
Akhhhhhh
Teriak Belia setelah sekian lama menghancurkan semua barang di dalam kontrakannya yang sekarang bagaikan kapal pecah. Rambut berantakan, aroma alkohol yang kuat kini bertebaran di tubuhnya. Dia sangat marah karena Ardian tak sedikitpun tergoda dengannya. Rencana yang telah di susun Belia matang-matang hancur seketika, dia bersusah payah membuat Rilyi menikah dengan Ardian dengan mendatangi Dania sia-sia, alasannya Belia membuat mantan sahabatnya menikahi Ardian hanyalah untuk membuat Belia merubah nasibnya yang miskin menjadi nyonya besar kaya raya. Dari awal melihat Ardian Belia sudah mencintainya, ia sengaja membuat Rilyi dan Ardian menikah agar Belia mudah masuk ke rumah Ardian dengan alibi sahabat baik dari Rilyi dengan begitu Ardian perlahan tergoda padanya lalu ia bisa menendang Rilyi keluar dan mendapatkan status istri Ardian jangankan gelar istri jika Belia menjadi simpanan Ardian itu juga tidak masalah.
"Ini semua salahmu Rilyi, aku sangat membencimu!" Teriak Rilyi dengan amarah yang menggebu-gebu.
Sedari awal persahabatan Belia dengan Rilyi tidaklah tulus dari awal Belia sengaja mendekati Rilyi karena dia sangat kaya, dan benar saja Rilyi benar-benar memberikan banyak uang untuk Belia bahkan baju-baju mahal yang digunakan Belia itu semua adalah hadiah dari Rilyi. Bukannya merasa senang Belia semangkin memanfaatkan Rilyi kadang kala Belia menganggap Rilyi pamer di depannya yang berbeda jauh. Melihat hidup Rilyi yang serba berkecukupan membuat rasa iri semangkin membara di hati Belia.
Tidak cukup puas membanting barang-barang Belia bahkan melemparnya hingga hancur tidak peduli jika ia harus membeli lagi. Emosinya tidak terkontrol mengingat Ardian menahan nafsu dari pada harus menyentuhnya bahkan Belia tahu bahwa Ardian mendatangi Dania untuk memuaskannya. Dania wanita yang bahkan nasibnya lebih menyedihkan.
"Kenapa! Kenapa wanita murahan itu begitu beruntung dicintai Ardiann!! Dania j*lang"
Bingung apalagi yang harus di hancurkan Belia terduduk memijat pelipisnya namun seringai muncul dari sudut bibirnya.
"Rilyi lihat saja akan ku buat dirimu lebih menderita dari pada aku, begitupun kau Dania ku pastikan merebut Ardian"
***
Rilyi tengah pusing sekarang. Pikirannya bergelayut dengan urusan rumah tangga maupun sahabatnya kenapa Belia menghancurkan persahabatan mereka. Rilyi mengingat jelas bagaimana lontaran dari Belia yang telah dipendam selama ini untuknya. Dia tidak pernah sama sekali berniat pamer kepada Belia dia benar-benar mengagap Belia sahabatnya yang paling mengerti dia namun Belia malah berniat merebut orang yang dicintai Rilyi. Nomor Rilyi diblokir Belia, ia hanya dapat menghela nafas lelah.
Iris matanya kini menatap Ardian yang tengah sibuk membenahi dasi berwarna hitam, Ardian sudah rapi dengan kemeja nya begitu pun rambutnya yang tertata begitupun jam yang sangat mahal sudah terpasang sempurna.
Rilyi mendatangi Ardian"Mas mau aku bantu"
Ardian melihat Rilyi sekilas dengan ujung matanya "Tidak perlu"
__ADS_1
"Mas gimana kalau makan di luar anggap aja kita kencan gimana"
"Tidak bisa aku lembur" Ujar Ardian yang telah rapi dengan dasinya.
