
4 haripun telah berlalu setelah ayah yudi meninggal dan yaya sudah sembuh dari depresi yang di idapnya, karena depresinya itu jae hampir kehilangan istri tercintanya. Dengan usahanya dan rasa cinta yang amat tulus pada yaya jae segera mencarikan alternatif untuk menyembuhkan depresi yaya dengan mengenalkannya lagi pada LOA, setelah 4 tahun jae mengenalkan LOA pada yaya kembali akhirnya ia sembuh dari depresinya tampa harus pergi ke psikolog.
Hari ini yaya mendapat pesan dari whatseupnya, pesan itu dari grub kelas semasa kuliahnya, ya jika ada notive dari grub kelas kuliahnya itu sudah pasti undangan pernikahan.
'tahun ini kenapa banyak ya yang nikah muda' gumam yaya sembari melihat notive di ponselnya.
"bukannya kamu saat menikah dengan aku umur kamu juga terbilang muda?" tanya jae yang tiba-tiba mendengar gumaman yaya.
"hehe iya, kapan kamu pulang?" tanya yaya sembari menaruh ponselnya di sebelahnya.
"baru aja, siapa yang mau nikah? Teman sekelas kamu waktu kuliah?" tanya jae.
"iya, namanya lala" jawab yaya.
"oh"
Jae berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya sementara yaya masih asik berbaring sembari memandang fotonya dengan jae yang ia pasang menjadi wallpaper ponselnya.
"dulu perkenalan kita penuh perjuangan ya, yang dulunya aku tidak kenal kamu jadi kenal karena adanya internet sampai ayah aku setuju dan akhirnya kita bisa menikah, coba aja kalau ayahku tiba-tiba tidak setuju aku untuk menikah dengan kamu pasti sekarang aku masih jomblo dan sibuk dengan pekerjaan aku. Sekarang papa sudah tidak ada tapi dengan adanya foto ini aku jadi ingat bagaimana pertama kali kamu bertemu dengan papa" gumam yaya sembari meneteskan air matanya.
'aku bingung deh kenapa orang-orang pada suka ya menikah di usia muda?'
'memangnya mereka tidak bekerja?'
'terus bagaimana dengan karier mereka yang menikah muda?'
'apa suami mereka melarang mereka untuk bekerja?'
'terus yang menikah di usia anak SMA, bagaimana dengan karier mereka?'
'mereka bekerja sebagai apa?'
'terus siapa yang membayar biaya vendornya? Yang bayar nikahnya juga siapa? Apa orang tua mereka?'
'dulu waktu aku mau menikah dengan jae aku juga berfikir apa nanti aku tidak di bolehin bekerja sama jae?'
'dan dulu berfikir apa jae yang cocok dengan aku?'
'sampai akhirnya aku mulai jatuh cinta padanya seiring berjalannya waktu'
'meskipun jae se-cuek kulkas 7 pintu, tapi dia sangat baik dan ramah sama semua orang'
'aku sangat bersyukur bisa dimiliki oleh laki-laki seperti jae'
Karena terlalu lama bergeming sendiri akhirnya yaya tertidur dengan sendirinya, jae yang sehabis mandi melihat istrinya tertidurpun langsung membenarkan posisi tidurnya agar istrinya nyaman. Tapi tiba-tiba jae meneteskan air mata melihat foto yang ada di ponsel milik yaya yang sedari tadi belum terkunci
'aduh yaya tidurnya kok posisinya tidak nyaman banget, aku benerin deh'
__ADS_1
(posisi tidur yaya)
'ini foto aku waktu pertama kali kenal sama papanya yaya, dan ternyata malah di jadiin wallpaper ponselnya'
'jadi keingat lagi bagaimana perjuangan aku sebelum menikahi kamu yay, dari aku yang hanya seorang rapper sampai aku punya pekerjaan sampingan lagi itu saja aku sudah yakin bahwa kamu adalah wanita yang baik, apalagi disaat aku yang bingung memikirkan biaya pernikahan kamu langsung memberikan solusi ke padaku agar aku mencari pekerjaan tambahan'
'kamu benar benar istri yang baik yay, kalau kata orang-orang kamu itu istri yang sholehah meskipun kamu selalu bikin aku naik darah tapi kamu tetap istriku'
Jam 18.30
Mereka akhirnya tidur bersama sampai akhirnya hari sudah malam, jae sudah selesai sholat tapi tidak dengan yaya ia malah masih asyik dengan mimpinya.
