Antara Pilihan Dan Cinta Sang Ceo

Antara Pilihan Dan Cinta Sang Ceo
Tamu


__ADS_3

Hari dimana perjamuan di rencanakan telah tiba Dania kini sedangan bersiap-siap di rumah miliknya sendiri, Ardian baru saja memberikannya sebuah dress lagi dan Dania harus memakainya.


Ardian menunggu di ruang tamu sementara Dania masih sibuk berkutik dengan perlengkapan make up nya, merias dirinya agar tampil baik di depan orang tuanya Ardian. tidak hanya menyiapkan dirinya, Dania juga harus menyiapkan mentalnya.


"Huh kenapa orang tua Ardian menyuruh ku datang, padahal mereka sepertinya tidak menyukai ku" Ujar Dania di depan cermin sendu. Kini dia melatih senyumnya padahal tanpa di latih dia sudah manis.


"Dania apakah sudah selesai" Panggil Ardian yang berada di ruang tamu.


"I...iya aku datang" Ujar Dania mengambil dompet untuk di genggamnya dan langsung menghampiri Ardian.


Lagi dan lagi Ardian terus saja terpukau dengan pesona milik Dania, gadis kecil nya kini tersenyum menatapnya menggandeng lengan kekasihnya.


"Ayo Ardian"


Melihat Dania yang seakan semangat membuat Ardian tersenyum padahal semangat Dania merupakan palsu berpura-pura agar Ardian tidak mencemaskan nya.


Ardian kini sedang mengendarai dan beberapa kali melirik Dania.


"Sayang dari tadi kau membuang kasar nafas mu apakah kau gugup?"


"hah? hahaha tidak aku hanya bernafas"


"kau bohong Dania"


"Sayang coba lihat lampu nya sangat cantik" ujar Dania mengalihkan pembicaraan agar Ardian tidak terus bertanya.


"tapi jika melihat mu maka akan bertambah cantik"


"apakah aku cantik?"


"Sangat!" Ujar Ardian tegas.


"Kau juga sangat tampan Ardian"


"Aku sudah tau dari kecil Dania"


"Terlalu pede itu tidak baik tuan muda Ardian"

__ADS_1


Ujar Dania melihat ke arah Ardian.


"Bukankah itu fakta Dania?" jawab Ardian tersenyum penuh kemenangan membuat Dania terdiam karna yang diucapkan Ardian benar banyak wanita yang tergila-gila padanya.


Kini mereka telah sampai di rumah orang tua Ardian pemandangannya yang sama seperti sebelumnya.


Ardian dan Dania masuk bergandengan dengan bergandengan tangan disambut baik oleh para pelayan seperti sebelumnya.


Dan di ruang tamu terdapat tamu yang lainnya yang bahkan Ardian sendiri tidak mengenalnya. Ada dua orang paruh baya pria dan wanita, dan seorang wanita yang lainnya berkisar 20 tahun lebih mungkin anak dari kedua orang tua paruh baya itu kini tengah tersenyum memandang Ardian.


"Selamat datang Ardian" Ujar Vivi mama dari Ardian langsung menggandeng tangan putranya dan membuat Dania melepaskan gandengannya.


"Ini ku perkenalkan anakku Ardian sepertinya tuan dan nyonya mengingat anakku kan"


"Ya, tentu saja aku mengingatnya, dia sih jenius kecil yang dulu bukan hahaha sekarang dia sudah besar dan semakin tampan" Ujar pria paruh baya itu.


"Hahaha anda bisa saja"


"putra mu sangat tampan dan jenius sedari kecil Vivi" ujar Wanita paruh baya itu kembali.


"Siapa dulu papa nya" sambung Diandra.


"Ardian, ini mama perkenalkan. ini adalah om Rey Asdi dan Tante Sani Tarwa juga anak mereka Rilyi Asdi Ayo beri salam"


Keluarga yang datang ke kediaman orang tua Ardian merupakan sahabat lama papa nya Ardian, mempunyai usaha di luar negri dan Rey Asdi merupakan seorang CEO di dalam negri. Mereka memiliki seorang putri Rilyi Asdi yang sekarang berusia 22 tahun dan telah menyelesaikan pendidikannya di Inggris dan merupakan pewaris dari keluarganya berparas cantik dan anggun.


Ardian kini menyalami keluarga itu namun saat di Rilyi, Ardian seperti enggan melakukannya, namun karna dorongan dari Vivi membuat Ardian menyalaminya.