Rilyi menggigit bibir bawahnya, Ardian sangat dingin kepadanya "Mas kita gak pernah keluar, restoran yang aku pilih gak bakal ngecewain kok"
Ardian menatap Rilyi "Pergilah sendiri mobil banyak kau tinggal memilih asal jangan mobil yang sering ku gunakan"
Ardian kini pergi dengan langkah panjangnya meninggalkan Rilyi yang matanya berkaca-kaca di tolak lagi oleh Ardian. Dengan cepat Rilyi menghapus air matanya memikirkan kapan ini sifat Ardian akan lebih menghangat untuknya.
Rilyi sudah membuat sarapan seperti biasa di lihat juga tidak apalagi di makan ia hanya mampu menghela nafas melihat mobil Ardian yang menjauh melalui balkon rumah.
Rilyi ingin sekali makan berdua bersama dengan Ardian menikmati pernikahan mereka seperti kebanyakan pengantin baru.
Ardian melajukan mobilnya tidak berniat mengisi perutnya yang kosong ia kembali menjadi dirinya yang jarang makan semenjak Dania mengkhianatinya. Kalau boleh jujur dia lapar tapi melihat makanan yang di sajikan istrinya dia sama sekali tidak berselera.
Ardian geram bagaimana Dania tidak bisa marah, namun ia hanya bisa diam melihat yang ada dipikirannya adalah perasaan marah ke Dania.
Ardian diam melanjutkan perjalanan ke kantor tanpa mendatangi Dania.
Dania kini membeli air putih menyiram bajunya yang awalnya putih menjadi warna coklat, Dania hanya bersabar tidak ada gunanya marah beberapa hari ini Dania merasa tidak enak badan, namun dia tetap harus bekerja memenuhi kebutuhan apalagi perabotannya belum lengkap.
Dia tidak sempat untuk mengganti baju apalagi jam sebentar lagi akan memasuki jam kerja belum lagi dia orang baru.
Semangat Dania sebentar lagi gajian tutur Dania dalam hati kata-kata yang menjadi pengobatnya di kalah lelah.
__ADS_1
Dania masuk seperti biasa Dewi di mendatanginya "Dania bajumu kenapa kotor?" Tanya Dewi.
"Gak sengaja tadi ada mobil yang lewat becek jadi kena" Dania tersenyum membuat Dewi geleng-geleng dengan wanita sabar itu.
Tiba-tiba secangkir susu ada di meja Dania, Dania mengangkat kepalanya melihat Siska yang membawanya, tentu saja membuat Dania dan Dewi terkejut.
"Kak Siska ini apa" Tanya Dania dengan heran.
"Dania aku mau meminta maaf telah menuduh mu, aku tau ini tidak berguna tapi aku mohon maafkanlah aku. Maukah?" Ujar Siska sungguh-sungguh.
"Kak Siska aku Uda maafin lagian itu bukan kesalahan kakak" Dania tersenyum membuat Siska terkejut, Dania memaafkannya begitu saja tanpa membuat perhitungan. Jika Dania membuat perhitungan itu tidak masalah Siska menerimanya karena niatnya memang meminta maaf.
"Dania sungguhan kau memaafkan ku?"
"Iya kak kalau kau mau kita bisa berteman" ujar Dania, Dewi tersenyum mendengarnya begitupun Siska yang merasa bahagia.
Rere melihat itu dari kejauhan menjadi kesal apalagi Dania yang mempunya banyak teman dan direktur Abra yang tak henti-hentinya memuji Dania.
Heh tiga orang bodoh berteman tidak akan berguna ucap Rere dalam hati sambil
menyelengos pergi dengan suara hentakan kakinya yang sengaja di hentakan membuat arah mata tertuju padanya.
"Dania sepertinya kau dekat dengan direktur Abra apa benar?" Tanya Siska.
"Hah tidak sama seperti kalian kami sekedar bawahan dan atasan"
__ADS_1
Siska hanya mengangguk kembali kemejanya begitupun Dewi yang sudah balik ke tempatnya karena jam kerja sudah di mulai. Dania kembali di hadiahkan dengan pekerjaan yang bertumpuk dia hanya dapat tersenyum bekerja dengan serius agar pekerjaannya cepat selesai.
Hai semua makasih yang masih setia baca jangan lupa kasih like komen dan tambah ke favorit kalian yaaa mangkin banyak like dan komen mangkin buat author semangat updatenya💋💋♥️♥️♥️