William berjalan menyusuri ruang, lalu pergi masuk ke kamar dhaya begitu saja. Ia membuka pintu kamar bercat coklat itu lalu masuk kedalam ia melihat dhaya yang sedang tertidur pulas di ranjang nya.
Jae berjalan menuju yaya, terlihat yaya yang masih tidur dengan nyenyak itu, matanya sedikit sembab karena ia sedikit menangis karena melihat wallpaper di ponselnya.
"Yay" Panggil jae membangunkan yaya.
Karena tidak ada pergerakan sama sekali jae mencoba memanggil yaya sekali lagi.
"Yay" Panggil jae lagi yang kini mengguncang lengannya pelan.
"Apa .." gumam yaya masih memejamkan matanya.
"Bangun, sholat yuk" Ajak jae terdengar lembut.
Lagi-lagi tidak ada sahutan dari yaya, ia malah kembali tidur.
Merasa ada yang mengusik tidurnya, ia pun mengerjapkan matanya beberapa kali guna menyesuaikan cahaya lampu yang masuk ke mata nya. Samar-samar ia melihat seorang lelaki duduk disampingnya kasurnya.
'Hah, ini gua mimpi lagi ya'
'Kok dia bisa disini'
Karena tidak mau bertemu jae saat ini, yaya pun berbalik memunggungi jae lalu pura-pura tertidur kembali.
"Sayang .."panggil jae lagi.
Yaya tidak menanggapinya ia tetap memejamkan matanya.
"Yaya, ayuk sholat dulu habis itu kalau mau tidur lagi ya tidur lagi" Ucap jae.
Entah yaya mendengar ucapnnya ia pun tak tau.
"Yay, nanti kalau di akhirat aku di tanya sama malaikat tentang sholat kamu aku tidak tanggung jawab ya karena aku sudah berusaha membangunkan kamu dari tadi"
Lagi-lagi yaya hanya diam.
__ADS_1
'hadeh'
"ayo sholat dulu"
"Hmm .. " gumam yaya.
Jae menghela nafas lagi
"Terus sekarang kamu mau sholat jam berapa? Ini sudah mau ganti jam" tanya jae pelan.
"Sekarang" Jawab yaya cepat, dengan suara seraknya.
"Yaudah ayok" Ajak jae.
Yaya berdecak karena bukan itu kemaunannya
"Maksudnya sekarang kamu keluar dulu, aku mau tiduran sebentar aja, habis ini aku sholat kok” ujar yaya enggan menatap jae.
"Yaudah kalau kamu mau sholatnya nanti, aku tunggu"
Lagi-lagi yaya berdecak.
"jae kamu bisa keluar dulu sebentar enggak"
“Tapi yay nanti-“
"Jae kim......."
Sabar dan mengalah adalah hal yang lebih baik saat ini disaat perasaan yaya sedang tidak baik-baik saja.
"Yaudah kalau gitu aku keluar dulu"
"Jangan masuk ke sini dulu" bantah yaya cepat.
"Iya deh iya" Hanya itu yang bisa jae ucapkan saat ini.
Dari pada dia kembali emosi, lebih baik dia mengalah. Jae keluar dari kamar yaya dan duduk di kursi yang ada tidak jauh dari kamarnya.
"Wih ini kan foto aku ya waktu aku konser dulu" Gumam Jae sembari memandangi fotonya yang ada di dinding.
"aku ganteng juga ya"
Tiba-tiba jae melihat ke arah depan dekat ruangan kerjaannya terdapat salah satu foto favoritnya "situ juga ada foto prewedding aku dan yaya yang paling random, huft jadi keingat bagaimana aku pertama kali memegang tangan kamu yay"
“sekarang papa sudah tiada dan kamu sudah otomatis jadi tanggung jawab aku karena aku suami kamu"
"senyum kamu itu akan terus bersinar seperti itu yay sampai kapanpun"
__ADS_1
"aku berjanji akan menjadi suami yang setia, perhatian dan juga bekerja keras untuk kehidupan kita berdua”
Setelah jae berkeliling rumahnya sembari menunggu yaya selesai sengan ibadah wajibnya yang tidak ingin di ganggu oleh suaminya sendiri akhirnya jae memutuskan untuk duduk di kursi yang tidak terlalu jauh dari kamarnya.