"Ardian" Ujarnya dengan nada dingin.


"Rilyi" Jawabnya dengan suara lembut dan malu-malu.


Dania yang melihat salaman itu terjadi memakluminya dan tetap tersenyum seperti latihannya tadi sebelum berangkat kemari.


"Astaga dia sangat tampan, aku sangat gugup berkenalan dengannya" Ujar Rilyi dalam hati.


"Anak mu masih sangat dingin seperti biasa Diandra" Ujar Rey

__ADS_1


"Hahaha sudah seperti itu sifatnya dari kecil"


"Oiya siapa wanita ini?" Tanya Sani membuat kini semua mata terfokus pada Dania tidak terkecuali mata Rilyi yang memperhatikan wanita itu dari atas hingga bawah.


"Oh dia, dia karyawan Ardian namanya Dania kami menyuruhnya kesini karna kami sudah menganggapnya sebagai keluarga, dan bagi Ardian dia seperti adik" Bohong Vivi


Deg! ucapan Vivi sukses membuat mata Ardian dan Dania terbelalak kaget.


Kini Vivi mendekatkan diri ke Dania memegang bahu Dania seraya berbisik "Sadar dirilah Dania"


"Ma!" Ujar Ardian terpotong oleh Dania.


"Hahaha Keluarga Alzy sangat baik pada ku" Ujar Dania tersenyum.


"OOO hanya Adik" Ujar Rilyi tersenyum lega.


"Kau Cantik sekali Dania" Ujar Sani.


"Terima kasih Tante" Ujar Dania senyum paksa yang di buatnya seolah-olah meyakin kan semua orang itu senyum padahal Ardian tau bahwa itu bukanlah senyum kekasihnya yang asli.


"Ck" ujar Ardian merasa tidak senang, Dania yang melihat itu hanya menatap Ardian.


"Baiklah, sudah waktunya kita makan malam, ayo semuanya. Dania kau juga" Ujar Vivi mengundang Dania.


Makan malam sudah selesai di meja yang cukup besar, saat Dania akan duduk disebelah Ardian Vivi malah menyuruh Dania untuk duduk dipinggir dan membuat Ardian dan Rilyi menjadi berhadapan satu sama lain. Ardian sempat menahan tangan Dania, namun segera di tepis Dania karna dia tidak ingin mengacaukan makan malam ini. Di antara canda dan tawa kedua keluarga itu Dania hanya bisa diam duduk merasa terasingkan sekarang dia benar-benar paham apa posisinya.


"Ardian apakah kau CEO dia perusahaan mu?" Tanya Rilyi membuat topik berdua dengan Ardian.


"ya" Jawab Ardian dingin tidak memperhatikan wajah dari Rilyi.


"Kau sangat hebat diusia mu yang begitu muda kau mampu menjadi seorang CEO"


"hmmm" Ujar Ardian memakan makanannya.


Rilyi sedari tadi hanya memperhatikan wajah Ardian begitu mempesona, namun tidak dengan pandangan Ardian yang dari tadi hanya fokus pada seorang wanita yaitu Dania sorot matanya tidak pernah lepas bahkan setiap Rilyi mencuri pandang ke Ardian, Ardian malah hanya menatap Dania seorang, Rilyi bukan tidak sadar hal itu dia sadar akan tatapan Ardian kepada Dania.


"Ardian apakah pekerjaanmu melelahkan" Tanya Rilyi lagi-lagi menanyakan pertanyaan padahal sudah terlihat jelas bahwa Ardian sekarang sedang merasa kesal.

__ADS_1


"menurutmu?" Tanya Ardian dingin membuat raut wajah dari Rilyi menjadi murung. Vivi menyenggol lengan Ardian supaya Ardian sedikit lebih ramah.


Dania kini hanya diam duduk di bangkunya, dia hanya menunduk mendengarkan pertanyaan yang keluar dari mulut Rilyi mendengarkan setiap kata yang di lontarkan kepada Ardian, Dania bahkan bisa merasakan aura kesal dari Ardian yang sedari tadi mentap nya namun saat Ardian menatapnya Dania akan membuang muka. Bukannya dia tidak ingin menatap balik Ardian namun saat ini bukanlah waktu yang tepat, dia hanya bisa menyamar sebagai adik pura-pura Ardian.


__ADS_2