak cewek keluar rumah dan mama takut kamu kenapa-napa dijalan" ucap mama Siti mensehati.


"Iya ma, aku enggak ngambek, aku cuma khawatir aja nanti makannya telat, minum obatnya telat. Makanya aku kesini buat mastiin mama minum obatnya biar enggak lupa" jelas Yaya lembut.


Mama Siti tersenyum

__ADS_1


"Iya makasih kamu udah perhatian sama mama" jawab mama Siti.


"Itu kan sudah tugas seorang anak kan ma?" Tanya Yaya, mama Siti mengangguk sembari tersenyum.


"Yaudah aku pulang dulu, jangan lupa minum obat, assalamualaikum" ucap Yaya.


"Waalaikum sallam" jawab Mama, Papa, dan Bagus.


Sesampainya dirumah ia memakirkan mobilnya di garasi.


"Hmmm itu bukannya mobilnya Jae kan?" Gumam Yaya karena melihat dua mobil william sudah parkir di garasi.


Jangan-jangan tu orang sudah pulang lagi" gumam Yaya lagi.


'Waduh aku bakal kena marah enggak ya sama Jae'


Yaya memasuki rumahnya.


"Aku pulang" ucap Yaya.


"Hmmm" jawab william datar dari arah ruang tv Yaya menahan kagetnya.


'Nah loh kan dah pulang kan tu'


Yaya berjalan mendekati Jae yang sedang berkutik dengan laptop dan hpnya, lalu menyalimi punggung tangan suaminya itu tanpa ingin duduk disampingnya.


"Dari mana kamu jam segini baru pulang?" Tanya Jae dingin tanpa menatap Yaya, saat ia akan melangkah pergi ke kamar.


"Dari rumah mama" jawab Yaya.


"Kenapa baru pulang jam segini mana nggak ada kabar sama sekali, tu hp kamu kenapa kalau rusak? kalau rusak nanti aku beliin yang baru" tanya Jae.


"Mama lagi sakit, jadi aku harus rawat mama dulu" jawab Yaya dengan wajah datarnya.


"Oh gitu" jawab Jae datar.


'Nah enggak ada bahan buat marahin gua kan'


"Gimana kondisi mama sekarang" tanya Jae yang kini sudah mulai menghangat dan tidak jadi marah.


"Sekarang udah mendingan sih" jawab Yaya, Jae manggut-manggut.


"Kalau kamu ketemu sama mama jangan lupa bilangin ya aku minta maaf nggak bisa jenguk karena sibuk buat konser grub aku" ucap Jae.


"Enggak papa kok, lagian udah aku kasih tau ke mama kok" jawab Yaya lalu melanjutkan langkahnya lagi ke kamar.


Kantor


Yaya sedang berbincang-bincangĀ  di kantor sambil meminum secangkir teh hangat yang dibuatnya di dapur kantor.


Di tengah-tengah obrolannya Yaya tidak sadar melihat seorang gadis masuk ke dalam ruangan kantor dengan wajah lesu.


"Loh Winda?" Ucap Yaya, Dewi juga menatap objek yang Yaya lihat.


Gadis itu Winda, ia masuk ke ruang kantor lalu duduk di kursinya. Wajahnya tampak kusut badannya tampak lesuh bibirnya pucat matanya sembab, dan hidungnya merah sepertinya ia habis menangis semalaman.


Yaya dan Dewi menghampiri rini di kursinya.

__ADS_1


"Loh Wind... kamu kenapa? kamu beda banget loh ini seperti bukan kamu" tanya Dewi kaget saat lihat wajah kusut Winda.


Karena teriakan Dewi beberapa karyawan lainnya yang berada di ruangan pun juga menatap Winda aneh.


"Eh kamu sakit?" Tanya Yaya khawatir.


Winda diam ridak mau menjawab, bibirnya kelu untuk diajak bicara.


"kamu kenapa sih, bilang aja sama kita siapa tau kita bisa bantu, kita ada disini buat lo rin" cerocos Yaya, Dewi menggangguk setuju.


Winda hanya diam, matanya berkaca-kaca menahan tangis. Melihat Winda menahan tangisnya Yaya langsung memeluk Winda erat, Winda membalas pelukan Yaya. Kini Winda menumpahkan semua air matanya yang membuat baju yang dikenakan Yaya basah.


Yaya mengusap surai rambut panjang halus milik Winda guna menenangkan bestinya itu.


"Dah kalau mau nangis nangis aja sepuasnya, kalau kamu merasa udah nyaman dan lo siap buat cerita sama kita tinggal cerita aja sama kita, kita siap menunggu lo sampai siap buat cerita sama kita" ujar Yaya tulus, Winda menggangguk dalam pelukan Yaya.


Karena keadaan Winda yang tidak memungkinkan dirinya untuk bekerja hari ini, jadi Yaya dan Dewi memutuskan untuk mengajak Winda menuju dapur kantor yang agak sepi dan tenang.


Disanalah mereka sekarang berdiri sembari membuatkan secangkir teh hangat untuk menenangkan Winda.


Hari ini mereka ijin bekerja setengah hari demi Winda, mereka tidak mungkin membiarkan Winda sendiri dalam keadaan yang seperti ini.


"Gimana? Udah mendingan? Udah lega?" Tanya Yaya.


"kamu siapkan cerita sama kita berdua?" Tambah Dewi.


Tangisan Winda sudah mereda, hanya saja ia masih terisak pelan. Winda mengangguk menjawab pertanyaan teman-temannya.


Winda menghembuskan nafasnya berkali-kali agar lebih tenang.


"Ummmm aku.... hiks....hiks..." ucap Winda sedikit terbata-bata sangat berat rasanya untuk mengatakannya.


Yaya dan Dewi sabar untuk menunggu Winda untuk mengucapkan apa yang ingin ia ucapkan selanjutnya.


"Ummmm aku... uda, hiks.... hiks..... nggak... suci lagi... hiks.... hikss....." ucap Winda yang kini mulai menangis lagi.


Tentu saja mendengar penjelasan Winda itu, Yaya dan Dewi membelalakkan kedua bola mata mereka.


"Heh maksud kamu apa wind?" Tanya Dewi yang kini memegang kedua pundak Winda.


Winda masih terisak didalam pelukan Yaya, wajahnya semakin memerah.


"Maksud kamu apa Wind? kamu nggak bercanda kan sama kita?" Tanya Yaya tak percaya.


Winda menggeleng kuat didalam lelukan Yaya. "Enggak Yay, aku.... serius" jawab Winda.


"horok sekarang gua minta tolong sama kamu buat ceritain semuanya dari awal siapa tau aku sama Dewi bisa bantu" ucap Yaya melepaskan pelukannya dari Winda.


Winda menunduk ia benar-benar malu sekarang dengan dirinya sendiri dan malu kepada teman-temannya.


"Aku malu... sama kalian... gua udah enggak suci sekarang" ucap Winda terisak.


Yaya mengsusap pundak Winda guna memberikan ketenangan agar tidak sedih lagi.


"Kita ini sahabat kamu Wind, kita bakal selalu ada buat kamu, apapun yang terjadi sama kamu Dewi ataupun aku kita akan tetap jadi sahabat. Aku gak akan pernah benci sama kamu terlantas apapun yang terjadi sama kamu. Kalau bisa , bakal aku bakal bantu semampu aku" ucap Yaya meyakinkan.


"Iya Wind, cerita aja, aku kan juga sahabat kamu kan" ucap Dewi.

__ADS_1


"Jadi.... Begini"


__ADS_2